Chapter 14

1279 Kata
"Maafkan aku, Bos," ucap Sophie ketika tiba di hotel sambil membawa baju kotor Evan. Lelaki itu terdiam dengan bertelanjang d**a, meraih handuk untuk membersihkan diri dan menghilangkan bau badannya yang terkena muntahan Sophie. Kesabarannya sudah terkuras, ketika kesialan selalu mendera Evan, tidak habis pikir bahwa Sophie adalah gadis yang cukup jorok meskipun visualnya cantik. Mulai dari kentut busuk yang masih Evan ingat dan sekarang muntahannya, entah besok apalagi yang akan dia lemparkan. "Bos ..." panggil Sophie merasa bersalah, namun lagi-lagi permintaannya hanya dianggap angin lalu. "Ah! Aku sudah minta maaf dan kau masih saja diam! Muntahanku tidak beracun, Evan, kau tak akan mati karenanya!" Sontak saja Evan yang sudah berada di kamar mandi, keluar lagi dan menghampiri Sophie yang kini membersihkan kausnya di wastafel dengan air mengalir, menaburkan bubuk detergen untuk menghilangkan baunya. Harus Sophie akui dalam hati, bahwa apa yang sedang dicerna lambungnya memang benar-benar mengerikan. Baru pertama kali dirinya bisa mengeluarkan semua isi lambung ketika mabuk, padahal sebelum-sebelumnya dia tidak pernah melakukan hal memalukan itu pada orang lain. Atau mungkin melihat Evan membuatku mual? pikir Sophie. "Aku memang tidak mati, tapi kejadian malam ini tidak akan pernah bisa kulupakan, Boucher! Rasanya aku tidak ingin makan apa pun besok," ketus Evan, "Bagaimana bisa kau muntah di saat aku menciummu?" Sophie berkacak pinggang sambil mendongakkan dagunya menatap Evan tak takut. "Itu bukan salahku, kau sendiri mengapa tiba-tiba menciumku?" Kini bibir Evan terbungkam, tak tahu harus menimpali pertanyaan Sophie dengan kalimat seperti apa. Dia sendiri juga bingung, kejadian di depan bar adalah sesuatu yang tidak dia sengaja sama sekali. Namun hal utama adalah Sophie selalu saja membuatnya kesal, Evan memberinya pekerjaan dengan bayaran yang cukup tinggi untuk kalangan pengasuh anak yang tidak memiliki pendidikan dasar menjadi nanny. Mungkin ini termasuk kesalahan Evan sendiri, memanfaatkan kemiripan wajah Sophie dengan mendiang istrinya untuk mengelabui Brave, nyatanya Sophie bahkan tidak becus mengurusi anaknya. Dan sekarang, Evan menyesali keputusannya membohongi Brave tentang kematian Cecilia dan mempekerjakan Sophie. Evan memilih kembali ke kamar mandi, mendinginkan kepala yang terasa begitu panas akibat emosi yang ingin meledakkan diri dari dalam. Gadis seperti Sophie akan dengan mudah membalas semua ucapannya seolah dialah yang paling benar. Sepertinya Evan harus mencari cara untuk membalas perbuatan Sophie yang semena-mena padanya. Di bawah guyuran air, lelaki bertubuh atletis itu membisu, kini bayangannya tertuju pada accidentally kiss dengan Sophie. Bibir tebal yang merah ranum itu membuatnya sedikit terlena, dan harus dia akui bahwa Sophie termasuk dalam kategori good kisser untuk ukuran gadis berandal. Evan mendecih, mengusap rambut lalu wajahnya untuk menghilangkan sensasi memabukkan itu. Namun, tetap saja, ciuman yang hanya terjadi beberapa menit tak kan bisa dia lupakan begitu saja. "Dia berandal, aneh, suka seenaknya sendiri. Aku yakin banyak lelaki yang sudah tidur dengannya," gumam Evan, "lelaki mana yang mau dengan gadis pemberontak seperti dia?" Usai mandi, Evan keluar dengan handuk yang melingkar di pinggang, menampilkan pahatan otot di d**a dan perut dengan kulit yang masih basah. Sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil, kedua matanya mengitari dan tidak mendapati Sophie di kasur di mana tubuh kecil Brave terbaring di sana. Lalu netra abu-abu itu tertuju pada pintu kaca berbatasan dengan balkon yang tertutupi tirai putih. Dia mendekat lalu berkacak pinggang kala melihat Sophie duduk di kursi sambil memeluk kedua lututnya. "Kenapa kau?" tanya Evan ketus. Sophie mendongak dan melihat pahatan tubuh Evan yang membuat wanita mana saja akan gemas untuk memainkan jemari mereka di atas sana. Dia menggeleng lemah sambil meneguk kembali kaleng bir yang dia beli diam-diam. Evan merebut bir itu, membuangnya ke tempat sampah di sisi kirinya sambil berkata, "Tidak ada bir selama kau dekat dengan Brave." "Cih!" Sophie mendengkus kesal. "Dia bukan anakku, kenapa pula kau melarangku ini dan itu?" "Karena kau—" "Mirip dengan istrimu?" potong Sophie lalu terkekeh merutuki dirinya sendiri, "lama-lama aku membenci wajahku sendiri, Evan. Dari dulu, aku tidak suka dibanding-bandingkan sekali pun dia presiden Amerika." "Ya ya, aku tahu, hingga aku bosan mendengar alasanmu, Miss Number One," ejek Evan sambil berkacak pinggang. "Kenapa kau tidak tidur, huh?" "Dan mendengar kau mendengkur begitu keras? Seminggu kemudian gendang telingaku bisa pecah, Evan," sindir Sophie membuat Evan membeliak, kemudian dia menggaruk kepala belakangnya salah tingkah. "Aku tidak mendengkur," elak Evan. Sophie mendongak sambil mendecak. "Apa perlu aku memberi rekaman dengkuranmu yang begitu keras seperti dengkuran seekor kuda, huh? Bagaimana bisa Cecilia dulu tidur begitu nyenyak di sampingmu?" "Jangan ungkit itu Boucher!" Sophie mengibaskan sebelah tangannya seakan mengusir Evan dari balkon. "Pergilah Evan, kenakan pakaianmu. Apa dengan kau telanjang di depanku, aku akan tergoda?" Terlintas ide nakal di benak lelaki berambut cokelat tembaga itu, dia pun melangkah pelan lalu berjongkok tepat di depan Sophie dengan pandangan berkilat. Dia ingin menguji seberapa tahan gadis pemberontak seperti Sophie akan sanggup bersiteguh melihat tubuh yang digilai banyak wanita. Bayangan ciuman itu kini sedang memancing hasrat dalam diri Evan untuk kembali mencecap bibir manis Sophie lagi dan lagi, mengeluarkan sisi liar gadis bermata biru samudra itu. Kedua mata mereka saling bertemu, saling mengunci dan saling membekap hingga udara yang menyelimuti mereka malam itu kian panas. Sophie seolah terhipnotis, meski alam bawah sadarnya menyuruh untuk menghindari lelaki yang menjadi majikannya itu. Sayangnya, sisi gelap Sophie justru berteriak kegirangan seperti wanita malam yang mendamba sentuhan. Digigit bibir bawahnya sendiri, rasa nyeri itu membuat Sophie tetap waras bahwa Evan sedang memikat dirinya. Jempol kanan Evan terangkat, membelai lembut bibir Sophie, mengirimkan jutaan sinyal ke seluruh tubuh kurus gadis itu. Sontak saja sel saraf di otak Sophie lumpuh, berganti dengan gejolak di perutnya yang semakin membumbung tinggi menggelitiki diafragmanya, berputar menuju pusat dirinya di sana. Sesuatu yang memanas-manasi untuk bergumul pada permainan nakal bersama lelaki yang bahkan selalu membanding-bandingkan dengan mendiang istrinya. Refleks bibir Sophie mengerucut, menciumi jempol Evan dengan mata terpejam, tangan kirinya terangkat, membelai punggung tangan kanan Evan perlahan sambil membuka matanya yang telah berkabut mendambakan sesuatu yang lebih daripada sentuhan sensual di bibirnya. Menarik bibir ke atas, Evan begitu senang ketika gadis itu mulai tersulut api, dia menarik tubuh Sophie, meraup bibir itu dalam kecupan-kecupan ringan yang berubah menjadi ciuman yang dalam dan penuh hasrat. Evan bangkit, menjunjung tubuh Sophie masuk ke dalam kamar dengan kaki jenjang gadis itu melingkar kuat di pinggang Evan. Untungnya kamar yang dipesan Evan cukup besar dengan dua tempat tidur berukuran Queen, sehingga dia bisa mencumbu Sophie tanpa mengganggu tidur Brave yang sama sekali tidak terganggu oleh apa pun. Tak sengaja handuk yang melingkar di tubuh bagian bawah lelaki itu merosot, namun pikiran dua manusia yang terbakar oleh api asmara tak memedulikannya. Sophie terengah-engah, mengambil napas sejenak dan merasakan bibirnya begitu bengkak sekarang. Dia memandang Evan yang berada di atasnya, membelai rambut lalu menunduk untuk meninggalkan jejak-jejak kecil di sepanjang leher jenjang gadis itu. Merasakan harum parfum musk bercampur dengan keringat di kulit yang kini basah oleh lidahnya. Tak sampai di sana, jemari-jemari Evan bergerilya mencari-cari sesuatu hingga bibir lelaki itu tertarik ke atas seakan menemukan harta karun. Sophie mendesah, pandangannya sudah sangat berkabut, bahkan otaknya kini mengibarkan bendera putih kepada Evan, menyerah akan semua pesona terpendam lelaki itu. Suaranya tertahan di kerongkongan ketika Evan bermain di pusat tubuhnya, mengaduk-ngaduk seperti sedang menghancurkan Sophie dari dalam. Dia melengkungkan garis punggungnya, ketika puncak kenikmatan itu datang meremukkan seluruh tulangnya secara bersamaan. Evan memandang kagum wajah Sophie yang memerah, d**a gadis itu kembang kempis seperti orang yang baru saja berlari ratusan meter. Dia menunduk, membelai lembut pusat inti gadis itu membuat Sophie melempar kepalanya ke belakang merasakan lidah Evan menjelajahinya, membangkitkan nafsunya kembali. Hingga pada akhirnya, Evan merangkak memandangi kedua mata Sophie yang sayu di bawahnya kemudian menyatukan diri dalam jurang kenikmatan yang cukup sulit ditembus, hingga air mata gadis itu mengalir dari kelopak matanya sambil meringis kesakitan. Evan mengernyit, lalu tiba-tiba dia tersadar dan berseru, "s**t! Kau masih perawan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN