6. Belajar Membuka Hati

910 Kata
Elisa yang sedari tadi telah menyadari dan memperhatikan Renata yang sedang turun dari motor Billy, kemudian langsung berdehem ketika Renata masuk ke dalam apotek Fatma Farma. "Ehem cie yang berangkat kerja dijemput sama pangeran, seromantis itu ya ayang Billy, jadi iri aku." goda Elisa. "Apa sih mbak Elisa, aku cuma berteman sama Billy." "Yakin hanya berteman? Ingat ya cinta datang dari mata turun ke hati, sekarang kamu bisa bilang teman, siapa tau besok kamu jadi tergila-gila dengannya karena saking seringnya melihat tingkah Billy yang berusaha mendapatkan hatimu." "Tapi mbak aku beneran tidak ada rasa sama Billy, aku hanya kasihan saja, 'kan mbak El juga tau kalau aku sukanya sama Deon. Entah kenapa hatiku adem banget ketika melihat Deon, tapi dia yang nggak pernah peka orangnya" Flashback On Siang itu Deon datang ke apotek Fatma Farma untuk mengirim barang pesanan apotek. Ya, Deon saat ini bekerja di distributor Mega Farma bagian pengiriman. Mega farma ini adalah distributor yang pegang mucosic sirup yaitu salah satu obat batuk terkenal di Indonesia. Di bagian penerimaan barang ada Elisa yang handle siang itu, dan dia sengaja memanggil Renata sembari mengajari Renata proses penerimaan barang. Dan pandangan Renata tertuju pada sosok jangkung, berbola mata bulat dengan manik hitam kecoklatan menghiasi paras indah wajah Deon. Dari sekian banyak lelaki yang pernah dikenal Renata menurutnya Deon begitu sempurna. Makhluk ciptaan Tuhan satu ini benar-benar menghipnotis Renata, seorang gadis yang cerewet dimata teman-temannya ketika sekolah dulu. Ya, Renata termasuk orang yang paling rame dan ceria jika sudah berkumpul dengan sahabat-sahabatnya. Tapi dibalik keceriaannya dia adalah sosok yang diam seribu bahasa jika sudah ada yang membuat moodnya jelek. Dari zaman sekolah dulu Renata sangat susah membuka hati untuk cowok, dan itu terbukti dari beberapa teman cowok yang pernah mendekatinya hampir tidak pernah ditanggapi olehnya. Kejadiaannya sangat berbeda saat ini ketika Renata bertemu dengan Deon. Mungkin hanya Deon satu-satunya lelaki yang bisa membuat hidup Renata bisa berwarna. Gemuruh mulai terasa di d**a. Seketika jantung Renata terasa sesak dan berdegup begitu kencang ketika suara lantang menyapa dan mata Deon menatapnya . "Hai, mbak baru ya kok tidak pernah kelihatan." tutur Deon. Iya Renata ini baru Deon makanya kamu baru bertemu pertama kali sekarang." timpal Elisa sambil menyenggol lengan Renata karena bengong. "Eh--eh iya mas, iya saya baru disini." jawab Renata sedikit terbata-bata "Namanya siapa mbak?" "Oh iya kenalkan saya Renata." "Saya Deon." sambil mengulurkan tangan yang bermaksud ingin berjabat tangan dengan Renata. "Ya Tuhan mimpi apa aku semalam diajak berjabat tangan oleh makhlukmu yang setampan dan sesexy ini? Rasanya kaya mau pingsan sekarang. Please Ren, tenang Ren, tenang, jangan malu-maluin dirimu disini. Nanti saja kalau sudah dirumah kalau mau pingsan." Batin Renata dalam hati. "Iya Deon salam kenal ya." *** Sejak saat itu Renata selalu rajin jika sedang disuruh mengecek stok obat-obat yang dibawa oleh distributor Mega Farma, karena dia ingin bertemu dengan Deon tentunya. Dari situ semua team apotek termasuk Bu Dini paham jika Renata menaruh hati pada Deon dan pada akhirnya mereka selalu memojokkan Renata dan Deon, hingga akhirnya mereka berteman dekat dan saling bertukar nomor handphone. Entah bagaimana ceritanya tiba-tiba malam itu Deon mengirim pesan kepada Renata. Bagai mendapat durian runtuh bagi Renata saat itu, senang bukan main, tapi tidak dengan Deon yang memang sejak awal dia hanya menganggap Renata sebagai teman tidak lebih. Deon Hai Renata apa kabar? Renata Baik, kamu sendiri gimana Deon? Deon Aku baik juga, lagi apa sekarang? Renata Ini sedang baca novel. Deon Oh ganggu ya berarti aku, ya sudah lanjutin bacanya Ren. Kalau gitu aku izin tidur dulu ya bye. Renata Enggak ganggu kok Deon. Renata yang berharap dapat balasan pesan kembali dari Deon ternyata harus merasakan kecewa karena tak kunjung dibalas pesannya oleh Deon. Flashback Off "Tapi Ren tidak ada salahnya kamu belajar membuka hatimu untuk Billy, sepertinya aku lihat dia begitu mencintaimu. Sebagai seorang teman aku tidak ingin kamu kecewa akan Deon nantinya, jadi saran aku kalau sudah ada yang tulus jangan disia-siakan, nanti kamu menyesal jadinya." "Apa aku bisa mbak mencintai orang yang tidak aku cintai?" "Jadikan hidupmu mengalir bagaikan air. Sama halnya cinta, dia akan mengalir begitu saja nantinya, karena cinta itu misteri, datang begitu saja tidak bisa ditebak." tutur Elisa. "Ini sangat sulit bagiku mbak El." Elisa yang paham dengan keadaan Renata sekarang langsung mendekapnya dengan maksud ingin menenangkan Renata, mungkin dengan sedikit dekapan itu bisa meringankan beban hidup temannya saat ini. "Di dunia itu tidak ada yang sulit selagi kita punya niat Ren, mungkin sekarang kamu bilang sulit, tapi suatu saat kamu akan bilang mudah untuk mencintai Billy. Pasrahkan semua sama Allah, jika kamu pasrah dan ikhlas maka jalanmu akan dipermudah, dan jika memang nantinya Deon adalah jodohmu maka dia akan menjadi milikmu. Ketika kamu tidak mengejar cinta maka cinta itu dengan sendirinya akan mengejarmu dan akan menjadi milikmu." Renata mulai tersedu-sedu mendengar perkataan temannya itu. "Yang dibilang sama mbak Elisa benar, baiklah mbak mulai sekarang aku akan jalani hidupku seperti aliran air yang mengalir, dan biarkan Allah yang mengatur semuanya karena Dialah yang berkuasa dan pemberi kehidupan serta cinta kasih." air mata Renata terus menitik di lengan baju yang dikenakan oleh Elisa. "Menangislah Ren selagi air matamu bisa keluar, karena kapan pun dan dimana pun aku akan siap jadi teman curhatmu." Sejak awal memang Elisa dan Renata terlihat begitu akrab antara satu dengan lainnya, bahkan ketika Elisa ada masalah dengan pacarnya yang bernama Yoga, juga selalu cerita ke Renata. Ibarat roda dengan ban sepeda yang tidak bisa jalan jika tidak ada ban yang menggulirkan roda tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN