Tubuh yang tertidur di dalam peti itu kini tertutup oleh tanah, dengan orang-orang yang menatap sedih, menyayangkan gadis yang seharusnya memiliki jalan hidup panjang. Namun, jauh berbeda dengan Lola--wanita yang mengenakan kacamata hitam-- memandang dengan wajah datar ketika peti mati berpelitur coklat yang mengkilap diterpa matahari, telah terkubur sempurna di bawah tanah. Dia sudah menebak bahwa ini akan terjadi, tapi nyawa yang telah dicabut dari raga tentunya takkan kembali dengan mudah begitu saja. Lola memang sedih tapi mental kuat yang seharusnya dimiliki oleh keluarga Clayton harus terpatri bahkan sebesar apapun masalah yang mendera.
Sayangnya, Cindy tidak bisa menghadapi hal itu. Dan lebih parahnya melampiaskan ke hal yang merusak moral dan mental, layaknya orang yang tidak punya iman. Lola berpaling, memandang anak lelakinya yang masih sangat terpukul. Evan adalah satu-satunya orang yang peduli dengan Cindy lebih dari dirinya sendiri. Di sampingnya, Dandras yang raut wajah jauh lebih tenang seolah kematian anak bungsunya itu bukanlah apa-apa.
"Kuatkan hatimu, Evan," ucap Lola dengan dingin. "Ini salah Cindy sendiri. Dia tidak bisa bertahan dengan apa yang disiapkan untuk masa depannya."
Evan menoleh, melihat garis wajah ibunya dengan tatapan yang tidak percaya. Tak memberi jawaban, dia pun memilih untuk pergi meninggalkan pemakaman itu, mencoba menyembuhkan rasa kehilangan untuk kedua kali.
Tak langsung kembali ke kantor, Evan melajukan kemudinya menuju gedung rehabilitasi untuk mencari sesuatu yang dirasanya janggal. Meski hasil penyelidikan polisi mengatakan bahwa kematian Cindy, murni karena bunuh diri bukan pembunuhan yang disengaja. Tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan, hanya bekas jerat tali yang ada di leher dan sample darah yang menunjukkan dia mengkonsumsi begitu banyak obat penenang.
Yang dipikiran Evan, bagaimana bisa Cindy mendapatkan obat sebanyak itu dikala para petugas selalu memberikan obat sesuai dosis dan diberi sesuai jam yang diatur. Apakah ada orang yang membantunya untuk melakukan aksi bunuh diri itu.
Mungkinkah.... pikir Evan
Evan teringat dengan gadis arogan yang ditangkap dan ditempatkan di rehabilitasi yang sama. Beberapa kali Cindy juga bercerita tentang Sophie, walau hanya sebatas kasus yang menimpa model kontroversial dan sikap santainya menghadapi hukum yang akan menjeratnya.
Sesampainya di sana, suasana Bridge Back to Life Center tampak jauh lebih sepi. Hanya terlihat beberapa orang yang sepertinya keluar dari tempat pemulihan terbaik di Brooklyn. Seseorang berpakaian biru muda dengan kuncir rambut yang diikat tinggi, menghampiri Evan seraya berkata,
"Mr. Clayton. Ada yang bisa saya bantu?"
Evan melihat papan nama di d**a kiri perempuan bermata gelap itu, Bianca Hawkins. "Ehm, saya hanya menanyakan beberapa hal tentang--"
"Ms. Clayton?" tebak perempuan itu.
"Ya. Cindy pernah bilang bahwa dia pernah berbincang dengan salah satu perempuan bernama Sophie Boucher. Dan hasil otopsinya, sample darah adikku mengandung obat penenang cukup tinggi. Bisa jadi jik--"
Bianca mengerutkan keningnya mendengar penuturan Evan. "Jika masalah itu yang Anda tanyakan," potong Bianca," kami tidak memiliki hak untuk menjelaskan hal itu, Tuan. Lagipula, Ms. Boucher berada di kamarnya saat kejadian berlangsung. Penyidik juga sudah memastikan bahwa Ms. Boucher tidak terlibat atas kematian adik Anda."
Evan terdiam tapi hatinya masih tidak terima. Banyak hal yang masih terasa aneh menurutnya, terutama isi surat yang ditulis adiknya.
Jangan cari penyebab kematianku, Evan. Aku hanya lelah dengan apa yang terjadi pada hidupku. Bukankah kau akan menikmati semua kasih sayang ayah dan ibu dengan leluasa?
Darrel... Aku tidak bisa melupakan lelaki itu walau kau menyuruhku untuk melepasnya.
"Sial... kenapa aku lupa dengan b******n kecil itu," geram Evan dengan rahang mengetat, membuat Bianca bergidik ngeri.
###
Sepasang kaki berbalut celana jogger hitam dan kaus abu-abu, melangkah memasuki koridor gedung rehabilitasi bercat putih, seraya melepas kacamata hitam. Sepatu adidas putih miliknya bergesekan dengan lantai marmer menimbulkan suara decit. Menyapa beberapa petugas seraya melempar senyum dan kerlingan mata, sadar bahwa dia memang terlalu memesona wanita. Orang pasti tahu sosoknya yang selalu tampil di cover majalah maupun papan iklan di Times Square. Bahkan saat berada di depan gedung tadi, ada salah satu perempuan yang meminta foto bersama.
Dia berhenti ketika berpapasan dengan seorang lelaki bertubuh tegap dengan jas putih. "Selamat siang."
"Ya. Selamat siang," ucap dokter itu.
"Saya mau menemui Sophie Boucher, apakah bisa?"
"Ah, Ms. Boucher ... silakan temui petugas di sana. Kami baru saja menyelesaikan sesi terapi."
Dia mengangguk lalu mengucapkan terima kasih. Belum sempat menghampiri petugas yang dimaksud, Sophie keluar dari ruang terapi dan matanya membulat melihat Tommy--lelaki satu agensi dengannya.
Gadis itu berlari,membuat rambut panjang yang dikuncir asal itu bergoyang-goyang. Refleks saja dia memeluk tubuh ramping nan berotot Tommy begitu erat seakan menemukan harta karun yang dinantikannya seumur hidup.
"Ya Tuhan, sungguh kau diberkati, Tom! Nice to see you again."
"Ya ya ya, aku tahu kalau aku sudah menjadi malaikatmu, Sophie. Berhentilah membunuhku seperti ini!" dengkus Tommy mencoba melepaskan diri dari gadis berbibir tebal itu.
"Sorry," kata Sophie, "hanya saja orang-orang tidak pernah ke sini, kecuali segelintir wartawan yang kadang datang untuk melihat penderitaanku."
"Tapi, kulihat kau baik-baik saja," sindir Tommy merangkul bahu Sophie.
"Untuk apa memperlihatkan penderitaanku, ketika orang-orang hanya sekadar ingin tahu tanpa mau membantu, Tom?"
Kepala lelaki berjambul itu manggut-manggut paham. "Alright, karena sepertinya aku yang memahami penderitaanmu. Aku sudah memberikan jaminan tiga ribu dollar kepada polisi supaya kau bisa keluar lebih cepat."
Pupil biru itu semakin membesar, Sophie berteriak kegirangan, merangkul leher Tommy hingga tubuh mereka hampir terjatuh. "Oh, sungguh kau baik padaku, Tom. Apa yang harus aku lakukan untuk membalas kebaikanmu?"
Tommy menggeleng, menangkup wajah bentuk hati milik Sophie. "Ayolah, kita berteman baik cukup lama. Uang bukanlah masalah untukku, Sophie. Kau bisa membayarnya kapanpun."
Mendengar hal itu Sophie merasa kebebasannya sudah di depan mata. Dia harus menata kembali kehidupannya, mencari pekerjaan dan apartemen baru. Dia berpikir akan mencari beberapa agensi yang mau menerima dirinya, akan gadis itu buktikan kepada semua orang bahwa seburuk apa pun kelakuannya, dia masih menjadi model yang turut diperhitungkan di jagat hiburan Manhattan.
Tak perlu menunggu lama, Tommy membantu Sophie membawa beberapa baju ke dalam ransel setelah benar-benar mendapatkan ijin keluar dari rehabilitasi. Lagipula, selama di sana Sophie cukup berkelakuan baik, dia juga tidak memiliki sangkut paut dengan kasus bunuh diri Cindy Clayton. Sophie tidak mau tenggelam ke dalam masalah orang lain, yang mati biarlah mati, tapi kehidupan orang lain harus terus berlanjut begitu pikirnya.
Tak sengaja dia menangkap sosok Evan Clayton yang berdiri di depan pohon tempat kejadian perkara. Punggungnya yang tertutup jas hitam, menandakan bahwa lelaki itu baru saja menghadiri sebuah pemakaman. Sophie menebak bahwa tubuh kaku Cindy kini sudah terkubur di dalam tanah dalam kesunyian.
"Buat apa memikirkan orang yang jelas-jelas mengakhiri hidup demi rasa egoisnya?" gumam Sophie. "Dasar bodoh!"
"Hei," panggil Tommy membawa ransel hitam Sophie di punggungnya. "Siapa dia?"
"Hanya orang tidak berguna. Evan Clayton."
Tommy memandang lurus punggung lelaki berambut cokelat tembaga yang disebut Evan Clayton. Ya, dia mendengar selentingan kasus bunuh diri yang baru saja menimpa adiknya dan dia tahu bahwa lelaki yang masih membeku di sana adalah salah satu pria yang diperhitungkan di dunia bisnis. Sayangnya, berita kematian Cindy sudah tidak terlalu gencar seolah pihak keluarga tidak ingin mempublikasikan kematian putri bungsu mereka.
Tommy juga menyayangkan sikap manusia yang kadang begitu mudah mengakhiri hidup. Tapi, dia juga tidak seberapa peduli dengan kehidupan orang lain karena mereka telah memilih jalan akhir kehidupan mereka. Dia paham bahwa manusia memiliki masalahnya masing-masing dan hukum seleksi alam pun juga berlaku. Mungkin Cindy bukan termasuk orang yang bisa bertahan dengan kejamnya kehidupan, apalagi latar belakang kedua orang tuanya yang sedikit ambisius.
"Tom, tunggulah di mobil. Bisakah? Aku perlu ke toilet."
Tommy mengangguk, meninggalkan Sophie sendiri menuju mobilnya. Gadis itu memastikan Tommy menghilang di belokan menuju luar gedung, sesekali iris matanya melirik Evan. Dia menghela napas, menggelengkan kepala lalu pergi ke toilet.
###
Evan memutuskan untuk keluar gedung rehabilitasi sebelum akhirnya dia benar-benar mengikhlaskan kematian Cindy, berencana akan kembali ke kantor untuk meninjau kembali hasil rapat yang diadakan beberapa hari lalu tentang penanaman saham. Selain itu, Evan juga membuat program suku bunga rendah untuk pengambilan perumahan yang ada di sekitar Manhattan, terutama lokasi-lokasi strategis seperti area yang dekat dengan Central Park atau Empire State.
Ponselnya berdering ketika tangan kanan Evan akan meraih pintu mobil. Sebuah panggilan dari Dandras, lelaki itu menghelas napas seraya menggeser ikon hijau ke kanan dengan jempol. Detik berikutnya suara Dandras terdengar gelisah.
"Ada apa, Ayah?" tanya Evan, kedua matanya mengitari sekeliling.
"Ke mana saja kau, Evan? Orang-orang sudah menunggumu daritadi dan kau berkeliaran tidak jelas?"
Lelaki itu melonggarkan ikatan dasinya, lalu memijit kening merasa begitu pening harus mengurus banyak hal dalam waktu bersamaan. Bahkan untuk mengurus pemakaman Cindy pun, Evan yang turun tangan bukan Dandras maupun Lola.
"Aku sedang di tempat rehabilitasi Cindy, untuk--"
"Kenapa kau ke sana? Dia sudah meninggal," ucap Dandras dengan merendahkan kalimat terakhirnya. "Mari kita lupakan hal itu, Evan. Banyak yang harus diurus, Ayah tidak memilihmu semata kau anak Ayah."
Evan mengusap wajahnya gusar, penat melingkupi diri lelaki itu. "Baik. Aku akan ke sana. Ayah mulai saja pertemuannya."
"Oke. Cepatlah ke mari atau mereka tidak segera menandatangani kontrak perjanjiannya," ancam Dandras lalu memutus sambungan telepon tanpa sempat Evan membalas ucapannya.
Shit! umpat Evan dalam hati. Dandras tidak lebih dari seorang yang ambisius, bahkan kematian putrinya seolah tidak menggoyahkan lelaki itu untuk merenungi kesalahannya.
Belum sempat dia menyelipkan ponsel ke dalam saku jasnya, seorang perempuan merebut gawai hitam itu dan berlari secepat mungkin.
"Hey!" teriak Evan sadar ponselnya telah dicuri. "Hey!"