Pacar gundulmu! Jangan asal bicara.” Oma menyahut pernyataan Vera. Entah kenapa, aku yang biasanya kesal, kini sepakat dengan Oma. Air muka yang berseri-seri di wajah Vera perlahan menyusut. Dia kecewa, tentu saja. Dari dulu setiap ucapannya selalu bisa dipatahkan oleh Oma. “Aku mengantar Vera dulu, Oma, Pak Ramdan. Silahkan duduk.” Aku menunjuk sofa agar kedua orang yang paling kuhormati ini tenang menunggu. Sementara aku keluar bersama dengan Vera. Ucapannya yang berapi-api sesaat sebelum Oma datang, kini tak terlihat lagi ketika berhadapan dengan Oma. “Aku antar sampai di sini, ya? Aku harus menemui mereka.” Aku menghentikan langkah di depan lift. Vera tak bergerak dari sisiku. Itu artinya, dia sedang merajuk, mogok tak ingin pulang. “Ayolah, Ver. Permudah sedikit urusan kita.”

