Penampilan Baru Dewi

1230 Kata
Semua yang ada padaku hanyalah titipan belaka? Sial! Aku menegakkan punggung agar dapat menghela nafas sebanyak mungkin. Stok oksigen terasa kian menipis, dadaku perlahan sesak. Mendengar penjelasan langsung dari Pak Ramdan membuatku ingin mengumpat dan memaki. Jadi selama, aku bekerja hanya dibayar dengan upah sama halnya seorang karyawan. Lalu, apa bedanya aku dengan Chandra dan bawahanku yang lainnya? Tidak ada bedanya. Kami sama-sama digaji oleh perempuan kampungan itu. “Jangan berkecil hati, Nak Arjuna. Kamu akan tetap memperoleh jabatan tertinggi di perusahaan ini sebagai CEO. Kamu hanya tidak memiliki hak atas kepemilikan perusahaan. Asal kamu bekerja dengan baik, kamu akan tetap berada di posisi aman.” Aman bagaimana? Aku menginginkan seluruhnya menjadi milikku, itu baru aman. Oma yang kuharap membelaku pun hanya terdiam saja. Aku seperti dikuliti hidup-hidup di depan mereka. Rasanya lebih sakit dari dituduh mencuri. . Aku belum sanggup menanyakan banyak hal mengenai Dewi kepada Pak Ramdan. Mengetahui status kepemilikan perusahaan ini saja sudah cukup membuatku tidak bisa berpikir lagi. Bahkan aku sampai harus menyuruh bawahanku untuk menggantikan meeting. Saking dibuat syok oleh kenyataan ini. Aku mau pulang. Setidaknya dengan menghindar dari permasalahan ini bisa sedikit membantu hatiku supaya lebih tenang. “Pak! Tunggu, Pak!” Aku terkejut mendengar panggilan dari Mona, sekretarisku. “Kenapa? Ada apa?” tanyaku. Mona menjinjing dua paper bag menuju ke arahku. Aku baru teringat jika sebelumnya aku menitipkan barang belanjaan yang kubeli melalui sebuah aplikasi. “Pesanan Bapak tertinggal di meja saya.” “Sudah lengkap semua ini isinya?” Sebelumnya, aku menyuruh Mona memeriksa baju-baju ini. “Sudah, Pak. Sesuai dan cocok dengan pesanan Pak Arjun.” “Oke. Terima kasih.” Aku meraih dua paper bag itu dari tangan sekretarisku. Selanjutnya, aku melangkah ke luar dari lobi utama. Pulang adalah tujuanku untuk menenangkan diri. Dalam perjalanan, Candra yang memang selalu bersamaku menjelaskan rentetan jadwal yang harus kujalani esok hari. Mendengarnya terasa sangat membosankan. Belum juga sempat beristirahat sudah diingatkan pekerjaan-pekerjaan lain yang sudah terbayang kesibukannya. Jika merasakan betapa usahaku sudah sangat maksimal menjaga, mengembangkan, dan mempertahankan perusahaan selama ini, tidak layak rasanya jika aku hanya disamakan dengan karyawan lainnya. Apalagi pemilik yang sesungguhnya si kampungan itu. Membuatku tak bisa membayangkan apa jadinya perusahaan sebesar itu dipegang oleh Dewi. “Pak, bisa kita membicarakan hal lain di luar pekerjaan?” Candra bertanya setelah usai membahas urusan kantor, membuat lamunanku langsung buyar. “Tentang apa?” “Ibu Dewi, Pak.” “Kalau di depanku, cukup panggil namanya saja. Kenapa dengannya? Dia nggak membuat ulah kan?” “Baik. Bu em, Dewi sudah mendapatkan kelasnya. Besok adalah hari pertama masuk.” Chandra menyudahi ucapannya padahal keterangan yang diberikannya terdengar menggantung. “Terus kenapa kalau dia mulai masuk? Apa aku harus memberinya selamat, begitu?” “Bukan begitu. Maaf, masalah penampilannya.” Aku langsung bisa menebak maksud perkataan Chandra. “Jangan khawatir. Aku sudah membelikan banyak barang untuknya.” Setelah mengatakan itu, aku mengarahkan telunjuk ke arah paper bag. “Oh, syukurlah. Saya hanya takut Dewi menghancurkan reputasi Anda.” “Kamu pikir, aku akan membiarkan hal itu terjadi!” Suaraku meninggi. Entah kenapa membahas manusia satu itu langsung membuat darah naik ke kepala, langsung emosi jadinya. “Maaf, Pak.” Chandra tidak lagi mengatakan apapun setelah bentakan itu. “Jangan biarkan seorangpun mengetahui status dia sebagai istriku.” “Baik, Pak. Akan saya atur sebaik mungkin.” Mobil berbelok menuju halaman rumah. Belum memasuki rumah, aku sudah disuguhi dengan pemandangan yang memu*kkan. Dewi berlari-lari kecil menyambutku. “Mas, yang kemarin itu jadi kan? Yang katanya aku boleh kursus?” tanyanya. Aku malas menjawab, maka kusodorkan saja paper bag yang kubawa kepadanya. “Apa ini?” tanyanya. “Pakaianmu. Ingat, perbaiki penampilanmu dulu baru berpikir akan keluar dari rumah.” Setelah itu, aku meninggalkannya seorang diri. Baru beberapa langkah beranjak, aku sudah dikejutkan oleh kedatangan sebuah mobil. Mobil berwarna hitam itu langsung menempati posisi berjajar di samping mobilku. Seorang wanita turun dengan anggun. Pertama kali yang dilihatnya adalah sosok si Dewi. Sudah bisa kubayangkan, wanita ini pasti akan histeris melihat penampilan Dewi. “Ini Dewi, Jun?” tanya tanpa basa-basi. “Tanya saja sendiri,” jawabku. “Iya, saya Dewi. Pembantu di rumah ini.” Wanita itu sangat terkejut. Ia membuka kacamata hitamnya, lalu menatapku tajam. “Dasar, kelakuan kamu!” Dia menunjuk ke wajahku. “Istri sendiri disuruh mengaku jadi pembantu. Keterlaluan!” Dewi terbengong-bengong mendengar omelannya. Mungkin heran ada orang yang berani marah-marah padaku. Aku biasa saja menanggapinya, karena sudah terbiasa. “Kamu bawa apa, Wi? Sini, ikut aku.” Dewi sangat terkejut ketika wanita itu menarik tangannya, mengajaknya menuju teras. “Mbak siapa ya?” tanya Dewi sambil mengikuti langkah wanita itu. “Namaku Jenni, kakaknya si songong suamimu itu.” “Jadi ... Mas Arjun punya kakak secantik Mbak ini?” pujinya, berlebihan menurutku. Mbak Jenni kelihatan cantik karena pintar berdandan. Dia seorang beauty vlogger. Apa saja bisa disulapnya menjadi cantik. Bahkan di beberapa acaranya, dia sering membawa wanita-wanita yang penampilannya seperti Dewi ini untuk di make over. Sampai di teras, Mbak Jenni langsung mengacak-acak barang bawaan Dewi. “Siapa yang membeli ini?” tanyanya. “Mas Arjun, Mbak.” “Ini nggak cocok buat kamu, Wi.” “Itu baru kubeli, Mbak,” sergahku mendekati mereka. “Umur kamu berapa, Wi?” tanyanya tanpa mengindahkan kehadiranku. “Dua puluh, Mbak.” “Ini terlalu tua, Arjun.” Mbak Jenni memekik sambil menatap satu persatu baju-baju yang kubeli dari sebuah online shop. “Mana aku tau. Yang penting kan baru, bukan barang bekas,” sahutku. “Kamu nggak tau model dan nggak tanya-tanya dulu sebelum membeli?” “Sudahlah, Mbak. Setidaknya baju-baju ini jauh lebih baik dari semua baju yang dia miliki,” ucapku menatap Dewi dari atas ke bawah. Pakaiannya yang jadul itu menjadi pusat perhatian aku dan Mbak Jenni. Dia tertunduk. Mungkin malu. Kasian. Mau bagaimana lagi. Memang seperti itulah penampilannya. “Sudah-sudah.” Ucapan Mbak Jenni mengejutkan kami. “Sekarang, kamu ikut aku, Wi.” Mbak Jenni menarik tangan Dewi dan membawanya pergi. “Mau dibawa ke mana?” tanyaku. “Sudah. Kamu taunya beres ....” Dewi dimasukkan ke dalam mobil. Mbak Jenni membawanya pergi entah kemana. Mungkin ke salon atau butik miliknya. * Sudah empat jam sejak kepergian Dewi, Mbak Jenni belum membawanya pulang. Khawatir sih, enggak. Hilang pun bukan aku yang rugi. Tapi kalau Oma tau Dewi pergi sudah selama itu, aku pasti akan kena marah lagi. Aku menetap arloji di pergelangan tangan. Sudah jam enam. Sebentar lagi Maghrib dan Dewi belum pulang juga. Tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Baru akan bangun, mendadak pintu terbuka. “Mas.” Suara Dewi memanggil bersamaan dengan seseorang yang muncul dari luar. “Siapa kamu?" Aku sangat terkejut ada orang asing berani masuk ke kamarku tanpa izin. Suara yang kudengar adalah suara Dewi tapi kemunculannya bukanlah dia. Apa jangan-jangan orang ini adalah Dewi? Aku menatap dalam ketidakpercayaan pada seorang wanita berambut sebahu dengan poni yang menutup sebagian mata. Lalu turun ke bawah pada T-shirt berwarna ungu muda. Ke bawah lagi pada sebuah rok mini selutut. Kulit kakinya yang putih terlihat sangat kontras dengan warna hitam dari roknya. Bagian paling bawah, dia mengenakan sepatu kets berwarna ungu muda senada dengan warna bajunya. Dia menyibakkan rambut yang menutupi mata. “Ini Dewi, Mas.” Aku mengernyit, juga ternganga. “Dewi?” Aku masih tak percaya. “Iya, Dewi.” Dewi? Beneran gadis kampungan itu? Mana mungkin secantik ini? ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN