Ketidaksengajaan Membawa Petaka

1464 Kata
Sekali lagi aku memutari seluruh lantai bawah. Beberapa orang masih ada di sana, tapi sosok Dewi masih tak ada juga. Aku hampir putus asa. Harus ke mana lagi mencarinya? Aku putuskan menunggu Dewi di mobil. Siapa tau dia akan kembali lagi kemari. Kenapa aku bisa ceroboh terlambat menjemputnya? Apa yang harus kukatakan pada Oma dan Pak Ramdan kalau Dewi benar-benar menghilang? Hilang sudah kepercayaan mereka padaku. Aku mengusap wajah beberapa kali, berdiri di samping mobil dengan menahan kekacauan. Jujur, aku takut sekali gadis kampungan itu kenapa-kenapa. “Mas Arjun!” Suara Dewi memanggil. Aku mencari-carinya. Ternyata seseorang sudah berdiri di tengah-tengah halaman parkiran. “Dewi!” kejutku. Di sisi lain, ada kelegaan melihat dia dalam keadaan baik-baik saja. Gegas aku berjalan ke arahnya. Memapas jarak kian dekat, menghempaskan kekhawatiran. “Jono menjemputnya lama sekali. Aku sampai—“ Aku memeluk Dewi. Ucapannya terpotong oleh keterkejutannya yang tiba-tiba kupeluk. Syukurlah Dewi baik-baik saja. “Ih ... Mas jangan begini.” Dia mendorong hingga pelukanku terlepas. Aku terkejut, Dewi menolak kupeluk. Apa dia tidak pernah dipeluk laki-laki? Dewi mundur dua langkah, lalu mencium tubuhnya sendiri. “Kenapa begitu, Wi?” tanyaku heran dengan tingkahnya. “Aku kan bau kampungan.” Rupanya dia masih mengingat sebutan yang kusematkan padanya. “Oke. Kita pulang sekarang. Kamu pasti sudah lapar,” ajakku. “Nggak kok.” “Kamu sudah makan?” “Hu’um, sudah.” “Kamu kan nggak bawa uang?” “Dibayari." “Sama siapa? Laki-laki atau perempuan?” “Laki-laki.” “Kamu itu susah diatur ya? Sudah kuperingatkan kalau kamu nggak boleh sembarangan menerima kebaikan orang asing.” “Bukan orang asing. Chef yang mengajar di kelas tadi yang membayar makananku." “Tetap saja orang asing. Besok-besok lagi, jangan mau diberi apapun sama orang lain. Kita pulang sekarang.” Aku menarik lengan Dewi agar segera meninggalkan tempat ini. Dalam perjalanan pulang, nyaris tidak ada percakapan di antara aku dan Dewi. Padahal sebelumnya, bermacam-macam omelan siap aku ucapkan ke padanya. Tapi melihat dia duduk dengan tenang sambil sesekali menguap, muncullah rasa iba. Dewi sebenarnya wanita baik. Dia pantas mendapatkan perhatian lebih. “Sudah sampai. Langsung ke meja makan, Wi. Ada yang ingin aku sampaikan,” ucapku sambil menghentikan mobil. “Baik, Mas.” Kami berjalan beriringan menuju meja makan. Imas sudah menyiapkan makanan untuk kami. Dengan cekatan, Dewi mengisi piringnya, lalu bersiap membawanya berpindah tempat. “Mau ke mana?” tanyaku. “Makan, ke belakang.” “Duduklah. Mulai sekarang, kamu makan di sini bersamaku.” “Tapi-“ “Cepat makan. Keburu dingin.” Aku menyela. Sama seperti dirinya, akupun telah menambahkan beberapa menu ke dalam piring. . Malam harinya, aku membawa sesuatu masuk ke dalam kamar. Terlihat Dewi sudah memposisikan dirinya untuk berbaring di sofa. Dia menarik selimut. “Jangan tidur dulu.” Ucapanku langsung membuatnya menatapku. “Aku mau bicara,” ucapku lagi. Dewi bergerak bangun, lalu duduk. Kami saling berhadapan kini. Dengan posisi tempat yang berbeda. Dewi duduk di sofa dan aku di tepi ranjang. “Kemarilah. Duduk sini,” aku memerintahkan dia agar duduk di sampingku. Dewi tak bergerak juga dari sofa. “Jangan berpikir macam-macam, Wi. Aku mau mengajari kamu menggunakan sesuatu, bukan mau ngapa-ngapain kamu,” ucapku ketus yang langsung mendapat respons sebuah cebikan. Setelah itu, barulah dia beranjak dan duduk di sampingku. Malam ini Dewi mengenakan piyama berwarna krem. Dia terlihat sedikit menarik. Tapi tetap saja tidak menghilangkan kesan kampungannya. Aku meraih benda di atas meja, samping tempat tidurku. Sebuah benda yang sudah ku-setting sehingga tinggal menggunakannya. “Ini ponsel untukmu.” Aku menyodorkan benda itu padanya. Dewi hanya memperhatikannya itu tanpa diraih. “Ambil buruan. Tanganku pegel ini.” Dewi buru-buru meraih ponsel dari tanganku. Dia menimang-nimangnya. “Coba hidupkan.” Dia terkejut mendengar perintahku. “Nggak bisa,” jawabnya spontan. “Begini.” Aku mengarahkan telunjuknya pada tombol di bagian samping benda pipih itu, lalu layar pun menyala. Dewi langsung tersenyum melihatnya. Terlihat binar-binar di matanya, menandakan kegembiraan. “Di dalam ponsel ini hanya ada dua nomor. Nomor ponselku dan Jono. Selain itu, kamu nggak boleh menambahkan nomor orang lain tanpa seizinku. Mengerti kamu, Wi?” Dia mengangguk sambil tersenyum. Selanjutnya, aku mengajari Dewi menggunakan benda itu. Hanya beberapa fitur penting sebagai bekal agar dia tidak terlihat kampungan sekali. Dewi mendengarkan dengan antusias. Bibirnya menyunggingkan senyum. Terkadang digigitnya, lalu tiba-tiba menyahut ucapanku. Dia tidak menyadari jika mata ini tidak berpindah dari situ. “Sudah paham?” Wajahnya terangkat. Mata kami saling bertemu di satu titik. Sejak tadi, baru kali inilah kami saling berpandangan. Dewi lebih fokus ke layar ponsel, tidak sepertiku yang malah fokus ke bibirnya. “Paham, nggak?” Aku mengulang pertanyaan. Dia gelagapan. “Hu’um, paham,” jawabnya yang langsung mengalihkan pandangan. “Coba kamu gunakan.” Aku membiarkannya menguasai benda itu seorang diri, kuperhatikan dari jarak yang sama karena tubuhku dengannya nyaris tidak bersekat. Lagi, aku menatap wajahnya yang serius sekali mengulang fitur-fitur yang kuajarkan. Sesekali bibirnya bergetar membaca informasi pada benda itu. “Wi,” panggilku. Dia tak mendengar. Mungkin panggilanku terlalu lirih, atau mungkin karena Dewi terlalu fokus ke ponsel barunya. Dia masih tidak menyadari jika pergerakan pada bibirnya itu sangat mengganggu sekali. “Wi,” panggilku lagi. Kali ini sedikit lebih keras. Barulah Dewi mengangkat wajah. “Ya, kenapa, Mas?” Aku menatapnya lekat-lekat. Haruskah kukatakan keinginan kecil ini? “Ada apa, Mas?” tanyanya lagi, mengulang. “Kamu nggak paham?” tanyaku ambigu. “Paham.” “Beneran paham?” “Aku belum paham bagian ini. Apa bisa diulang?” tangannya bergerak ke ponsel. Dengan cepat kuraih tangan beserta ponsel itu lalu .... Dewi tidak bergerak sama sekali. Hanya terasa embusan nafasnya yang membuatku segera tersadar. Tapi aku tetap ingin menikmati moment ini, sehingga tetap menjadikan Dewi sebagai objek ketika rasa penasaran ini telah menemukan jawabannya. Aku menyudahi adegan singkat ini dengan terburu-buru bangkit. Kuusap bibir beberapa kali. Gila! Aku baru saja membuat rasa percaya diriku hancur. Karena ciuman tanpa alasan tadi, aku tidak berani memandang dirinya. “Sudah malam, tidurlah. Kamu bawa ponsel itu. Boleh kamu menggunakannya mulai besok.” Aku memberi perintah dengan membelakangi Dewi. Tak kutahu seperti apa rona di wajahnya setelah adegan itu. Ya, aku tak mau tau. Memang seharusnya tak perlu tau. * Pagi harinya, aku sengaja mempercepat persiapanku untuk berangkat ke kantor. Tidak berlama-lama di dalam kamar. Apalagi kulihat Dewi sudah keluar dari kamar mandi. Kulirik dia menggunakan ekor mata, terlihat tertegun di depan pintu kamar mandi. Lalu, akupun bergegas keluar demi menghindarinya. Entah. Hatiku kacau mengingat kejadian semalam. Aku menyesalinya. Tapi jujur menikmati perbagian dari adegan itu. Ini bukan ciuman pertama, bahkan bersama dengan Vera sudah kulakukan berulang kali. Tapi semalam itu, bersama Dewi kurasakan sensasi yang berbeda, dingin, lembut, mengalir tanpa perlawanan. Sialan. Otakku hanya berisi adegan itu sampai detik ini. Aku duduk di meja makan, berharap sendirian. Rupanya Dewi mengikuti langkahku saat keluar dari kamar. Dia pun ikut duduk bersamaku. Seperti perintah kemarin, dia aku perbolehkan makan bersamaku, sehingga saat ini akupun tidak punya alasan untuk mengusirnya. Kami menikmati setiap suapan tanpa percakapan. Hanya suara sendok berpadu dengan piring yang terdengar di meja makan ini. Kuakhiri sarapan kali ini dengan meneguk habis segelas s**u. Kemudian sengaja tidak beranjak dari sana sampai Dewi selesai menghabiskan makanannya. Aku perlu menegaskan sesuatu padanya. “Wi.” Panggilanku membuatnya mengangkat wajah, tapi tidak sampai menatap wajahku. Mungkin dia merasa aku sudah berubah dari malam tadi hingga pagi ini. “Aku mau menegasakan sesuatu padamu. Tentang keadaan semalam.” Aku menunggu Dewi menanggapi ucapanku. Tapi tak terdengar juga suaranya. Akhirnya, aku berinisiatif meneruskan penjelasan. “Yang semalam itu ... maksudku adegan tidak sengaja itu jangan dipikirkan. Aku nggak bersungguh-sungguh ingin melakukannya, hanya terbawa suasana sehingga terjadi hal itu. Kamu jangan berpikir macam-macam. Di antara kita tetap tidak ada apa-apa. Dan aku jamin, kejadian semalam tidak akan terulang lagi.” Dewi tetap diam meskipun aku sudah selesai memberikan penjelasan. Aku jadi bingung apa maunya. “Wi, aku-“ “Aku mengerti kok, Mas. Mau disengaja atau tidak disengaja, aku tidak akan mengingkarinya.” “Maksudmu?” “Jangan katakan bahwa tidak akan terjadi lagi. Kalau Mas Arjun mau melakukannya lagi, aku tidak akan menolaknya.” “Jangan bicara begitu seakan-akan kamu tidak ada harganya, Wi." “Aku nggak akan bicara seberani ini kalau bukan dengan suamiku sendiri.” “Tapi kamu tidak harus bicara sejujur itu.” “Aku adalah istrimu. Tidak ada yang akan aku tutup-tutupi, tidak akan aku tolak kalau Mas Arjun menginginkannya. Kalau sekiranya kejujuran ini Mas anggap murahan, maafkan aku.” “Bukan begitu maksudku, Wi.” “Aku rela memberikan semua yang kumiliki. Tapi karena Mas Arjun sudah menolaknya, maka aku memutuskan untuk tidak membiarkan Mas Arjun mengetahui apapun tentang diriku lagi. Mulai saat ini, aku tidak akan mengabdikan hidupku padamu.” Bicara apa sih, dia? Kenapa jadi begini, sih? ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN