Langit malam di atas kota Brooklyn itu kini bercahaya dengan begitu indah ketika kerlap-kerlip petasan meledak membentuk kembang yang bermekaran. Sophie menjunjung botol birnya tinggi-tinggi sambil berteriak bersama dengan orang-orang yang menikmati hiburan gratis yang selalu diadakan setiap tahun selama musim panas. Gadis itu kembali meneguk bir dinginnya lalu merangkul pundak Tommy, bersulang dengan penuh bahagia seolah dunia yang sebelumnya menyebalkan kini berubah menjadi menyenangkan.
Tommy melirik gadis yang tingginya sebatas bibir tipisnya itu, meneguk bir hingga habis meluncur ke kerongkongan. Dia berpikir mungkin jika menyatakan perasaannya kali ini, Sophie tidak akan menolak. Lagi pula, lelaki berambut ikal nan gelap itu telah menyelamatkan Sophie dari kungkungan rehabilitasi dengan jumlah uang yang tidak sedikit. Tangan panjangnya kini perlahan turun membelai pinggang telanjang Sophie, menekan sedikit daerah tulang ekor, di mana biasanya perempuan akan begitu sensitif.
Refleks gadis itu menjerit karena terkejut, dia memandang Tommy dengan tatapan tak nyaman lalu melepas rangkulan di pundak temannya itu. Walau dia sudah mulai mabuk, namun tidak meninggalkan kewaspadaannya terhadap lelaki termasuk Tommy. Sophie sadar bahwa kondisi seperti ini bisa menjerumuskannya pada sesuatu yang tidak akan berakhir bagus. One Night Stand, seperti yang selalu terjadi di kalangan teman-temannya dulu.
Sophie membenci hubungan ONS yang merugikan kedua belah pihak meskipun awalnya akan diberi kenikmatan tiada tara. Hubungan di atas ranjang yang tidak melibatkan cinta tapi nafsu seperti binatang, apalagi dibawah pengaruh alkohol seakan menambah sempurna. Walau dia berandalan, Sophie tidak akan memberikannya secara suka rela kepada lelaki mana pun.
Dia tertawa bak orang gila, merentangkan kedua tangan ketika kembang api masih meletup-letup menghiasi angkasa Coney Island. Detik berikutnya, Tommy menarik kembali tubuh Sophie ke dalam dekapan, menyambar bibir tebal Sophie dengan bibirnya. Ciuman itu terasa begitu panas, saling mendamba dan saling melampiaskan. Sophie terbuai dalam pagutan Tommy yang kini bermain-main dengan lidahnya, mencecap rasa bir bercampur red wine yang enggan meninggalkan bibir gadis itu.
Botol bir yang dipegang Sophie terjatuh di atas pasir putih pantai bersamaan dengan kedua tangannya yang kini menangkup rahang Tommy, meraup semakin liar seakan mereka akan kehabisan waktu di dunia. Lelaki itu berhasil mengaktifkan sisi ganas dari diri Sophie, dalam hati Tommy begitu bahagia bisa merasakan ciuman-ciuman Sophie seperti yang dikatakan oleh para pria yang pernah menjajal bibir tebal nan manis seperti madu itu.
Ciumannya yang memabukkan dan menjadi opium baru untukku, batin Tommy.
Tommy melepas pagutannya memandang lurus iris mata biru itu lalu berkata, "Aku menyukaimu, Sophie!"
Bibir Sophie yang memerah dan sedikit bengkak akibat Tommy menganga. Dia mendecih dengan melempar senyum miring. "Astaga, kau menciumku untuk mengatakan itu?"
"Aku serius padamu, Boucher!"
Punggung tangan kiri gadis itu mengusap bibirnya, gelora yang semula begitu menyala dalam diri Sophie kini meredup seketika. Ini ketiga kalinya Tommy mengatakan hal yang sama, entah harus berapa kali Sophie menolak lagi agar membuat lelaki itu menyerah. Tentunya Sophie tidak ingin menjalin asmara dengan alasan apapun. Sekali pun Tommy adalah lelaki terakhir di dunia, Sophie masih enggan untuk memilihnya. Bagi gadis itu, Tommy tetaplah menjadi teman, dia tidak bisa memberikan hatinya terlebih masa lalu Sophie yang tidak begitu bagus akan cinta.
"Kau sudah tahu jawabannya, Tom, "ucap Sophie diantara ledakan kembang api di langit, membuat kedua wajah insan itu memunculkan bayangan warna-warni. "Aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa. Sekali pun ribuan kali kau menciumku hingga berdarah."
Hati Tommy seakan dihantam langsung ke dasar bumi mendengar penolakan Sophie. Kadang dia bingung apa yang membuat gadis itu tidak bisa menerima dirinya. Padahal dia mengira dengan mencium Sophie di momen yang bisa dibilang romantis ini bisa membuat gadis itu mengiyakan, namun akhirnya pun selalu sama. Sophie menolak.
"Tapi--"
"Ah, lupakan saja Tom! Kau membuat moodku buruk!" celetuk Sophie meraih kembali botol birnya yang telah kosong. "Sebaiknya kita berpisah di sini. Jangan mengatakan hal itu jika kita bertemu, Tom, kau tetaplah teman terbaikku."
Sophie menepuk lengan Tommy yang masih terpaku dengan sikap santai gadis itu. Padahal dalam hati, harga diri Tommy sudah hancur dan tiada artinya lagi. Ekor matanya kini mengikuti langkah Sophie yang menerobos kerumunan orang-orang yang masih memandang langit bercahaya, tanpa sadar kedua tangannya mengepal menahan emosi. Bahkan matanya pun memerah seakan rasa kecewa itu sudah menggerogoti dirinya untuk kesekian kali.
Aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku, Sophie, batin Tommy dengan bibir yang mengatup rapat.
###
Sophie kembali ke Ruby's Bar untuk membeli bir sebelum dia kembali ke hotel, kepalanya mulai pening bahkan saat berjalan ke bar pun sudah sempoyongan. Ini seperti bukan dirinya yang biasa, padahal sebelumnya Sophie akan kuat jika minum berbotol-botol bir dalam satu malam. Sophie menerima satu botol bir untuk dibawa pulang, jika dia harus minum di sini dia yakin beberapa menit lagi dia akan pingsan. Usai membayar, langkah kakinya keluar bar dengan tangan kanan meraih ponsel lalu menghidupkan mesinnya lagi. Tak berapa lama, deretan pesan dan panggilan tidak terjawab dari orang yang sama memenuhi layar ponselnya.
Sophie meneguk birnya, membaca pesan yang hampir ada seratus pesan itu. Evan sungguh keterlaluan, dia yang mengiyakan perjanjian mereka namun dia sendiri yang melanggar seolah Sophie harus bekerja 24 jam penuh untuk mengasuh anak yang jelas bukan darah dagingnya sendiri.
Ada keinginan dalam diri Sophie, dia tidak ingin memiliki seorang anak suatu hari nanti. Baginya, mereka adalah makhluk kecil yang membuat hidupnya sangat sibuk, bahkan kadang untuk meluruskan punggung sebentar saja tidak bisa. Dia lebih suka hidup seperti ini, sendirian dan begitu bebas seperti merpati yang terbang ke sana ke sini tanpa ada yang menghalangi. Setelah dia benar-benar mendapatkan uang lebih banyak dari Evan, Sophie akan pergi meninggalkan Manhattan dan memulai hidup baru.
"Texas? Not bad?" gumam Sophie sambil tertawa.
"Ah, jadi kau di sini gadis kecil!"
Suara itu menyadarkan Sophie dari mimpinya, dia berbalik dan kedua matanya membeliak ketika sosok Evan berdiri dengan melipat kedua tangannya di d**a. Dia masih mengerjap-ngerjapkan mata saat lelaki bertubuh atletis itu mendekati pengasuh Brave yang keluar diam-diam tanpa pamitan.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit, acara kembang api telah usai berganti dengan pantai yang dipenuhi dengan orang-orang yang ingin menghabiskan waktu di sana hingga pagi. Aroma alkohol tercium di hidung Evan dari tubuh Sophie, dia mendengkus kesal dan bertanya-tanya berapa banyak minuman yang telah dia habiskan.
"Kenapa kau tidak menjawab teleponku?" tanya Evan dengan nada tinggi.
Satu garis bibirnya naik sebelah, Sophie menggeleng-geleng lalu meneguk kembali birnya namun direbut oleh Evan dan membuangnya ke tempat sampah yang tak jauh dari posisi mereka sekarang.
"Apa yang kau lakukan!" seru Sophie lalu memukul d**a bidang Evan yang tertutup kaus putih. Dia berjalan menuju tempat sampah, melihat botol birnya yang kini tergeletak tak berdaya. Sophie menoleh pada Evan lalu dia meraih sandalnya dan melempar ke arah lelaki menyebalkan itu.
Dengan mudah Evan menghindar, lalu dia mendekati Sophie dan menarik lengan kanannya dan berkata, "Apa yang kau lakukan? Kau ingin mati?"
"Apa urusanmu denganku, ini jam malamku, Evan!" Sophie memberontak ingin melepaskan diri. Tapi, Evan justru mencengkeramnya lebih kuat hingga tangannya mati rasa. "Sialan!"
"Aku membayarmu untuk tidak foya-foya, Boucher!' seru Evan tidak mau kalah dengan tatapan yang seakan menghakimi Sophie.
Dada Sophie naik turun, emosi kini menyelimuti dirinya. Dia pun meludah ke tanah seperti mengejek Evan lalu menatap majikan tidak tahu aturan itu.
"Ini aturanku, kita sudah sepakat. Masalah uang, bukankah kau membayarku dan aku menerimanya? Kenapa kau mengatur keuanganku segala? Jangan bertindak seperti kau adalah ayahku, Evan!"
"Ini juga aturanku jika kau masih bekerja denganku, Sophie, bagaimana kau bisa mabuk-mabukan seperti itu jika kau masih mengasuh Brave?"
Sophie melepas cengkeraman tangan Evan di tangannya dengan sekuat tenaga. Bekas merah tercetak jelas di pergelangan tangan Sophie. Dia ingin melempar sebuah tamparan keras namun Evan justru mendaratkan ciuman tepat di bibir gadis itu.
Seluruh sel saraf tubuh gadis itu seketika lumpuh, emosi yang tadinya meledak-ledak kini meredup seperti api yang disiram air. Bukannya melawan, Sophie justru kembali terlena dengan permainan Evan di bibirnya, bahkan dia kewalahan untuk mengimbangi pagutan Evan yang seolah ingin mendominasi diri Sophie yang keras kepala.
Ada sesuatu yang aneh sedang berterbangan di dalam perut Sophie hingga kedua paru-parunya. Sesautu yang jelas berbeda dibandingkan ketika dia berciuman dengan Tommy. Bahkan jantungnya yang semula berdiam diri dan berdetak normal kini seperti sedang dikejar hantu, dia berdegup begitu cepat mengaliri seluruh pembuluh darahnya menciptakan sesuatu yang panas di kedua pipi.
Gelombang yang sedang menghayutkan Sophie dalam kenikmatan bibir Evan yang lihai dan terampil berganti dengan sensasi asam, merangkak begitu cepat naik ke kerongkongannya. Detik berikutnya, gadis itu mengeluarkan isi lambungnya tepat mengenai mulut Evan membuat lelaki itu mendorong tubuh Sophie.
"Kenapa kau muntah di mulutku, Boucher!"