“K-kamu nggak bohong?” tanyaku dengan suara yang susah payah kukelurkan dari tenggorokan.
“Nggak.” Dia menjawabnya dengan ringan, seperti tidak ada beban.
Dewi mengalihkan pandangan dariku, dia menghadap lurus ke depan.
“Seumur hidup, kakek nggak pernah berbohong. Aku juga nggak mau berbohong pada siapapun. Kalau aku nggak mau bilang seperti sama pak Ramdan tadi, aku lebih baik bilang nggak mau ngomong. Jadinya dia nggak berharap lagi. Mau ditanya lagi, aku juga tetap menjawab begitu.”
“Kenapa kamu percaya padaku? Bisa jadi aku berbohong padamu?”
“Karena nama Mas Arjun yang disebut kakek pertama kali. Kakek juga menyebut nama Mas Arjun sebagai orang yang pertama harus aku percayai, setelah kakek meninggal.”
“Kira-kira, kenapa kakek mempercayaiku, padahal kita belum saling kenal?”
“Nggak tau. Kakek nggak pernah bilang.”
“Dan kamu nggak tanya?”
“Nggak.”
“Kamu percaya begitu saja?”
“Iya.”
“Padahal belum tentu aku baik padamu.”
“Kakek saja percaya sama Mas Arjun, masa aku enggak?”
Aku menggaruk kepala sendiri. Sesederhana ini cara berpikirnya. Apa dia tidak memikirkan nasibnya jika orang yang dipercayai tidak sebaik ucapan kakeknya?
“Kakek nggak pernah berbohong. Ucapannya selalu menjadi kenyataan. Kakek juga nggak pernah ingkar janji. Semua yang dia katakan nggak pernah membahayakan aku.”
“Iya, tapi ini beda kasusnya. Ini aku? Orang yang nggak pernah kamu kenal sebelumnya.”
“Kalau kakek berbohong, pasti sudah kelihatan akibatnya. Nyatanya, Mas Arjun nggak pernah mengusirku dan membiarkan aku tinggal di rumahmu padahal sudah tau aku orang kampungan. Mas tetap memberiku makan enak sama seperti makanan yang Mas makan setiap harinya walaupun aku datang nggak membawa apa-apa. Mas Arjun juga memilih mendiamkan aku yang nggak bisa apa-apa tinggal di rumahmu. Padahal bisa saja aku diusir karena cuma hidup menumpang.
Dan yang paling membuatku beruntung, aku diperbolehkan tidur satu kamar dengan Mas , padahal sudah tau aku kotor dan bau. Itu semua kan artinya kakek nggak pernah bohong. Kalau bohong, mungkin aku sudah tinggal di jalan. Mas punya kesempatan besar untuk mengusirku. Tapi kenapa nggak Mas lakukan?”
Aku bingung. Kok, jadi aku yang dia kuliahi?
“Aku nggak akan merepotkan Mas Arjun kok. Makanya aku senang sekali pas tau kakek menitipkan uang yang banyak di dalam ATM itu.”
“Kamu tau berapa jumlahnya?”
Dewi menggeleng. Mungkin cukup sampai aku selesai kursus? Nanti aku cari kerja setelah lulus. Biar nggak merepotkan Mas lagi.”
“Mau kerja apa?”
“Jadi chef. Aku kan bisa memasak. Aku mau belajar sungguh-sungguh biar—“
“Nggak usah menghayal ketinggian. Kamu bisa selesai kursus dengan nilai terbaik saja sudah beruntung. Lagian, nggak akan ada rumah makan yang mau menerima chef dari kampung.”
“Kenapa nggak ada yang mau menerima?”
“Pikir saja sendiri.”
“Apa karena bau ... bau kampungan?”
“Nah, itu tau. Sudah-sudah nggak usah dibahas lagi. Gurumu sudah datang tuh. Masuk sana?”
Aku menunjuk ke arah pintu kelas. Seorang sekuriti membuka kelas yang akan di tempati Dewi.
“Itu gurunya?” Dewi menunjuk pada pria yang mengenakan seragam.
“Bukan, Dewi. Itu sekuriti, penjaga keamanan kalau nggak paham apa itu sekuriti.”
“Oh, kukira gurunya.” ucapannya polos.
“Kamu masuk dulu. Itu teman-temanmu sudah pada masuk.”
“Iya. Aku masuk dulu ya, Mas?”
“Nggak usah pakai salim. Aku malu. Kayak bapak-bapak mengantar anaknya sekolah saja.”
Dewi yang akan meraih tanganku, menarik tangannya kembali karena aku menolaknya. Dia berdiri, lalu melangkah. Tapi kemudian menoleh. Dia terlihat ragu.
“Kenapa? Kamu takut?”
Dia menggeleng.
“Kalau begitu, cepetan masuk. Nanti kamu ketinggalan informasi.”
“Kalau nanti ada yang tanya alamat, bolehkah aku memakai alamat rumah Mas Arjun?”
“Nggak akan ada orang yang nanyain alamat kamu. Kayak orang penting aja.”
“Seandainya.”
“Dewi.” Aku mengecamnya dengan tatapan mata agar dia tak banyak tanya.
“Kalau-“
“Oke, boleh. Kamu boleh menggunakan alamatku.”
Bibirnya menyunggingkan senyum, lalu dia pun melangkah memasuki kelas.
Aku tertegun menatapnya hingga sosok yang menyebalkan itu lenyap dari pandangan. Baru kusadari, kalau aku sudah sejauh ini memberi perhatian padanya.
Coba bayangkan, untuk apa seorang Arjuna Pratama Wihardja mengantarkan seorang gadis kampungan ke tempat kursus, memastikan kalau dia tidak akan tersesat, dan menjelaskan hal-hal detail lainnya yang sebenarnya tidak pernah aku lakukan.
Bukankah lebih baik aku menelepon Vera, berbincang melepaskan rindu karena sudah tiga bulan lamanya kekasihku itu berada di luar negeri?
Aku malah melupakannya sesaat setelah disibukkan dengan urusan Dewi.
Tidak. Dewi bukanlah wanita idaman. Dia tidak mungkin sesempurna Vera. Dari segi apapun dan dengan alasan apapun Vera tidak mungkin tergantikan.
.
Sesaat setelah meninggalkan galeri, aku menuju sebuah resort ternama di kota ini. Aku sedang membuat janji dengan seseorang.
Begitu sampai di tempat tujuan, aku langsung di sambut oleh seseorang yang sudah berdiri di parkiran. Dia sudah menungguku, dan biasanya dia sudah memesan tempat untuk kencan kami berdua.
“Sayang ....”
Dia menghambur ke pelukan begitu melihatku turun dari mobil.
Aku menyambutnya sepenuh hati, membalas pelukannya kemudian meninggalkan sebuah kecupan di kepala.
“Kangen?” tanyaku.
“Kangen banget ...,” jawabnya manja.
“Aku sudah memesan tempat. Kita makan sekaligus mengobrol,” ucapnya lagi sambil bergelayut di lenganku. Kami berjalan menuju meja yang sudah dipesannya.
Dialah Vera Lovanka. Gadis seumuranku yang selama tiga tahun menjalin hubungan lebih dari sekadar teman.
“Aku kangen banget.”
Tiba-tiba Vera menci*m pipiku. Hal ini sering dilakukannya jika sangat merindukan aku.
“Kok kamu diam saja sih, Sayang ....” tegurnya
“Jadi, mesti bagaimana?”
“Kamu nggak senang aku pulang?”
“Senanglah. Kamu pergi sudah tiga bulan, padahal janjinya hanya dua bulan.”
“Kamu marah gara-gara itu?”
“Nggak marah, aku hanya nggak suka dibohongi.”
“Sayang, semua yang aku lakukan juga demi masa depan kita. Kalau aku sudah punya tabungan yang banyak, aku bisa membuka salon dan tempat karaoke di mana-mana. Setelah itu, kita menikah dan aku bisa fokus memantau bisnis sambil mengurusi keluarga kita. Kamu jadi melamarku akhir bulan ini kan? Awas, jangan diundur-undur lagi loh.”
Aku malas kalau langsung ditodong begini. Kebiasaan Vera apa-apa harus mengikuti cara dia.
“Kok diam saja sih, Sayang,” protesnya.
Mungkin karena aku kebanyakan menimbang daripada langsung mengiyakan kemauannya.
“Kamu sakit? Kamu kelihatan kurusan, deh!”
“Nggak. Akhir-akhir banyak pekerjaan di kantor," balasku.
“Mestinya kamu suruh bawahan kamu untuk membantu. Kamu kan pemilik perusahaan. Tinggal suruh-suruh saja apa sih, susahnya?”
“Iya, Sayang, iya. Aku aku sudah menyuruh Mona.”
“Nah, begitu, dong. Punya kekuasaan itu digunakan. Kan demi kebaikanmu juga.”
Lama-lama obrolan ini terasa membosankan. Padahal makanan juga belum dihabiskan, aku sudah ingin buru-buru menyudahi pertemuan ini.
Ada apa denganku? Mestinya aku berlama-lama melepas rindu dengan Vera, kangen-kangenan sambil bercerita banyak hal selama tiga bulan tanpa pertemuan. Tapi malahan tidak begitu, rasanya hambar. Rindu itu kian terkikis habis oleh sesuatu yang lain.
Dewi.
Kenapa aku malah teringat papanya? Terutama pada perbincangan kami di galeri tadi.
“Setelah menghabiskan makanan, aku harus pergi, Ver. Kita bertemu lusa saja.”
“Kok pulang? Aku masih kangen loh, Sayang.”
Vera menangkap wajahku, memaksa agar kami saling memandang.
Dulu, aku suka sekali caranya ini. Rasanya membuat hati berdetak tak karuan. Lalu, kami akan saling berci*man.
“Aku nggak bisa, Ver.”
Aku mengalihkan pandangan. Kugeserkan tubuh sedikit memberi ruang.
“Kamu kenapa, sih, Sayang? Berubah begitu seperti bukan kamu yang kukenal.” Vera bersungut-sungut kesal.
Entah kenapa aku malah semakin kesal melihatnya cemberut seperti itu.
Bukannya ingin merayu agar dia tidak marah lagi, aku malah menegakkan punggung.
“Aku harus pulang,” ucapku, lalu berdiri.
“Tapi malam Minggu ke apartemenku ya?” pinta Vera.
Aku memandangnya, cukup lama.
“Ya,” jawabku akhirnya.
Aku meninggalkan Vera di resort itu. Keluar dari sana, rasanya ada kelegaan yang luar biasa. Aku bisa segera ke galeri lagi. Ingin menjemput Dewi.
.
Sampai di tempat yang kutuju, aku memarkirkan mobil di tempat yang sama seperti tiga jam yang lalu. Tetapi ada yang aneh dengan galeri ini. Kenapa keadaan parkiran jadi sepi? Jangan-jangan kelas kursus memasak sudah selesai.
Aku sedikit berlari menaiki anak tangga. Kebetulan tidak ada lift, jadi aku mempercepat agar sampai di kelas Dewi dengan berlari-lari kecil.
Cukup capek. Aku mengatur nafas dulu sebelum melanjutkan berjalan.
“Cari siapa, Pak?”
Aku terkejut mendengar sebuah pertanyaan. Setelah menoleh, akhirnya kudapati seorang sekuriti.
“Cari peserta kursus di kelas pemula, Pak? Apa sudah pulang ya?”
“Iya, benar. Setengah jam yang lalu kelas sudah selesai semua. Hari pertama masuk biasanya memang pulang lebih awal, Pak.”
Sekuriti itu memberikan keterangannya. Aku jadi khawatir dengan Dewi. Kemana dia? Akupun celingukan mencari sosok yang mungkin masih berada di sekitar sini.
“Tidak ada seorangpun di lantai ini, Pak. Saya sudah berkeliling. Kalaupun teman Bapak belum pulang, mungkin menunggunya di bawah.”
“Baik. Saya cari di bawah. Terima kasih informasinya.”
Aku turun lagi dengan tergesa-gesa. Gawat, bagaimana kalau Dewi nyasar ke mana-mana?
Kalau terjadi apa-apa dengannya, akulah orang pertama yang harus disalahkan. Sebelum, aku mengabari Jono agar dia tidak perlu menjemput Dewi, karena aku sendiri yang akan menjemputnya.
Aku berubah pikiran sebelum menemui Vera. Inginku, setelah menemui Vera aku akan menjemput Dewi. Tak menyangka jika kelasnya berakhir lebih cepat.
Aku mengitari seluruh tempat di lantai bawah. Hasilnya nihil. Rasa takut mulai menyergap, kekhawatiran pun mulai membayangi.
Aku menelepon ke rumah, menanyakan pada Jono tentang Dewi yang mungkin sudah pulang lebih dulu, walaupun rasanya mustahil Dewi bisa pulang tanpa kami jemput. Tapi jawaban Jono mengecewakanku. Dewi belum pulang.
Aku membayangkan betapa paniknya dia sekarang, entah di mana dan bagai keadaannya.
Aku merasa menjadi manusia paling bodoh sekaligus paling jahat sedunia, membiarkan Dewi tanpa persiapan apapun.
Aku tidak membekalinya handphone, tidak memberinya uang, tidak berpesan jika tersesat harus apa dan bagaimana, bahkan aku tidak menanyakan sebelumnya apakah dia sudah makan atau belum. Keberangkatan kami dari rumah tadi sebelum jam makan siang. Aku yakin, Dewi memang belum makan sampai saat ini.
Dewi pasti sedang bingung, panik sambil kesakitan menahan haus dan lapar.
“Aduh, Wi ... kamu di mana?”
:
:
***