Fakta Mencengangkan

1824 Kata
Tanganku gemetar mengantungi ketiga kartu ATM milik Dewi. Bagaimana bisa gadis kampungan ini memiliki kekayaan yang lebih besar dari total seluruh aset yang kupunya? Aku terus mengintimidasi Dewi lewat tatapan mata, berharap dia segera menjawabku. Tetapi yang terjadi malahan membuatnya semakin ketakutan dan akhirnya menarik pintu lalu berlari menghindariku. “Dewi!” Aku memanggilnya dan cepat-cepat mengejar. “Dewi tunggu!” Aku mencekal lengannya. Dia malah meronta-ronta minta dilepaskan. “Eh, Mas! Jangan kasar sama perempuan, dong!” Seorang pria yang ada di sana mengingatkan. Pria itu salah paham rupanya. Tegurannya membuatku terkejut dan akhirnya melepaskan Dewi. “Dia istri saya!” akuku lebih keras dari suaranya. Aku merasa terganggu. “Suami macam apa yang kasar sama istrinya.” “Anda jangan ikut campur. Ini urusan rumah tangga saya.” “Memang iya urusan rumah tangga situ. Tapi ributnya di rumah aja. Ribut di tempat umum seperti ini, bukan lagi urusan pribadi namanya. Kalau masih kasar juga, saya viralkan, nih!” Pria itu mengancam dengan mengarahkan ponselnya padaku. “Oke-oke.” Aku menyerah, pergi dan mengejar Dewi sekaligus mencari aman dari orang tak dikenal itu. Dewi terus berlari hingga keluar dari area parkir, menuju arah kanan, ke tempat yang gelap. Sialan. “Bikin capek aja sih!” Aku menggerutu. Masalahnya, aku sudah kehilangan jejak. “Kemana larinya si Dewi?” Aku bicara seorang diri, hingga kuketemukan seseorang yang duduk di trotoar jalanan. Dewi. Itu dia di sana. Aku berjalan mendekatinya, tak ingin kehilangan jejak lagi. “Ngapain pakai acara lari segala, sih? Jadinya aku dikira mau ngapa-ngapain kamu!” ketusku dengan suara keras. Dewi tak menjawab. Ia tertunduk sambil mengatur nafasnya. “Heh, nggak bisa jawab kamu!” Dia mengangkat wajah. Terlihat embun yang menggenang di sudut mata. “Astaga. Digituin aja mau nangis.” Aku kesal sekali. Terpaksa mengajaknya kembali ke mobil. Dewi menurut ketika kutarik tangannya dan membawanya menjauh dari tempat gelap di sana. “Dikasari menangis, dibikin halus sudah pasti nggak ngerti-ngerti. Bagaimana caranya kita berkomunikasi, Wi?” keluhku. Lalu kulepaskan tangannya. Dewi menyeka sudut mata. “Mas Arjun tiba-tiba marah begitu, kayak orang kesurupan. Masa mendadak tanya siapa Dewi? Aku kan istrinya Mas Arjun? Masih juga tanya begitu,” adunya dengan suara terisak. Salahku juga, karena tiba-tiba main sergap saja tanpa melontarkan pertanyaan yang ringan-ringan dulu sebagai pemanasan. Habisnya, aku terlalu syok melihat isi rekeningnya. Bagaimana kalau Dewi menyadari kalau uang yang dia punya melebihi hartaku? “Ah, sudahlah. Pusing kepalaku!” Aku membalas ucapannya tanpa menanggapi kata-katanya. Aku yakin, Dewi bingung dengan sikapku. . Aku membawa Dewi pulang, batal mengambil uang dari ATM. Aku melaju dengan kecepatan lambat. Takut jika terjadi sesuatu karena otakku masih belum bisa diajak bekerja sepenuhnya. Siapa sebenarnya wanita yang kunikahi ini? Semua masih menjadi misteri. Sesekali kulirik wanita kucel yang duduk di sampingku. Ada beberapa bekas jerawat yang menghitam di pipi, juga ada goresan luka yang sepertinya belum lama kering di kening kanannya. Astaga, kenapa aku jadi sedetail ini memperhatikan dia? “Kita nggak jadi belanja?” Dewi bertanya yang langsung menoleh, membuatku kepergok sedang memandangnya. Aku buru-buru mengalihkan tatapan. “Besok saja,” jawabku asal. Padahal besok agenda di kantor sangat padat. Lagian, mana sempat aku menemaninya berbelanja. Ditambah lagi pastinya aku gengsi tujuh turunan berbarengan ke luar rumah bersama Dewi. Bisa jatuh ke dasar jurang reputasiku. “Besok siang?” tanyanya memastikan. “Besok malam,” jawabku ngasal pula. Dewi menghela nafas. Dari raut wajahnya yang langsung tertunduk, aku yakin dia sedang kecewa. “Penting banget memangnya harus berbelanja? Mau beli apa, sih?” Bagiku, rencana belanjanya Dewi ini tidaklah begitu penting. Siapa yang bakal perduli padanya? Penampilannya saja tidak lebih menarik dari dua pembantu yang ada di rumahku. Dewi membungkukkan badan. Sepertinya, dia sedang mengambil sesuatu. “Sendalku sudah putus. Tadi pagi aku sudah mengingatnya pakai tali rafia.” Sebuah selop murahan yang sudah tak layak pakai pun ditunjukannya ke mukaku. “Astaga Dewi! Kamu bisa membuangnya kan? Kenapa mesti dipakai kalau sudah tau rusak atau putus? Kamu kan bisa bilang ke Imas atau Jono? Mereka akan membantumu mendapatkan sendal yang lebih baik dari kepunyaanmu itu. Bikin malu aja, sih! Lagian, sandalmu itu udah nggak layak dipakai lagi.” Aku memekik sambil terus mengomel, berharap ini yang terakhir kali memberikan penjelasan yang sebenarnya tidak penting. Masa masalah sendal putus saja aku harus turun tangan? “Maaf, Mas. Aku hanya menjalankan pesan kakek.” “Kakekmu yang mana? Kakek yang sudah meninggal itu?” Dewi bungkam, tak menjawab pertanyaanku. Malahan yang kulihat, ia mengusap sudut mata. “Sudahlah nggak ngerti-ngerti, cengeng pula. Bagaimana manusia seperti ini bisa hidup ya, Tuhan ....” Aku mengacak rambut sendiri, frustrasi. Di tengah-tengah isakan, akhirnya Dewi menjawab juga. “Makanya kakek menyuruh kuliah. Mungkin biar aku bisa pinter.” Tawaku hampir menyembur mendengar kepedean dia menjawab ucapanku. “Apa aku nggak boleh kuliah?” tanyanya polos. Sebenarnya dia paham aku tertawakan. Entah kenapa masih juga nekat ingin kuliah? Apa tak semakin repot saja nanti aku dibuatnya? “Akan aku pikirkan setelah sampai di rumah. Jadi, kamu jangan banyak tanya.” Setelah mengatakan itu, aku mempercepat laju kendaraan. Ingin segera sampai di rumah lalu tidur untuk melupakan mimpi buruk hari ini. . Pagi yang cerah, aku memulai hari dengan menyantap sarapan. Baru kusadari jika aku membutuhkan informasi dari Dewi. Tentang ketiga kartu ATM itu, darimana dia mendapatkannya? “Imas, suruh si Dewi kemari,” perintahku pada pembantu. “Baik, Pak.” Dewi memang memilih menyantap makanannya di belakang sejak meminta izin waktu itu. Setidaknya, untukku lebih nyaman tanpa dia di meja makan ini. Dewi datang sambil mengelap tangannya ke rok yang ia kenakan. “Maaf, Mas. Aku baru selesai sarapan. Di kampung biasa sarapan pagi-pagi sekali.” “Nggak ada yang nanya padamu, Dewi.” Aku menyuruhnya duduk menungguku menghabiskan makanan. “Aku disuruh ngapain ya, Mas?” tanyanya sambil menatapku yang tengah menyuap. “Mau meneruskan kuliah, nggak?” tanyaku. “Iya, mau-mau.” Dewi menjawab dengan wajah berseri. Terlihat deretan giginya karena tersenyum lebar. “Sebentar,” ucapku sambil meneguk s**u hingga tetes terakhir. Dewi menunggu dengan sabar. Pandangannya tak berpindah padaku seakan-akan takut ada sesuatu yang terlewati. “Aku mau kuliah mengambil jurusan PGSD,” celetuknya. Ucapan yang ini membuatku tertawa keras. Pintar melawak juga dia rupanya. “Untuk apa kamu mengambil jurusan PGSD? Kamu itu istrinya CEO sekaligus pemilik perusahaan. Jurusanku itu nggak akan digunakan.” “Karena aku suka sama anak-anak,” jawabnya kelewat polos. “Pantes kekanak-kanakan, nggak dewasa-dewasa.” “Kalau begitu, PGTK juga nggak apa-apa.” “Nggak untuk dua-duanya, Dewi!” Jawabanku membuatnya bungkam seketika. Tak menjawab. “Lupakan hobimu itu. Dengar, Wi. Kamu nggak perlu kuliah, cuma ngabis-ngabisin waktu. Cukup kursus saja yang harus kamu ambil.” “Kursus?” “Ya. Kamu boleh memilih nanti, apakah mau kursus memasak, kursus kecantikan, kursus bahasa Inggris. Terserah kamu.” “Tapi kakek-“ “Kakekmu itu sudah meninggal. Lagian, kamu mau kuliah, mau kursus atau mau menganggur sekalipun, dia nggak bakal tau.” Dewi tampak berpikir. Mungkin sedang menimbang. Semoga saja tidak memprotes saran yang kuajukan. “Bagaimana?” tanyaku tak sabar. “Em ... kursus memasak saja. Soalnya aku juga suka memasak.” “Terserahlah. Mau suka masak atau kepengen memasak, nggak ada ngaruhnya ke aku. Akan aku urus supaya kamu cepat-cepat bisa masuk.” “Ya, Mas.” Saat itu juga, aku menelepon Candra untuk mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan Dewi. Aku menunggu pria ajudanku memberi kabar. Tidak sampai lima menit, Candra menghubungiku dan mengabarkan berita baik. “Besok kamu sudah bisa masuk kursus. Ada Jono yang akan mengantar dan jemputmu.” “Benarkah? Tapi, kapan mendaftarnya? Tiba-tiba sudah disuruh masuk.” “Pokoknya kamu taunya masuk. Semua sudah ada yang urus.” “Baik, Mas. Terima kasih ya, Mas.” “Jangan senang dulu. Kamu harus ingat aturan yang nggak boleh kamu langgar.” “Iya, Mas, aku ingat.” “Apa coba?” “Tidak boleh ada yang mengetahui status kita, benar kan?” “Bagus. Sekarang, kamu boleh kembali ke belakang.” Dengan bibir yang menyunggingkan senyum, Dewi kembali ke tempat asal, bersama para pembantu di belakang. ** Siang itu di kantor, Oma tiba-tiba masuk ke ruang kerjaku. Biasanya, Oma hanya datang saat-saat mempunyai kepentingan mendesak. Aku yang memang sudah menyiapkan banyak sekali pertanyaan tentang diri Dewi, tanpa basa-basi langsung membuka percakapan. “Oma merahasiakan sesuatu dariku. Benar Dewi memang gadis kampung yang tidak mengerti apa-apa. Tapi dia memiliki tiga ATM yang jumlahnya luar biasa, Oma. Seluruh aset yang kupunya bahkan lebih besar dari harta dia. Oma pasti sudah tau itu kan?” “Makanya jangan sombong.” “Tolong jelaskan padaku, Oma, siapa sebenarnya istriku itu?” “Setelah dia ketauan kaya raya, kamu baru mengakuinya sebagai istri?” Aku merasa tertampar dengan pernyataan Oma. Benarkah aku begitu? “Oma jangan bilang begitu," sangkalku merasa tak enak. “Selama hampir satu bulan tinggal di rumahmu, Dewi masih berpenampilan begitu. Kamu sama sekali tidak memperhatikan dia.” “Oma-“ “Apa yang akan Oma katakan sebagai alasan kalau Pak Wira tau kondisi Dewi yang kamu abaikan?” “Apa hubungannya sama pak Wira?” Pak Wira adalah pengacara keluarga kami. Aku bingung dengan ucapan Oma yang menyebut nama pria itu dalam perbincangan kali ini. Oma belum sempat menjawab, tapi keburu pintu ruang kerjaku terbuka. Chandra, ajudanku membawa dua orang pria. Dialah Pak Wira, orang yang sedang kami bicarakan. Satu lagi seorang pria yang tidak kukenal. Keduanya kusambut dengan baik. Kami berpindah tempat duduk ke sofa supaya lebih nyaman. “Arjun, ini yang Oma ceritakan tadi. Pak Wira datang membawa seseorang. Namanya Pak Ramdan. Selamat siang, Pak Ramdan.” Oma berucap mengenalkan pria asing itu seraya menyapanya. “Selamat siang juga, Oma. Sudah lama kita tidak bertemu.” Pak Ramdan pun membalas sapaan Oma. “Benar, Pak. Saya yang minta maaf karena beberapa kali harus mewakilkan pertemuan kita pada Pak Wira. Maaf, waktu itu saya sedang tidak berada di tempat. Oh, iya, Pak Ramdan. Saya perkenalkan langsung cucu saya. Ini dia Arjun, cucu saya sekaligus suami dari Dewi.” “Selamat siang, Pak Ramdan. Senang bertemu dengan Anda,” ucapku yang langsung menyapa pria yang bernama Ramdan. Pria di depanku ini tersenyum. “Selamat siang juga, Nak Arjun. Sebelum kita berbincang lebih jauh, perkenalkan saya Ramdan Gunawan. Saya temannya Pak Wira, sama seperti Pak Wira juga yaitu seorang pengacara. Di sini, tugas besar saya adalah mendampingi istri Anda, Mbak Dewi Shintya.” Pengacara? Pengacaranya Dewi? Mana mungkin? Kepalaku seperti terantuk benda tumpul nan keras hingga membuatnya tidak berfungsi sepersekian detik. Si Dewi punya pengacara? Buat apaan coba. “Jadi begini Nak Arjun, Dewi adalah cucu klien saya. Dia adalah pewaris tunggal perusahaan yang sedang Anda duduki.” Penjelasan Pak Ramdan benar-benar tidak masuk di akal. “Mana mungkin bisa begini?” Akupun menggeleng tak percaya. "Perusahaan ini, akulah pemiliknya, bukan Dewi," tegasku padanya. "Anda salah, Nak Arjun. Kalau tidak percaya, tanyakan saja pada Oma." Pak Ramdan berucap sangat meyakinkan. Benarkah demikian? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN