"Mommy! Mommy!" teriak Brave sambil melompat-lompat, melambaikan kedua tangannya ketika berhasil membuat istana pasir bersama Evan. Tak mendapat respon dari sang ibu jadi-jadian, lelaki yang hanya mengenakan celana pendek bergambar Spongebob dan bertelanjang d**a itu menghampiri Sophie yang asyik berjemur di bawah terik matahari di atas kursi pantai. "Mom ..."
Sophie menoleh, menatap Brave dengan malas di balik kacamata hitamnya. Dia mendesis, lalu bangkit sambil menggaruk kepala. Melangkah di atas sandal biru muda dengan pakaian bikini yang senada, Evan mendongak ketika dia sedang mengisi ember kecil dengan pasir lalu berkata, "Aku tidak membayarmu untuk bermalas-malasan."
Sontak Brave menatap Evan dengan mengerutkan keningnya. "Dad? Kenapa Daddy bilang seperti itu? Apa maksudnya?"
Merasa dibela oleh Brave, Sophie tertawa dalam hati, sepertinya dia mulai menyukai sikap Brave. Evan takkan bisa berkutik jika anak semata wayangnya itu protes terhadap sesuatu yang menyinggung dirinya. Lelaki bermata abu-abu itu salah tingkah lalu berkata, "Maksudnya kita tidak boleh bermalas-malasan saat liburan Brave, bukankah ini menyenangkan?"
Brave masih menatap lurus wajah ayahnya dengan ekspresi tidak percaya, lalu menggeleng sambil merebut ember berisi pasir yang dipegang Evan lalu memberikannya kepada Sophie. "Mom, bisakah Mom membantuku?"
Sophie mengangguk, terpaksa menerima ember kecil itu lalu berjongkok untuk membuat benteng istana pasir. Dia melirik Evan sambil mencibir, "Ini hari Sabtu, dan termasuk jadwalku untuk bersenang-senang."
"Bersenang-senangmu masih malam nanti, bukan sekarang," balas Evan tidak mau kalah.
Brave mendengar perkataan kedua orang tuanya dengan tidak mengerti mengapa dua manusia dewasa itu selalu berbicara berbisik-bisik, kadang kala mereka bertatapan seperti dua ekor anjing yang berebut makanan. Evan mengalihkan pandangannya pada Brave yang menatap dengan kening yang mengerut, lelaki itu sadar bahwa berdebat di depan anaknya bisa menimbulkan masalah. Evan pun berdiri lalu mengulurkan tangan kanannya dan berkata, "Ayo, kita beli es krim, Brave."
Raut wajah anak lelaki semata wayangnya seketika berubah, Brave melempar ember begitu saja ke tanah berpasir. "Mom, ayo kita beli es krim bersama."
"Bagaimana istana pasirnya, Brave?"
"Biarkan saja, aku ingin makan es krim bersama, please."
Sophie memandang Evan, akhirnya dia menuruti permintaan Brave. Anak lelaki itu melompat kegirangan lalu menggandeng tangan kedua orang tuanya seperti anak-anak lain. Dia begitu senang, bahwa di hari ulang tahunnya yang kelima akan mendapat hadiah berharga daripada mainan mahal yang sering dibelikan oleh ayahnya. Kehadiran Sophie menutupi luka batin Brave dan menyembuhkan segala kerinduannya pada sosok ibu.
Sesekali Brave mendongak, melihat wajah Sophie yang kini melempar senyum ke arahnya. Brave memeluk perut Sophie dengan sayang. "Aku mencintaimu, Mom."
Mereka bertiga berhenti di depan sebuah toko Williams Candy yang sudah berdiri sejak 1941 di Coney Island. Papan berwarna kuning menyala dengan tulisan nama toko bercat merah sangat menarik perhatian, apalagi banyak permen kapas, lolipop, hingga buah apel berlapis karamel dipajang di etalase di belakang kaca di kedua sisi pintu masuk. Brave bertepuk tangan, begitu senang akhirnya dia diperbolehkan membeli beberapa permen. Selama ini, Evan selalu mengatur apa saja yang masuk ke dalam mulut Brave, karena saat bayi anaknya mudah terserang penyakit. Terakhir, di usianya yang baru menginjak empat bulan, Brave mengidap bronkitis membuat Evan dibuat khawatir setengah mati.
Langkah kaki mereka masuk ke dalam toko yang dipenuhi rak-rak kaca berisi aneka makanan manis seperti candy popcorn, stroberi berlapis cokelat putih dan dark chocolate, hingga permen kalung warna-warni. Di sepanjang dinding yang berwarna merah dan putih dengan garis-garis biru yang mengingatkan warna lolipop, ada rak kayu memanjang bercat merah yang menampilkan deretan lolipop beraneka ukuran, toples-toples berisi marshmallow aneka warna dan bentuk. Aroma permen, vanila, hingga karamel berpadu menjadi satu membuat siapa saja pasti akan tergoda untuk mencicipinya.
Salah satu pegawai perempuan mengenakan kaus pink bertuliskan Williams Candy di bagian d**a kiri, serta topi hitam yang menutupi rambut pendeknya menyambut Brave dengan ramah. Perempuan itu langsung menunjukkan beberapa pilihan, termasuk es krim yang sangat cocok dinikmati sambil berjalan menyusuri pantai.
"Aku ingin es krim coklat, Nona," pinta Brave. "Dad, bisakah aku membeli semua permen?"
"Pilih dua permen, Brave, atau gigimu akan sakit," kata Evan.
Sophie menunduk menyejajarkan pandangannya dengan anak lima tahun itu seraya berbisik, "Kau bisa membeli lima permen, dua marshmellow, dan apple candy. Tapi jangan bilang Daddy, oke?"
Tentu saja itu membuat Brave membeliak dengan senyum lebar sambil mengacungkan dua jempol mungilnya. Sophie mendongak, menatap Eva tajam lalu bergerak sedikit mundur agar tidak terdengar Brave.
"Jangan over protective, dia hanya anak kecil yang ingin merasakan banyak makanan sebelum dewasa. Lagi pula, Brave bukan orang seperti dirimu yang harus menjaga pola makan di usia tua," sindir Sophie membuat Evan menoleh dengan kilatan mata tajam.
"Bukankah, kau yang sedang menjaga pola makan agar tidak gemuk, huh?" balas Evan.
Sophie terkekeh. "Aku? Aku memiliki pola diet tertentu dan ini hari ini kita harus bersenang-senang melupakan diet. Apalagi semua makanan di sini, kau yang bayar kan? Belikan aku tacos di Dona Zita, Tuan majikan."
"Dad! Ayo kita lihat singa laut!" teriak Brave dengan memegang es krim di tangan kanan dan mulut yang penuh sisa cokelat.
###
Akhir bulan Juni biasanya akan ada festival kembang api di Coney Island, orang-orang akan berkumpul bersama di sepanjang Broadwalk atau pantai Coney Island dengan mengangkat sebotol bir yang diakhiri dengan kecupan panas. Akhirnya, setelah menunggu Brave benar-benar tertidur, Sophie pun merangkak keluar dari hotel tempat dirinya menginap dengan Evan. Lelaki itu belum juga keluar dari kamar mandi, entah apa yang dilakukannya di dalam.
Apa dia sedang melakukan 'me time' ala bujangan? batin Sophie dengan pikiran kotor yang menggerayanginya.
Dia bergidik ngeri, tak mau membayangkan Evan yang begitu haus akan cinta hingga tak bisa melupakan istrinya. Padahal, jika dia mau membuka hati, Sophie yakin banyak wanita yang akan mengejar lelaki itu.
Kecuali aku. Dia bukan tipeku juga.
Sophie meraih tas kecil, mengendap-ngendap keluar dari kamar, dibuka pelan pintu bercat putih gading itu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara sedikit pun.
Ah! Berhasil!
Sophie pun menutup pintu dengan pelan, lalu berjingkrak kegirangan kala dia benar-benar berhasil keluar dari sarang harimau. Gadis itu menjulurkan lidahnya, seolah mengejek Evan lalu berlari menyusuri lorong berkarpet cokelat keluar menuju Broadwalk untuk melihat kembang api dan meneguk sebotol bir dingin.
Ruby's Bar adalah tempat pertama yang akan dikunjungi Sophie selagi menunggu pesta kembang api yang akan dimulai setengah jam lagi. Dia melangkah masuk di Lounge Bar yang sudah penuh dengan orang-orang yang memenuhi kursi bar dan denting-denting gelas bir yang penuh. Ada salah satu kursi kosong yang berada di sisi kiri seorang lelaki yang mengenakan kaus tanpa lengan sedang meneguk red wine. Sophie pun mendekat dan berkata, "Bolehkah—Tom!"
Lelaki yang ternyata Tommy itu menoleh lalu melempar senyum lebar tidak menyangka akan bertemu dengan Sophie. Dia melihat gadis itu dari atas ke bawah, celana jeans super pendek dengan tanktop hitam yang berpotongan rendah di bagian d**a, membuat sesuatu di balik kaus itu ingin menyembul keluar.
"Kukira kau sudah melupakanku, jadi apa kabar?" tanya Tommy.
Sophie duduk di kursi sambil tertawa. "Aku sibuk dengan pekerjaanku. Dan well... aku baik-baik saja. Maaf, aku masih belum bisa mengembalikan uang pinjaman darimu."
"Astaga ... tak usah kau pikiran, Baby," kata Tommy dengan panggilan sayangnya kepada Sophie. "Jadi, apakah kau bekerja di sekitar sini?"
Sophie yang memesan satu gelas red wine kepada pelayan lelaki bertubuh kekar, usai memesannya dia menoleh pada Tommy dan berkata, "Tentu saja tidak, aku sedang liburan. Lagi pula, sekarang weekend."
Lidah Sophie sudah terbiasa merangkai kata-kata dusta semenjak keluar dari rehabilitasi dan menjadi pengasuh anak Evan. Entah dia yang sudah terlalu malu akan kehidupannya yang menyedihkan atau justru dia mulai nyaman dengan semua omongan yang hanya manis di mulut yang dipercayai mereka. Tommy memandang Sophie dengan penuh selidik, tak mungkin pula jika gadis itu kembali ke Brooklyn untuk mendapat pekerjaan sementara waktu itu dia masih setia menginap di Manhattan.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Sophie menerima red wine jenis Sangiovese Toscana dalam gelas kaca dan meneguknya cepat. "Oh ... aku seperti menemukan surgaku lagi!" Sensasi fermentasi anggur merah dengan aroma vanila menyentuh lidah Sophie, memanjakan sepenuh hati dengan begitu lembut. Memang wine dari Tuscany—Italia, tiada duanya. Dia selalu menjadi favorit dari sekian jenis wine yang disukai Sophie.
Tak nikmat jika hanya meneguk wine, dia pun mengajak Tommy untuk menikmati camilan seperti salted almonds—kacang almond yang dipanggang bersama garam, atau grilled olives—zaitun panggang yang disajikan dengan ditusuk dan dibumbui dengan garam, lada, dan peterseli cincang.
"Kau menginap di hotel mana?" tanya Tommy, "mungkin aku bisa mampir dan kita bisa ..."
"Aku tidak bisa!" seru Sophie lalu terkekeh salah tingkah. "Maafkan aku, Tom, sungguh aku tak bisa." Dia kembali meneguk wine miliknya lagi. "Kau tahu aku tidak suka berbagi kamar."
Tommy mengangguk, merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Sophie jika dilihat dari sorot mata gadis itu. Jelas, Sophie bukanlah pembohong yang handal termasuk menyembunyikan pekerjaannya. Lelaki berahang tegas itu yakin Sophie ke sini tidaklah sendirian. Dia harus mencari tahu.
Beberapa saat dering ponsel Sophie berbunyi, dia pun mengambil gawai dari dalam tasnya dan membelalak melihat nama Evan di layar. Sialan! Pikirnya. Mengapa tidak ada jeda sedikit pun untuknya agar bisa bernapas lega, menjauhi sosok lelaki penuh aturan dan drama beserta anak kecilnya. Padahal Sophie sudah mengeluarkan uang untuk membelikan Brave banyak permen di Williams Candy dengan maksud agar dia bisa lebih cepat tidur karena kekenyangan.
Dia pun menolak panggilan itu, mematikan ponselnya agar tidak diganggu. Di atas jam sembilan sesuai aturan, Sophie berhak untuk menikmati jam malam, selagi dia berlibur di Coney Island menikmati segelas wine sendirian.
Apa dia sudah menyelesaikan 'me time'-nya?batin Sophie.
"Harusnya aku beli beberapa majalah porno supaya dia bisa lebih lama di kamar mandi," gumam Sophie kesal.