MENCOBA KABUR

1302 Kata
Sret ... tubuhnya terasa ditembus oleh makhluk tak kasat mata. Saat dirinya membuka mata, dia mendapati dirinya berada di tengah rumah penduduk yang padat. Gulita merangkak membawa serta semilir bersama dingin yang merayap. Meisin melihat sekeliling, lampu beranda rumah di sekitarnya telah tampak gelap. Semua penduduk pasti sedang pada tidur, pikirnya. Namun tak berapa lama terdengar ledakan keras bersamaan dengan menyembulnya api yang seketika membesar. Rumah penduduk yang padat dalam sekejap satu persatu dijilati oleh si jago merah. Bersama dengan bergantinya rumah ke rumah yang satu terdengar ledakan serupa yang pertama. “Tabung gas meledak dan menghabiskan satu kampung tanpa sisa,” ucapnya dengan melangkah mundur. Mayat-mayat bergelimpangan dengan tubuh menghitam dilahap api. Kegelapan yang tadi dia lihat, kini berganti gerakan api yang semakin besar dan terus membesar. “Tolong! Tolong!” terdengar rintihan suara tak jauh dari tempatnya berdiri. Meisin mencari sumber suara itu. Ternyata diantara ilalang yang mengering, terdapat seorang lelaki yang tak bisa dia tebak umurnya sedang menggelepar kesakitan. Wajahnya bersimbah darah dengan batok kepala yang sudah pecah. Pikirannya mendadak tak menentu. Dia yang pada dasarnya baik, tak bisa hanya diam dan menutup mata, walau sejujurnya, Meisin sangat jijik pada yang namanya darah. Dia berteriak meminta pertolongan dengan tangannya hendak meraih tubuh yang sudah setengah hangus itu, tapi ternyata tangannya hanya menembus tubuh yang sudah gosong itu. “Ah, sial! Aku hanya seperti bayangan,” pekiknya. Di depan matanya, dia melihat bagaimana laki-laki itu menghembuskan nafas terakhirnya, dia kejang dengan sesekali batuk dan memuntahkan darah dari mulutnya. Meisin sangat ketakutan, dia berlari menjauh dari manusia yang sudah tak bernyawa itu. Namun entah bagaimana dia seperti tersandung batu dan mendapati dirinya berada di ruangan gelap hanya sebuah lilin kecil menyala sebagai penerangan. Seorang perempuan dengan penutup kepala hitam duduk membelakangi dirinya sedang menyiapkan sesajen di antara kegelapan. Disana, dia melihat mayat lelaki yang sempat dia lihat menggelepar menghembuskan nafas terakhirnya, mayat lelaki itu sudah bersih dari darah meski wajahnya tetap saja terlihat hitam dan hangus, ia terbujur kaku diatas peti mati. Sementara seorang yang sangat dia kenal sedang duduk dengan tangan diikat tak jauh dari peti mati itu, Melly menangis dengan mulut di bekap kain hitam yang membuat dirinya tak bisa membuka suara. Hanya linangan air mata yang tak henti mengalir seolah dia tidak menginginkan perempuan itu melakukan niatnya. “Emphhh ... “ hanya itu yang keluar dari mulut Melly. Perempuan dengan penutup kepala itu mendekati Melly dengan tertawa. “Adikku sayang, maafkan Kak Melda harus membungkam mulutmu sementara, nggak lama kok. Cuma sampai ritual ini selesai,” ucapnya dengan tertawa penuh kemenangan. Sementara Melly semakin terisak dengan mengguncang tubuhnya sendiri mengharap jeratan tali di tangannya terlepas. “Aku nggak mau, desa ini hilang begitu saja. Aku akan bangun kembali desa ini dengan caraku, aku perlu bantuan mu Kak Micko,” ucap perempuan itu seraya berbalik menghadap peti mati itu yang juga mengahadap ke arah Meisin. “Asataga, Melda!” Meisin menutup mulutnya tak percaya. Dan di saat yang sama, tubuhnya seperti ditarik kembali dan dia mendapati dirinya berada dalam kamar dengan Melda duduk di hadapannya keheranan. “Kamu kenapa sih, Mei. Udah kujawab pertanyaan kamu, tapi kamu malah diem aja,” protes Melly. “Eh, gimana gimana?” Melly mengulang kembali jawaban yang dia berikan atas pertanyaan Meisin. “Jadi gini, Kak Melda ingin ada diantara penduduk desa yang akan dia bangun memiliki kemampuan bisa melihat hal-hal yang akan terjadi. Kayaknya dia trauma jika desanya kembali terbakar gitu. Jadi, dia pengen ngambil keturunan itu dari kamu deh,” ungkap Melly. Meisin yang mendengar jawaban Melly, seketika tak habis pikir pada perempuan yang tak lain adalah saudara Melly, bagaimana bisa dia memakai cara singkat untuk bisa membangun desa dengan penduduk yang banyak dan tentunya padat seperti sebelumnya. “Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang,” ajak Meisin kemudian. “Seriusan?” Melly masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. “Emang ada tampang aku bercanda,” ucap Meisin mulai tidak menggunakan bahasa formal. Mendengar itu, Melly merasa dekat dengan Meisin, tak ada lagi jarak yang perlu dia jaga sebab dia dan Meisin pada kenyataannya memang seumuran. Dengan mengendap-endap, keduanya mendekati pintu utama. Namun, “Hei,” suara Jack yang serak dan tegas menghentikan langkah mereka. “Sial, bisa mati kita kalo ketangkep,” ucap Melly menghentikan langkahnya namun tak menoleh ke belakang. “Trus gimana dong?” Meisin bertanya melakukan hal serupa tak menoleh pada sumber suara di belakangnya. “Buatkan teh dengan gula sedikit, oke!” terdengar kembali suara Jack yang seketika membuat mereka bernafas lega. Mereka kembali melangkah, namun sebuah suara lagi-lagi menghentikan keduanya. “Hey, kalian mau kemana?” terdengar suara lelaki yang sedikit cempreng di pendengaran mereka. Meisin tak segera berbalik, namun sebaliknya, Melly dengan cepat berbalik badan dan menjawabnya, “Kami ditugaskan membeli beberapa kebutuhan kita. Memangnya kau siapa berhak menanyaiku?” Melihat Melly adalah orang yang berjalan menuju pintu utama, lelaki yang menegur mereka pun kini melanjutkan kembali kerjanya ke dapur. Melly bernafas lega, begitupun dengan Meisin. “Ayo cepat.” Melly menarik tangan Meisin membawanya ke pintu utama yang di sana, terdapat lukisan yang sudah tak berbentuk masih terpajang di samping pintunya. Namun meski begitu, tetap saja bangunan ini terlihat kuat seolah enggan runtuh walau terdapat beberapa bagiannya yang sudah reot dimakan zaman. Kriet ..., pintu itu terbuka. Melly dengan cepat menarik lengan Meisin menjauh dari tempat itu. Sebentar lagi gelap, penghuni di dalam tentu akan menyadari bahwa mereka sudah tak ada di dalam, sebab Melda sudah pasti akan datang ke kamar Meisin untuk mengecek dan membawakannya makan malam. Mereka sekuat tenaga berlari dengan harapan, agar saat Melda menyadari kepergian mereka, dia tak dapat menjangkau mereka sebab mereka telah berlari cukup jauh. Namun siapa sangka, saat nafas mereka seolah telah naik turun dengan tak beraturan dan mereka menghentikan langkah mereka, mereka menyadari bahwa mereka hanya berputar-putar di satu tempat yang sama. “Bulshit! Kita Cuma muter-muter, Mei,” seru Melly dengan napas tersengal memegangi lututnya. Meisin tak kalah lesu, butiran peluhnya telah memenuhi kening dan dahinya. Sementara tubuhnya jauh lebih parah, dia seolah akan langsung terjun ke air sebab merasa seluruh tubuhnya lengket sebab keringat. “Ah, bagaimana bisa? Aku udah capek banget,” sahut Meisin dengan napas tersengal. Dia terlihat kecewa, sebab menyadari saat ini mereka berdiri dibalik tingginya ilalang dengan beberapa pohon tinggi menjulang tak jauh dari belakang bangunan tua terkutuk itu. “Jadi gimana, Mei?” Melly meminta pendapat. Namun belum sempat Meisin menjawab pertanyaan Melly, sebuah suara tak jauh dari tempat mereka melepaskan lelah, membuat keduanya harus menahan diri agar tidak membuat suara. “Kita harus temukan dua cewek itu,” seru salah seorang yang seketika membuat Meisin dan Melly menyadari bahwa orang-orang di dalam bangunan itu mulai menyadari kepergian mereka. “Gimana, Mel?” ucap Meisin dengan berbisik pada Melly yang masih fokus memerhatikan dua lelaki yang saat ini sedang melihat segala penjuru mencari keberadaannya. “Mel.” Meisin menepuk pundak Melly yang masih diam tak menjawab. “Shttt ....“ Melly menempelkan telunjuk di bibirnya, seketika Meisin membungkam mulutnya sendiri sebab isyarat Melly. Saat dilihatnya ke depan, dua lelaki itu berjalan ke arah mereka bersembunyi. Jika saja, mereka tahu jalan keluar dari padang ilalang ini, maka mereka akan lari sekuat tenaga untuk menghindari dua laki-laki itu. Namun sungguh keduanya tak tahu kemana harus berlari, terlebih rasa lelah mendominasi saat ini. Mereka berlarian sejak tadi, namun bukan pergi jauh dari bangunan terkutuk itu, mereka justru terhenti tepat di belakangnya. Ya, mereka hanya berputar dan kembali ke tempat yang sama. Dua lelaki itu semakin mendekat, bahkan sangat tepat di depan tempat persembunyian Meisin dan Melly. Keduanya menutup mata sebab ketakutan itu kian memuncak. Meisin dan Melly saling berpegangan tangan, saling menguatkan untuk mengusir kengerian ketika tangan dua lelaki itu menyingkap ilalang panjang yang menutupi tubuh keduanya. Jantung keduanya seolah berhenti berdetak. Nafas mereka ditahan untuk tidak membuat suara sedikitpun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN