“Berapa kali aku peringatkan, jangan datang ke rumah!” “Aku khawatir. Ponselmu nggak aktif, menelepon ke kantormu katanya kamu belum datang. Biasa-biasanya kamu nggak pernah telatmasuk. Aku takut kamu kenapa-kenapa, makanya aku samperin ke rumah.” Mestinya aku maklum dengan alasan yang diungkapkan Vera. Mestinya aku senang diberi perhatian sampai segitunya. Tapi kok, berat begini menganggapnya wajar. “Kamu kenapa sih? Kamu tuh udah berubah tau, nggak?” “Nggak ada yang berubah, Ver. Dari dulu kan kamu tau, aku memang melarangmu datang ke rumah.” “Tapi aku sudah ngecek keberadaan Oma. Kalau Oma di rumahmu,aku nggak akan berani datang. Aku sadar diri, Oma nggak suka padaku. Padahal aku sudah bela-belain datang pagi-pagi, kamunya malah berubah begini. Aku tuh sedih tau, nggak!” Vera men

