Refleks, Sophie menarik Evan sedikit menjauh dari sosok anak kecil berambut tembaga dengan pipi tembem yang sedikit kemerahan itu. Namun, dia justru mengekori Sophie seperti anak ayam yang telah menemukan induknya kembali. Dua orang yang berpakai seperti nanny muncul dari sisi kiri rumah, kemudian terpaku ketika melihat Sophie. Wanita paruh baya itu mendekat dengan mata berkaca-kaca seraya mengulurkan tangan kanan, kontak saja Sophie bergerak mundur.
"Nyonya ..." lirihnya lalu berpaling menatap Evan. "Tuan ..."
Evan menggeleng sambil tersenyum tipis. "Hanya seseorang yang kebetulan mirip, Maria."
Mengernyitkan alisnya, semakin tidak paham apa yang sebenarnya terjadi di rumah mewah ini. "Permisi, Tuan, dan ... kau ... Maria, bisakah kau membawa anak ini sebentar? Aku perlu bicara berdua dengan, Mr. Clayton," pinta Sophie dengan menekankan kata berdua, mengharapkan si anak kecil yang menempeli dirinya seperti magnet ini segera pergi sebentar.
"Brave ... Ayo, selesaikan makan malammu, Nak," pinta Maria menyuruh tuan kecilnya.
Brave menggeleng justru berpindah di belakang Sophie sambil menjulurkan lidahnya kepada Maria. "Mommy ... bilang pada Maria, aku tidak mau makan ..."
"Hei, little man, Daddy harus bicara berdua dengan Mommy, sebentar," sahut Evan, berjongkok untuk menyejajarkan pandangannya pada anak lelaki itu. "Kita sudah sepakat bahwa kau harus menghabiskan makanmu untuk bisa cepat dewasa, oke?"
Brave mengerucutkan bibir merah delimanya, melepas pelukan di perut Sophie dengan tak rela. Dia mendongak, menatap gadis itu dengan mata berkaca-kaca seakan tidak mau berpisah lagi. Sophie jadi bertanya-tanya, ke mana perginya ibu dari anak kecil itu. Apakah Evan bercerai atau justru istrinya telah meninggal? Sophie menggeleng, menepis dugaan itu ketika Evan menyiratkannya untuk mengikuti langkahnya.
Sophie menoleh, menatap Brave yang kini terisak di depan pengasuhnya, menggandeng tangan kanan Maria lalu berjalan beriringan kembali ke dapur, hingga menghilang dari pandangan Sophie. Kini, gadis berkemeja flanel itu mengikuti jejak langkah Evan yang menaiki tangga melingkar menuju lantai dua dalam diam. Sophie masih terpana dengan interior rumah ini, dulu dia selalu memimpikan memiliki sebuah mansion untuk ditempati sendiri bersama ibunya atau mungkin bersama teman-temannya.
Dia tersenyum kecut, harus mengubur impian itu dalam-dalam ketika satu-persatu perilakunya selama ini membuat dirinya sadar. Sophie terlalu foya-foya, menghabiskan semua jerih payah selama menjadi model untuk barang yang ternyata tidak berguna, apalagi dia selalu terlena dalam kehidupan malam. Walau sudah terlanjur dan harus memulai dari nol lagi, Sophie tidak pernah menyesal pernah terjerumus. Setidaknya apa yang terjadi kemarin menjadi sebuah pelajaran berharga, bahwa kenikmatan yang didapatkannya untuk mencapai euforia tidak selamanya bertahan.
Langkah panjang Evan terhenti pada sebuah pintu kamar yang lagi-lagi bercat hitam dof dengan ganggang berwarna perak berkilauan diterpa cahaya dari lorong. Evan membukanya perlahan lalu menyalakan saklar lampu membuat Sophie semakin tidak mengerti. Kamar berukuran cukup luas dengan cat putih bersih seakan tempat ini adalah surga kecil di antara dunia yang begitu fana. Hanya ada satu tempat tidur berukuran besar, satu meja rias lengkap dengan kursi dengan model minimalis, serta satu kursi yang menghadap ke jendela. Aroma bunga lavender yang begitu menenangkan jiwa terendus di hidung lancip Sophie, dia yakin siapa saja yang berada di dalam akan begitu malas untuk keluar kamar.
"Kau mengajakku berbicara atau bercinta?" sindir Sophie, seraya menaikkan sebelah alisnya dan melipat kedua tangan di d**a.
Evan terdiam, wajahnya kini terlihat suram yang sangat berbeda daripada dia kehilangan sebuah ponsel. Lalu, tangan kanan lelaki itu menunjuk sebuah bingkai foto yang terpajang di atas kepala kasur. Seorang wanita bergaun biru yang menyunggingkan senyum lebar, tangan kanannya menyentuh perut buncitnya sedangkan tangan kiri membelai kepala Evan yang terbaring di pangkuan wanita itu.
Mulut Sophie serasa menyentuh lantai berbahan marmer ini, dunianya seperti berputar hingga rasanya dia ingin jatuh pingsan. Dipegang wajahnya sendiri dengan sedikit parno. Bagaimana ada orang yang terlihat sangat mirip dengan dirinya? Hingga garis wajah wanita itu benar-benar terlihat sangat mirip dengan Sophie dari berbagai sudut mana pun.
"Dia istriku, Cecilia," ucap Evan, berjalan pelan mengitari kamar yang berukuran cukup besar.
Dia duduk di pinggiran kasur berukuran king size dengan seprai putih yang masih tertata rapi. Evan membelai bantal itu dengan tatapan sendu sambil tersenyum simpul, sesekali dia menghela napas seperti orang yang tenggelam dalam kenangan.
"Di mana istrimu?" tanya Sophie berpura-pura bodoh. Dia berharap tidak ada drama dengan isak tangis di ruangan ini. Sophie tidak suka dengan adanya perpisahan yang tragis.
"Dia meninggal, tepat setelah melahirkan Brave," jawab Evan memandang sekilas gadis yang berdiri di ujung pintu.
Sophie mengacak rambut dengan frustrasi, ternyata tebakannya benar jika menilik kembali perilaku anak kecil tadi. Dia berpikir bahwa Evan tidak pernah menceritakan kematian Cecilia kepada Brave. Jika seperti itu adanya, maka tak salah jika Brave memeluknya seperti menemukan sebuah harta karun. Ah, sepertinya dia akan sulit keluar dari kesengsaraan yang dibuatnya sendiri.
"Minggu depan ulang tahun Brave yang kelima. Setiap tahun dia selalu bertanya mengapa ibunya tidak pernah datang. Aku ... tidak bisa membohonginya terus-menerus, Sophie."
"Tapi kau membohonginya, Evan," cerocos Sophie, "kau membawaku seolah-olah aku adalah Ibu yang telah lama pergi dan kembali kepada kalian. Aku tidak bisa menerima jika kau membandingkanku dengan istrimu!"
Evan menyipitkan kedua matanya dengan tak suka. "Kita sudah sepakat. Kau tidak bisa pergi begitu saja, Sophie. Aku bisa memberi bayaran tambahan asal kau mau di sini dan memakai apa yang pernah dipakai Cecilia."
"What? Kau gila, Evan. Aku tidak suka dibandingkan dengan siapa pun sekali pun dia adalah kembaranku! Come on, Dude ... bersikap jujurlah pada dirimu dan anakmu, Cecilia telah meninggal dan kalian tidak akan bisa mendapatkannya kembali, oke. Tuhan sudah berlaku adil padamu, Evan, kau diberi anak, diberi kekayaan melimpah, lantas kenapa Dia tidak boleh mengambil Cecilia?"
"Jaga bicaramu!"
"Aku benar, memang ada apa dengan cara bicaraku? Kau saja yang tidak bisa move on!"
"Ck, ah ... bagaimana bisa lelaki jatuh cinta padamu jika sikapmu seperti ini?" ejek Evan.
"Aku tidak butuh cinta, Evan, aku sudah muak akan hal itu. Jadi, jika kau mau aku tetap di sini. Tepati janjimu dengan menambah uang ke daftar gajiku," tegas Sophie lalu melangkah pergi.
###
Penderitaan Sophie dimulai ketika Brave mengetuk pintu kamarnya dengan keras, merusak mimpi yang sedang dirajut gadis pembangkang itu dengan indah. Dia mengacak rambut dengan gemas, lalu menatap foto yang semalam membuat sosok Evan begitu resah. Sophie mengacungkan jari tengah ke arah wajah Cecilia yang menatapnya balik dengan senyum lebar.
"Aku gila jika jadi kau, Cecilia!" seru Sophie.
Dengan kaki terseret dan mulutnya yang menguap lebar, Sophie membuka kunci pintu lalu muncullah Brave yang langsung memeluk tubuh ramping nan tinggi itu dengan erat.
"Mommy ... Mommy ... Ayo kita berenang, Mom ... "
Monster kecil ini kapan bisa membuatku tenang, batin Sophie.
"Aku eh ... Mommy lelah, Mons eh ... Brave," ucap Sophie hampir menyebut anak itu dengan monster. "Kau tahu kan kemarin adalah hari kebangkitanku dari kematian?"
Seketika raut muka Brave berubah, mata bulatnya yang sama persis dengan Cecilia mengamati wajah Sophie dengan penuh tanda tanya. "Mommy ... apa artinya itu?"
"Bukan apa-apa, Brave, aku sangat mengantuk ..." Sophie kembali menguap lebar sambil melepas pelukan Brave di perutnya. Kemudian, melangkah dengan terseret-seret menuju kasur untuk merebahkan diri lagi.
"Mommy, kenapa Mom tidak tidur dengan Dad? Apakah kalian bertengkar?" tanya Brave sambil berlari ke arah kasur, membaringkan diri di sana mengikuti gerakan ibu jadi-jadian yang kini merangkul guling. "Apakah kalian bertengkar?" ulang Brave.
Sophie bangkit dengan kerutan di kening lantas menggaruk kepalanya, mencari jawaban yang pas untuk lelaki kecil yang banyak tanya itu. Sebelum Sophie membuka suara, tiba-tiba Evan datang lalu memeluk tubuh Sophie dari belakang seraya berkata,
"Good morning, Mommy."
Refleks Sophie menyikut ulu hati Evan dengan siku tangan kirinya, membuat lelaki itu mengerang kesakitan. Sophie berbalik, menatap nyalang kepada lelaki yang tidak tahu aturan itu. Menyentuh dan disentuh bukan salah satu dari kesepakatan mereka, bahkan Sophie pun tidak mau disentuh oleh lelaki menyebalkan seperti Evan sekali pun dia adalah penghuni terakhir di dunia.
"Tidak ada sentuh dan menyentuh di antara kita, kecuali kau menambah uang di daftar gajiku, Clayton," bisik Sophie di telinga Evan. "Aku mencoba realistis bukan materialistis, ingat itu."
"Kau benar-benar ..." desis Evan dengan menyipitkan mata.
"b******n?" sambung Sophie, "This is me, kau salah jika aku harus berpura-pura menjadi Cecilia. Aku tetap aku, kau tak kan bisa mengubahku menjadi orang lain."
"Jika bisa?" tantang Evan menegakkan tubuhnya, mendekati Sophie seakan Brave tidak ada di sana. Melempar senyum miring dengan tatapan dingin, Sophie mendongakkan dagunya tak takut.
"Siapa takut?"