“Sebagai pembantu seperti pengakuanmu waktu itu? Walaupun nggak yakin, saya berusaha percaya bahwa ada pembantu yang dikawal sebegitu ketatnya.” Dewi menunduk lagi. “Saya memang bukan pembantunya. Saya adalah istrinya.” Dewi menyambar tisu. Diusapnya air mata yang menetes tanpa kompromi. Tak juga reda tangisannya, ia membekap mulut sendiri agar tidak sampai mengeluarkan suara. Di tahan kuat-kuat tangisannya. Hati kacau, pikirannya tak mampu bekerja menghadapi kejujurannya sendiri. Hanya tangisan yang mampu ia luapkan sebagai bentuk perasaan bersalah. Sementara itu, Arnold meluruskan punggung ketika mendengar pengakuan Dewi. Istri. Istri Arjun. Dewi adalah wanita yang telah menikah? Sekian menit hanya terpaku menatap lurus ke depan, pada wanita yang telah mengisi penuh hatinya. Sekia

