"Maaf, Nona, kami tidak sedang mencari pegawai baru," tolak seorang lelaki paruh baya dengan serbet di pundak, ketika Sophie mencari pekerjaan di sebuah restoran cepat saji di sekitar hostel.
"Terima kasih," ucap Sophie dengan nada kecewa lalu berbalik meninggalkan lelaki yang mungkin pemilik restoran.
Dia melangkah gontai, melewati sepanjang jalan Lexington Ave dengan pikiran bercabang. Sudah dua hari ini, tidak ada satu orang pun yang mau menerima dirinya bekerja dengan alasan yang sama. Padahal, dia yakin, satu atau dua tempat pasti membutuhkan karyawan baik part time maupun full time.
Langkah kakinya terhenti ketika menyadari beberapa orang melihatnya sambil berbisik. Dia menunduk seraya menajamkan pendengaran, padahal Sophie sudah memakai masker dan topi untuk menutupi identitas bahwa dirinya adalah model yang didepak dari agensi.
"Bukankah itu si Boucher?" bisik perempuan pirang.
"Kenapa dia bisa ada di sini? Kukira dia masih mendekam di penjara," timpal temannya yang berambut pendek dan dicat warna merah menyala.
"Aku yakin dia sekarang mendapat karma," sindir si pirang.
Sophie mendesis, mengangkat kakinya untuk meninggalkan dua perempuan tukang gosip itu. Dulu saat dia masih berada di agensi, Sophie tidak segan-segan untuk menegur orang-orang yang mengoloknya, tapi sekarang? Bahkan untuk menampakkan jati dirinya saja, Sophie tidak berani. Apalagi jaminan tiga ribu dolar yang diberikan Tommy kepada pihak polisi membuatnya harus benar-benar bersikap baik dan mengontrol diri untuk tidak berbuat onar.
Merutuki diri sendiri, kesialan sepertinya menjadi teman baru untuk Sophie semenjak dia mencuri ponsel Evan. Memang benar lelaki itu melepaskan Sophie dengan alasan belas kasihan, walaupun hanya memberikan sejumlah uang yang tidak banyak. Bahkan hari ini hanya tersisa dua ratus dolar yang sepertinya tidak mampu untuk menambah biaya sewa kamar hostel.
Apa aku harus menerima tawaran si sialan itu? pikir Sophie seraya membelokkan diri di salah satu taman yang berada di jantung kota New York—Madison Square Park.
Sejauh mata memandang, banyak orang yang menghabiskan waktu di taman yang diresmikan pada tahun 1847, ada yang sekadar duduk santai di bangku-bangku kayu, berlarian dengan hewan peliharaan mereka, hingga menikmati makanan di setiap sudut taman. Sophie mendudukkan diri di salah satu bangku dekat dengan air pancuran yang terletak di selatan Ovel Lawn dari wilayah Madison Square Park.
Rasa tenang dan damai kini menyelimuti dirinya, walau di sekitar gadis itu cukup ramai. Tapi, rindangnya pepohonan yang menghijau dengan desiran angin yang menggoyangkan anak rambutnya membuat Sophie begitu merindukan rumah di masa kecilnya.
Netra gadis itu memandang lurus ke arah pancuran dari bahan granit bertingkat tiga yang sudah dibangun sejak abad ke-19. Di sekelilingnya ada pagar melingkar bercat hitam dengan ukiran bentuk hati yang mengarah ke bawah, dibatasi dengan guci yang terbuat dari bahan yang sama dan di atasnya ditanam bunga. Gedung Flatiron—bangunan yang berbentuk segitiga dan berlantai 22—juga tampak gagah menghiasi langit biru yang cerah di depan Sophie duduk. Gedung itu memang sangat populer di semua kalangan, bahkan mungkin kepopulerannya hampir sama dengan gedung Empire State.
Perut Sophie bergejolak, membuat dirinya kembali mendesah dan melihat antrian panjang di kedai hot dogs concretes burger frozen custard cones. Sayang, dia harus menahan keinginan untuk mengisi perutnya itu, dia benar-benar dilanda kemiskinan dan sialnya semua ini karena Evan yang merebut kembali uang hasil penjualan ponsel.
Apa aku harus menemuinya? Ah, mana mungkin aku menjilat ludahku sendiri?
Masih terekam jelas bagaimana Sophie menolak mentah-mentah penawaran Evan malam itu. Tentu saja menjadi pengasuh anak-anak bukanlah hal yang disukainya, apalagi dia sadar diri bahwa emosinya juga tidak stabil. Sophie tidak mau menjadi pengasuh seperti yang ada di berita televisi, pengasuh yang berakhir dengan menganiaya anak asuhnya. Dia sudah cukup jera dengan skandal terakhir yang membuatnya didepak dari agensi yang merambat ke penyitaan hartanya.
"Aku yakin kau akan datang padaku lagi, Sophie," ucap Evan dengan percaya diri. "Mana ada tempat yang mau menerima gadis labil sepertimu?"
"Sialan," gerutu Sophie, "ucapannya seperti kutukan di telingaku."
###
"... jadi saya memberi sebuah inovasi untuk kemudahan para konsumen dalam melakukan transaksi online yang semakin hari semakin meningkat pesat," ucap seorang lelaki berjas abu-abu sedang mempresentasikan ide untuk memperbarui sistem belanja. Dia menekan tombol pada remote control membuat slide di layar proyektor berganti. Titik merah dari remote menunjuk batang garfik di mana angka komsumsi belanja online baik ekspor maupun impor semakin naik.
"Dari grafik di sini, kita bisa menjalin kerja sama dengan beberapa jasa seperti minimarket, jasa pengiriman uang dari bank ke paypal atau dari paypal ke bank, kita bisa memberikan cashback atau diskon yang mungkin bisa mencapai dua puluh atau lima puluh persen, sehingga para nasabah atau konsumen yang akan bertransaksi online bisa mendapat keuntungan dan tidak merugikan pihak produsen. Bagaimana para hadirin sekalian?" jelasnya dengan penuh semangat.
"Aku suka dengan ide Anda, Mr. Winscott," puji Evan membuat lelaki yang berdiri di depan layar itu tersenyum bangga. "Bukankah ada situs penjualan online yang trending di playstore? Kita bisa melakukan kerja sama dengannya, atau ... kita bisa kerja sama dengan beberapa pusat perbelanjaan untuk memberikan cashback kepada konsumen."
"Ya itu benar," sahut lelaki berkacamata yang menjabat sebagai wakil direktur. "Saya setuju dengan Anda, Mr. Clayton. Kita ajukan saja beberapa proposal kepada pemimpin mereka dan kita adakan pertemuan."
Sebelum Evan menanggapi ucapan wakil direkturnya, perempuan pirang yang rambutnya digulung ke atas mendekati Evan dan menundukkan diri seraya berbisik, "maaf, Tuan, ada seseorang yang ingin menemui Anda."
"Siapa? Tidak bisakah kau katakan aku sedang rapat, Lucy?"
"Ms. Melanie Summers. Dia bilang ini penting dan terus memaksa saya untuk menemui Anda."
Evan menatap wajah pegawainya dengan ekspresi terkejut dan mulut terbuka. "Melanie Summers? Apa aku mengenalnya?"
"Oh ... jika Anda merasa—"
"Ah, tidak, suruh dia menunggu. Jika tidak mau, kau boleh mengusirnya," kata Evan dengan jutaan pertanyaan di benaknya. Dia merasa tidak pernah mengenal perempuan bernama Melanie Summers sepanjang hidupnya.
"Baik, Tuan," kata Lucy lalu meninggalkan ruang rapat.
"Oke," kata Evan, "maaf, ada sedikit gangguan. Jadi, Mr. Winscott ... Anda bisa membuat beberapa salinan proposal yang nanti akan dikoreksi oleh bagian pemasaran dan selanjutnya bisa meminta persetujuan wakil direktur."
"Baik, Tuan, terima kasih banyak atas kesempatannya," ucap Mr. Winscott senang.
"Baiklah, rapat kali ini kita akhiri, selamat siang."
Evan berdiri lalu berjalan keluar ruang rapat dan di sana ternyata sosok perempuan yang mengenakan kemeja flanel, topi hitam, celana jeans, dan sepatu yang sedikit kotor sedang duduk menunggu dengan tidak sabar. Dia juga memakai masker seolah menunjukkan bahwa dirinya berpenyakitan. Merasa diperhatikan perempuan yang menyebutkan dirinya Melanie Summers mendongak, mereka pun bertemu tatap untuk beberapa detik.
Evan akhirnya paham siapa wajah dibalik baju yang benar-benar tidak fashionable, Sophie Boucher yang entah sejak kapan mengubah namanya menjadi orang lain. Dia tersenyum miring, berkacak pinggang ketika gadis itu beranjak dan tiba-tiba menundukkan kepalanya. Evan memutar kepala, para petinggi perusahaan BankLux yang keluar dari ruang rapat terkejut, melihat sosok perempuan yang lebih mirip gelandangan daripada tamu yang menemui direktur.
"Ayo, ke ruang kerjaku," ucap Evan dengan nada rendah.
Sophie mengangguk, mengekori langkah panjang Evan dari ruang rapat ke ruang kerja yang ternyata masih satu koridor. Dalam hati, Sophie ingin sekali menghilang dari tatapan aneh orang-orang yang melihatnya. Dia juga merutuki kakinya sendiri, mengapa harus menginjakkan ke gedung berlantai sepuluh seolah tidak ada tempat lagi untuk bersandar.
Pintu bercat hitam dof terbuka, menampilkan satu ruangan besar yang cukup dingin dan terlihat sangat nyaman. Interiornya tidak terlalu banyak, desainnya pun benar-benar minimalis, tidak mencerminkan sosok penghuni yang menurut Sophie sangat kikir. Satu meja kerja dengan kursi kantor berwarna hijau tosca, di kiri dan kanan ada beberapa lukisan abstrak dan foto orang-orang perusahan menempel manis di dinding berwarna putih bersih itu. Ada tiga kursi sofa berbahan kulit berwarna cokelat muda, dengan meja panjang terbuat dari kaca dan satu vas bunga palsu di tengahnya.
"Duduklah!" perintah Evan, menunjuk kursi sofa.
Sophie pun mendaratkan pantatnya ke sofa lalu melepas atribut yang menyamarkan identitas gadis itu. Sejenak dia menghela napas panjang seperti baru saja melepaskan banyak beban.
"Bisakah kau memberiku minuman dingin?" pinta Sophie mengibaskan lehernya dengan topi. "Seharusnya—"
"Kau sungguh tidak sopan," sindir Evan memotong kalimat Sophie, lalu mendekati meja kerjanya dan menelepon seseorang. "Tolong bawakan minuman dingin untuk tamuku. Terima kasih."
Dia pun kembali berjalan, mendudukkan diri di depan Sophie dengan tatapan angkuh. "Kau bilang tidak ingin menemuiku? Bukankah kau seperti ingin menjilati ludahmu sendiri?"
Sophie mendecih, menyisir untaian rambut panjangnya ke belakang dengan tangan kiri. "Sepertinya kau yang membuatku melakukan itu, Mr. Clayton. Ah, bertemu denganmu membuat hidupku semakin sial."
"Apa kau bilang?" tanya Evan dengan nada tinggi.
Ketukan di balik pintu terdengar, cepat-cepat Sophie menutup wajahnya dengan topi ketika perempuan berpakaian rapi membawakan minuman dingin di atas nampan. Sejenak perempuan bermata hijau emerald itu memandang Sophie, alisnya bertaut seperti mengenal sosoknya. Tentu hal itu membuat Sophie berpaling, menghindari dugaan perempuan asing itu. Matanya menatap tajam Evan, menyiratkan agar menyuruh pegawainya pergi.
"Terima kasih," ucap Evan. "Silakan diminum Ms. Boucher, perjalananmu pasti panjang," lanjutnya membuat ekspresi pegawai itu terkejut bukan main. Sedangkan Sophie ingin melempar wajah itu dengan sepatunya, dia melirik perempuan itu yang menatapnya penuh selidik.
Evan tersenyum miring, merasa menyenangkan jika membuat orang-orang tahu bahwa Sophie Boucher—model yang tersandung narkoba dan dipecat dari agensinya kini sedang memohon-mohon kepadanya.
"Kau boleh pergi, Stefani," perintah Evan yang dibalas dengan anggukan.
Usai pintu benar-benar tertutup Sophie melempar topi hitamnya ke arah pemimpin bank itu, untungnya Evan memiliki kesigapan yang baik. Dia justru melempar balik topi Sophie ke arah tempat sampah dan berkata, "Kau ke sini mengajakku bertengkar atau bagaimana?"
"Kau tahu alasanku tanpa kuberitahu, Clayton!" dengkus Sophie lalu meraih sebotol kola dingin dan meneguknya.
Mata Evan menyipit. "Apa kau tidak diajari cara menghormati orang lain, huh?"
Sophie menggeleng, menaruh kembali botol kola di atas meja. "Aku diajari ... dulu ... dan sekarang aku tidak ingin menghormati siapa pun karena mereka selalu mengolokku."
"Cih, kau ingin dihormati tapi kau tidak pernah menghormati orang lain, Boucher. Dan kurasa aku salah memberimu mandat untuk mengasuh anakku. Kau pergi dan cari saja orang yang mau menerima kelakuan burukmu ini."
Sophie sudah hampir kehilangan kesabaran mendengar kalimat Evan, tapi sepertinya hanya lelaki bermata abu-abu yang sombong itu yang bisa membantunya saat ini.
"Maafkan aku," lirih Sophie.
"Apa? Aku tidak mendengarnya."
"Maafkan aku, Tuan Evan Clayton."
"Ulangi lagi."
Astaga, dasar maniak!
"Maafkan aku, Tuan Evan Clayton yang terhormat...." kata Sophie dengan penuh penekanan.
Bibir Evan tertarik ke atas seraya menyandarkan punggung ke sofa dan melipat kedua tangannya. "Baiklah, aku akan menerimamu sebagai pengasuh anakku, asalkan kau mau menerima syarat."
"Syarat?" ulang Sophie dengan tidak suka.
"Ya. Apa kau keberatan? Bukankah kau sudah terbiasa dengan aturan?"
"Tergantung. Asalkan tidak ada pihak yang dirugikan," ucap Sophie sambil mengunci wajah Evan di dalam manik matanya, menantang lelaki itu tanpa takut. "Bukankah begitu Mr. Clayton yang terhormat?"