"Tidak!" seru Sophie dengan tegas, menyilangkan kedua kaki jenjangnya membuat pandangan mata Evan teralih sejenak. "Aku tidak suka jika ada pembatasan jam malam, terutama akhir pekan."
"Tapi, itu adalah waktu bagi anak-anak agar bisa lebih dekat dengan pengasuhnya," ujar Evan. "Lagi pula, bukankah kau seharusnya menjaga sikapmu selama dalam masa pemantauan polisi?"
Sophie menatap lurus wajah dengan rahang tegas dan cambang yang mulai tumbuh menghiasi wajah Evan. Mata abu-abu yang gelap itu memandangnya balik, sesekali lidahnya membasahi bibir tipis seolah sedang menggoda Sophie. Dia menggeleng lemah, entah dari mana lelaki itu tahu tentang dirinya yang sedang dalam pemantauan pihak polisi kota.
"Itu bukan urusanmu, Mr. Clayton," kata Sophie, "Oke, ada family time tapi hanya sampai jam sembilan malam. Bukankah anak-anak harus tidur? Selepas jam itu, biarkan aku pergi menikmati duniaku sendiri."
Evan menyetujui usulan itu. "Baiklah. Deal."
"Syarat pertama, deal." Sophie mencatat persetujuan mereka di atas selembar kertas. "Syarat dariku ... aku ingin kau menyediakan apartemen sendiri untukku. Pembayaran gaji di muka, dan ... "
"Tunggu," potong Evan, "kau belum mengeluarkan tenagamu untuk anakku dan kau memintaku memberikanmu sebuah apartemen? Apa kau tidak keterlaluan, huh?"
"Tidak," jawab Sophie santai. "Kau kaya dan aku tidak peduli. Itu hakku, kan?"
"Ck, aku menolak!"
"Ayolah ... aku butuh privasi," tawar Sophie. "Aku tidak terbiasa berbagi ruangan dengan orang lain."
"Orang lain itu majikanmu sekarang, Ms. Boucher. Tidak ada privasi di antara kita. Ada satu kamar kosong di tempatku, kau bisa memakainya." Evan mengangkat jari telunjuk kanan ketika mulut Sophie terbuka seakan ingin menimpali ucapannya. "Jangan membantah, untuk gaji ... aku akan memberikanmu setengahnya dua minggu setelah kau bekerja, seribu dolar, deal?"
"Apakah itu gaji bersih?"
Evan mengangguk. "Ya, itu gaji bersih. Semua biaya hidupmu akan aku tanggung."
"Uang lembur? Aku ingin ada uang lembur dua ratus persen dari gajiku."
"Ck ck ck, sangat materialistis," ejek Evan.
"Aku tidak materialistis, aku hanya mencoba menjadi realistis apalagi setelah semua harta yang kumiliki disita. Bukankah harusnya kau paham?"
"Materialistis, realistis, dan memeras calon majikan itu beda tipis. Uang lemburmu seratus persen dari gaji, tidak lebih. Deal."
"Seratus lima puluh persen, Deal!"
Evan mengangguk, memijit keningnya yang mulai pening. "Baiklah. Deal. Syarat dariku ... jangan membawa siapa pun ke rumah, sekali pun itu adalah pacarmu. Tidak ada musik keras di atas jam sepuluh. Tidak ada pesta piyama—"
"Kau pikir aku anak-anak?" dengkus Sophie.
"Piyama? Kau tidak paham? Nar-ko-ba," eja Evan.
"Aku sudah bersih. Astaga ... kau tidak percaya padaku?"
"Untuk kebaikan anakku, kau akan kuperiksa kesehatan dulu. Anak muda jaman sekarang terlalu ... ya kau tahu, kan ... terlalu suka mengambil risiko tanpa pikir panjang."
"Seperti adikmu," ucap Sophie membuat raut wajah Evan berubah.
"Apa maksudmu?" dia mencondongkan tubuhnya, menumpu di atas kedua sikut yang ditempel di atas lutut. "Jangan membuatku berspekulasi buruk tentangmu, Sophie."
"Aku sudah terbiasa dengan persepsi semua orang yang ditujukan kepadaku, Evan. Tapi, adikmu, Cindy, dia salah satu contoh anak muda yang tidak berpikiran panjang. Aku tidak takut jika kau melaporkanku ke polisi sebagai tersangka atau apa pun itu karena aku bukan pelakunya. Dia memang ingin mengakhiri hidup seperti besok telah kiamat."
"Lalu? Apa kau tidak merasa begitu?"
Sophie menggeleng. "Kenapa aku harus takut ketika aku punya agama yang kuanut?"
Evan terkekeh, menyandarkan kembali punggungnya. "Kukira kau bukan orang yang taat."
"Memang. Tapi aku masih percaya Tuhan punya cara untuk membuatku keluar dari kesengsaraan ini."
Evan terdiam, menilik wajah Sophie yang selalu menatapnya dengan angkuh. Semua kalimat sombong dan penuh percaya diri dari gadis itu memang membuat Evan geleng-geleng kepala. Tapi, kadang apa yang dikatakannya memang benar, Tuhan selalu punya cara tanpa diduga, hanya manusia yang kadang terlalu cepat menyerah akan sebuah masalah.
"Let's see Ms. Boucher. Apa kau sanggup bertahan dengan kesengsaraan yang kau maksud," lirih Evan mengunci Sophie di manik matanya.
###
Usai membelikan ponsel baru, beberapa pakaian, perlengkapan mandi, hingga sepatu untuk Sophie. Evan mengantar gadis itu ke hostel untuk mengambil beberapa barang di kamar dan membayar tagihan sewa kamar yang sudah terlambat dua hari, plus dengan denda. Sophie hanya meringis seperti tidak memiliki satu kesalahan, bahkan dengan santainya dia mengatakan bahwa semua ini kekeliruan yang dilakukan Evan sendiri.
"Sebenarnya uang hasil menjual ponselmu untuk membayar sewa hostel, Evan, jadi jangan salahkan aku jika kau membayar billing hostel lebih mahal," ucap Sophie sambil menjilati lolipop bak anak kecil.
Evan menyipitkan kedua matanya, ingin sekali mengunci gadis itu ke dalam gudang yang penuh dengan tikus dan kecoa. Sungguh Sophie seperti menantang dirinya tanpa takut, ah ... Evan tersenyum sinis membayangkan bagaimana ekspresi gadis itu ketika bertemu Brave nanti. Selama ini tidak ada satu pengasuh anak yang mampu bertahan selama 24 jam penuh dengan tingkah Brave.
Sekali pun wajahnya mirip dengan mendiang istrinya, bukan berarti Sophie akan mampu menghadapi perilaku Brave yang sangat aktif. Dia yakin bahwa Sophie akan menyerah dan Evan tak kan membiarkan gadis itu lari dari siksaan kecil di rumahnya nanti.
Sambil memanggul tas ransel biru, Sophie mengekori Evan masuk ke dalam mobil Range Over hitam. Evan duduk di kursi depan, sedangkan Sophie berada di belakang. Evan menoleh dan berkata, "Kau kira aku sopirmu?"
Sophie mengangguk cepat. "Bukankah kau yang menawariku pekerjaan? Ayo, cepatlah, aku sudah sangat lelah hari ini."
Bedebah kecil, rutuk Evan melihat perilaku Sophie yang tidak tahu etika.
Deru mesin mobil itu melaju cepat, melintasi jalanan yang padat merayap dengan suara klakson-klakson yang memekakkan telinga. Dari kaca spion tengah, Evan mengintip Sophie yang sedang mengutak-atik ponsel barunya itu. Detik berikutnya, dia seperti sedang menelepon seseorang lalu berkata, "Hei, ini aku, Tom. Sophie."
Siapa lagi itu? pikir Evan.
"Ya, aku sudah mendapat pekerjaan di tempat seseorang. Ya, kau tidak perlu khawatir. Terima kasih atas bantuanmu, ehm ... jika aku mendapatkan gaji, akan kubayar semua hutangku padamu. Aku janji. Tidak-tidak, kita teman tapi hutang tetaplah hutang, Tom. Baiklah ... aku harus pergi, mereka menungguku bekerja. Bye."
Evan yang mendengar percakapan Sophie dengan lelaki yang dipanggil Tom hanya bisa membisu, mencoba untuk tidak peduli dengan kehidupan pribadi gadis itu. Namun, jika diingat, rasanya Evan pernah mendengar model pakaian pria yang memiliki nama yang sama dengan yang disebutkan Sophie.
Untuk apa aku memikirkannya? Belum satu hari, rasanya kesabaranku sudah terkuras habis, batin Evan yang kini membelokkan setirnya ke arah deretan bangunan tinggi lalu memasuki parkiran bawah tanah setelah palang parkir terbuka.
Sophie membuka kaca lalu mengeluarkan kepalanya melihat gedung tinggi di mana Evan tinggal. Dia terpukau sambil manggut-manggut, tersenyum dalam hati betapa beruntungnya dia bekerja dengan orang yang sialan kaya.
Ah ... akhirnya kehidupanku akan kembali, batin Sophie dengan senang.
Mobil terhenti di sudut parkiran, Evan mematikan mesin mobilnya lalu keluar dari sana. Sophie pun mengikuti, lalu membawa barang bawaannya yang cukup banyak. "Hei, Tuan majikan! Bisakah kau membantuku? Cobalah peka kepada gadis," sindirnya ketika Evan menanti Sophie dengan tak sabar.
"Sssh ... kau sendiri, mengapa belanja barang tak penting?" desis Evan merebut beberapa kantong belanja Sophie. "Kau benar-benar memerasku."
"Antara memeras dan memenuhi kebutuhan hidup itu sangat beda, Mr. Clayton," bela Sophie menutup pintu mobil lalu melangkah sejajar dengan Evan. "Dua minggu lagi, lima puluh persen gajiku akan kau berikan, kan?"
Sontak Evan memutar bola matanya ketika sebuah lift terbuka. Mereka berdua pun berlari cepat, memasuki kotak besi itu dan dengan susah payah Evan menekan tombol yang menunjukkan angka lima belas. Pintu lift tertutup lalu bergerak membawa dua manusia itu menuju ke lantai yang diinginkan.
Tidak perlu menunggu lama, pintu kembali terbuka dan mereka berdua keluar dari lift. Evan pun mempercepat langkahnya menghampiri sebuah pintu bergaya minimalis modern yang dicat hitam metalik, ganggangnya yang keperakan sedikit silau akibat terpantul lampu lorong.
Evan menurunkan belanjaan, mengeluarkan semacam kartu lalu menggeseknya ke sebuah alat yang menempel di sana. Bunyi bip terdengar, lalu dia mendorong pintu itu seraya membawa kembali belanjaan Sophie.
"Brave!" teriak Evan menggema ruangan yang membuat Sophie menganga melihatnya.
Halelujah! suara batin Sophie kini sedang menari dan melompat-lompat.
Ruangan itu terlihat sangat lebar menjulang tinggi. Desain interiornya sangat mewah dan menampilkan sosok maskulin sesuai dengan kepribadian si pemilik. Di sisi kanan ada sofa berbahan kulit dengan warna abu-abu gelap, rak buku yang mungkin setinggi tiga meter berdiri kokoh di depan sofa yang ukurannya paling besar. Dia menduga bahwa Evan adalah seorang maniak buku, mungkin ini alasan utama mengapa wajah Evan selalu terlihat serius. Di sisi kanan sofa, dinding kaca tebal yang menampilkan ramainya kota. Gedung Empire State masih terlihat jelas seolah sedang menonjolkan diri dengan angkuh.
Sophie memutar kepala ke kiri, sebuah anak tangga yang melingkar dengan marmer yang senada dengan lantai yang kini dipijaknya. Saat mendongak pun lampu besar menggantung manis dan terasa eksklusif, memantulkan kemilau bak berlian walau Sophie yakin lampu yang menggantung itu terbuat dari kristal imitasi. Ada beberapa pot tanaman berukuran besar dengan guci yang bergambar gajah dan orang yang memakai bawahan kain putih, mengingatkan Sophie akan negara di Asia Tenggara.
Terdengar teriakan anak kecil bersamaan suara perempuan yang mencoba menghentikan anak itu. Anak laki-laki yang memakai kaus bergambar kartun berwarna merah dengan rambut batok seperti pot bunga kini membulat ketika melihat sosok Sophie yang berdiri di belakang Evan. Senyumnya merekah dengan kedua mata yang membulat, pipinya yang chubby terlihat memerah.
Bukannya menghampiri Evan sebagai sang ayah, melainkan menghampiri Sophie dengan berseru, "Mommy! Mommy telah datang!"
Butuh jeda beberapa saat bagi Sophie untuk mencerna ucapan anak yang mungkin berusia empat atau lima tahun yang kini memeluk perutnya dengan sayang. Sel otak gadis itu mendadak memaksanya untuk memandang Evan yang kini terlihat seperti sedang tersenyum di atas 'kesengsaraan' yang dimaksud Sophie.
"Mo-momy? Maksudnya ..." lirih Sophie menyipitkan kedua matanya kepada Evan.
"Welcome home, Mommy," timpal Evan seakanmenyulut api di kepala Sophie.