Walau dikuasai rasa takut, Meisin berjalan menyusuri jalan setapak yang terlihat di depannya, saat sejak tadi dia mengikuti siluet hitam yang hilang timbul di depannya.
Jalan setapak itu membawanya ke Padang Ilalang yang menghampar di depannya. Meisin berjalan sampai akhirnya dia melihat sebuah bangunan tua berdiri kokoh di tengahnya.
Sayangnya, dia tidak terlalu berani untuk masuk ke dalam bangunan tua itu. Dia teringat kisah-kisah horor dalam film yang sering dia tonton. Dinding mengelupas dan berlumut serta hampir seluruh bagian atas bangunan itu dililit pohon jalar yang sudah mengering.
Meisin tak tahu ada apa di dalam sana, dia tak ingin hal buruk menimpanya jika dia sampai masuk ke dalam.
Tapi sepertinya, Dewi Fortuna sedang berpihak padanya. Dia melihat sebuah sedan putih melaju ke arahnya. Meisin melambaikan tangan agar mobil itu mendekat, dia berharap pengemudi di dalam sana berbaik hati mau mengantarkannya pulang.
Tapi berbeda dari yang dipikirkannya, mobil itu justru memainkan gas seolah siap membuat nyawanya terpisah dari raganya.
Terlebih, saat mobil itu telah beberapa meter di depan Meisin, deru mesinnya dimainkan membuat Meisin menyadari bahwa pengemudi di dalam berniat buruk padanya.
Seketika itu Meisin berlari. Tak ingin nyawanya melayang sia-sia karena pengemudi bodoh itu.
Dia berlari sambil sesekali dia menoleh ke belakang. Brak ... kakinya tersangkut akar pohon yang tinggi besar di depannya, Meisin terjatuh.
Darah segar mengucur merubah warna kaos kaki putih yang dikenakannya. Meisin meringis sakit, tapi itu hanya sebentar, sebab dia sadar bahwa nyawanya sedang terancam sekarang.
Air matanya luruh begitu saja, bukan karena rasa sakit di kakinya. Tapi karena dia sadar, tak akan ada yang bisa menolongnya di tempat seperti ini.
Dilihatnya mobil itu mulai melaju dengan sangat cepat. Meisin menggerakkan pantatnya mundur, dan saat mobil itu tepat lima centi di dekat kakinya, ia berhenti. Sedang Meisin menutup matanya rapat-rapat, berharap saat jiwanya terlepas dari raganya, dia tidak merasakan sakit apa-apa.
Dibukanya matanya perlahan, saat ia tak merasakan sakit apa-apa, hanya kakinya saja yang masih merasakan nyeri akibat luka tergores akar tajam di sana.
Pengemudi mobil itu seolah hendak menakuti Meisin dengan memainkan pedal gasnya. Meisin kembali menggerakkan pantatnya mundur ke belakang. Ketakutan kini bersarang mengirim sinyal kematian yang tak bisa lagi dia hindari. Bagaimana tidak? Saat ini dia hanya seorang diri di tengah ilalang panjang yang hampir menutupi tubuhnya yang saat ini terduduk tak berdaya.
Tak hentinya, dia melantunkan do’a dalam hatinya. Dia berharap bahwa saat ini dia hanya bermimpi dan akan berakhir saat dirinya terbangun dari mimpinya. Dia kembali menutup mata. Tapi kemudian,
Brem brem brem ... suara motor terdengar dari arah berbeda. Meisin membuka matanya kembali, dia melihat sebuah motor dengan seorang manusia berhelm hitam sedang memainkan gas motornya seolah menantang mobil itu. Sesaat mobil itu berhenti lalu kemudian memutar arah lalu pergi.
Meisin ingin bangkit dan berterima kasih, namun kakinya masih terasa sangat sakit. Dia meringis, sebelum akhirnya pengemudi motor itu turun dan berjalan mendekati Meisin masih dengan helm menutupi kepalanya.
“Biar aku bantu, Kak.” Terdengar suara perempuan dibalik helm hitam itu. Meisin mengangguk, dalam pikirannya tak mungkin seorang perempuan hendak mencelakai dirinya di tengah-tengah ilalang yang seolah tak berujung ini.
Di balik helm hitam yang menutupi kepalanya, Meisin melihat mata lentik di sana.
Dan rupanya bukan hanya matanya yang indah, wajahnya juga cantik dengan pipi chubby berkulit putih mulus itu tersenyum setelah helm hitam itu dilepas oleh perempuan yang mengaku bernama Melda.
“Aku sangat berterimakasih padamu, Mel,” ucap gadis itu dengan genangan air yang telah penuh di telaga beningnya. Sekali saja, dia kedipkan mata itu maka dalam sekejap pipi cantiknya akan benjir air mata.
Melda memeluk Meisin, menepuk-nepuk bahunya seolah mengirimkan sinyal keberanian yang dalam sekejap Meisin merasa sedikit tenang karenanya. Namun dibalik punggung Meisin, gadis bernama Melda itu menyunggingkan senyum misterius yang terlihat menakutkan.
“Ya sudah, ayo ke rumahku sebentar. Biar kuobati dulu lukamu,” ucap Melda dengan melepaskan pelukannya pada Meisin.
Meisin mengangguk. Dengan dibantu Melda, dia berjalan menuju bangunan tua yang tadi Meisin anggap bangunan horor seperti dalam film.
Sementara dibalik rimbunnya ilalang di belakang mereka, terdapat sepasang mata yang mengawasi dengan seringai yang sama persis dengan perempuan yang saat ini tengah membantu Meisin memapah tubuhnya.
“Oh ya, aku di sini tinggal sendiri. Jadi kalo kamu perlu apa-apa, tinggal panggil aku aja.” Melda membantu Meisin berjalan memasuki rumah tua itu.
“Maaf, ya. Aku Cuma sendirian, jadi tempatnya ga terawat.” Melda berucap saat Meisin menyapukan pandangan ke semua penjuru ruangan yang tampak kumuh dan berdebu.
Daun kering berserak seperti rumah ini sudah lama tak berpenghuni. Ah, tapi kenyataannya Melda adalah penghuni rumah tua ini. Dan dia tak sempat membersihkan rumahnya karena harus mencari makan untuknya. Begitulah Meisin berasumsi. Dia berusaha membuang pikiran-pikiran buruk yang tiba-tiba menyusup dalam otaknya.
Melda sudah membantunya, begitulah dia menguatkan pikiran positifnya.
“Ini kamar kamu sementara waktu, nanti kalo kaki kamu pulih, aku bakal anter kamu pulang.” Melda membawa masuk Meisin ke sebuah kamar yang tidak terlalu besar dan tidak juga sempit. Di sana hanya ada satu kasur lapuk dengan kursi besi yang menghadap ke jendela.
Meisin dibantu Melda duduk di kasur yang sudah ada bagian-bagiannya yang sobek.
“Aku ambil obat buat kamu dulu, ya.” Melda berdiri dan hendak keluar. Tapi Meisin dengan cepat meraih tangan Melda dan seketika itu pula Meisin melihat api besar melalap habis sebuah perkampungan yang belum pernah Meisin lihat sebelumnya.
Dia melepaskan tangan Melda dengan nafas sedikit terengah.
“Ada apa?” Melda menatap aneh pada Meisin.
“Itu, aku mau bilang makasih karena kamu udah nolongin aku,” ucap Meisin dengan tersenyum canggung.
Selepas Melda pergi, dia mencoba memikirkan sekilas yang tadi dia lihat. Meisin tak mengerti, sebab baru kali ini dia mengalaminya. Bahkan, tempat ini pun pertama kalinya dia melihat ada tempat seperti ini.
Sebenarnya ada di dunia mana Meisin sekarang? Siapa Melda? Siapa juga orang yang di dalam mobil tadi? Lalu tempat yang dia lihat terbakar itu juga di mana?
Ah ... Meisin ingin kembali dengan Bu Rena dan Pak Leo juga Reksa, sahabatnya.
Dia mulai ingat, bahwa sebelum berada di tempat asing ini, dia akan menikah dan anehnya dia sendiri tak pernah mau menikah dengan lelaki yang menjadi calon suaminya, Owen.
Krieet ... pintu terbuka perlahan. Tapi saat Meisin menoleh, tak ada siapa-siapa di sana.
Mungkin hanya angin.