BEJATNYA MELEBIHI BINATANG

920 Kata
Meisin yang masih terlihat kebingungan dengan suasana rumah Melda yang seperti tak berpenghuni. Dinding-dinding mengelupas dimakan zaman. Lantai berdebu tebal dengan dedaunan kering seperti tak pernah disapu. Namun, meski begitu dia tidak merasakan pengap di tengah-tengah ruangan yang menurutnya tak layak huni. Sementara Melda berjalan menaiki tangga usang yang masih terlihat kokoh. Dia melepaskan satu persatu pakaiannya, berjalan bak model profesional dengan menyilangkan kaki kanan ke sebelah kiri begitu pula kaki kiri melenggang seksi ke kanan. Krieet ... Pintu di lantai atas dibuka oleh Melda. Satu-satunya ruangan di lantai itu dimasuki Melda dengan tanpa busana. “Hai, Jack.” Melda menyapukan tangan halusnya di pundak lelaki yang hanya memakai boxer menutupi area bawahnya. Lelaki itu tengah menikmati segelas minuman bening di tangannya. Sentuhan lembut Melda membuatnya menoleh dan menatapnya sesaat lalu kemudian dengan tanpa rasa malu, Melda merayu Jack, seolah sudah hal biasa dia melakukannya, Jack langsung tergoda. “Aku sudah mendapatkan inang yang bagus untuk kelangsungan hidup penduduk desa kita,” ucap Melda dengan duduk manja di paha lelaki bernama Jack itu. Senyum keduanya merekah seiring dengan tujuan mereka yang terasa makin dekat. “Aku ingin mencoba merasakan permainan di bathtub, Sayang,” ucap Jack merespon rayuan Melda yang kian lama kian menggila. “Baiklah! Aku juga ingin mencobanya." Tentu saja Melda menyetujui. Dia begitu memuja lelaki gagah di dekatnya. “Jangan jauh-jauh dariku, Sayang. Aku ingin menikmati permainan ini hanya denganmu seorang diri,” ucap Jack melingkarkan tangannya pada tubuh Melda, mengapit pinggang ramping gadis itu seraya berjalan menuju bathtub. Namun seolah hal biasa, Melda dan Jack tidak tampak terkejut meskipun di dalam bathub, sudah penuh dengan cairan berwarna merah. “Bulshit, Cepat buang perempuan lemah ini!” ucap Jack dengan menunjuk bathtub yang di dalamnya berisi perempuan berambut panjang dan bertelanjang yang sudah tak bernyawa. Dia melihat sekeliling yang dipenuhi sepasang manusia saling menuntaskan syahwatnya dengan lawan jenisnya. Darah berceceran di lantai namun hal itu tidak membuat mereka risih melakukannya di lantai yang sudah tidak berwarna putih itu. “Hei! Dengarkan aku, cepat buang mayat tak berguna ini!” kali ini Jack meninggikan suaranya. Perempuan yang sedari tadi duduk di meja di dekat jendela mendekat. Dia mengangkis mayat perempuan di dalam bathtub yang airnya sudah berubah berwarna merah itu. “Bukankah ini kerjaan mu, Pecundang!” ucap perempuan itu membopong tubuh tak bernyawa itu lalu dengan sengaja dibenturkan pada bahu Jack. “b*****h! Kemari kau, aku ingin melakukan pemanasan dulu denganmu.” Jack menarik tangan perempuan yang juga hanya memakai bikini itu lalu menekannya ke dinding. Melda menyeringai, menyilangkan tangan di dadanya seolah mendapatkan tontonan seru nan mengasyikkan. Sementara Jack tengah melancarkan aksinya, memberi pelajaran pada perempuan yang telah berani berkata kasar padanya. “Dengar! Di sini adalah surga yang tak bisa ditemukan di tempat lain. Jadi nikmatilah, karena bisa jadi surga ini menjadi pembukanya pintu neraka,” ucap Jack dengan menjambak kasar rambut belakang gadis malang itu. Bukan hanya itu, Jack juga menghentak membuat gerakan kasar hingga perempuan malang itu mengerang. Jack belum merasa puas memberikan pelajaran pada perempuan itu, tapi perempuan yang dia kira kuat itu ternyata tidak bisa memberinya kepuasan. “Dasar lemah!” Jack berlalu setelah sempat menuding tajam lewat tatapannya pada perempuan itu. Sementara yang lain tak acuh dan hanya sibuk menikmati yang sedang mereka lakukan. Ada yang sedang menenggak minuman dengan wajah frustasi. Ada yang asyik bergumul seolah melakukan penyatuan itu penuh cinta, dan ada pula yang menyeret mayat perempuan yang tadi terendam dalam bathtub keluar ruangan. Ada pula yang menggunakan aneka gombalan untuk menaklukkan perempuan yang diincarnya. Yang paling mengerikan, ada lelaki yang dikerubungi tiga wanita yang saling rebutan. Sungguh pemandangan mengerikan yang tak pernah dilihat oleh Meisin sepanjang hidupnya, dia menutup mulutnya saat dirinya menemukan pintu yang sedikit terbuka dengan pemandangan yang menjijikkan di dalamnya. Melda, perempuan yang dianggapnya baik sebab telah menolong dirinya, dia juga melihat Melda tengah bermanja-manja dengan lelaki yang tak lain adalah Jack. Keduanya saling mencari kepuasan dengan mencoba semua gaya dalam bathtub. Dan itu membuat Meisin ketakutan sekaligus marah sebab merasa dibohongi. Meisin berlari turun, jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Bagaimana bisa dia terjebak dalam bangunan tua yang penuh kelakuan b***t bagai binatang. Belum sampai dia di kamar tempatnya diantar Melda tadi, dia melihat dua lelaki sedang mengiris daging di dapur di bawah tangga. Alangkah terkejutnya dia, saat yang diiris adalah daging manusia yang tadi mati di bathtub sebab dipaksa terus melayani Jack yang beringas. Meisin kembali membekap mulutnya sendiri agar tak membuat suara. Dilihatnya salah seorang diantara mereka memotong bulatan kenyal di atas d**a mayat perempuan itu, lalu mengecupnya seolah dia belum mendapatkan kepuasan walau telah sering melakukannya. “Aku berniat merasakan bermain dengan perempuan sakit seperti dia, tapi keduluan si Jack,” ucap lelaki itu dengan mendekati inti perempuan yang sudah tak bernyawa itu. Bahkan dengan wajahnya yang sudah tak seperti manusia itu, dia memainkan inti wanita malang itu dengan jarinya. Dan tak hanya sampai di situ, dia bahkan menyuruh kawannya untuk memegangi tubuh yang sudah tak bernyawa itu agar sedikit tegak menghadapnya. Oh Tuhan ... dua lelaki itu bergantian menggauli mayat yang sudah tak bergerak itu. “Dia baru masuk ke sini kemaren. Aku lihat saat Jack mencobanya, ada darah yang tumpah di sana. Artinya, cewek ini masih virgin dan Jack-lah yang merenggut keperawanannya sampai dia tewas.” Salah satu dari dua orang itu berucap sembari terus menggerakkan pinggulnya menikmati surga mati di bawah sana. Melihat pemandangan yang membuat emosinya meledak, Meisin berlari ke kamar yang sudah disediakan untuknya. Namun, tanpa dia ketahui, seseorang telah menyelinap masuk ke kamarnya diam-diam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN