6

1242 Kata
" nanti biar kakak jemput, tidak perlu pulang sama Hardin apa lagi sama Gio." pesan Hendrik sebelum Ana turun dari mobil. Ana hanya mengangguk sebagai jawaban, bukan karena hal lain. Ana hanya takut saja saat ini pada kakaknya, takut kejadian semalam terulang lagi, pikirnya kalau ia bisa lebih nurut dengan Hendrik mungkin Hendrik akan lebih lembut padanya dan menyesali kejadian semalam. Di taman sudah ada Elsa dan Diana sahabat Ana dari SMA, bertanya tanya siapa yang mengantarkan Ana baru saja. Elsa merasa seperti itu Hendrik kakak Ana juga kakak dari kekasihnya. Tapi tumben sekali Hendrik mengantar Ana yang dia tau kalau Ana tidak sedekat itu dengan Hendrik, Ana hanya dekat dengan Hardin dari SMA dulu, " Ana apa tadi benar kak Hen ?." tanya Elsa meyakinkan. Ana pun mengangguk. " tumben ?." jika kepo Elsa mulai meronta, " bukannya kalian tidak pernah sedekat ini An ?." imbuh Diana, Ana hanya mengangkat bahunya tanpa komentar. " kalian masuk kelas aja dulu, aku mau ke toilet sebentar." pinta Ana pada dua sahabatnya. Sepanjang lorong perjalanan Elsa dan Diana saling bertanya kejadian tadi tapi meraka tidak mendapatkan jawaban dari Ana tadi. Depan cermin toilet kampus yang sepi Ana tidak ada hentinya memandang warna merah ke unguan di atas gundukan kembarnya. Menangis dalam diam, ingin menghapus bekas itu, apa daya Ana yang tidak tau obatnya hanya mengusap dengan kasar. Mengingat kejadian semalam menggoreskan luka pada hatinya. Kenapa kakaknya sendiri lah yang melakukan hal b***t seperti itu, rasa kecewa ingin berteriak tapi tidak pada tempatnya. Sedari pagi tadi ia ingin menangis dan mengadu tapi pada siapa ? mamah atau papah itu tidak mungkin, tidak mungkin ada yang percaya. Mengadu pada Hardin, jelas akan panjang masalahnya. Pada Gio kah, Elsa kah atau Diana sangat sangat tidak mungkin siapa mereka ? hanya orang luar dari keluarganya, malu apa nanti yang akan ia tanggung. Ana menghapus sisa air mata di pipinya, bel masuk sudah berbunyi. Ia benarkan lagi kancing kemejanya yang setengah badan itu. Berjalan keluar dari toilet. Bug... tidak Ana sengaja ia menabrak tubuh seseorang yang sepertinya laki laki, " maaf saya tidak sengaja." ucapnya masih menunduk. Pemilik tubuh itu tidak menjawab seperti berjalan dengan arah yang sama Ana tuju. Kepalanya terangkat, Benar tubuh pria yang ia tabrak tadi masuk dalam kelasnya. Siapa pria bertubuh tegap memakai kemeja hitam itu ? pertanyaan masuk dalam otak Ana. Ia pun mengikuti pria itu masuk juga. Tanpa permisi Ana langsung masuk karena mata kuliah belum mulai. " hai An kamu kenapa ? matamu sembab kamu habis nangis tadi ?." tanya Elsa yang melihat perubahan mata Ana. " tidak hanya saja tadi aku kena pensil elyner sa." elaknya " selamat pagi semua, perkenalkan saya Aska Admaja bisa di panggil Pak Aksa saja. Di sini saya sebagai dosen pengganti Pak Dahlan selama beliau menjalankan tugas di luar Negeri." Mata Ana menatap, jadi pria yang ia tabrak di lorong tadi adalah dosen pengganti di kelasnya. Ana menghelah nafas, semoga akan baik baik saja kedepannya, kan dia sudah minta maaf sebelumnya, dosen penggantinya saja yang tidak memberi jawaban. Seisi kelas membicarakan Aska, pria tampan berbadan tegap seperti binaraga berwajah ketimuran dengan wajah yang di penuhi jamban tipis membuat para mahasiswa mengagumi pria itu dari pandangan pertama namun tidak bagi Ana ia lebih fokus pada penjelasan pria yang berdiri di depan dengan layar monitor sesekali ia masih mengingat kejadian semalam. Elsa juga tidak kalah seperti Diana yang ingin berteriak histeris melihat kemaskulinan Aska saat menerangkan materi. Andai saja dia belum punya Hardin pasti dia akan berlari memeluk Aska tanpa tau malu. Tapi ia sadar dan ingat bagaimana dulu ia berusaha mendapatkan Hardin yang Bintang di sekolahnya, ia reka mati matian berkunjung kerumah Ana hanya ingin melihat Hardin saja karena selama di lingkungan sekolah Hardin akan cuek tidak peduli dengan para gadis yang mengejarnya. " Jika belum ada yang di mengerti silahkan ajukan pertanyaan." suara itu membuat seisi kelas merinding karena menggugah gairah kewanitaan para mahasiswi. Diana yang centil tanpa sadar mengajukan pertanyaan yang tidak ada sama sekali hubungannya dengan materi yang di jelaskan tadi. Seisi ruangan pun bersorak pada Diana, Aska hanya tersenyum kecut melihat tingkah mahasiswinya tapi matanya tidak lepas dari sosok gadis 2 di samping kiri Diana. Matanya yang hitam bulat, bibirnya yang tebal dan sensual mengundang banyak pria ingin menciumnya. 2 Jam sudah mata kuliah dosen pengganti itu usai, Ana dan kedua sahabatnya berjalan ke kantin, ada 2 pria tampan yang sudah menunggu kedatangan mereka, siapa lagi kalau bukan Hardin dan Gio. Di tengah asyiknya bercanda mereka berlima Hardin lah yang paling tau isi dalam pikiran Ana. Senyumannya hambar tidak seperti biasanya. Sebuah pesan masuk di ponsel Ana ada nama Hendrik disana, pesan pertama berisi pertanyaan sedang apa Ana sekarang dan pesan kedua berisi peringatan agar tidak lagi terlalu dekat dengan Gio. Tanpa Hardin bertanya pun tau pesan dari siapa yang di baca Ana. " hai kalian lanjut aja dulu, udah aku bayar. Ayo An ikut kakak." Hardin menggandeng tangan adiknya yang penurut itu berjalan ke arah taman depan perpustakaan yang sering sepi di jam jam seperti ini. Duduk di bawah pohon rindang beralaskan rumput hijau, dengan bahu yang di peluk oleh Hardin. " aku kakakmu An, kamu percaya dengan Kak Din kan ?" pertanyaan yang sulit di artikan oleh Ana saat ini. Percaya untuk saat ini, apakah kepercayaan itu akan hilang seperti kakaknya Hendrik. Ana mencoba untuk tersenyum. " tentu kak Din kakak Ana begitu juga Kak Hen" senyum Ana begitu di paksakan. Hardin jadi tidak tega menanyakan kejadian apa saja semalam. " princess kakak yang paling cantik, sedari kecil Ana kan selalu jujur curhat sama kakak, jadi kalau ada apa apa jangan di tutupi ya sayang." ucap Hardin lembut mengusap kepala adiknya. Saat itu pula ingin sekali menangis dan berteriak menceritakan bahkan mengungkapkan hal sebenarnya pada Hardin tapi Ana masih berfikir waras tidak ingin ada perdebatan bahkan pertengkaran dalam keluarganya. Biar Ana simpan semua ini dulu sementara sampai di mana Hendrik akan berbuat melebihi semalam. Ana kembali tersenyum. " memang apa yang Ana tutupi dari Kak Din. Ana sayang kak Din." Ana memeluk Hardin seolah sebagai kekuatan saat ini. Dari jauh Gio dan 2 wanita cerewet tadi sebenarnya ingin menyusul tapi melihat sepertinya adik kakak itu butuh privasi akhirnya mereka urungkan saja dan putar balik ke kelas mereka masing masing karena masih ada 1 mata kuliah lagi. Tidak untuk sepasang mata dari jendela kaca dalam perpustakaan, ada rasa tidak rela Ana dekat dengan pria lain. Tidak rela untuk apa, bertemu dengan sosok Ana saja baru pertama kali ini. Sungguh aneh perasaan Aska saat ini, belum juga istrinya meninggal setahun yang lalu masak ia jatuh cinta dengan gadis yang baru tubuh rambutnya, baru ia jumpai pula. Sedari tadi Aska duduk di perpustakaan bukan untuk membaca melainkan membuka laptopnya mencari tau siapa sebenarnya Mariana itu lewat data pribadi kampus. Kalau di dalam kantor jelas tidak aman karena ia hanya dosen pengganti yang belum mempunyai ruangan tersendiri, ruangannya masih tersekat dengan meja para staff lainnya. " nanti pulang bareng kakak kan ?" tanya Hardin memastikan, merangkul pundak adiknya sepanjang lorong menuju kelas Ana. " Nanti Kak Hen akan jemput Ana kak." Ana menggeleng " baiklah tapi nanti langsung pulang kan An." " Ya kak, Ana sudah kangen mamah padahal baru sehari semalam gak bertemu mamah." ucap Ana yakin bahwa nantinya akan Hendrik antar pulang langsung. Ana yakin tapi tidak Hardin, ia harus menjaga baik baik adiknya itu. Sebagai sesama pria, Hardin tau apa dalam otaknya Hendrik, selain itu Hardin juga tau sikap dan sifat kakaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN