“Ini Dewi, Mas.”
Aku mengernyit, juga ternganga.
“Dewi?”
“Iya, Dewi.” Aku ternganga, tak percaya.
Dewi? Beneran dia?
Mana mungkin secantik ini?
“Mas Arjun pasti pangling kan?”
Dengan percaya dirinya dia mengatakan itu? Dia pikir, dia itu siapa?
“Beneran kamu Dewi?” Sepertinya, sedikit menjahilinya lebihmenyenangkan.
“Iya. Beneran.” Rona wajahnya terlihat cerah.
Aku mendekat, berputar mengelilinginya. Dia masihmenampakkan air muka yang berseri-seri. Setelah itu, aku mencondongkan tubuh, membauinya
“Ya, ya, ya. Aromanya nggak berubah kok. Tetap baukampungan.”
Aku kembali menaiki ranjang setelah puas membuatnya malu.Dia tertunduk.
“Wi, bantuin bawa barang-barangnya dong!”
Mbak Jenni menerobos masuk melewati Dewi dengan membawabanyak sekali paper bag.
“Iya, Mbak.”
“Di luar pintu tuh, bawa masuk semua. Si Imas masihmengambil lagi di dalam mobil. Suruh dia langsung bawa kemari. Aku mau semuanyakelar hari ini biar aku nggak pusing. Cepat-cepat, buruan!”
“Mbak Jenni ngapain membawa banyak sekali barang-barang ke kamarku? Ini semua apa isinya? Ini lagi!” Aku turun dari ranjang, batal tidur.T
Telunjukku mengarah ke masing-masing paper bag yang kutaksir jumlahnya lebih dari lima belas.
Mbak Jenni tidak menjawab. Dia malah menuju lemaripakaianku, membukanya dan berkacak pinggang di sana.
“Mbak, jangan aneh-aneh deh! Mau diapain lemariku?" sergahku melihat gelagat mencurigakan dari kakak perempuanku.
“Kamu diam di situ!” kecamnya.
Aku terbengong melihat Mbak Jenni mulai memindahkan beberapatumpuk pakaianku.
“Ini kamar siapa, yang punya siapa, malah tuan rumahnyaseperti dijajah.” Aku mengomel.
Tidak ada seorangpun yang menyahut.
Aku memandang Dewi yang mulai masuk sambil kepayahan membawabarang-barang.
“Stop di situ, Dewi!”
Dia langsung berhenti. Mbak Jenni menghentikan aktivitasnyapada lemariku.
“Aku yang menyuruhnya," ucapnya.
“Ngapain lemariku diacak-acak?”
“Itu salahmu sendiri karena nggak menyediakan lemariuntuknya. Dewi ini sudah satu bulan tinggal di sini dan kamu sama sekali nggak memperlakukannyaseperti istri.”
Mbak Jenni menghadap ke lemari lagi dan mengeluarkan isianpaper bag lalu memasukkannya ke dalamnya.
“Mbak jangan bercanda deh. Nggak lucu menyatukanbaju-bajuku dengan baju-baju dia.”
“Kemarin, baju-baju Dewi memang nggak layak masuk ke dalamlemarimu. Sekarang, nggak ada alasan lagi kamu membuatnya jadi beda. Lihat!”Mbak Jenni membuka lebar-lebar dua sisi pintu hingga memperlihatkan semua isilemari.
“Baju-baju Dewi juga bermerek sama dengan baju-bajumu.Jadi, kamu nggak ada alasan lagi untuk menolak. Di rumah ini nggak ada yang berani menegurkelakuan kamu. Kalau bukan aku dan Oma, Dewi tidak akan berubah.”
Aku tertegun mendengar ocehannya. Tak dapat melarang lagidan membiarkan baju-baju Dewi yang baru dibelinya masuk bercampur denganpakaianku.
Mbak Jenni memasukkan semua baju-baju itu tanpa sisa. Lalu, memerintahkan Dewi agar berdiri menghadap lemari.
“Dengar Dewi, semua pakaian kamu sudah ada di dalam lemariini. Kamu ingat-ingat apa yang kujelaskan di butik tadi, masing-masing baju ini memakainya di waktu yang berbeda-beda. Kalau masih bingung, tanya sama Arjun.”
“Kok aku, sih?” protesku.
“Masa iya Dewi kusuruh nanya ke Jono. Nggak mungkin kamu nggak tau piyama gunanya untuk apa,kemeja dan blazer dipakai untuk apa."
“Mbak, aku sudah paham kok,” ucap Dewi menyela.
“Oh ya. Ada yang lupa.” Mbak Jenni mengambil sesuatu daridalam tasnya.
“Ini untukmu.”
Lalu, memberikannya kepadaku.
“Apa ini?” tanyaku.
“Total seluruh belanjaan Dewi. Kamu yang bayar.”
“Lah? Nggak gratis?”
“Enak saja gratis. Butikku nggak jalan dong kalau semuanyagratis. Sudah, aku pulang dulu.”
Aku membiarkan kakak perempuanku pergi. Kubuka notabelanjaan tadi.
“Dua ratus juta?” Mataku terbelalak.
“Mbak Jenni!” Aku mengejar dan memanggilnya. Untung Mbak Jenni masihdi depan pintu.
“Apa!”
“Nggak salah ini totalnya?”
“Dua ratus juta itu sudah kudiskon 40%. Artinya aku nggak ngambiluntung dari baju-baju Dewi. Lagian, modalin istri segitu udah mengomel aja.Uangmu juga masih banyak kan?”
“Iya, tapi nggak segini banyaknya.”
“Halah. Belanjain pacarmu yang matre saja nggak pernahmengeluh kok. Tas branded yang pernah di upload Vera itu harganya lebih dari dua ratus juta."
“Jangan keras-keras bahas itu. Ya sudahlah, sudah terlanjurjuga.”
Aku berbalik sambil menutup pintu. Kuperhatikan kamarku yangseperti kapal pecah. Plastik-plastik dan paper bag bekas bungkus pakaianberserakan dimana-mana.
“Aku bersihkan ya, Mas.”
Dewi bergerak memunguti semuanya. Sepertinya dia mengertiharus melakukan apa sebelum aku mengomel lebih parah lagi.
*
Sesaat setelah lembur, aku keluar dari ruang kerja.Ada beberapa berkas yang harus dipersiapkan untuk persiapan meeting besok pagi.
Mata sudah lelah dan punggung rasanya sudah pegal-pegal karena lama duduk di depan layar laptop.
Saat membuka pintu, aku melihat Dewi sedang terpaku di depanlemari. Ia tampak berpikir, bingung sepertinya. Terlihat dari caranya menggarukkepala, lalu tertegun lagi menatap isi lemari.
Saat ini, ia sudah mengenakan piyama tidur. Apa dia berpikirsalah kostum? Rasanya tidak.
“Ngapain kamu di situ?”
Terguranku yang tiba-tiba membuat Dewi terkejut.
“Mas Arjun. Maaf.”
Dia menutup lemari lalu tertunduk.
“Kenapa seperti orang bingung begitu?”
“Anu, a-aku sedang menghitung banyaknya baju yang sudahdibeli tadi,” jawabnya dengan suara semakin lirih.
“Untuk apa dihitung?”
“Banyak sekali.”
“Terus?”
“Apa tabunganku cukup untuk mengganti uangnya?”
Aku mengernyit. Mungkin maksud dia uang yang ada di dalamATM itu.
“Kenapa tanya begitu? Kamu mau membayarnya?”
“Iya. Aku nggak mau berhutang, apalagi jumlahnya ... sangatbanyak.” Dia menunduk lagi.
“Kenapa tadi belanja sebanyakitu?”
“Mbak Jenni yang mengambil itu semua. Katanya, semua yangdipilihkannya harus aku miliki.”
Aku melenggang ke kamar mandi, malas menanggapinya. Tak penting.
“Aku akan membayarnya menggunakan uang kakek. Kalau nggakcukup juga, aku akan berhutang padamu," ucapan Dewi membuat langkahku terhenti.
Rasanya kepengen menelan mahluk menyebalkan ini hidup-hidup.Aku menoleh untuk menanggapi ucapannya.
“Sudah kubayar.”
“Kalau begitu, Mas Arjun bisa mengambil uang dari—“
“Nggak perlu. Uangku masih banyak. Untuk membeli bajusekaligus butiknya pun masih berlebih.”
Setelah itu, aku melangkahkan ke kamar mandi, menghindaribersitatap dengannya.
Entah, hatiku sudah amburadul saat ini. Ingin marah tapidia istriku, mau mengambil uangnya sebagai ganti tapi dia pun telah menjaditanggunganku, mau bilang bahwa uang milik dia sangat banyak juga tidak mungkin.
Entahlah, kalau Dewi tau dialah pemilik semua yangkupunya, mungkin Dewi akan membenciku.
*
Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap di depan kaca rias.Berdiri menatap diri mengenakan dasi sambil memastikan tidak ada penampilanyang salah. Akan ada tamu penting yang harus kutemui pagi ini. Aku harusmemastikan tidak ada yang cacat sedikitpun dari penampilanku.
Tak kuperdulikan Dewi yang baru keluar dari kamar mandi.Seperti biasa, ia sudah mengganti pakaiannya begitu keluar.
Dia tampak kikukketika kupandangi dari pantulan cermin, karena sebelumnya tatapan kami taksengaja bertemu.
“Kamu sudah tau jadwal masuk kursusmu, Wi?”
Dia terkejut mendengar pertanyaanku.
“Sudah, Mas,” jawabnya, lalu terlihat dia berjalan menuju sofadan terduduk di sana.
“Jam satu sudah harus di sana.”
“Ya, Mas.”
“Ini hari pertamamu. Pastikan jangan terlambat.”
“Ya.”
Aku menatapnya lagi dari kaca. Dan lagi, Dewi juga kebetulansedang menatapku. Pandangan kami pun bertemu lagi.
Dia menunduk ketika sengaja aku tidak mengalihkan pandangan.
Dewi memang terlihat sedikit lebih baik dari sebelumnya.Setidaknya lebih enak dipandang, tidak membosankan walaupun tanpa make up. Mungkinkarena pengaruh bentuk potongan rambutnya yang lebih rapi. Jadinya terlihatlumayan cantik.
Eh, apa-apaan aku ini. Apa aku tadi sedang memujinya?
Tidak mungkin.
Aku buru-buru menyudahi persiapanku. Tanpa pamit, akumeninggalkannya sendirian.
*
Akhir-akhir ini aku lebih memilih menghabiskan waktu di luarkantor. Ingin mencari ketenangan dan terbebas setelah meeting di luar.Beberapa pekerjaan di kantor sengaja kuperintahkan Mona untuk menghandle-nya.
Sementara waktu, aku ingin mencoba hidup tanpa melihatmegahnya kantor perusahaan yang selama ini membesarkan namaku. Ujicoba dulu, sebelumbenar-benar ditendang dari sana. Mungkin, setelah Dewi tau kenyataan yang sebenarnya.
“Kita pulang, Jon. Kepalaku sakit. Aku mau istirahat,”ucapku pada Jono.
“Baik, Pak.”
Usia meeting kedua yang kujalani hari ini, aku memutuskanpulang saja. Kebetulan lokasi meeting berdekatan dengan rumah.
Tak membutuhkan waktu lebih dari lima menit, mobil yangdikemudikan Jono sampai juga.
Aku langsung turun dan bergegas masuk.
“Mas.”
Terdengar suara Dewi memanggil, akupun menoleh. Benar Dewi yang memanggilku. Dewi berjalandari arah dapur.
Dia terlihat sudah rapi, mengenakan rok mini selutut, kali iniberwarna biru muda. Mengenakan atasan kemeja setengah lengan berwarna hitam. Rambutnyadibiarkan tergerai tanpa diikat, mempertahankan model rambut yang dibentuk MbakJenni kemarin. Dewi, terlihat semakin lebih baik.
Sadar, Arjun. Kamu tidak harus memujinya meskipun itu cumamembatin.
Aku menyalahkan diri sendiri yang sudah dua kali ini tak bisaberbohong tentang perubahan pada diri Dewi.
“Jono sudah menunggu di luar tuh,” ucapku.
“Iya. Aku berangkat dulu ya, Mas.”
Usai berpamitan, tiba-tiba Dewi meraih tanganku, lalu menciumnya.
“Assalamualaikum.”
Aku yang terkejut, tidak merespon apa-apa selain hanya terbengong-bengongmelihat sikap Dewi. Ada yang bergetar aneh di dadaku. Entah kenapa, aku merasa diistimewakan.
“Waalaikumsalam,” jawabku meski terlambat. Sebab, Dewi sudah menghilangdari hadapan.
Sejenak, aku seperti tersihir dengan keajaiban-keajaiban kecil yang dilakukan istri kampunganku.
“Mas.”
Dewi memanggil. Kenapa dia kembali?
“Ada yang ketinggalan?” tanyaku menebak.
“Di luar banyak orang yang datang.” Dewi memberitahukan.
“Banyak orang? Aku nggak merasa membuat janji.”
“Mas lihatlah sendiri.”
Akhirnya aku ke luar untuk memastikannya. Dewi pun mengekor dibelakang.
“Itu Oma kan, Mas?”
Dewi menunjuk satu di antara orang-orang yang turun dari mobil-mobildi halaman. Oma salah satunya, kemudian ada pak Wira, pak Ramdan dan Chandra. NgapainChandra bersama mereka?
Tunggu-tunggu, pak Ramdan datang ke rumahku?
“Mereka itu siapa, Mas?”
“Dimlah, Wi!” bentakku tanpa kendali.
Tiba-tiba aku merasa cemas yang luar biasa. Jangan-jangan, pakRamdan datang kemari untuk menemui Dewi dan mengatakan semuanya.
Gawat.
Mungkinkah nasib baikku akan berakhir hari ini?
****