11. Villa

1114 Kata
Nandini tertidur diperjalanan pulang dari rumah sakit, sehingga Hero bisa membawahnya pulang ke salah satu villanya dikawasan elit. Hero menggedong Nandini kekamar utama dilantai dua. Setelah membaringkan wanita itu, dia tetap duduk ditepi ranjang memperhatikan wajah tidur Nandini dan kemudian dia mengelus perut yang mengandung anaknya dengan lembut. “Permisi tuan”, seorang wanita paru baya berdiri didepan pintu masuk kamar yang terbuka. “Masuklah, tolong ganti pakaiannya.” Kemudian, Hero pergi kelemari dan mengabil gaun tidur berwarna hitam menyerahkannya kepada asisten rumah tangga itu. “Berhati-hati, dia sedang mengandung,” Hero memperingatkan. “Iya tuan.” Hero pergi kearah balkon kamar, itu terhubung dengan balkon dilantai dua, disana terdapa meja dan kursi untuk bersantai. Hero berdiri didekat pagar pembatas memandang kearah danau yang tepat dibelakang rumahnya. Danau itu terletak dibelakang semua villa lingkungan ini, di sekeliling danau juga dibangun taman. Tempat itu terlihat diterang oleh cahaya lampu dan masih terlihat beberapa keluarga sedang berbeque dan bersenang-senang disana. “Tuan sudah selesa.” “Kamu bisa kembali, mulai besok kalian tinggal disini untuk mengurus nyonya.” “Ya, tuan.” ... ... Cahaya matahari menembus gorden tipis, dan mendarat diwajah wanita yang sedang tertidur nyenyak. Dia mengeliat malas dan dia segera duduk dan melakukn beberapa peregangan namun matanya belum terbuka. “Ini sangat nyaman,” ucap Nandini. Matanya terbuka mendadak dan mengamati tempat dimana dia berada saat ini, kamar nuansa black silver dengan aroma dan desain ini sangat kentara, ini adalah nuansa yang sangat disukai Hero. Dia memperhatikan pakainnya yang sudah diganti, dan segera menoleh ketempat tidur disebelahnya, itu tidak ada jejak jika seseorang tidur disana. Nandini beranjak dari tempat tidur, dia memeriksa semua ruangan yang ada dikamar tidak ada jejak keberadaan Hero. Lalu, dia berdiri dibalkon menikmati pemandanganan danau dipagi hari dan beberapa orang sedang melakukan olahraga pagi disekitar danau. “Orang kaya memang tahu tempat yang baik untuk menghabiskan uangnnya.” “Tok tok tok," suara ketukan pintu kemudian didorang terbuka, yang masuk adalah asisten rumah tangga dia membawahkan beberapa pakaian kerja yang sudah disetrika. “Nyonya dimana baju ini saya letakan.” Nandini langsung mengenali pakaia-pakaian itu adalah miliknya, “Letakan diatas tempat tidur. Kenapa bajuku ada disini ?” “Semalam, semua barang nona tiba dan semuanya ada digarasi. Tetapi semua pakaian Nyonya sudah saya pisahkan untuk di setrika.” “Tunjukan jalan ke garasi.” Wanita itu menunjukan jalan dan Nandini mengikutinya, apa yang dia temukan memang semua barangnya yang berada dalam kardus-kardus itu. Nandini terlihat sangat kesal karena Hero melakukan semua ini tanpa persetujuan dari dirinya. “Dimana Hero ?” “Pagi-pagi sekali tuan sudah kembali ke Jakarta.” Nandini kembali kekamarnya mengambil ponsel dan melakukan panggilan ke Hero dan itu langsung diangkat. “Apa maumu? Kenapa kamu melakukan ini tanpa persetujuanku.” “Menurutlah dan tinggal disana, bukankah kamu belajar bisnis dan manejeman. Keadaanmu sudah sangat menguntungkan jadi tidak perlu bersikap seperti orang yang paling rugi.” “Kenapa aku merasa diuntungkan, menumpang dirumah orang adalah hal yang paling tidak kusuka. Ketika kamu muak dan marah maka kamu akan seenaknya mengusirku seperti yang dilakukan temanmu, aku punya uang aku tidak butuh belas kasihan," ucap Nandini sangat marah. "Jangan samakan aku dengan orang lain. Dan jangan keras kepala, kosanmu sudah aku beli, aku tidak akan mengizinkanmu tinggal disana,"ucap Hero. “Berengsek!” Nandin mematikan ponselnya. “Tok tok tok,” Asissten rumah tanga datang lagi. "Nyonya saya sudah menyiapkan sarapan, jangan lupa dimakan” “Bi, berhetilah memanggilku nyonya, aku belum menikah dengan Hero.” Nandini nampak frustasi, “Bik tinggalkan aku sendiri.” “Ya, permisi Nyonya.” Lagi-lagi dia dipanggil Nyonya. Walaupun suasana hatinya tidak baik, dia tetap bersiap untuk pergi kerja dan tentunya dia akan terlambat karena jarak villa ini dengan tempat kerjanya membutuhkan waktu setengah jam atau mungkin lebih. Saat dia keluar pintu, mobil sudah disiapkan disana. “Nyonya silahkan,” sopir itu membukakan pintu. “Berikan kuncinya.” “Saya diperintahkan untuk mengantar nyonya.” “Serahkan kuncinya atau saya berjalan kaki ?” Pria paru baya itu terpaksa menyerahkan kuncinya, Nandini mengemudi mobil itu sendiri. Milihat Nandini datang dengan mobil mewah, teman kerjanya terperangah dan bertanya, “Mobil siapa itu ?” “Mobil saudarku, semalam saya menginap disana karena tempatnya cukup jauh jadi dia meminjamkanku mobil ini.” Tidak jauh dari sana ada Yoko, dia mendengar apa yang diucapkan Nandini. Ketika tinggal mereka berdua, Yoko berucap, “Setauku kamu tidak memiliki kerabat disini kecuali aku dan sarah kerabat angkatmu. Jadi siapa yang kamu maksud ?” “Kak, aku akan cerita tapi nanti saat makan siang.” “Baiklah, aku menanti penjelasanmu.” .... ... Jam makan siang, Nandini dan Yoko sedang makan bersama di salah satu restoran. Nandini masih terlihat Ragu untuk menceritakan keadaannya saat ini, namun dia berpikir jika Yoko bisa mengeluarkannya dari masalah ini. “Jadi apa penjelasanmu ?” “Itu mobil Hero.” “Hero siapa ?” “Temannya Rangga juga.” “Oh Hero CEO LMC-Gruop ?” “Ya," Nandini berhenti sejenak karenan dia sedikit bingung bagaimna membicarakannya, "Kak, aku ingin tinggal ditempatmu beberapa waktu sampai aku menemukan tempat baru. Kosanku sudah diambil alih Hero dan dia memaksaku untuk tinggal ditempatnya.” “Kenapa dia mengambil tempat tinggalmu? Saya rasa dia tidak kekurangan tempat tinggal.” “Dia menginginkan aku tinggal ditempatnya karena aku mengandung anaknya.” Yoko yang sedang memakan makannya tersedak dan segera minum. "Apa aku tidak salah dengar? kamu mengandung?” “Ya, ini terjadi sewaktu aku bertugas ke Jakarta, kami mengadaka reuni dan berakhir mabuk. Ketika aku menyadari pagi hari sudah berada ditempat tidur yang sama dengan Hero.” Nandini tidak mungkin mencerikan detailnya. “Kapan kamu mengetahui jika kamu hamil?” “Baru-baru ini.” "Apa saat kamu mengambil cuti beberapa hari?” “Ya, awalnya aku bingung bagaimana menghadapi ini. Aku tidak akan menggurkan bayi ini." “Jadi, apakah Hero akan menikahimu ?” Nandini menggelengkan kepala kemudian berucap, “Aku tidak tahu, dia akan segera menika itu tinggal menghitung hari lagi. Selain itu, aku sangat tidak siap jika haru masuk kesebuah pernikahan.” “Tapi anakmu butuh pengakuan hukum dan masyarakat, ini bukan Amerika atau negera yang terbuka. Orang-orang akan berpikiran buruk mengenai kamu dan anakmu, dan juga masuk sekolah butuh akte kelahiran dan itu harus dibuat dengan adanya surat nikah.” “Jadi aku harus bagaimana kak? aku tidak ingin terikat oleh siapapun.” “Apa kamu ingin memasukan anakmu kedalam kartu keluarga orang lain atau mencari orang untuk bekerjasama menikahi kamu dan mendapatkan surat nikah kemudian langsung menandatangani surat perceraian.” “Idemu memang gila, kak." "Ya hanya itu cara, jangan hanya memikirkan egomu tetapi berpikirlah juga untuk anakmu." Yoko tahu jika teraumanya belum sembuh, Gamophobia itulah apa yang dirasakan Nandini setelah berpisah dari Dony. "Anakku akan memasuki sekolah 5 tahu lagi, dan aku masih punya waktu untuk memikirkannya. Mungkin kami bisa tinggal diluar negeri sampai dia besar dan bersekolah disana." Yoko tidak mengatakan apapun lagi, karena dia tahu jika Nandini akan memikirkan cara untuk tidak terlibat hubungan emosional dengan pria. "Kak aku serius akan menumpang dirumahmu dan bantu aku mencari kontrakan sebelum aku pergi ke Jepang.” “Kamu tinggalah dirumah, tidak usah mencari rumah lain. Kamu akan pergi dalam 3 bulan akan sangat merepotkan jika harus pindah-pindah lagi.” “Bagaimana dengan kak Sarah ?” “Dia tentu akan setujuh.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN