PINTU GHAIB

1158 Kata
“Hei, gua udah nyari di situ nggak ada. Elo nyari sebelah sana deh.” suara yang bagi Meisin tak asing di telinganya. Dia membuka mata, namun hanya punggung bidang dua lelaki itu yang dilihatnya. “Syukur kita selamat,” ucap Melda menyapukan tangan di dadanya. Sementara Meisin sibuk mencari celah untuk bisa melihat sosok yang menegur dua lelaki yang tadi hampir menyingkap ilalang di depannya. “Udah pergi, kan?” tanya Melly ketika memerhatikan tingkah Meisin. Namun Meisin tak juga menjawab, hingga spontan Melly menepuk pundaknya agak keras. “Apaan sih?” ucapnya. “Itu dua dedengkot udah pada pergi belum?” ulang Melly. Meisin menoleh kembali ke depannya, di sana dia tidak mendapati satu orangpun. Semua sudah pergi entah kemana. “Tuh, liat aja sendiri,” ucap Meisin mengisyaratkan dengan anggukan kepalanya. Melihat keadaan sudah cukup aman, keduanya meluruskan kedua kakinya mencoba menghilangkan pegal yang merayap membuat letih mendera. “Lekas cari! Susuri semua tempat yang memungkinkan mereka bersembunyi!” terdengar suara Melda memberi titah dengan lantangnya. Meisin kini semakin percaya pada Melly, Melda hanyalah sosok bertopeng yang telah berhasil mengecohnya. Namun meski begitu, Meisin tetap bersyukur karena bertemu Melly yang telah berbaik hati membantunya keluar dari tempat yang akan menistakan harga diri dan kehormatannya. Tak lama, Meisin melihat arwah perempuan yang tadi seolah menyimak obrolannya dengan Melly saat di kamar sebelum mereka kabur sekarang, arwah perempuan itu menunjuk pada dua pohon besar yang berdiri sejajar dengan jarak cukup jauh dari mereka. Dia menunjuk dengan telunjuknya yang nyaris putus entah sebab apa? Meisin pun mengajak Melly mendekati dua pohon besar yang berdiri sejajar sesuai yang ditunjukkan oleh arwah perempuan itu. Saat mereka melewati dua pohon besar itu, secara tiba-tiba mereka berdiri di pinggir jalan namun tak ada satupun kendaraan melintas di jalan di depan keduanya. Rupanya, dua pohon besar itu adalah pintu ghaib untuk keluar dari padang ilalang itu. Melly memerhatikan tempat mereka berdiri saat ini, tempat ini sungguh asing baginya. Dia yang sejak kebakaran itu terjadi hanya selalu bermain terbatas di dalam Padang ilalang yang tak bisa dia temukan ujungnya. Kini, Meisin melihat jauh di depan sana sebuah sedan putih yang jelas Meisin ingat telah hampir membuatnya celaka. “Ayo kabur, Mel. Kayaknya abang lu mau nangkep kita deh,” seru Meisin dengan tidak menunggu waktu segera menarik tangan Melly untuk segera berlari agar tidak tertangkap oleh arwah Micko yang dikendalikan Melda. Keduanya berlari sekuat sisa tenaga yang mereka punya. Namun mobil yang mengejar di belakang pun semakin cepat melesat. Brak ... sebuah suara terdengar tepat di belakang mereka. Meisin dan Melly menoleh bersamaan. Sesosok makhluk hampir sama seperti mereka tengah menghentikan laju mobil itu dengan tangannya. “Siapa makhluk yang punya kekuatan luar biasa itu?” tanya Melly dengan menatap takjub. Sementara Meisin hanya diam sebab telah mengenali sosok itu walau hanya melihat sebatas punggungnya. “Ayo kita menjauh dari tempat ini, Mel,” ajak Meisin kembali menarik tangan Melly. “Tapi aku penasaran sama orang yang nolongin kita,” ucap Melly enggan mengikuti Meisin. “Elo pikir ada manusia yang bisa nahan mobil kayak gitu,” ucap Meisin sengaja menakuti Melly, dan benar saja hal itu membuat Melly mengikuti Meisin tanpa dikomando. Meisin tersenyum penuh kemenangan, “gak perlu kutarik kabur sendiri kan lu,” sorak Meisin berlari kecil mengikuti Melly yang sudah berada tiga langkah di depannya. Meisin menoleh sekilas pada sosok yang masih menekan bagian depan mobil ghaib itu dengan tangannya. Deru mesin mobil terdengar nyaring menandakan pengemudi di dalamnya menambah kekuatan untuk bisa menembus pertahanan sosok yang tak lain adalah Owen. Tak jauh dari mereka berlari, terlihat mobil sport berwarna kuning melaju kencang ke arah mereka. “Itu pasti kak Melda, gawat! Kita kemana dong, Mei?” Melly berucap panik. Meisin mengamati sekali lagi mobil yang melaju kencang ke arahnya dari arah berbeda. Belum terlontar pertanyaan atas keheranannya, Melly berucap, “Itu mobil kesayangan Kak Micko waktu masih hidup. Baru kali ini aku liat Kak Melda memakainya.” “Cepat kamu pergi, Mel. Biar aku yang menahan Melda di sini,” seru Meisin. “Tapi, Mei.” Melly tampak ragu. Namun dia melihat keyakinan pada diri Meisin yang membuatnya terpaksa berlari menjauh. Meisin merentangkan kedua tangannya, namun sedikitpun laju mobil didepannya tidak berkurang sedikitpun. Meisin menutup mata sebab sepersekian detik mobil itu telah berada tiga puluh centi dari kakinya. Suara decitan rem terdengar, membuat Meisin membuk mata dan melihat mobil itu kini berhenti tepat menyentuh ujung sepatu yang dikenakannya. “Bagus sekali kamu. Sudah kutolong malah pergi tanpa pamit,” ucap Melda dengan tatapan berbeda melangkah turun dari mobilnya. “Maaf, Mel. Aku hanya tidak ingin terjebak dalam ambisi yang sudah kelewat batas,” sahut Meisin tegas. Mendengar jawaban Meisin, Melda sedikit terkejut sebab dia merasa bahwa gadis di depannya belum tahu banyak tentang bangunan dan penghuni di dalamnya, rupanya dia telah salah, Meisin telah mengetahui hal besar yang tak seharusnya dia ketahui. Melda meraih kasar tangan Meisin dan menggenggamnya kuat agar perempuan yang akan dijadikan inang pembangun desanya tak bisa kabur lagi dari genggamannya. “Lepaskan aku, Mel. Hentikan pemikiran gilamu,” ucap Meisin dengan meronta mencoba melepaskan tangannya yang kini semakin kuat dicengkeram oleh Melda. Didorongnya tubuh Meisin ke mobil yang tak lain adalah mobil Micko di masa hidupnya. Melda melajukan mobil itu ke tempat berbeda yang kini asing bagi Meisin. Banyak rumah berjejer namun semua pintu tertutup rapat bak tak berpenghuni. Entah, karena saat ini sudah malam, atau justru karena terdapat misteri yang menghantui penduduk, sebab dilihat dari luar, lampu mereka menyala namun jendela dan pintu rumah mereka tertutup rapat. Brak ... Melda menutup pintu dan dengan segera menguncinya setelah memasukkan Meisin secara paksa. Duk Duk Duk ... Meisin memukul-mukul pintu yang dikunci Melda dari luar. “Buka pintunya, Mel. Hentikan cara gila kamu! Kamu melukai banyak orang!” Meisin berteriak sembari terus mengedor pintu dari dalam namun Melda tak mengindahkan teriakan Meisin. Dia berjalan ke ruang di sebelah Meisin. Di sana telah menunggu Jack dengan dua orang temannya. “Jaga perempuan itu baik-baik, jangan sampai dia lolos lagi,” ucap Melda dengan duduk menghadap Jack, sementara kedua temannya menyilangkan tangan di d**a berdiri di samping kanan dan kiri Jack. “Siap tuan putri,” jawab Jack dengan meletakkan sebelah tangannya di antara dahi dan pelipisnya bak orang sedang melakukan gerakan hormat. Melda tersenyum kecil melihat tingkah Jack. Tak salah dia memilih lelaki itu sebagai kekasihnya. Sementara di kamar yang terasa amat asing, Meisin mencari jalan keluar melalui jendela. Dia menarik meja usang ke bawah jendela yang lumayan tinggi, namun nihil, jendela itu ditutupi papan kayu yang sudah dipaku dari luar. “Ah, Sial,” gerutunya. Karena tak hati-hati, dia terpeleset dan seketika tubuhnya limbung, namun dengan cepat tangan kekar Jack menangkapnya. Sesaat, pandangan mereka bertemu. Meisin memegang kuat pada lengan Jack yang melingkar di tubuhnya namun seketika dia seperti berada di dimensi berbeda. Meisin kembali ke tengah rumah penduduk yang padat di saat gulita yang sama seperti kejadian kebakaran yang tempo hari dia lihat dalam visionnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN