Melihat Brave yang tidak bisa diam barang sedetik pun, seperti sedang melihat kumpulan cacing yang dibakar di bawah terik matahari. Anak lelaki berambut batok yang suaranya cukup nyaring hingga memekakkan telinga Sophie, kini berlari-lari ke sana ke mari menerbangkan mainan pesawat perang berwarna hijau lumut bertuliskan U.S Air Force. Sesekali dia menghampiri Sophie si Mommy jadi-jadian, sekadar ingin disuapi sepotong kue buatan pembantu rumah mereka.
"Mommy, Mommy ..." panggil Brave lalu membuka mulutnya lebar-lebar.
Menghela napas, salah satu hal yang kini lebih sering dilakukan Sophie. Dengan tak minat, dia menyuapi anak Evan itu. Brave mengunyah dengan lahap lalu mendaratkan ciuman di pipi kanan Sophie, meninggalkan bekas cream strawberry di sana.
Dasar monster kecil, batin Sophie.
Jika ada alat yang bisa mendeteksi tingkat kesabaran gadis bermata biru itu, mungkin levelnya sudah berada di bawah nol persen. Hanya saja bayangan uang ratusan dolar di depan mata, membuat Sophie harus menahan emosinya. Baginya, lebih baik dia menghadapi orang dewasa, mereka lebih mudah dilawan dengan mulut daripada anak kecil seusia Brave. Jika Sophie mengeluarkan kata kasar, dia takut Brave akan menangis dan mengadu kepada Evan—sang mesin pencetak uang.
"Mommy ..." Brave menghampiri lagi. Dia tersenyum hingga rona merah kembali muncul di wajah anak itu. Kedua mata bulat yang benar-benar mirip dengan Cecilia membuat Sophie tersenyum kecut dalam hati.
Sialan, jika dilihat-lihat, dia seperti anak kandungku sendiri. Ah... kenapa pula harus ada manusia yang mirip denganku? batin Sophie.
"Mommy ... kenapa Mom pergi ke luar negeri begitu lama? Daddy kan sudah punya uang banyak. Kenapa Mom?" tanya Brave membuyarkan lamunan Sophie.
"Ehm ... well ... itu ... karena ... aku ... ya aku sedang ..."
Sophie merutuki diri sendiri, mengapa Brave harus menanyakan pertanyaan yang akan sulit dijawab olehnya. Jika Brave sudah cukup umur, akan lebih mudah bagi Sophie jika dia mengatakan bahwa ibu kandung anak lelaki itu telah terkubur dalam tanah dengan segala kedamaian. Sayangnya, usia Brave sepertinya masih belum memahami kenyataan itu, bahkan Evan pun juga tidak bersikap jujur sedari awal membuat Brave pasti berpikir bahwa ibunya masih hidup dalam kondisi sehat.
"Mencari uang," kata Sophie, membuat Brave mengerutkan keningnya. "Mencari uang lebih banyak untuk kebahagiaan semua orang."
"Apa kau mencintai uang, Mom?"
"Tentu!" seru Sophie dengan spontan, kemudian dia membungkam mulutnya sendiri merasa kekanakan.
"Aku juga suka uang, Dad bilang uang bisa membeli segalanya, tapi dia tidak bisa membeli cinta."
Apa tidak terlalu dini mengajarkan cinta pada anak lima tahun? Dasar Evan b******n, gerutu Sophie dalam hati.
Brave pun duduk di samping Sophie, memeluk lengan kurus gadis itu dengan sayang. "Apa Mom sudah punya banyak uang, dan tidak mau satu kamar dengan Dad?"
Astaga ...
"Ti-tidak, Brave, itu masalah berbeda. Aku dan Ev- maksudku Daddy-mu ... kami kadang suka tidur sambil berjalan, ya berjalan ..." ucap Sophie yang semakin tidak logis.
Brave memandang lurus wajah ibunya sambil menelengkan kepala. Sejenak kemudian dia mengangguk lalu berkata, "Besok hari ulang tahunku, Mom, bisakah kita pergi ke pantai? Aku ingin bisa membangun istana pasir bersama Mommy dan Daddy. Bisakah?"
Pantai? Jadi aku bisa berjemur di sana dengan bebas dan menikmati cocktail? Ide bagus!
"Ya, tentu saja. Kita akan bicara dengan Ev maksudku Daddy-mu," kata Sophie dengan tatapan penuh arti.
###
"Tidak!" seru Evan mendengar ide Sophie saat Brave sedang dimandikan oleh pengurus rumah mereka. "Jika ke pantai hanya untuk membuatmu bisa mabuk-mabukkan, maka aku bisa memotong gajimu lebih besar, Sophie."
"Dasar tirani!" seru Sophie. "Sebenarnya aku ini pengasuh anak atau tawanan? Rasanya tidak ada bedanya dengan diriku di rehabilitasi."
Evan melonggarkan ikatan dasinya, melirik sinis gadis keras kepala itu. "Kau tidak bisa pergi dengan bebas karena ada Brave. Dia anak yang cukup kritis dengan apa pun." Evan melangkah menuju kulkas, meraih sebotol minuman dingin dan meneguknya dengan cepat.
"Termasuk arti 'banyak uang bisa membeli segalanya tapi tidak bisa membeli cinta', begitu maksudmu? Ah ... kau sendiri yang mengajarinya terlalu dewasa," sindir Sophie, menopang dagu di atas breakfast bar berbahan keramik abu-abu.
"Tapi benar kan? Istilah yang tepat untuk gadis sepertimu, untung Brave melontarkannya padamu, Boucher," kata Evan menyindir balik Sophie, menatap lurus lawan bicara dengan tak takut.
Sebelum Sophie membuka suara, Brave datang dengan setelan baju anak bergambar karakter Batman, menghampiri Evan dan memeluknya dengan erat. Aroma sabun anak-anak yang begitu wangi menguar, membuat Evan menciumi anak semata wayangnya itu dengan penuh kasih. Kemudian, Brave menunjuk Sophie dan berkata,
"Aku ingin kita tidur bersama, Dad, Mom."
Rahang Sophie seketika menyentuh lantai, tatapannya beralih pada Evan yang mengamatinya dengan canggung. Alisnya menyatu, Sophie menggeleng lalu mengangguk lalu menggeleng lagi. Dia memukul dahinya, merasa begitu bodoh harus menghadapi anak kecil yang terlalu banyak permintaan.
"Jangan, Brave, Aku dan Ev—maksudku Daddy-mu harus melakukan hal yang terpisah," ucap Sophie dengan hati-hati, dia berharap bahwa kalimat yang dia susun secara baik di dalam otaknya bisa membuat Brave paham.
"Ya, dia ehm maksudku Mommy akan kelelahan jika menunggu Daddy yang selalu tidur tengah malam, Nak," timpal Evan membelai rambut Brave lalu menatap Sophie menyiratkan dia juga tidak mau satu ranjang dengan gadis arogan itu.
Bibir Brave mengerucut, dia menunduk dengan sedih. "Besok umurku lima tahun," kata Brave menunjukkan kelima jari kanannya. "Aku belum pernah tidur bersama kalian berdua, aku mohon ...."
Jika Sophie bisa menghilang sekarang, ingin rasanya dia pergi ke tempat yang paling jauh dari hadapan anak kecil itu. Sungguh dia tidak menyukai ide gila Brave, apalagi satu ranjang dengan Evan, lelaki egois yang membuat darahnya selalu mendidih. Evan menggendong tubuh Brave yang cukup berat, mengirim sinyal kepada Sophie melalui kerlingan mata.
"Jangan menggodaku!" seru Sophie tidak suka.
Brave tertawa, Evan justru mendesis karena gadis itu ternyata tidak cukup peka dengan sinyal yang diberikan.
"Turuti saja apa kata Brave, Mommy," kata Evan dengan penuh penekanan.
"Aku bisa gila," desis Sophie mengacak rambutnya menatap Evan yang kini menyipitkan mata.
Mau tak mau Sophie menyetujui walau dia harus memutar bola matanya merasa kesal. Brave pun meminta tolong kepada Evan untuk menurunkan dirinya kemudian mendatangi Sophie dan memeluk tubuh ramping Sophie seraya berkata, "I love you, Mom."
Sophie tersenyum tipis. "I ... love ... you too."
Pukul sembilan malam, waktu yang dinanti Brave dan dihindari oleh Sophie telah datang. Mata birunya melirik jam beker di nakas kamar Evan sebagai kamar utama di mansion ini, duduk tak nyaman di pinggiran kasur. Dia menarik baju piyama merah maroon berbahan sutra dengan potongan pendek, tentu saja ini bukanlah baju milik Sophie melainkan milik Cecilia atas paksaan Evan.
Dia menyukai piyama itu jika tidak ada kata kepemilikan Cecilia seperti yang diucapkan Evan. Dia juga akan menyukai rumah ini jika tidak ada foto Cecilia yang terpampang di kamar Evan dengan ukuran cukup besar. Cecilia yang mengenakan gaun pengantin putih dengan potongan rendah di bagian d**a, riasan minimalis, dan bibirnya yang dipulas lipstik pink yang menambah kesan betapa feminin dan keibuan perempuan itu.
Kepala Sophie refleks menoleh ke arah kamar mandi di sisi kanan ruangan itu ketika Evan muncul dengan bertelanjang d**a. Matanya seakan mencuat melihat pahatan tubuh Evan yang begitu sempurna. Di agensi, dia sering melihat lelaki bertelanjang d**a untuk sampul majalah atau proses pemotretan pakaian dalam. Sayangnya, hal itu tidak berlaku untuk lelaki yang bernama Evan Clayton, dengan gerakan cepat, Sophie melempar bantal mengenai lelaki itu. Evan memungutnya dari lantai dan berkata, "Kau ada masalah apa denganku?"
"Kau mengajakku berpura-pura tidur atau mengajakku bercinta sungguhan? Segera pakai pakaianmu, kau kira aku tergoda?" cerocos Sophie dengan intonasi cepat, menutupi degup jantungnya yang tidak karuan.
Sialan, kenapa jantungku seperti ini?
Bibir Evan tertarik ke sisi kiri, tatapan matanya menggelap. Dia menutup pintu lemari, mengurungkan niat untuk mengambil baju tidurnya. Dengan langkah yang perlahan namun terlihat seksi dia mengunci sosok gadis angkuh itu di dalam matanya. Sedetik kemudian dia membungkuk, menyejajarkan pandangannya dengan Sophie. Evan memiringkan kepala, mendekatkan bibirnya menelusuri wajah Sophie yang sudah muncul biji keringat. Hidung lancipnya menyentuh kulit Sophie yang terasa dingin, memunculkan efek aneh pada diri Sophie yang kini membeku.
"Kau kira dengan wajahmu yang begitu sama dengan Cecilia, aku akan tertarik?" bisik Evan di telinga Sophie.
Aroma apa ini? batin Evan ketika hidungnya menangkap aroma tak sedap.
Detik berikutnya, dia bergerak mundur, menutup hidung dengan tangan kanan menatap Sophie dengan tajam. "Kau kentut?"