Meisin kembali ke tengah rumah penduduk yang padat di saat gulita yang sama seperti kejadian kebakaran yang tempo hari dia lihat dalam visionnya.
Dia melihat tiga orang bertopeng tengah menyirami rumah yang tak lain adalah rumah pertama dalam peristiwa kebakaran itu. Tak lama, dia juga melihat salah satu dari mereka mengeluarkan sebatang korek kayu yang sekali digesekkan maka dilahaplah rumah di depannya oleh api.
“Haha, musnahlah kalian semua, aku sudah melaksanakan tugas terakhirku dari mendiang bapak,” ucapnya tertawa senang melihat kobaran api yang dengan cepat berpindah ke rumah yang lain.
“Apa aku sangat tampan sampai kamu melihatku sangat lama?” suara Jack mengembalikan jiwa Meisin yang sempat berkelana ke masa lalu.
Meisin bergerak meminta diturunkan yang segera dituruti oleh Jack.
“Aku akan menolongmu kalau kamu mau,” ucap Jack dengan senyum misterius.
Meisin tak menjawab, dia lebih takut pada lelaki di depannya ketimbang dengan hantu yang belakangan bisa dia lihat. Lelaki di depannya adalah manusia kasar yang Meisin lihat sendiri kelakuan bejatnya saat melakukan kekerasan seksual di lantai atas bangunan tua itu.
“Aku akan membawa kamu keluar dari tempat ini kalau kamu bersedia,” ulangnya.
“Apa aku bisa mempercayaimu?” Meisin menjawab dengan pertanyaan yang seketika membuat Jack terkekeh.
“Atas alasan apa kamu tidak percaya padaku? Aku muak dengan sikap Melda, dia ambisius. Dia bertindak hanya sesuai keinginannya,” jawabnya terlihat marah. Namun Meisin tak semudah itu percaya.
“Aku tidak akan kemana-mana, ada orang lain yang akan menolongku, yang pasti bukan kamu,” sahut Meisin mengejek.
Jack tak terpancing sedikitpun, dia justru tersenyum yang membuat Meisin semakin takut melihatnya. Dia melangkah keluar dan tak menutup pintu.
Meisin tak mengerti melihat tingkah Jack yang membiarkan pintu terbuka seolah tak khawatir jika dirinya kabur.
Dia bangkit namun tiba-tiba kakinya ditarik sebuah tangan dari kolong tempat tidur. Saat dilihatnya, tangan itu tampak hitam legam dengan bercak darah dan belatung yang berlarian di sana. Meisin hampir muntah namun kemudian tangan itu lenyap seketika saat Meisin menghentakkan kakinya.
Saat kepalanya dia angkat, dia melihat wajah menyeramkan menyeringai tepat di depan wajahnya. Wajah pucat dengan darah mengucur dari kedua bola matanya yang seolah hendak keluar. Mulutnya lebar seperti bekas robekan yang di sana terdapat belatung besar berpesta memakan dagingnya yang membusuk.
“Aaaa ....” Meisin berteriak namun suaranya seolah tak terdengar. Dia melangkah mundur hingga tubuhnya membentur dinding dan tak bisa lagi digerakkan. Sementara hantu di depannya semakin mendekat dan menyentuh wajahnya. Meisin memejamkan matanya, namun seketika dia mendengar musik DJ tengah dimainkan di tempat dirinya berada saat ini.
Meisin membuka mata dan kini dia berada di tengah gemerlap dunia malam dengan alunan musik DJ dan wanita berbaju seksi serta lelaki dengan minuman di tangannya.
Di sana dia melihat Jack sedang bersama perempuan yang tubuhnya nyaris sempurna. Body bagai gitar spanyol dengan pinggul besar dan p******a tak kalah besar. Wanita itu menggerakkan badannya mengikuti irama musik yang saat ini dimainkan.
“Ayo kita berpesta yang sebenarnya,” ajak Jack dengan berbisik pada wanita itu. Entah kenapa, alunan musik tak membuat suara Jack tidak terdengar oleh Meisin.
Jack merangkul tubuh wanita itu menjauhi keramaian club malam yang dipenuhi manusia pecinta kebebasan.
Meisin mengikuti mereka diam-diam, mendudukkan pantatnya di jok belakang mobil Jack yang kosong.
Keduanya bergumul di mobil seolah tak bisa mencari tempat lain menuntaskan nafsunya. Meisin menutup mata namun sesekali mengintip dari celah jarinya yang sengaja dibuat renggang.
“Sial banget sih, aku. Malah kejebak dalam gulat yang lebih seram dari gulat setan,” ucapnya namun tak terdengar oleh dua makhluk yang saat ini asyik saling mendorong dan menindih.
“Aduh, mana lama banget lagi,” ucapnya lagi. Kali ini dia membelakangi dua tubuh yang masih bergumul penuh nafsu itu.
“Udah, Woy. Gua kebelet lama-lama denger suara elu,” tukas Meisin yang kemudian memilih keluar dan membanting pintu kasar.
Sesaat, mereka berhenti namun kembali melanjutkan aksinya seolah tak peduli dengan suara pintu mobil yang terbuka dan tertutup sendiri.
Meisin berdiri di dekat pintu mobil, menyilangkan tangan di d**a menunggu permainan yang belum juga usai.
Sementara tak jauh dari tempatnya berdiri, dia melihat Melda sedang berjalan ke arahnya.
“Mampus Lo pada,” sorak Meisin. Dia bisa menebak bahwa Melda tidak akan mungkin hanya diam melihat kekasihnya b******u dengan wanita lain.
Dan kita lihat, apa yang akan dilakukannya pada wanita malang itu?
Meisin mundur sedikit agar tubuhnya tak ditabrak oleh Melda. Seketika pertengkaran itu terjadi di depan matanya.
Melda menarik kasar perempuan itu keluar dari mobil. Dia tak memberi kesempatan untuk perempuan itu memakai kembali pakaiannya hingga perempuan itu keluar tanpa penutup sehelai pun.
“Gila tu cewek, nggak kasian apa? Masa anak orang ditelanjangi di depan umum.” Meisin hanya berdecak heran sembari menggelengkan kepalanya melihat perlakuan Melda pada wanita itu.
Sementara Jack dengan terburu-buru memakai pakaiannya lalu keluar menarik tangan Melda.
“Apa? Elo mau ngebela dia? Iya?” ucapnya lantang penuh emosi.
“Bukan begitu, ayo kita selesaikan di mobil,” ajak Jack lembut hendak meraih tangan Melda namun segera ditepis kasar olehnya.
“Oke! Seenggaknya biarkan dia memakai pakaiannya dulu,” ucap Jack mengangkat tangannya untuk tidak menyentuh tangan Melda.
Sementara perempuan itu tak membuang waktu, dia segera masuk ke mobil Jack lagi lalu dengan cepat memakai pakaiannya kembali.
“Gua beli minum dulu,” ucap Jack santai berjalan masuk ke club yang berada di belakang Meisin.
Saat Jack masuk ke club, Melda menjambak rambut perempuan itu lalu menariknya keluar dan memaksanya masuk ke mobilnya.
Jack yang baru keluar dari club itu langsung mengejar mobil Melda, sedang Meisin tak kalah cepat segara menerobos masuk dan duduk di samping Jack tanpa diketahui.
Rupanya, Melda membawa perempuan itu ke dalam rumah yang menjadi tempat Meisin di sekap saat ini. Tak ada yang berubah dari tempat ini, dindingnya masih terlihat bagus dan tidak mengelupas, juga cat pintu kayu yang masih tampak terang dan belum memudar.
Jack terlambat, perempuan itu sudah ditusuk perutnya oleh Melda yang terbakar api cemburu.
“Bego Lo! Kenapa elo bunuh dia?” seru Jack meraih tubuh yang tengah tersengal sehabis memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, dia berkata, “Aku hamil anak kita.”
Seketika Jack menitikkan air mata, namun rupanya dia sudah terlambat sebab perempuan itu sudah menggelepar lalu menghembuskan nafas terakhirnya.
Tubuh Meisin seolah ditarik kembali dan dia mendapati dirinya berada dalam kamar yang menjadi tempat meninggalnya perempuan malang itu.
Meisin melihat sekeliling, namun arwah perempuan itu hilang entah kemana.
Meisin berjalan mendekati pintu namun dia urung keluar, sebab dia melihat Melda datang dari pintu utama. Meisin melihat di belakang Melda terdapat hantu perempuan yang mengikutinya. Dia menatap Melda penuh dendam.