Diletakkan sebuket bunga di atas makam bertuliskan Cecilia dengan mata berkaca-kaca. Sudah lima tahun berlalu sepeninggal istrinya, rindu dalam hati Evan takkan bisa terganti. Kemudian dia berjongkok, membelai batu nisan milik istrinya seperti sedang membelai kepala Cecilia. Wajah cantik nan anggun yang dulu sangat dia gilai dulu, kini hanya terpatri dalam ingatan yang bisa saja hilang secara tiba-tiba. Evan menarik napas, ingin sekali memeluk tubuh Cecilia jika diberi kesempatan. Mencurahkan segala kegelisahan atas musibah yang datang silih berganti, termasuk kematiannya yang begitu tragis. Brave yang ikut berjongkok di samping ayahnya, hanya terdiam, menepuk bahu Evan dengan tangan mungilnya sambil tersenyum tipis. "Dad, kau bilang Mom sudah berada di surga. Kenapa kau menang

