Author POV
Mentari pagi telah menampakkan batang hidungnya di ujung timur. Jam weker di kamar Billy berbunyi nyaring sebagai pertanda waktu telah menunjukkan pukul enam pagi, dimana Billy sengaja men-setting alarm agar tidak telat pergi ke kantor akibat bangun kesiangan.
Tetapi tidak untuk kali ini, Billy yang biasanya bergegas bangun ketika alarm berbunyi kali ini dia hanya mematikan alarm yang tergeletak di nakas dan kembali tidur lagi karena dia tidak ingin membuyarkan mimpi indah tentang Renata. Yah! seperti yang Billy harapkan semalam dia ingin bermimpi bertemu dengan pujaan hatinya. Renata yang nampak cantik dan anggun menggunakan gaun merah berlari-lari bersama Billy di taman menyusuri indahnya bunga-bunga yang bermekaran didampingi dengan hiruk pikuknya kicauan burung yang membuat suasana begitu syahdu.
"Ren please stop! Jangan lari-lari lagi aku sudah capek." ucap Billy sambil ngos-ngosan.
"Payah kamu, sini kejar kalau bisa."
"Awas kamu Renata kalau sampai tertangkap."
"Nggak takut, weeekk." Renata menjulurkan lidahnya.
Selang beberapa menit kemudian Billy behasil mengejar Renata kemudian memeluknya dengan erat seakan sangat takut jika nanti akan kehilangan kekasih hatinya. Iya bersama Renata Billy begitu merasa damai.
***
Billy POV
Waktu telah menunjukkan pukul tujuh pagi. Mirna wanita paruh baya yang rambutnya mulai ditumbuhi uban, wanita yang sedang menyerka keringat yang bercucuran di dahi karena kelelahan memasak dan beberes rumah, tak lain adalah ibu Billy. Ya ibu Billy yang telah selesai menyiapkan sarapan dan menatanya di meja mulai sibuk mencari-cari keberadaan anak satu-satunya dan kebanggaannya itu. Si Billy yang sampai sekarang belum menampakkan batang hidungnya membuat ibunya curiga, lantas bergegas menuju kamar Billy, dan sesuai dugaannya ternyata anaknya masih bermanja ria dengan kasur dan bantalnya.
"Billy bangun! Sudah jam berapa sekarang? sudah siang gini belum bangun. Kamu tidak siap-siap kerja?" Terdengar menggelegar seperti monster nada Mirna.
"Ibuuuuu--apaan sih gangguin Billy? Jadi buyar kan mimpi indah Billy."
Melihat anaknya yang semrawut frustasi membuat Mirna penasaran dengan mimpi Billy, karena tidak seperti biasanya sikap Billy seperti ini, lantas menggoda anak semata wayangnya ini.
"Duh anak ibu mimpiin apaan sih? Lagi jatuh cinta ya? atau malah jangan-jangan sampai mimpi melakukakan adegan ciuman panas atau jangan bilang sampai basah sekarang." Mirna menghujani pertanyaan kepada Billy sambil memperhatikan kasur Billy.
"Ibu apaan sih? please aku nggak mimpi basah jadi nggak perlu liatin kasurku seperti itu." dengus Billy.
"Terus mimpi apa dong anak jaka ibu ini sampai-sampai bangun bisa kesiangan seperti ini? Cerita sama ibu siapa tau bisa membuat kamu lega."
"Mmmm ... anu bu."
"Anu apa?"
"Mmmm Billy ... Billy su ... suka sama seseorang." ucap Billy sambil menangkupkan kedua tangannya ke wajahnya untuk menutupi rona merah di kedua pipinya.
"Wah itu artinya ibu punya calon menantu, Billy kenalin ke ibu dong ibu tidak sabar nih ingin cepat-cepat punya cucu."
"Ibu kok malah ngomongin cucu sih, Billy masih PDKT bu boro-boro mikirin buatin cucu buat ibu orang pacaran saja belum." Billy mengacak rambutnya frustasi.
"Ya tidak apa-apa ibu ingin cepat-cepat lihat kamu menikah, ibu sudah tua nak pengen juga segera merasakan gendong cucu."
"Makanya ibu harus do'akan Billy supaya cinta Billy tidak bertepuk sebelah tangan, karena cewek yang Billy suka belum menanggapi perasaan Billy."
"Iya nak pasti ibu do'akan semoga cintamu diterima sama wanita pujaanmu, sudah ah! sekarang kamu mandi dulu sudah siang nanti telat datang ke kantor, ibu siapkan bekal untuk kamu dulu."
Kemudian Mirna bergegas menuju ke dapur untuk menyiapkan bekal makanan untuk anak kesayangannya.
***
Waktu telah menunjukkan pukul sembilan pagi, semua karyawan PT Medika Indah yang bergerak di bidang distributor s**u, popok bayi dan kebutuhan anak dengan usaha meliputi stok barang produksi, promosi dan pemasaran sedang berkumpul di aula untuk mengadakan meeting pagi. Pak Arya yang merupakan CEO dari perusahaan tersebut memimpin rapat kali ini, dan akan membahas tentang bagian pemasaran produk yang dikelola oleh Pak de Doni dan Billy sebagai partner kerjanya. Pak Arya memberikan tugas kepada keduanya untuk memperluas jaringan agar omset bisa meningkat, mengingat akhir-akhir ini penjualan popok Rocxy mengalami penurunan, sehingga Pak Arya membombardir Pak de Doni dan Billy. Setelah selesai mengatur strategi pemasarannya Pak Arya menutup meeting dan mengutus keduanya untuk ke lapangan.
Tiba-tiba Pak de Doni menepuk pundak Billy yang sedari tadi melamun dan senyum-senyum sendiri di kursinya.
"Woi bro kerja, kerja jangan malah senyum-senyum kaya orang gila, gini amat ya rasanya jadi bucin." cerocos Pak de Doni yang memang sudah seperti amlop dan perangko dengan Billy, dan juga sudah menganggap Billy sebagai adiknya, jadi tidak ada rasa canggung lagi ketika berkata.
"Pak de aku minta tolong boleh?"
"Mau minta tolong apa? Buat kamu mah oke-oke saja asalkan ada imbalannya."
"Iya deh nanti aku kasih imbalan kalau Pak de mau bantuin dekatkan Renata dengan aku."
"Itu doang? gampang."
"Jangan gampang-gampang dong Pak de aku harcem nih."
"Apaan tuh harcem?
"Harap-harap cemas Pak de karena kemarin aku nembak Renata, aku telpon dia buat mengutarakan isi hatiku tapi sampai saat ini Renata belum menanggapinya."
"Lah lagian kamu nembak cewek lewat telpon nggak mbois banget."
"Trus aku harus gimana dong Pak de? aku belum ada nyali buat ungkapkan di depan Renata langsung."
"Sebagai cowok jantan kamu harus ungkapkan langsung di depan Renata Billy sebelum terlambat keburu Renata diambil orang lain baru tau rasa kamu, karena setau aku Renata itu ada rasa dengan Deon."
"Apa Pak de? siapa itu Deon? jangan bilang mereka sudah jadian makanya Renata sampai sekarang belum menanggapi perasaanku."
"Renata pernah cerita kalau dia itu ngefans sama Deon anak bagian pengirimannya distributor Mega Farma."
"Aaaargh .... " Billy mengacak rambutnya frustasi.
"Kan cuma ngefans Billy, belum tentu juga Renata cinta dengan Deon, makanya kamu cepat-cepat harus mengajak Renata bertemu dan ngomong empat mata dengan Renata sebelum terlambat dan sebelum kamu menyesal nantinya, ingat kesempatan tidak akan datang dua kali."
"Baiklah kalau begitu pak de nanti coba aku hubungi Renata sekarang kita jalankan tugas negara dulu, kita tukeran rute kunjungan dong Pak de, kan hari ini jadwalnya Pak de Doni ke apotek Fatma Farma jadi biar aku saja yang kunjungan kesana agar bisa melihat wajah imut-imut dan hidung mancungnya Renata yang bikin gemas itu."
"Jangan bilang kamu ingin mencumbuinya dan bisa membangunkan gairahmu ketika kamu membayangkan wajah imutnya Renata." goda Pak de Doni.
"Pak de apaan sih jangan gitu dong ngomongnya." celetuk Billy kesal.
"Hahaha bercanda bro gitu saja senewen, sudah ayo kita jalan nanti diomelin Pak Arya dikira cuma makan gaji buta"
Kemudian mereka berdua melajukan motornya masing-masing dan berpisah di tengah jalan menuju rute kunjungan masing-masing.
***
Sesampai di depan apotek Fatma Farma Billy segera memarkirkan sepeda motornya di tempat parkir, dan ketika mau masuk ke dalam, jantung Billy berdegup lebih kencang dari biasanya seperti layaknya dikejar anjing gila di jalan tanjakan yang membabi buta dan siap menerkam mangsanya.
Duh seperti apa ya rasanya dikejar anjing gila seperti itu? Hanya Tuhan dan Billy yang tau, yang jelas bisa bayangkan sendiri gimana rasanya dikejar anjing di jalan tanjakan, yang jelas capek luar biasa bung!
Haish! lupakan anjing gila dan balik lagi kepada Billy yang akan memasuki apotek Fatma Farma. Billy yang mendapati Elisa berada di ruang pelayanan langsung menyapanya.
"Siang mbak Elisa."
"Siang mas Billy, kunjungna ya?"
"Iya mbak sambil cek stok ya mbak."
"Iya sebentar ya biar dihitungkan sama Renata stok fisik diapersnya."
"Renata tolongin saya cek stoknya Rocxy diapers." perintah Elisa kepada Renata.
"Iya mbak El sebentar ya saya hitungkan,"
Mendengar kata Renata dan suara sahutan dari Renata membuat tubuh Billy gemetar dan salting.
"Mas Billy kenapa kok sepertinya salah tingkah begitu mendengar aku panggil Renata? Atau jangan-jangan mas Billy ada rasa ya sama Renata? Ayo ngaku."
"Apa sih mbak Elisa ini, aku tidak salah tingkah kok cuma haus aja." elak Billy sambil mengambil botol minumnya di dalam tasnya untuk mengurangi rasa gugupnya.
Tiba-tiba Renata nyelonong ke depan dan membawa buku catatan stok fisik Rocxy diapers.
"Mbak ini ya stok ... eh ada mas Billy to?" ucap Renata sambil melirik Billy. Lirikan yang membuat Billy semakin terpanah asmara.
"Hmm, hmm, uhuk, uhuk, kayaknya aku keselek ini gatal banget tenggorokan kaya serasa jadi kacang disini." Elisa yang sedari awal sudah memperhatikan bahwa sebenarnya Billy ada rasa dengan Renata langsung paham.
"Mbak El eh ... maaf ini mbak buku stoknya Rocxy diapers sekarang, kita kehabisan ukuran M isi 10 hanya tertinggal 1 pieces saja."
"Ok deh Ren kalau gitu order ukuran M isi 10 sebanyak 10 pieces ya mas Billy, cepat dicatat mas nanti lupa lagi karena kehadiran Renata disini."
"Iya mbak El sudah aku catat dengan mantab nih orderan apotek Fatma Farma."
"Semantab perasaan mas Billy ke Renata? Sudah ah! aku mau ke belakang ambil minum nanti kalau disini semakin keselek." goda Elisa.
"Mbak El apaan sih?" Renata mencubit pinggang Elisa.
"Aduh sakit tau Ren, sudah ah aku mau ke belakang dulu."
"Biarin, biar tau rasa mbak Elisa."
Elisa sudah meninggalkan mereka berdua dan hanya menyisakan Renata dan Billy saja di ruang pelayanan. Suasana sempat hening beberapa menit, tidak ada yang mau membuka omongan hingga akhirnya Billy membuka omongan untuk mencairkan suasana.
"Renata .... "
"Iya."
"Nanti kamu pulang kerja jam berapa?"
"Jam satu siang mas karena mbak Tania hari ini libur, jadi aku hari ini masuk pagi sampai jam satu siang dan nanti sore jam lima sore balik ke apotek lagi."
"Kalau gitu gimana kalau nanti sore aku jemput kamu?"
"Hah .... "
"Iya Ren aku antar kamu ke apotek."
"Nggak ah! Mas, nanti aku malamnya tidak ada yang jemput trus kalau malam tidak ada angkutan umum jadi susah kalau pulang, lagian kan mas Billy juga nggak tau rumah Renata."
"Ya aku jemput lah Ren nanti pulangnya, mana mungkin bisa membiarkan kamu pulang tidak ada yang jemput nanti dan malam-malam pula, kalau masalah alamat rumah gampang nanti aku cari tau alamatnya asalkan kamu kasih tau."
"Mmmm ... gimana ya mas."
"Boleh ya Ren sekalian aku ada sesuatu yang mau aku omongkan, please." Billy memohon sambil menggabungkan kedua tangannya menandakan permintaan yang teramat dalam.
"Lihat nanti deh mas, nanti aku kabari karena aku harus minta izin dahulu kepada mama."
"Iya Ren nanti kamu kabari aku ya gimananya."
"Iya mas."
"Kalau gitu aku pamit dulu ya Ren soalnya masih ada jadwal kunjungan ke tempat lain."
"Iya."
"Eh sampai lupa belum minta stempel kunjungan."
"Iya sebentar aku ambilkan dulu mas."
Kemudian Billy beranjak keluar menuju tempat parkir dan bergegas mengendarai sepeda motornya ke rute selanjutnya sambil memikirkan bagaimana jika nanti sore jadi menjemput Renata, dan mengantarkannya ke tempat kerjanya, alangkah bahagianya dia apalagi jika nantinya ini bisa jadi rutinitasnya setiap hari untuk antar jemput Renata jika nanti Renata menjadi ibu dari anak-anaknya. Betapa lengkap kebahagiaanya. Billy berharap semua bisa jadi kenyataan dan dalam hatinya memohon kepada Allah semoga diijabah keinginannya untuk menjadikan Renata wanitanya. Tetapi yang namanya cinta tidak bisa ditebak, cinta datang dengan sendirinya dimasa mendatang seperti alunan sang waktu yang selalu berjalan maju, dimana mantan akan jadi kenangan dan kekasih akan menjadi harapan. Seperti harapan Billy yang menginginkan cintanya dibalas oleh Renata Olivia. Ya, Renata Olivia yang berparas menawan, imut, manis dan berhidung mancung yang mampu menaklukkan hati seorang Billy Permana. Akankah keinginan dan harapan Billy terwujud? Dan mampukah Renata menerima Billy sebagai kekasih hatinya?