CERITA MELLY

1087 Kata
“Aku Melly, aku adik wanita yang tadi datang ke sini,” ucap wanita itu meyakinkan Meisin. Dia melangkah mendekati makanan yang masih utuh itu. Dia sentuh steak daging yang sesungguhnya menggoda selera bila bukan daging manusia. “Ini steak daging manusia yang diolah oleh juru masak lelaki, yang sebenarnya dia juga bagian dari penghuni kamar di lantai atas,” terang gadis bernama Melly itu. Meisin tak menanggapi, sebab dia masih belum bisa percaya siapapun dalam bangunan tua ini. “Cerita tentang desa yang terbakar adalah kebenaran, tapi untuk cerita bahwa Kak Melda selalu berusaha menolong orang-orang yang dibawa mobil misterius itu, itu tidak benar,” ucapnya lagi. Kali ini dia melihat ke arah Meisin, mencoba meyakinkan perempuan di hadapannya itu agar percaya pada apa yang dia ucapkan. “Sedan putih itu punya Kak Micko, kakak tertua kami. Dia meninggal saat kebakaran itu terjadi, tapi Kak Melda melakukan ritual yang membuat arwahnya tertahan di sini untuk mencari manusia-manusia yang mau tinggal dan membangun kembali desa yang sudah hancur itu,” terang Melly dengan mata berkaca-kaca. “Aku sudah mencegahnya, tapi kak Melda begitu bersikukuh ingin membangun kembali desa ini dengan melakukan hubungan intim yang dia harapkan mendapat keturunan yang banyak dan menjadi warga di sini. Aku rasa kamu orang special hingga tidak langsung dimasukkan ke dalam kamar di lantai atas itu,” ucap Melly lagi. Namun Meisin tak juga menjawab. “Kenapa kamu diam?” tanya Melly saat dilihatnya Meisin hanya diam tak merespon sepatah katapun ceritanya. “Aku tak bisa percaya siapapun di sini, termasuk kamu,” sahutnya kemudian. “Astaga, bagaimana bisa kamu tidak memercayaiku?” Melly menatap tak habis pikir. “Kenapa aku harus memercayaimu? Dan kenapa juga aku harus mendengarkan apa yang kamu ceritakan?” Meisin berucap dengan menatap tajam menyembunyikan ketakutan yang sebenarnya tak pernah benar-benar pergi dari hatinya. “Karena aku juga ingin bebas dari sini. Aku ingin menemukan jalan keluar dari sini lalu pergi sejauh-jauhnya,” sahut Melly melihat dengan tegas setegas jawaban yang dia berikan atas pertanyaan Meisin. “Cepat buang makanan itu sebelum Kak Melda datang, dia bisa berubah kasar jika makanan yang dia bawa tidak tersentuh sama sekali,” ucap Melly dengan membantu mengangkat nampan itu lalu membuang isinya ke plastik bekas yang tersimpan di kolong tempat tidur. “Temui aku di bawah tangga kalo kamu percaya pada apa yang aku omongin,” seru Melly dengan buru-buru keluar dari jendela, sebab derap langkah kaki terdengar dari luar. Tok tok tok ... Pintu kamarnya kembali diketuk. Rupanya, Melda kembali meminta nampan yang tadi dia bawa. Lebih tepatnya, dia mengecek apakah makanan yang dia bawa, sudah habis dimakan atau masih utuh tak disentuh sama sekali. Satu perkataan Melly terbukti. Melda tidak suka bila makanan yang dia bawa tak disentuh sama sekali. Meisin pun segera bergegas keluar, dia harus menemui Melly untuk bersama-sama memikirkan cara agar bisa terbebas dari tempat yang menyerupai kandang binatang ini. Meisin berjinjit agar langkah kakinya tak didengar oleh penghuni lantai atas, ataupun orang-orang yang saat ini sibuk di dapur. Dia menemui Melly yang ternyata telah memakai baju yang ramah dipakai. Ya, bikini dan kemolekan tubuhnya tak lagi nampak. Melly tampak cantik dengan setelah kaos santai dan jeans ketat. Rambutnya yang panjang dikuncir kuda seolah dia telah siap untuk melakukan pelarian dari bangunan tua yang mengharuskan dirinya melayani lelaki yang dibawa kakaknya untuk membuahi sel telurnya. Bercak darah di lengannya masih bersisa, menandakan gadis itu tidak tersentuh oleh air. Meisin tak begitu peduli akan penampilan gadis itu. Yang saat ini dia pedulikan adalah, dia merasa menemukan kawan yang bisa dia ajak berjuang bersama menemukan jalan keluar dari Padang Ilalang ini. “Apa kamu siap?” tanya Melly begitu melihat Meisin tiba di bawah tangga. “Siap apa? Aku belum siap, tunggu!” Meisin terlalu takut untuk bertindak gegabah saat ini. Keraguan, kegelisahan dan ketakutan menguasai. Berbaur dalam hatinya menjadi sebuah pemikiran panjang yang akan membuat mereka ketahuan bila tidak segera bertindak. “Tunggu sampai malam, Mel. Aku belum yakin untuk bisa menemukan keluar dari padang ilalang ini sekalipun kita bisa keluar dari bangunan tua ini,” ucapnya menahan tangan Melly. “Apa lagi, Mei? Kamu adalah orang dengan kelebihan khusus yang justru menjadi incaran mereka. Jika sampai kamu benar-benar tertangkap oleh mereka dan menjadi bagian dari orang-orang itu, maka selamanya Kak Melda dan lainnya tidak akan bisa dihentikan. Kampung ini akan menjadi kampung sekks yang mereka sebut surga dunia,” terang Melly panjang lebar. “Kenapa mereka membutuhkan orang yang memiliki kemampuan khusus sepertiku?” tanya Meisin belum merasa yakin akan pilihannya. “Aduh, Mei. Kamu sangat cerewet. Di saat seperti ini apa penting kamu mempertanyakan hal begitu?” Melly menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia gusar sebab Meisin sepertinya belum sepenuhnya percaya padanya. “Aku harus tau jelas untuk menjaga setiap kemungkinan yang akan menimpaku bila aku tidak hati-hati,” sahut Meisin santai. Dia cukup pintar untuk segera menemukan jalan keluar, maka dia harus mencari kejelasan informasi tentang bangunan tua ini dan desa yang dulu terbakar. Dia mulai menjalani kehidupan yang aneh menurutnya. Reksa, Ibu dan bapaknya seperti lenyap di sekitarnya. Bahkan yang dia temui sejak kemaren hanya keanehan-keanehan dan dirinya yang tiba-tiba bisa melihat sesuatu yang sudah lama terjadi. Apa yang harus dilakukannya karena kemampuannya ini? Bahkan misteri desa yang terbakar dan bangunan tua yang menjadi sarang seksual ini membuat dia merasa di alam lain. “Baiklah, ayo ke kamarmu. Akan kuceritakan semuanya. Di sini terlalu berbahaya, aku bisa mati jika sampai Kak Melda tau aku menceritakan kebenaran itu padamu,” Melly mengalah dan memilih menjawab segera pertanyaan Meisin agar mereka bisa segera menyusup keluar. Kini, keduanya telah berada di kamar Meisin kembali. Arsitektur bangunan yang masih kokoh seperti tak akan pernah runtuh walau jelas dinding-dindingnya sudah menua dan mengelupas. Aroma anyir tercium di penciuman Meisin tatkala mereka membuka pintu. Sebuah pemandangan yang tak bisa Meisin ceritakan pada Melly dilihatnya di pinggiran tempat tidurnya. Arwah perempuan yang mati di bathtub kini sedang mengawasi gerak-gerik mereka. Tubuhnya bertelanjang bulat dengan banyak sekali bercak darah dan memar di bagian dadanya. Rambutnya kusut dengan air bercampur darah terlihat menetes dari sana. Bau anyir tercium jelas ke hidung Meisin. “Aku duduk di sini saja, Mel,” ucap Meisin menarik kursi ke dekat jendela. Sebenarnya dia tak ingin membuat Melly curiga bila dia sampai menyumbat hidungnya. Sebab itulah, dia memilih duduk di dekat jendela agar hidungnya sedikit bebas dari bau amis arwah perempuan itu. Namun kemudian, tubuhnya terasa ditembus oleh makhluk tak kasat mata. Saat dirinya membuka mata, dia mendapati dirinya berada di tengah rumah penduduk yang padat.r
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN