19

1385 Kata
Sore itu setelah pulang dari mengajar Aska mengajak Ana untuk jalan jalan, lebih tepatnya melakukan pendekatan sebelum hari pernikahan mereka. Di sebuah tempat perbelanjaan Aska menggandeng tangan Ana menyusuri lantai dalam mall. " kamu mau makan apa An..." tanya Aska membuka obrolan " tidak pak... Ana tidak lapar." jawab Ana masih tanpa respon. Aska berinisiatif mengusap perut Ana " mau makan apa kamu sayang... ayah akan belikan. Lihatlah Bundamu masih belum mau menerima Ayah sayang " Tidak tau malunya Aska berjongkok di depan perut Ana. Ana yang tidak sama sekali bergeming tak sengaja melihat sosok pria yang ia rindukan selama 2 bulan ini sedang berjalan dengan seorang wanita yang menempel seperti perangko di lengan Hendrik. Dari jauh Hendrik juga sama langkahnya berhenti kalah melihat sosok gadis yang ia rindukan selama 2 bulan ini. Tanpa mengalihkan pandangannya Hendrik menghempaskan dengan kasar tangan wanita yang menempel di lengan kirinya. Matanya seketika memanas melihat pria yang sedang berjongkok di depan perut Ana. Hendrik melebarkan kakinya meninggalkan wanita tadi segera menghampiri adiknya. Lain halnya dengan Ana tubuhnya hampir tidak bisa bergerak, bahkan tenggorokannya cekat hanya untuk memanggil nama pria yang berjalan mendekat ke arahnya. Pandangan mata mereka tak sedikitpun lepas, sampai akhirnya Hendrik menarik pria yang berlutut di depan Ana. " Aska..." Seketika tubuh Aska di tarik Hendrik untuk berdiri, dan Bug... Bug... Dua pukulan di pipi kanan dan kiri Aska Aska ingin membalas tapi Ana mencegahnya, " apa apaan ini An." tanya Hendrik Raut wajah Hendrik sedang tidak baik, di antara dua kenyataan. Pertama rasa senang tidak terkira melihat Ana sudah kembali namun kenyataannya ia melihat Ana kini jalan bersama Aska. " kita pulang ya An..." ajak Hendrik Aska mencegah tangan Hendrik yang ingin membawa pergi calon istrinya " hai tunggu Hen, siapa kamu mau bawa lari calon istri orang." Kata calon istri orang membuat Hendrik bertanya tanya apa maksud dari kata kata itu. " Ana calon istriku." Aska memberikan jawaban atas pertanyaan mata Hendrik Héndrik tertawa terbahak bahak, bagaimana bisa mantan sahabatnya itu mengakui Ana sebagai calon istrinya. " Ka... apa kamu sudah gila." " tidak kak, memang kak Aska calon suami Ana dan kami akan menikah kurang dari seminggu ini." Bagai petir di atas kepalanya, apa maksud semua itu. Hendrik menggeleng, tidak percaya akan lelucon ini. Sedangkan Aska senang bukan kepalang mendengar Ana memanggilnya dengan embel embel kak padahal baru beberapa menit yang lalu ia di panggil Pak. Matanya menyalang penuh emosi pada pada Aska " apa yang kamu lakukan pada adikku ha..." " tidak ada, hanya saja kita tiba tiba jatuh cinta dan membuahkan hasil." ucap Aska sambil mengusap perut rata Ana. Bug... Bug... Hendrik langsung menghajar Aska tanpa ampun, sampai satpam pun datang karena para manusia di pusat perbelanjaan itu berkerumun. Bahkan teriakan Ana tidak Hendrik dengarkan. Bisa saja saat itu juga Aska membalas pukulan Hendrik tapi belum saatnya, setiap pukulanmu akan kamu bayar mahal Hen, permainan masih baru akan di mulai. batin Aska mengangkat sudut bibir sambil mengusap hidungnya yang berdarah. Di sini meraka berada, di rumah keluarga Mahameru. Mata Hendrik semakin panas melihat pemandangan di depan matanya. Ana dengan telaten membersihkan dan mengobati lebam di wajah mantan sahabatnya itu. Hendrik berdiri ingin menyeka tangan Ana tapi tertahan " Hendrik duduk." teriak Shopia Hendrik kembali duduk, " Dengar 5 hari lagi pernikahan Ana dan Aska, jaga sikapmu Hen. Dia calon iparmu." tegas Shopia " apa apaan ini mah... tidak bisa Ana tidak bisa menikah dengan pria lain." Héndrik penuh emosi " kenapa tidak bisa." tanya Aska semakin memancing emosi Hendrik. " apa karena kamu juga menginginkan adikmu." lanjutnya " Aska...." teriak Hendrik emosi " jawab Ana bayi dalam perutmu anakku atau anak Aska." pertanyaan Hendrik mendohok telinga pria paruh baya yang baru saja masuk rumah. Tidak kaget bagi Shopia yang tau dan bagi Aska yang sudah menduga. " Hendrik..." teriak Alex dari pintu Satu bogeman mendarat di wajah Hendrik. " apa maksudmu hah..." nafas Alex mulai tersengal, dadanya terasa sesak untuk bernafas seperti keruntuhan ratusan batu besar. " jawab An..." bentak Hendrik menatap Ana. Ana sungguh tak mampu jawab, air matanya lolos di pipinya sekian detik kemudian Alex jatuh ke lantai tidak sadarkan diri. Di rumah sakit. Semua berkumpul di sana, Hardin yang baru saja menyusul bertanya tanya apa yang sebenarnya terjadi. Ketiga bibir di sana tak mampu menjawab pertanyaan Hardin, Ana langsung memeluk kakaknya itu dalam isak tangis. Hendrik masih duduk di kursi dengan UGD dengan wajah berantakan, tanpa bisa mendongakkan kepalanya. Dokter selesai memeriksa baru keluar dari ruangan. " bisa bicara dengan nyonya Mahameru." " ya dok.." jawab Shopia " bisa ikut keruangan saya." Shopia pun mengangguk berjalan mengekori dokter tadi. Sementara itu yang lainnya masih ada yang berdiri dan duduk di ruang tunggu. Hardin menuntun Ana untuk duduk, " ada apa An... papah kenapa ?." " ini semua salah Ana kak." Ana masih saja menangis. " An..." suara Hendrik melemah memanggil adiknya " haruskah Din menghajar kakak di sini." Hendrik merentangkan kedua tangannya berharap Ana menyambutnya. Antara ya atau tidak, logikanya berkata tidak tapi hati kecilnya menuntun untuk menyambut pelukan itu. Entah itu dari dasar hatinya paling dalam atau naluri bayi dalam kandungannya, Ana menghamburkan pelukannya. Tangisannya samakin menjadi jadi saat dalam pelukan Hendrik tak peduli lagi ada Hardin bahkan calon suaminya di sana. " maafkan kakak sayang." Hendrik mencium pucuk kepala Ana berkali kali " maafkan kakak." ucapnya lagi. Di sini Aska tidak bisa terima kalau calon istrinya akan di rebut lagi oleh Hendrik. Ia ingin melepaskan pelukan Ana dari Héndrik, tapi tangan Hardin mencegahnya " lebih baik kita memberikan waktu untuk mereka kakak. Din mohon." Hardin menggandeng tangan Aska menjauh dari kedua insan yang baru saja bertemu itu. Suara mesin detak jantung rumah sakit mengisi ruangan yang hening itu. Tinggal Shopia yang menemani suaminya yang masih belum sadarkan diri, ketiga anaknya sedang menunggu di luar, Aska izin pulang dari sejam yang lalu. Jari Alex bergerak, matanya terbuka dengan sayu. " mah..." panggilnya pada sang istri yang baru saja tertidur. " papah sudah siuman." tanya Shopia, menunggu berjam jam sendirian tidak menyalahkan Shopia jika tertidur. " mana anak anak kita mah..." tanyanya lemah " di luar pah..." " suruh ia masuk mah... papah mau lihat anak anak kita berkumpul. Mungkin ini sudah waktunya Ana tau semuanya mah." " tapi pah..." " mah..." mata Alex seperti memohon. Shopia menuruti permintaan suami memanggil anak anaknya masuk. Ana duduk di samping bankar papahnya, sedangkan mamah dan kedua kakaknya berdiri di belakang Ana karena saat ini dalam kondisi fisiknya seperti itu Alex ingin lebih dekat dengan Ana. " maafkan papah dan mamah sayang..." ucapnya penuh sedih " tidak pah ini salah Ana, semua salah Ana." Alex menggeleng, ia bingung harus bercerita dari mana dulu. " Walau apapun yang terjadi Ana tetap anak papah dan mamah... Hen dan Din kakak kamu sayang." Ana tidak mengerti maksud dari papahnya itu. " sayang... walau kamu tidak terlahir dari rahim mamahmu. Kamu dan Hen saudara sepersusuan nak. Papah mohon dengan sangat buanglah jauh jauh perasaan cinta dari dalam hati kalian. Kalian tidak bisa bersatu atau saling memiliki lebih dari saudara." " maksud papah.." Alex memejamkan matanya, mencoba mengatur nafasnya yang semakin sesak untuk melanjutkan berbicara. " Sayang apapun yang terjadi kamu tetap anak mamah dan papah." ucap Shopia mengusap rambut panjang Ana dari belakang. " Sayang... 18 tahun yang lalu Bi Yati menemukan kamu di depan gerbang rumah lama kita. Saat itu kamu seperti baru saja di lahirkan, orang tuamu sungguh biadab sayang tega menelantarkan kamu yang baru saja di lahirkan hitungan jam. Saat itu mamahmu menginginkan seorang bayi perempuan tapi kondisi kandungannya yang sudah pecah mengakibatkan mamahmu tidak bisa hamil lagi. Akhirnya kami mengadopsimu dan langsung membuat akta kelahiran mu sebagi anak kami." Sekan waktu berhenti berputar, langit runtuh di atas kepalanya Ana tidak percaya dengan penjelasan papahnya. Orang tua yang selama ini merawatnya, membesarkannya, menggadang gadangnya sebagai princess Mahameru ternyata bukan orang tua kandungnya. Terus dari rahim wanita biadab mana yang melahirkannya. Ana berdiri dari kursinya, menggeleng tidak bisa terima kenyataan itu semua. " tidak, tidak itu semua tidak benar kan mah... kak Din... kak Hen." Ana menatap satu persatu keluarganya, dan salah satu dari mereka tidak ada yang menjawab semua membisu menatap iba pada kenyataannya. Sekian detik kemudian mereka menjadi panik karena Alex kembali tidak sadarkan diri. Semuanya keluar dari ruang inap Alex tinggal dokter dan 2 suster sedang memeriksa kondisi Alex saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN