Di ruang dosen Aska memandangi foto Ana yang ia ambil dari data pribadi kampus. Bagaimana bisa Ana sangat mirip dengan almarhum istrinya, terlebih lagi dia adik Hendrik. Seingatnya Hendrik dulu tidak punya adik perempuan dia hanya punya adik laki 1 dan ia pun lupa namanya. Jam 10 pagi waktu Indonesia bagian barat, bel kampus berbunyi. Ia tidak sabar ingin segera mengajar di kelas Ana.
3 jam telah berlalu, ia mengajar dengan baik dan lancar tapi tidak lepas pandangan ke Ana sampai Ana merasa sensi sendiri melihat tatapan dosennya. " kalau sudah tidak ada pertanyaan lagi, kita lanjutkan materi berikutnya lusa." Aska membereskan buku buku serta laptopnya. Semua hawasiswa berhamburan keluar ruangan, tinggal 3 sahabat itu yang masih duduk santai di kursi masing masing.
" Diana Trya dan Elsa Ningtias bisakah kalian menunggu Mariana di luar." Merasa namanya di panggil ketiga gadis itu baru menyadari bahwa dosennya masih di dalam. Diana maupun Elsa tidak mengerti maksud Aska. " saya mau bicara 4 mata dengan Mariana." jelas Aska kemudian. Dengan langkah berat Diana dan Elsa meninggalkan Ana dalam ruangan sendiri bersama Aska.
Aska berjalan ke kursi Ana, duduk berhadapan. Tidak menunduk juga tidak menatap " bicara apa ya pak ?".tanya Ana penasaran.
" kamu benar adik Hendrik." tanya Aska langsung
" ya pak, ada apa ya ?." Ana merasa heran saja dengan pertanyaan dosennya baru saja.
" bisakah saya minta nomor pribadi kamu." Aska memang tidak suka berbelit Belit dalam urusan kata kata, apa itu tujuannya langsung ia ucapkan. " boleh pak." Ana memberikan perlindungan ponselnya pada Aska untuk memasukkan nomor.
" baiklah terima kasih, nanti saya akan hubungi kamu. Tidak perlu sungkan saya dulu sahabat dekat kakak kamu." Ana hanya mengangguk. Tak lama ponselnya berdering nama Hendrik di sana.
" ya kak."
" ya kak ini masih sama pak Aska."
" ya kak." Hanya tiga kalimat itu saja, Ana langsung mematikan ponselnya.
" Saya permisi pak, kak Din sudah menunggu saya." Ana meninggalkan Aska yang masih mematung menatap langkahnya semakin menjauh dan menghilang di balik dinding kampus.
" bisakah aku memilikimu Ana. kenapa kamu sangat mirip Nandira." gumamnya sendu, kisah ingatan tentang istrinya ketika masih bersama kembali terbayang lagi.
Dulu masa kuliah Hendrik Aska dan Nandira adalah sahabat dekat, hingga cinta segitiga muncul di Antara mereka dan pada akhirnya Aska lah yang di pilih Nandira menjadi pasangan hidupnya sampai ajal menjemput.
" kak antar Ana ke apartemen Kak Hen ya." pinta Ana pada Hardin. Tidak ingin adiknya kecewa Hardin menyetujui saja. Antara senang dan tidak melihat Ana dan Hendrik kembali dekat seperti ini. Satu sisi Hardin merasa senang tapi di sisi lain Hardin merasa cemas akan hubungan kakak adik itu. Apa Ana belum sadar bahwa Hendrik menganggapnya lebih dari saudara, bahkan Hendrik bisa berbuat lebih pada Ana di luar batas otak normalnya.
" Nanti kalau ada apa apa, langsung telpon kakak ya." pesan Hardin setibanya di depan lobi apartemen Hendrik. " ya kak." Ana kenapa merasa heran dengan sikap Hardin saat ini yang merasa ketakutan jika ia bersama Hendrik, seakan ia sendiri yang memasukan dirinya dalam lubang bahaya.
Ana duduk santai di sofa apartemen kakaknya melakukan video call bersama kedua sahabatnya. Hanya Ana wanita satu satunya yang di berikan kode pintu apartemennya, karena baru kali ini juga apartemen itu di jamah oleh seorang wanita. Selama ini memang Hendrik selalu tertutup pada mahluk ciptaan Tuhan yang berjenis wanita sejak hatinya di patahkan oleh Nandira.
" tumben An kamu di apartemen kak Hen ?." tanya Elsa
" ya nih Ana bikin iri saja, punya kakak 2 ganteng ganteng." sambung Diana.
" He lemes, yang satu calon imam ku ya gak usah puji puji seperti itu."
" ya ya ya..."
Ana hanya tertawa menyimak obralan kedua sahabatnya itu, bagi Ana ada enaknya ada gaknya juga. Mereka belum tau saja apa yang di lakukan Hendrik beberapa waktu lalu dengannya. Ana ngeri sendiri tapi ada perasaan penasaran lebih dari waktu itu, " Sa, kamu masih punya video kemarin gak ? kasih donk."
Elsa mengangkat alisnya " buat apa ? tumben nih princess Mahameru minta video begituan." Elsa tertawa heran.
" di kasih gak ?." Elsa pun akhirnya mengirimkan video laknat itu pada Ana. Video call pun berakhir. Dasar video laknat, hanya menonton video saja badannya sudah panas dingin tidak aturan. Di rasa ada yang berdenyut di bawah sana, Matanya tertutup membayangkan kejadian waktu itu dengan wajah tampan sang kakak. Mungkin Ana sekarang sudah gila, bukan kekasihnya malah dia berandai andai kakaknya sendiri. Semoga itu tidak berdosa batinnya.
Pintu terdengar terbuka dari luar, Ana langsung membuka matanya dengan sempurna mematikan video laknat itu kembali lagi meletakkan ponselnya di atas meja.
" kakak." seru Ana melihat siapa yang datang membawa jasnya yang di letakkan di tangan, 2 kancing kemeja di biarkan terbuka terlihat jelas bulu bulu halus di d**a sang kakak, lengan yang di lipat sampai siku. Ana menatap tanpa berkedip, tidak ia sangka ia menelan air liur di tenggorokannya. Lama menatap sang kakak sampai pertanyaan Hendrik tidak ia dengarkan.
" Ana..." Hendrik menepuk pelan pundak adiknya
Ana langsung kaget, " ha ya kak." seketika bayangan nakalnya lenyap begitu saja.
" apa yang kamu lihat sayang."
" kakak." jawab Ana jujur seakan tak merasa aneh seperti sebelumnya. Hendrik mengangkat alisnya bingung
" apa yang Ana lihat dari kakak ?." itu hanya pancingan Hendrik ingin mengorek lebih dalam lagi maksud adiknya yang ia sendiri sudah tau jawabannya.
" kenapa kakak terlihat tampan sekarang ?." polosnya gadis satu ini, tangannya malah dengan santai menyentuh pipi kakaknya yang dipenuhi jamban halus, turun ke bawah sampai di d**a bidang Hendrik. Hendrik memejamkan matanya menikmati sentuhan Ana, bahkan tanpa sadar Ana telah membangunkan sesuatu yang tidur di balik celana dalam kakaknya. Sesak itu lah keluhan di balik celana.
" Ana.." Suara serak Hendrik seperti desahan.
Ana yang sadar dengan apa yang dia lakukan, langsung menarik tangannya. " maaf kak." Ana menunduk merasa bersalah dan juga malu sendiri.
Dengan lembut Hendrik mengangkat dagu Ana, wajah mereka semakin dekat dekat dan dekat. Kedua bibir itu bersentuhan, di kecup lembut bibir atas dan bawah itu secara bergantian, isapan lembut mulai Hendrik lakukan. Ana masih mengunci rapat mulutnya, ia tidak tau cara berciuman juga. Satu tangan Hendrik menekan tengkuk leher Ana agar semakin dalam ciuman itu, Ana mulai terbuai. Ia memejamkan matanya dan mulai membuka mulutnya.