"Dasar binatang!” umpat Meisin, membanting pintu menutupnya kasar.
Dia menghempaskan pantatnya di ranjang kayu dengan kasur tipis yang sama sekali tak empuk.
“Bagaimana bisa ada tempat seperti ini?” Dia menggerutu pada dirinya sendiri.
“Aku ingin menghentikan semuanya, tapi bagaimana caranya? Untuk bisa keluar dari sini saja aku tak tau,” dia hendak merebahkan dirinya namun tak jadi, sebab sebuah langkah kaki datang terdengar dari arah pintu.
Tok tok tok ... pintu kamarnya diketuk. Meisin bangkit dan membukanya. Terlihat sosok Melda dengan senyuman manis di bibirnya juga dengan nampan penuh makanan.
“Apa aku boleh masuk?” ujarnya mengangkat alisnya membahasakan mimik pertanyaan yang mengharapkan untuk dijawab iya.
“Silahkan,” jawab Meisin mempersilahkan masuk, walau hatinya enggan berdekatan dengan perempuan yang tingkahnya hampir melebihi binatang itu. Ya, Meisin melihat semua yang terjadi dalam ruangan besar di lantai atas bangunan tua itu. Dia begitu marah namun hanya dipendamnya dalam hatinya. Dia tak ingin kecerobohannya akan membuat dirinya kehilangan harga diri jika sampai dipaksa menjadi bagian dari manusia-manusia penuh nafsu seperti yang sudah dilihatnya.
“Mei, ini aku bawakan steak daging yang pasti bakal bikin kamu ketagihan,” ucap Melda memperlihatkan sepotong daging manusia yang sudah berubah bentuk menjadi steak yang sama sekali tak menggoda seleranya, bahkan gadis itu ingin muntah dan memaki Melda saat itu.
“Tahan, Mei.” Hatinya menguatkan dirinya agar tak bertindak ceroboh. Dia cukup tau bahwa wanita muda di hadapannya sangat pintar bersilat lidah dan berakting layaknya aktris Hollywood.
“Iya, Mel. Terimakasih sudah repot-repot mengantarkan makanan ke sini. Aku belum lapar, dan aku tidak ingin merepotkanmu. Aku bisa mengambil sendiri ketika aku lapar,” sahut Meisin dengan tersenyum. Dia selipkan helaian rambutnya ke belakang daun telinganya untuk menutupi kegugupan yang tak bisa dia kendalikan.
Melda tersenyum.
“Bagaimana keadaan kakimu? Apa sudah mendingan?” tanya Melda penuh perhatian. Sungguh topeng yang sangat sempurna dikenakan wanita itu ketika berhadapan dengan Meisin.
“Iya, aku rasa kakiku sudah baik-baik saja. Ini cuma luka kecil,” sahut Meisin memperlihatkan sebuah goresan luka yang cukup memanjang di tumit kakinya yang mulus. Luka yang sempat membuat Meisin meringis sebab dihantui rasa takut yang teramat.
Melda menyeringai, namun segera dia ganti ekspresi wajahnya saat dia mengangkat kepalanya melihat pada Meisin.
“Syukurlah, aku sangat khawatir lukamu akan parah,” ucap Melda dengan menyertakan senyum di wajahnya.
“Sebenarnya siapa pengemudi itu, Mel? Kenapa dia seperti mengincarku?” tanya Meisin mencoba mengorek informasi tentang mobil misterius yang tadi mengganggunya.
“Aku rasa dia adalah penunggu padang ilalang ini, aku sering melihatnya mengganggu orang-orang yang melintas seorang diri di sini,” ucap Melda. Dia bangkit kemudian berjalan ke arah jendela.
Pandangannya mengarah ke luar, dia seperti mengenang sebuah kejadian kelam yang tak bisa dia ceritakan seluruh kebenarannya pada Meisin.
“Aku sering menolong orang-orang yang diganggu oleh pengemudi mobil yang hanya arwah penasaran itu. Sepertinya, dia ingin membuat padang ilalang ini menjadi tempat yang ramai sehingga dia tidak kesepian di sini,” ucap Melda tak mengalihkan pandangan dari luar jendela.
Meisin turut bangkit dan mendekat, dia ingin mendengar lebih banyak tentang padang ilalang serta bangunan tua yang dia tempati sekarang. Namun belum sempat dia mengajukan pertanyaan, Melda lebih dulu berucap, “Ah, aku tidak ingin menakutimu, Mei. Jadi lebih baik aku tidak perlu bercerita.”
“Menakutiku? Aku tidak takut apapun. Sekalipun aku akan mati, mungkin itu sudah waktunya,” sahut Meisin memperlihatkan keberanian yang sebenarnya hanya seujung jari semut.
“Benarkah kau ingin mendengarkan ceritaku?” tanya Melda antusias. Entah apa yang direncanakan wanita itu.
Meisin mengangguk dengan mengepalkan tangannya mengumpulkan keberanian untuk mendengarkan segala realita tentang padang ilalang yang tak berujung itu.
“Konon, katanya tempat ini adalah sebuah desa yang tentram. Tapi sebuah kebakaran besar menghanguskan semua penduduknya. Hanya beberapa orang saja yang selamat dari kebakaran itu, sebab mereka beruntung mengadukan nasibnya ke kota saat kebakaran itu terjadi,” cerita Melda dengan meletakkan tangannya di bagian bawah kayu jendela yang sudah sedikit lapuk.
“Apa kamu bagian dari orang-orang yang selamat itu?” tanya Meisin tiba-tiba. Melda menoleh kaget, namun dia segera menguasai diri dan tersenyum.
“Tidak! Aku hanya cucu dari korban yang juga tinggal di desa ini. Aku menetap, karena dulu Kakakku yang terluka parah saat itu berpesan. Sebelum dia meninggal, dia ingin aku menetap di sini dan membangun kembali desa ini,” ucapnya dengan sebuah genangan siap mengalir dari sudut matanya.
“Maaf, aku membuat dirimu membuka luka lama yang pasti sudah kamu kubur dalam-dalam,” ujar Meisin merasa bersalah.
“Aku sangat senang karena berhasil menyelamatkan kamu, banyak sekali orang-orang yang dibawa mobil misterius itu ke sini, tapi hanya kamu satu-satunya orang yang berhasil aku selamatkan,” ucap Melda, kali ini dia melihat ke arah Meisin yang tengah berdiri menatapnya.
Perasaan takut seketika merayap begitu mendengar hanya dirinya yang berhasil diselamatkan oleh Melda. Antara percaya dan tidak pada apa yang sudah dia dengar tentang kisah yang Melda ceritakan padanya.
“Ya sudah, aku harus kembali ke kamarku. Sebentar lagi gelap, kuharap kau tidak keluar kemana-mana, karena di luar sana banyak sekali sarang mengerikan yang bisa merenggut nyawamu,” ucap Melda sebelum berlalu dari kamar Meisin.
Mendengar itu, Meisin hanya tersenyum getir sembari menganggukkan kepalanya.
Setelah pintu ditutup kembali oleh Melda, dia mendekati nampan makanan di meja. Dia sangat tidak ingin menyentuh makanan itu mengingat irisan daging yang diambil dari daging mayat manusia beberapa waktu tadi.
Dia mencari kresek untuk tempat makanan itu, namun sebuah suara mengagetkannya.
“Apa kau tau proses pembuatan masakan-masakan itu?” seorang wanita yang dilihat Meisin telah menolong wanita malang yang meninggal dalam bathtub telah berdiri di belakangnya. Dia memperlihatkan lekukan tubuhnya yang seksi dengan hanya memakai bikini.
“Kau ....” Meisin menunjuk dengan segera bangkit dari posisi jongkoknya.
“Mati aku kalo sampai dia tau.” Hatinya bergemuruh takut.
“Iya, aku bagian dari orang-orang b***t itu. Aku muak dengan tingkah mereka, aku rasa kau belum mengetahui tentang sebuah ruangan surga yang tak ubahnya neraka,” ucap wanita itu dengan meletakkan kedua tangannya di pinggangnya yang ramping.
Meisin ingin menjawab bahwa dia mengetahuinya, namun dia khawatir wanita di hadapannya saat ini hanya memancing dirinya untuk bisa masuk dalam perangkap manusia-manusia b***t itu. Meisin melihat sendiri, wanita di hadapannya itu juga ada dalam ruangan laknat itu dan juga bermain-main di dalamnya.
Ngapain dia kesini?
Meisin menatap bisu, mencoba membuat pikirannya tetap tenang meski dalam hati bertanya-tanya, dan rasa takut mengalami nasib sama seperti mereka, menjadi jaalang yang memuaskan birahi orang-orang b***t itu.