Meisin sekali lagi mematut dirinya di cermin, mendapati dirinya memakai baju pengantin ala India. Seperti bukan dirinya, dia sangat tidak menyukai gaya pernikahan ala India. Tapi entah kenapa, dia mau memakainya untuk Owen.
"Eh ... Reksa sama sopirnya kemana? Kok jadi tinggal kita berdua?" Meisin menyadari bahwa sopir dan Reksa tak ada di mobil itu.
Owen tak menjawab, dia hanya menatap jauh ke depan seolah fokus mengemudi.
"Diam dan nikmati." Owen membuka suara tapi pandangan matanya tak berubah.
Meisin pun diam menurut sampai akhirnya mobil berhenti tepat di sebuah gedung yang di sana sudah ada Kerabatnya juga orang-orang berambut pirang yang menurut Meisin pasti mereka adalah kerabat Owen.
Mereka masuk dengan saling menggandeng satu sama lain. Seperti sudah dinantikan, keduanya dipersilahkan masuk oleh wajah-wajah yang seperti lupa memakai lipstik saat tadi berdandan.
Meisin tak terlalu peduli, dia terus masuk menaiki altar dengan tangan Owen yang terasa dingin menggenggam tangannya.
"Apa kalian sudah siap?" pertanyaan pendeta terdengar menguasai ruangan yang penuh dengan bunga. Tapi tunggu! bunganya berbeda, di sini bertebaran bunga kantil di sepanjang altar yang mereka lewati.
Dan lagi, tak ada suara musik seperti pernikahan yang biasa Meisin hadiri.
"Ee ... Maaf, Pendeta. Kenapa tidak ada suara musik, ya?" Meisin bertanya lalu dia melihat pada Owen.
"Jadi sunyi seperti kuburan." Meisin berkelakar sebab ingin menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba menjalar di setiap persendiannya.
Owen tak menjawab, dia hanya menatap Meisin dengan tatapan angkuhnya.
"Listriknya bermasalah. Jadi hanya ada lilin-lilin ini saja untuk penerangan." Pendeta menjawab dengan melihat lilin yang memenuhi setiap sudut ruangan.
Meisin turut melihat, dia baru sadar bahwa penerangan di ruangan ini hanya berasal dari lilin yang didekorasi dengan sangat cantik meski temaram.
Suara gendang ditabuh sayup-sayup mulai terdengar, mungkin ini ganti suara piano atau musik yang biasa dipakai sebagai pemula acara.
Suara serak pendeta terdengar memandu acara sakral nan suci ini, Ya, meskipun rasanya ada yang berbeda. Tapi bagi Meisin, itu bukanlah masalah.
Dan begitu pendeta selesai dengan wejangan dan lain-lainnya, kini giliran Owen yang bersuara dan mengikrarkan janji suci pernikahan.
“Saya Owen Wilson, berjanji di hadapan Tuhan, bahwa dengan kehendak-Nya, saya menerima Meisin Vallery sebagai istri yang sah dan satu-satunya, mulai saat ini dan seterusnya akan mulai mengasihi dan melayaninya pada waktu kaya maupun miskin, pada waktu suka maupun duka, pada waktu sehat maupun sakit, dan akan menjaganya tanpa ada batasan waktu.”
Dia mengucapkannya dengan tegas dan lantang.
Pendeta melihat Meisin menandakan bahwa giliran Meisin-lah yang mengucapkan janji suci di hadapan Tuhan.
“Saya Meisin Vallery, berjanji di hadapan Tuhan, bahwa dengan kehendak-Nya, saya menerima Owen Wilson sebagai suami yang sah dan satu-satunya, mulai saat ini dan seterusnya akan mulai mengasihi dan melayaninya pada waktu kaya maupun miskin, pada waktu suka maupun duka, pada waktu sehat maupun sakit, dan akan menjaganya sampai maut memisahkan.” Meisin mengucapkan janji suci di hadapan Tuhan dengan sepenuh harapan ia gantungkan di sana.
“Demi nama Tuhan, mulai saat ini kalian resmi menjadi suami istri yang sah, dan akan hidup bersama dalam senang maupun susah,” ucap sang pendeta dengan tak ada senyum sama sekali di wajahnya.
"Sekarang kalian boleh berciuman." Suara pendeta lagi bersamaan dengan suara nyanyian yang tak Meisin ketahui liriknya. Seperti tembang Jawa tapi bukan. Ah ... Bodo amat-lah!
Meisin merasakan kecupan dingin mendarat di dahinya. Dia memejamkan matanya sebab ciuman itu bermakna dalam baginya.
Perlahan, dia membuka mata. Tapi tiba-tiba semuanya berubah. Owen tak ada di depannya. Ruangan yang semula temaram dengan banyak dekorasi lilin dan bunga kantil di bawah kakinya turut lenyap. Bahkan orang-orang dan kerabatnya yang sejak tadi menyaksikan acara pernikahan itu pun raib tak ada di tempatnya.
Meisin melihat sekeliling, hanya semak belukar dengan pohon-pohon yang tinggi menjulang di sekelilingnya.
Apa maksud semua ini?
Barusaja dia merasakan ciuman lama di keningnya. Dan belum lima menit juga, dia mengucapkan ikrar pernikahan dengan Owen.
Owen? Kepala Meisin tiba-tiba berdenyut. Sejak kapan dia mau menikah dengan lelaki itu? Tapi anehnya dia benar-benar merasa bahwa barusaja dia melakukannya.
Akh ... kepalanya semakin terasa sakit. Dia memandang sekeliling, sekali lagi yang dia lihat hanya pohon-pohon menjulang tinggi dan semak belukar di kiri kanannya.
Meisin berjalan dengan sempoyongan. Dia harus tahu di manakah dia berada sekarang?
Ranting yang jaruh dan dedaunan kering yang dia injak membuat bunyi krusukan, menandakan bahwa tempat ini tak terjamah manusia.
Lalu kenapa dia ada di sini?
Meisin terus berjalan sampai akhirnya dia mendengar bahwa krusukan akibat daun kering yang dia injak seperti tidak hanya satukali. Dia mencoba melangkah sekali dan benar, krusukannya terdengar dua kali.
Meisin menyiapkan mental untuk melihat bahwa di belakangnya tak ada kaki lain yang mengikutinya. Tapi sebelum itu, dia melangkahkan kakinya lagi sekali, namun tetap suara krusukannya terdengar dua kali dan sumbernya tepat bersuara di belakangnya.
Meisin menarik napas dengan memejamkan matanya, lalu dia menoleh dengan perlahan dan ...
Tak ada siapa-siapa. Hanya pohon yang barusan dia lewati dengan belukar yang masih sama.
Huft ... Meisin bernafas lega. Dia berjalan lagi tapi suara itu terdengar lagi, langkah kaki dengan suara daun kering yang diinjak di belakangnya.
Kali ini Meisin benar-benar merasa takut. Dadanya bergemuruh dengan nafas yang dia tahan.
Dia menoleh dengan cepat tapi tak ada siapapun di belakangnya.
Dia berlari karena rasa takut yang sudah tak bisa lagi dibendungnya.
Dia berhenti setelah dirasa sudah cukup jauh dia berlari. Napasnya tersengal diikuti rasa lelah di persendian lututnya. Tapi saat dilihatnya sekeliling. Dia masih di tempat yang sama.
Meisin tak percaya bahwa dia masih di sana. Sudah jauh dia berlari dan gerakan naik turun di dadanya menandakan bahwa dia benar-benar telah berlari sejak tadi.
Sret ... Sekilas bayangan hitam melintas cepat di depannya. Meisin melihat itu.
"Siapa di sana?" Meisin berteriak dengan kakinya bergerak perlahan.
"Ada orang di sana?" Meisin terus mendekati pohon besar di depannya yang di sanalah Meisin melihat bayangan itu menghilang.
Dengan menggenggam tangannya sendiri Meisin berjalan semakin dekat dengan pohon besar itu. Dia melompat ke balik pohon untuk melihat tapi tak ada siapa-siapa.
Deru nafasnya semakin memburu, kali ini berlomba dengan pacu jantungnya yang semakin menguatkan rasa takut di hatinya.
Sebenarnya ada di mana dia sekarang?