Selama menjalani masa rehabilitasi hampir dua bulan lamanya, Sophie merasa jauh lebih tenang walau dia merindukan gemerlap kota Manhattan dan segala kesibukannya. Bimbingan konseling, meditasi, hingga bercocok tanam di taman yang disediakan oleh pihak rehabilitasi menjadi kegiatan sehari-hari Sophie. Selain itu, beberapa orang yang sesama pecandu narkoba ternyata mengenal dirinya sebagai model. Mau tak mau Sophie sedikit bangga meskipun sekarang dia tak lagi menjadi bagian dari agensi modeling.
Beberapa waktu lalu, manajernya datang menjenguk dan memberi beberapa surat pernyataan bahwa Sophie benar-benar tak bisa menjalani pekerjaan seperti dulu. Sophie berusaha menjelaskan bahwa dia tak kan mengulangi perbuatannya lagi, namun manajer yang berambut pirang dengan tatapan sinisnya hanya bisa mengatakan tidak.
"Aku tidak bisa banyak membantumu, Sophie, sudah berapa kali kau terkena kasus yang sama dengan janji yang sama," ucap sang manajer yang bernama Scarlett.
Pada akhirnya Sophie hanya bisa mengacungkan kedua jari tengah, menahan kesal dan amarah mengapa tak banyak orang yang mau membantunya saat ini. Baginya, kesalahan bisa diperbaiki asal mereka mau bersabar, dia juga membela diri bahwa dia mengonsumsi obat terlarang itu hanya untuk bersenang-senang. Lagi pula dia juga tidak pernah sampai overdosis seperti artis lain yang hampir meregang nyawa.
"Mereka pecundang," ucap Cindy yang tiba-tiba muncul di belakang Sophie. "Mereka hanya bisa membuang sampah tanpa mau mendaur ulangnya lagi."
Sophie berbalik, menatap ekspresi Cindy sambil tersenyum kecut dan melipat kedua tangannya di d**a. "Apa kau sedang memujiku atau menghinaku?"
"Kita berdua sama," jawab Cindy mengabaikan pertanyaan Sophie. "Bahkan kedua orang tuaku pun tidak mau melihat putrinya yang sedang direhabilitasi."
Sophie terdiam, jika ditilik kembali, dia tidak pernah melihat keluarga Cindy kecuali lelaki bermata abu-abu yang terlihat sangat kaya itu. Sophie pun yakin bahwa gadis pucat di depannya ini bukanlah sembarang orang, mungkinkah Cindy adalah salah satu artis atau penyanyi yang sedang naik daun serta lelaki yang ditemuinya beberapa waktu lalu adalah manajer Cindy.
"Tapi, kau memiliki seseorang yang rutin mengunjungimu," ucap Sophie melangkah melewati Cindy dan memilih duduk di atas bangku panjang bercat putih. Dia berpaling, memandang sekitar yang terdapat banyak pohon yang begitu rimbun. Tak jauh darinya ada beberapa orang sedang melakukan yoga di bawah pohon, Sophie mendengkus, yoga bukanlah hal bagus untuknya. Dia tidak akan melakukan itu meskipun dipaksa.
Cindy mendaratkan p****t di sisi kanan Sophie, bersandar pada tiang bangunan yang kokoh, menatap langit biru yang nampak cerah di musim panas. Harusnya ini menjadi musim yang menyenangkan, dia menyukai musim panas walau suhunya sangat menyengat kulit. Berjemur di pantai atau berbaring di Central Park, menari bersama dengan musik yang memekakkan telinag di MoMa PS1 yang selalu diadakan tiap tahun, hingga membeli street food dengan harga murah. Sayangnya, hal itu hanyalah mimpi ketika dia dikurung di tempat yang tidak menyenangkan ini.
Dia menoleh, memandang garis wajah Sophie yang benar-benar mirip dengan mendiang kakak iparnya. Bahkan suara gadis itu pun sama, benar saja jika Evan selalu datang ke sini jika bukan untuk melihat Sophie walau hanya curi-curi pandang. Evan terlalu naif, padahal banyak wanita yang lebih baik daripada, bahkan Cecilia tidak akan bisa tergantikan meskipun Sophie yang mengisi posisi itu. Cecilia dan Sophie memiliki kepribadian yang berbeda, seperti dua mata koin yang tidak akan pernah bertemu.
"Kenapa kau memandangku seperti itu?" tanya Sophie dengan sebelah alisnya yang terangkat.
"Tidak. Hanya saja ... mengapa kau memilih dunia gelap di saat di sekitarmu begitu terang benderang, Sophie?"
"Aku tidak paham maksudmu. Kukira umur kita tidak jauh berbeda, bisakah kau menggunakan bahasa ... yang bisa kupahami?"
Cindy terkekeh. "Narkoba? Mengapa kau memilihnya di saat hidupmu sudah penuh dengan sorotan kamera? Apa kau ini haus perhatian?"
Kali ini Sophie yang tertawa terbahak-bahak, hingga air matanya keluar dari sela-sela matanya. Mengibaskan wajah dengan kedua tangan seraya mengembuskan napas. Dalam hati dia membenci tipe gadis yang suka ikut campur urusan pribadi orang lain, baginya narkoba bukan sebuah pilihan ketika dunia sudah menilik dirinya akibat berbagai skandal. Dia terpaksa mengkomsumsi barang haram itu untuk melupakan semua rasa sedihnya terhadap dunia, bir atau wine dengan kadar tinggi pun masih tidak bisa membuatnya melupakan segala masa lalu yang dibenci hingga kini.
"Kau akan tahu ketika dunia sudah tidak memerhatikanmu, Cindy," ucap Sophie kemudian beranjak meninggalkan gadis itu seorang diri.
"Dunia memang pemilih!" seru Cindy menggema lorong, membuat langkah Sophie terhenti. Dia berbalik, menatap gadis berambut blonde dengan tatapan penuh tanda tanya. "Mungkin kematian adalah jawaban untuk manusia yang ingin menyerah, Sophie."
Tentu saja Sophie menolak ide gila itu. Dia menggeleng tak setuju dengan pernyataan Cindy, dunia memang kejam, tapi kematian bukanlah jawabannya, manusia boleh menyerah tapi menyerahkan nyawa tanpa usaha itu bukan pilihan terakhir. Walau Sophie membenci dunia, justru dia ingin melakukan hal yang membuat dunia selalu menatap dirinya, tidak peduli hal baik atau hal buruk.
Tanpa membalas ucapan Cindy, Sophie memilih pergi dan kembali ke kamarnya. Dia merasa akan bertambah gila jika terlalu lama berkomunikasi dengan gadis itu. Dia berharap akan segera keluar dari sini sebelum pikirannya semakin tak waras.
###
Evan menekan pedal mobilnya dengan cepat, membelah jalanan yang cukup padat hingga beberapa kali dia harus menekan klakson dengan keras. Di perempatan jalan dia hampir menabrak pengendara lain, jika kaki Evan tidak menginjak rem dengan cepat. Napasnya terengah-engah, dia melirik jam Rolex hitam yang melingkar di tangan kirinya, dia memukul kemudi sambil menggeram. Sungguh lelaki itu sedang berburu dengan waktu usai mendapat kabar dari pihak rehabilitasi bahwa Cindy ditemukan tewas gantung diri.
Menerobos mobil-mobil ketika melintas Manhattan Bridge dengan kecepatan tinggi, pikirannya begitu kalut, kedua orang tua Evan belum tahu tentang kematian Cindy. Hanya Evan yang dihubungi oleh pihak Bride Back to Life Center sebagai wali. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi ayah dan ibunya mengetahui Cindy sudah tidak bernyawa lagi.
"Ayah dan Ibu sudah tidak peduli, untuk apa aku hidup lagi, Evan?"
"Aku membencimu karena hanya kau yang dianggap mereka sebagai anak!"
"Kenapa aku harus lahir jika Ibu tidak mau berbicara denganku? Mengapa aku harus di asrama yang begitu jauh dari kalian, sementara kau bisa seenaknya memiliki mansionmu sendiri!"
Kalimat Cindy ketika Evan menjenguk beberapa hari lalu seolah menjadi pertanda bahwa gadis itu benar-benar sudah ingin menyerah pada hidup. Evan menangis, rasa bersalah telah membelenggu dirinya. Dia merasa begitu gagal menjadi kakak pun gagal menjadi penengah antara Cindy dan kedua orang tuanya. Cindy selalu merasa diabaikan semenjak semua prestasi di sekolah menurun akibat hubungannya dengan Darrel. Padahal, tidak kurang-kurang kedua orang tua mereka mengingatkan agar mementingkan pendidikan di atas gelora cinta dua remaja itu.
Akibatnya Cindy terpaksa dimasukkan ke dalam asrama dengan tujuan dia lebih disiplin belajar dan menyiapkan gadis itu untuk mengurus perusahaan nanti. Sayangnya, gadis itu terlalu berpikiran pendek, menganggap keputusan Dandras tak ayal hanya untuk menyingkirkannya dari rumah. Evan pun telah memberi nasihat sebagai kakak, tapi semua perkataannya hanya angin lalu, Cindy sudah terlalu kecewa.
Range Rover hitam itu berhenti tepat di depan bangunan rehabilitasi bersamaan dengan sebuah ambulans yang terparkir tak jauh dari posisi Evan. Dia melesat keluar, berlari untuk mencari kebenarannya, dia berharap Cindy masih bisa diselamatkan. Dia menerobos beberapa petugas rehabilitasi, kemudian seseorang yang mengenalinya langsung menarik lengan Evan untuk menjauh dari TKP di mana tubuh Cindy ditemukan tewas gantung diri di pohon dekat kolam.
Evan menampik, matanya memerah ketika tubuh kaku Cindy ditutupi oleh selembar kain putih, di sekelilingnya dipasang garis polisi untuk menghalangi orang-orang yang akan masuk ke area TKP. d**a Evan bergemuruh, tubuhnya ambruk ke tanah melihat kenyataan adiknya benar-benar tidak bernapas lagi. Berulang kali dia menggeleng kepala berusaha membangunkan diri jika ini adalah sebuah mimpi, namun, sebesar apapun usahanya tubuh yang tertutup kain itu masih di sana, dengan petugas polisi yang tampak mengintograsi saksi mata.
"Mr. Clayton?" panggil seorang wanita berambut pirang dengan mengenakan seragam biru telur asin.
Evan mendongak, menghapus air matanya lalu beranjak seraya berkata, "Ma'afkan aku. Hanya saja, ini ..."
"Kami minta maaf atas kejadian ini, Tuan," ucap wanita itu dengan raut wajah sedih. Kemudian, dia menyerahkan sebuah kertas. "Kami menemukan ini di saku celananya."
Dengan gerakan cepat, Evan membuka lembaran kertas itu dan membaca tulisan tangan adiknya di sana. Mulutnya menganga, air matanya kembali jatuh dengan rasa penyesalan yang semakin membekap tubuhnya. Sebelah tangan Evan menjambak rambut tembaganya sendiri, berteriak frutrasi menyalahkan petugas yang ada di rehabilitasi, mengapa mereka sampai lengah mengawasi salah satu pasien mereka. Beberapa orang pun menahan tubuh Evan agar tidak semakin menggila. Namun, justru salah satu petugas yang berkulit hitam mendapat pukula telak di ulu hatinya hingga dia mengaduh kesakitan.
"Tenanglah, Tuan!" seru wanita berambut pirang. "Sungguh kami sangat menyesal atas kejadian ini."
"Menyesal?" lirih Evan menyipitkan pandangannya. "Apakah kata itu bisa mengembalikan nyawa Cindy, hah!" tunjuk lelaki itu pada si wanita pirang.
Seakan tidak segera mendapat jawaban, Evan menerjang petugas berambut pirang yang bertubuh kurus itu. Tubuhnya lagi-lagi ditahan, si wanita pirang berlindung di balik punggung temannya dengan ketakutan. Evan berusaha melepaskan diri, emosinya begitu meledak seperti bom atom yang bisa menglenyapkan apa saja. Jauh di lubuk hati, dia tidak tahu harus mengatakan apa kepada kedua orang tuanya.
Evan berhasil melepaskan diri, kedua kakinya berlari mendekati tubuh kaku sang adik, menerobos garis polisi yang melintang. Dia tidak mempedulikan polisi yang berusaha menjauhkan dirinya dari mayat Cindy, justru dia kembali menghantam wajah si polisi hingga terhuyung ke tanah. Evan bertekuk lutut, meraih tubuh dingin Cindy yang berselimutkan kain putih.
"Kenapa kau lakukan ini, Cindy?" tanyanya dengan nada pilu. "Kenapa kau..."
Bibir Evan tidak sanggup melanjutkan ucapannya sendiri, terlalu pahit dan menyakitkan bahwa adiknya harus memilih jalan pintas ketika manusia di ambang rasa putus asa. Harusnya ini tidak boleh terjadi, Cindy terlalu cepat mengambil keputusan untuk mengakhiri hidup. Namun, waktu sudah bisa diputar ulang, bahkan nyawa Cindy pun takkan kembali ke raga yang masih dalam dekapan Evan.
Nampak dari jauh, Sophie melihat itu semua dalam diam. Dia sendiri tidak menyangka jika teman barunya adalah adik dari lelaki bermata abu-abu itu. Dia juga tidak mengira bahwa ucapan gadis pucat tadi sore adalah ucapan terakhirnya.
Kematian bukan jawaban atas manusia yang putus asa, apa dia tidak sadar bahwa ada kehidupan setelah kematian? Dia pikir kematian akan mempermudah segalanya? batin Sophie.
Tanpa sadar, kristal bening itu merembes menuruni kedua pipi Sophie, dia menengadah menahan agar air mata itu tidak keluar lebih banyak. Dia merasa bodoh, mengapa harus menangisi gadis yang sudah bertindak jauh tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi selanjutnya. Dia tersenyum kecut, menyadari tindakannya sendiri yang harus peduli dengan kehidupan orang lain sedangkan hidupnya sendiri pun juga susah. Dihapus jejak air mata dengan kedua punggung tangan, berbalik untuk menghilang di antara keramaian di tengah malam itu.