"Jangan minum itu!"
Kaira merebutnya dengan cukup kencang. Sehingga air soda itu tumpah di jas Melvin.
"Bibi! Apa yang kau lakukan?" bentak Melvin yang membuat beberapa orang disekitarnya menoleh. "Jasku jadi basah karena ulahmu!"
"Minuman itu berbahaya. Orang tadi sudah mencampurinya dengan sesuatu." Melvin malah tersenyum meremehkan.
"Tak perlu berbohong. Kau melakukan ini untuk membalas dendam padaku, kan? Kau pasti ingin mempermalukan ku di depan semua orang." Gantian Kaira yang tersenyum meremehkan.
"Aku memang masih menyimpan dendam padamu. Tapi, cara ini terlalu baik untuk membalas kejahatanmu padaku. Jadi, tunggu saja balasanku yang sebenarnya!" gertak Kaira kemudian pergi.
"Dasar gadis norak! Blibliophile!" umpat Melvin dengan kesal. Saat Melvin sedang fokus dengan kepergian Kaira. Tiba-tiba pundaknya di tepuk oleh seseorang.
"Hei! Kenapa wajahmu masam begitu?" tanya Hanan, sahabatnya. Hanan tidak datang sendiri. Ia bersama Gallen dan juga Angelina. Mereka bertiga teman dekat Melvin sejak masih kecil.
"Udah nggak penting. Kalian kenapa baru datang? Lama amat!" protes Melvin, mengalihkan pembicaraan.
"Kami kan harus menjemput Angelina dulu. Tau kan kalau cewek dandan itu lama banget!" bisik Hanan pada kalimat keduanya.
"Yeee! Aku dengar kamu ngomongin aku," sungut Angelina dengan wajah yang dibuat pura-pura cemberut.
"Meskipun lama dandannya, kalau hasilnya cantik begini sih nggak masalah," puji Melvin sambil mendekati Angelina. "Harusnya tadi aku yang jemput kamu. Sayang aja Mama malah minta bareng aku."
"Udah nggak papa. Toh, sekarang kita udah disini semua kan? Kamu udah ngucapin selamat sama pengantinnya?" tanya Angelina.
"Belum. Aku masih nunggu kalian datang."
"Ya, udah. Ayo, kita naik sekarang. Mumpung di panggung lagi sepi." Melvin mengangguk. Mereka berempat pun berjalan ke atas panggung yang menjadi tempat pelaminan kedua teman mereka.
"Selamat ya! Semoga kalian berdua bisa menjadi pasangan yang abadi sampai tua nanti," ujar Angelina sambil memeluk sang pengantin wanita.
"Thanks ya! Kami senang banget kalian bisa datang semua. Apalagi kamu Gallen. Kudengar kamu baru pulang dari Jepang ya!"
"Iya. Aku juga dengar kabar itu. Selamat ya, Len! Dari semua anak tongkrongan kita. Kamu memang yang paling pinter sejak dulu," puji pengantin pria.
"Sialan! Nggak gitu juga kali. Aku lagi beruntung saja."
"Oh, ya, Angel! Kapan kamu mau nyusulin kami menikah? Dari dulu kan kamu selalu dikelilingi tiga pangeran tampan ini. Nggak mau milih salah satu?" canda pengantin wanita. Melvin tersenyum kecil sambil melirik ke arah Angelina, sedangkan gadis itu malah melirik ke arah Gallen yang hanya tertawa geli.
"Kamu ini bisa aja bercandanya. Dari dulu kan kamu tau kita adalah bodyguardnya si princess Angelina," balas Hanan bercanda.
Di saat mereka sedang bercanda ria, di sisi lain Kaira dan Neneknya sedang menikmati prasmanan yang sudah disediakan. Ketika hendak mengambil dessert Nenek malah bertemu seseorang.
"Tante Yunita!" ujar seorang wanita yang membuat Nenek dan Kaira menoleh.
"Hei. Kamu Riyanti, kan?" balas Nenek Kaira. Wanita itu pun mengangguk mantap. Kemudian mereka berpelukan erat. "Kamu apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu. Terakhir kita bertemu di acara pemakaman Sofia, kan?" kata Nenek sambil melonggarkan pelukannya.
"Iya. Aku dan Mas Irwan tinggal di Aussie beberapa tahun yang lalu. Hanya anak kami yang tinggal disini. Karena tidak mau aku ajak kesana. Oh, ya gadis cantik ini siapa?" Perhatian Riyanti pun beralih pada Kaira yang hanya bisa tersenyum manis.
"Dia Kaira. Anaknya Sofia."
"Apa? Udah sebesar ini. Kamu cantik sekali, Sayang. Dulu Tante melihat kamu saat masih kecil. Kamu suka sekali main dengan anak Tante sampai lupa waktu. Sekarang kamu sudah sebesar ini. Cantik lagi."
"Dia juga baru saja lulus dari Tokyo University lho?"
"Nenek." Kaira kembali protes karena Neneknya terlalu berlebihan membanggakannya.
"Benarkah itu? Oh my God. Kau sungguh pintar. Persis seperti Sofia dulu. Oh, ya. Boleh aku meminta nomor telepon Tante Yunita. Aku kehilangan kontak banyak orang setelah pergi ke Aussie dulu."
"Tentu. Kamu bisa menyimpan nomorku, Riyanti."
"Terima kasih, Tante. Aku dan Mas Irwan sudah lama ingin menjalin hubungan baik denganmu. Sayangnya, kita tak menemukan kontak dan alamatmu," balas Riyanti sambil sesekali melirik ke arah Kaira dengan wajah tertarik. Kaira hanya membalasnya dengan senyuman manis.
***
Waktu pun berlalu. Dengan nilainya yang bagus. Kaira bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Bahkan ada beberapa perusahaan yang menawarkan pekerjaan dengan gaji tinggi. Namun, dari semua bidang dan jabatan yang mereka suguhkan. Akhirnya Kaira memilih bekerja di B&G Group. Perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia. Dia merasa posisi disana lebih sesuai dengan passionnya dan ilmu yang selama ini ia pelajari.
"Pagi, Nek," sapa Kaira pada Neneknya yang sedang membuat s**u untuk mereka sarapan. Tak lupa ia mencium pipi keriput wanita itu dengan penuh rasa sayang.
"Pagi menjelang siang, Sayang. Kamu ini sudah tau hari ini ada interview kerja. Kok jam segini baru mau berangkat sih?"
"Semalam aku teleponan sama temen-temen yang di Jepang. Mereka udah kangen aja sama aku, Nek. Jadi, ngobrol deh sampai kemaleman," ujar Kaira dengan mulut penuh.
"Kamu ketiduran sampai lupa tutup pintu balkon. Iya, kan?"
"Hehe. Lupa, Nek," balas Kaira sambil nyengir kuda.
"Kamu ini kebiasaan. Teledor. Gimana kalau kamu sakit kena angin malam yang masuk? Belum lagi kalau ada orang jahat masuk diam-diam?"
"Tenang saja. Kan Nenek selalu ngecek kamar aku kalau malem."
"Kamu ini selalu saja menjawab. Bagaimana hidupmu nanti kalau Nenek sudah tiada? Siapa yang akan menjagamu?"
"Ah, Nenek ngomong apa sih. Nenek akan tetap hidup sampai aku sukses nanti. Kita akan keliling Indonesia dan melihat semua mahakaryaku yang memenuhi kota."
"Iya-iya. Nenek doakan kamu jadi arsitek yang handal. Tapi, kita tidak akan pernah tau kapan waktu kita pergi. Contohnya kedua orang tua mu. Semua terlihat baik-baik saja, tapi ada saja orang yang berniat jahat pada mereka." Suara nenek semakin lirih. Kaira terdiam sesaat.
'Nek, aku berjanji akan mencari tau siapa orang jahat itu? Dan akan memastikan mereka mendapatkan hukuman atas apa yang sudah mereka lakukan pada orang tua ku,' batin Kaira. Kemudian dia menggenggam tangan neneknya.
"Nek. Semua itu adalah takdir. Percayalah, orang jahat itu pasti akan mendapatkan hukumannya juga suatu hari nanti. Dan aku percaya Nenek pasti akan baik-baik saja. Lihat sekarang! Nenek sehat, kuat dan masih cantik di umur Nenek yang tidak muda lagi. Jadi, jangan khawatirkan apapun. Oke?" Nenek terdiam sesaat kemudian menarik kedua ujung bibirnya sambil mengangguk. "Bagus. Aku harus berangkat dulu. Sebelum kena marah sama bos baruku. Sampai jumpa nanti sore. Assalamualaikum!" Kaira mengecup pipi Nenek kemudian pergi.
"Wa'alaikumsalam," balas Nenek lirih. Ia menatap kepergian Kaira. Senyumannya pun perlahan menghilang. Ia meraih tasnya yang disimpan di laci meja. Setelah membuka resleting dia menarik kertas dari dalam tas itu. Kertas itu berisi hasil pemeriksaan medis terbarunya yang menunjukkan jika penyakit livernya sudah pada stadium akhir. Penyakit ini sebenarnya sudah lama ia derita, tapi selama ini berhasil ia sembunyikan dari Kaira. Dia belum bisa membayangkan kesedihan Kaira jika mengetahui hal ini.
"Nek. Harapan hidupmu sudah sangat tipis sekali. Apakah kamu yakin tidak ingin mengambil jalan operasi?" tanya sang Dokter kemarin.
"Untuk apa, Dok. Umur saya sudah tidak muda lagi. Operasi pun harapan berhasilnya sangat kecil, bukan?" Sang Dokter mengangguk perlahan. "Dan itu hanya akan membuat cucu saya mengetahui semuanya," tambah Nenek.
Air mata Nenek mengalir mengingat percakapan itu. Ia mengkhawatirkan keadaan Kaira jika dia tidak lagi bisa menjaganya. Bagaimana jika orang jahat itu datang lagi dan menyakiti Kaira. Tiba-tiba Nenek teringat sesuatu. Ia segera meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo. Apa kita bisa bertemu hari ini?"