Sudah pukul 10 malam, Ana belum juga bangun. Hendrik bangun 15 menit yang lalu saat ponselnya berdering. Pertama Alya ingin mengajak makan malam kemudian mamahnya menanyakan Ana dan menyuruhnya cepat mengantarkan pulang. Hendrik mulai curiga dengan mamahnya yang tau tentang perasaannya pada Ana. Ia duduk di mini bar apartemennya setelah membuat kopi dan menyalahkan sebatang rokok.
Ia memikirkan perasaan Ana bagaimana kalau dia tau bahwa dia bukan adiknya dan bukan anak kandung dari kedua orang tuanya, sehancur apakah nanti perasaannya. Tapi ia berjanji akan selalu menemani Ana bahkan ia berfikir untuk menikahi Ana setelah semuanya jelas.
Terdengar suara dari dalam kamarnya, Hendrik segera mematikan rokoknya. Ia kaget melihat Ana terjatuh, masih dengan polos tanpa apa pun menutupi tubuhnya. " mau kemana kamu sayang." Hendrik mengangkat tubuh Ana ke atas ranjang.
Ana merasa malu dengan dirinya sendiri, apa yang tadi ia lakukan dengan kakaknya sendiri. Pandangannya menunduk, tidak berani menatap wajah Hendrik. " Ana mau ke kamar mandi kak." suaranya hampir tidak terdengar di telinga Hendrik.
Hendrik langsung mengendong tubuh Ana ke kamar mandi, di masukan dalam bathtub yang di isi dengan air hangat. " mandilah kakak tunggu di kamar." Hendrik ingin berdiri tapi di tahan oleh Ana.
Hendrik berdehem, " kak sakit Ana hampir tidak bisa menggerakkan kaki Ana." keluhnya.
" mana yang sakit sayang." Ana menunjuk kedua pangkal pahanya.
" berendam lah dulu, nanti rasa nyeri itu akan hilang dengan sendirinya. Kakak gosok punggung kamu ya." Hendrik sudah di belakang punggung Ana dan mulai menggosoknya dengan lembut.
" kak."
" hemmm"
" kita salah." air mata lolos dari mata Ana. Hendrik merasa bersalah bukan dengan keadaan tapi dengan Ana yang merasa bersedih dan menyalahkan dirinya sendiri sedang ialah yang membuat Ana mau melakukan hal itu.
" Ana gak salah, yang salah kakak." Hendrik ikut melepas celana pendeknya dan kaos yang ia kenakan. Masuk dalam bathtub.
Kini mereka duduk berhadapan, Hendrik mengusap air mata Ana dengan lembut " jangan menangis sayang, kakak tidak ingin kamu bersedih." Hendrik menggeleng.
" tapi Ana takut kak, bagaimana kalau nanti papah dan mamah tau."
" biar seperti ini dulu sayang sampai nanti kakak punya alasan yang tepat, dan semuanya jelas. pasti kakak akan menikahimu." Menikahimu kata itu tidak tepat sekali di telinga Ana, ini sebuah kesalahan yang tidak mungkin akan terulang lagi seumur hidupnya, tapi mengapa kakaknya malah akan menikahinya. Apa kakaknya ini sudah tidak waras.
Matanya tajam menatap mata coklat giok milik kakaknya tidak mengerti maksud dari sang kakak, " apa kakak tidak waras, ini tidak mungkin kak, kita saudara kandung bagaimana kakak bisa menikahi Ana."
" kamu belum mengerti apa apa sayang, nanti kalau kamu sudah mengerti maka kakak berjanji akan menikahimu." jelas Hendrik.
Disini Ana semakin tidak mengerti dengan kakaknya, tapi Ana tidak mau ambil pusing lagi, mungkin besok ia akan tanya pada Hardin kalau ada keberanian.
Saat ini Hendrik menahan nafsunya mati matian tidak ingin membuat sakit Ana lagi. Melihat Ana yang tadi kesakitan tidak bisa berjalan saja membuat ia tidak tega. Hanya mandikan Ana saja, setelah itu ia menggendong Ana lagi ke kamar.
" pakai kemeja kakak saja sayang, besok saja beli pakaian buat kamu kalau mau berangkat ke kampus." Hendrik mencari kemejanya yang akan di kenakan Ana.
" Ana mau pulang saja kak." Hendrik menggeleng.
" apa kamu pulang dengan gaya berjalanmu seperti itu, Apa nanti mamah dan papah tidak curiga." Ana kembali berfikir, ada benarnya juga perkataan kakaknya itu.
Bel berbunyi, Hendrik berfikir itu makanan yang ia pesan lewat aplikasi tadi. Tapi saat di buka, bukan kurir makanan tapi adiknya, Hardin.
" Mana Ana kak ?." Hardin langsung masuk tanpa menunggu izin dari kakaknya.
" Hardin berhenti." teriak Hendrik saat Hardin akan membuka pintu kamarnya.
Di dalam Ana mendengar teriakan Hendrik langsung bingung harus bagaimana kalau kakaknya satu itu masuk dalam kamar dengan keadaannya seperti ini, sedangkan untuk berjalan saja susah karena ulah Hendrik tadi. Pengalaman pertama buat Ana dengan pusaka yang melibihi ukuran normal pria Indonesia.
Brakkk...
Hendrik sudah tidak bisa menahan Hardin membuka pintu kamarnya, mata Hardin tidak percaya dengan penampilan adiknya saat ini. Memakai kemeja kakaknya yang kebesaran dengan tidak memakai dalaman. Belum lagi melihat Ana yang seperti baru saja mandi keramas, rambutnya masih basah.
Langkah di percepat menyeret tangan Ana. Ana memekik kesakitan, bagian kewanitaannya masih terasa perih dan sakit di bagaian kedua pangkal pahanya " ahhh... sakit kak."
" Hardin hentikan." suara Hendrik sangat mengancam.
Hardin melepaskan tangan Ana dengan kasar, " apa yang kalian lakukan, apa kalian sudah tidak waras atau kalian ini tidak punya otak hah..." Hardin merasa emosi dengan perbuatan laknat kedua saudaranya itu.
Ia mendekat pada Hendrik, satu tinjuan melayang di sudut bibirnya Hendrik. Ana kaget dan langsung berteriak sebelum Hendrik membalas pukulan Hardin.
" Bagaimana nanti kalau papah dan mamah sampai tau dengan perbuatan b***t kalaian hah..." Hardin mendudukkan tubuhnya di sofa kamar dengan lemas. Sudah habis akal dengan perbuatan kedua saudaranya itu.
" apapun caranya kakak akan menentang mereka, kalau sampai mereka tidak merestui kakak dan Ana." tegas Hendrik
" kau ini kak, dimana otakmu dia adik kita, kau ini akan menikah beberapa bulan kedepan dengan Alya."
" kakak tidak akan menikahi Alya." Hendrik dengan santai dalam menjawab.
Kedua adiknya menggeleng, apa lagi Ana semakin tidak mengerti dengan kakak pertamanya. Kenapa begitu terobsesinya pada dirinya.
" kakak." panggil Ana lemah, kedua kakaknya menoleh.
Dengan langkah tertatih Ana mendekat pada Hardin. " Ana mohon kak jangan sampai orang tua kita tau." An memohon dengan melas pada kakaknya
Hal yang tidak bisa Hardin tolak saat adik kesayangannya sudah seperti itu. Emosinya memuncak saat ini, tapi berusaha ia tahan tidak ingin bertengkar dengan kakaknya di depan adiknya. Setelah membuang nafasnya dengan kasar Hardin mengajak Ana pulang, " ganti pakaianmu, ayo pulang. Mamah menunggumu. Kakak tunggu di luar." Hardin keluar tanpa melihat Hendrik karena merasa jijik.
" apa kamu yakin sayang mau ikut pulang Hardin dengan cara berjalanmu seperti itu." Hendrik memastikan Ana pulang atau tidak.
Ana mengangguk " ya kak, Ana akan berusaha berjalan normal, Ana bisa tahan kok. Kasihan mamah menunggu Ana di rumah." Ana berusaha tersenyum meskipun terpaksa dengan jelas di mata Hendrik.
Hendrik mencium kening Ana, dan memeluknya. " kakak mencintaimu sayang. Tolong jangan menghindari kakak lagi dan tolong jangan salahkan perasaan kakak ini." Ana hanya mengangguk, sebelum Hendrik menyusul Hardin di ruang tamu.
Mereka duduk bersisihan tapi tidak sedikitpun Hardin melirik kakaknya. " mau minum lagi, kau sudah bau alkohol Din." tawar Hendrik
" menyingkirlah, aku jijik melihatmu." Tatapan mata Hardin begitu kosong.
" aku tetap kakakmu dan tolong jangan salah perasaan kakak pada Ana karena Ana bukan..." belum lanjut Hendrik berkata tapi Ana sudah keluar dari kamar.
Kata Bukan, apa maksud dari kata bukan yang baru saja kakaknya ucapkan tiba tiba diam setelah Ana keluar dari kamar.
" Besok aku tidak ada kelas, temui aku jam makan siang." Hardin berpesan pada Hendrik, sebelum menuntun adiknya untuk pulang.
Senyum yang begitu tampan Hendrik lemparkan pada Ana, dan Ana pun membalasnya sebelum tubuh kedua adiknya itu menghilang dari balik tembok Apartemennya.