1. PROLOG
Sore itu Renata yang duduk santai di teras rumah sedang melamun sambil senyum-senyum sendiri, membayangkan bagaimana nantinya jika ia menikah dengan seorang pria tampan seperti Lee Minho artis korea idamannya. Betapa bahagianya dia jika nantinya memiliki suami seperti itu, sudah ganteng, pengertian, dan begitu menyayangi dirinya. Terkadang ia juga berdo'a kepada Allah agar dipertemukan dengan jodoh yang seperti ia impian, walaupun sejatinya mungkin mustahil mendapatkan suami yang wajahnya setampan Lee Minho.
Tiba-tiba Jihan, mamanya Renata datang membuyarkan lamunan Renata.
"Ren sudah sore nih! Kamu segera mandi sana jangan malas-malasan terus di teras gini." titah Jihan.
"Mama apaan sih ngagetin Renata saja." gerutu Renata.
"Habisnya kamu ya sudah sore gini bukannya segera mandi malah melamun manja di teras gini, sedang ngelamunin apaan sih? mikirin cowok ya?" Jihan menjadi lengan anaknya.
"Apaan sih ma, udah ah Renata mandi dulu, bye mama." Renata melenggang ergi meninggalkan mamanya seorang diri.
"Duh anakku sudah dewasa ya sekarang, perasaan baru kemarin aku nimang dia." batin mama Renata.
Memang dasar Renata mau ke kamar mandi pun, juga masih sempat-sempatnya membayangkan sosok lelaki tampan yang akan menghiasi hari-harinya kelak. Entah kenapa Renata sangat tergila-gila dengan tokoh idolanya.
Hari demi hari telah dilalui oleh Renata, asem manisnya hidup juga sudah dirasakan olehnya. Memang benar bahwa setiap perkataan adalah do'a, siapa yang menyangka bahwa takdir mempertemukan Renata dengan seorang Johan Harahap Alaric, lelaki tampan dan sabar seperti idamannya selama ini.
Ya takdir setiap orang memang sudah tertulis digaris tangan masing-masing dan lauhulmahfuz. Seperti halnya jodoh, dari sebelum lahir Allah sudah menuliskan kelak kita akan berjodoh dengan siapa, kapan waktunya, dan dimana tempatnya. Dan seperti perumpamaan, bahwa orang baik akan berjodoh dengan orang baik, begitu pula orang jahat akan berjodoh dengan orang jahat itu nyata adanya. Sebelum kita bertemu dengan jodoh yang ditakdirkan oleh Allah, kita dihentakkan dengan rasa sakit dan kecewa yang bertubi-tubi agar kita nantinya mendapatkan permata yang menawan untuk menghiasi hari-hari kita. Maksudnya apa demikian? Agar kita tahu untuk mendapatkan suatu kebahagiaan itu butuh perjuangan sampai titik teratas.