12. Pergi

1062 Kata
Disebuah butik mewah, Lani dan Hero sedang fitting gaun yang akan dikenakan di malam resepsi pernikahan mereka, Lani mengambil beberapa foto untuk mengisi laman story media sosialnya sedangkan Hero berdiri didepan cermin merapikan tuxedo putih yang dia kenakan. “Emezing, kalian akan menjadi kedua mempelai yang tak tertandingi,” ucap desainer itu. “Karyamu yang bagus membuat aku merasa seperti menjadi seorang peri,” ucap Lani. Lani memang nampak sangat cantik, namun Hero tidak mengatakan apapun untuk penampilannya. Dia segera kembali keruang ganti untuk menggati pakaiannya. “Kamu yakin akan menikahi pria dingin seperti dia ?” Bisik desainer itu. “Dia terlihat dingin ataupun memang bersikap dingin kepada orang lain aku tidak peduli, yang terpenting adalah dia selalu bersikap lembut dan hangat kepadaku. Dengan begitu aku tidak perlu khawatir jika dia akan berselingku karena aku adalah number one dihatinya.” “Jujur ya say, saya pernah melihat CEO Hero di Barcelona beberapa waktu lalu bersama seorang gadis. Mereka terlihat sangat akrab dan mesrah.” “Hero memiliki banyak teman di luar negeri, disana bergandengan dan berpelukan bukan hal yang hanya akan dilakukan pasangan saja,” ucap Lani. “Ya juga si say, namun kamu harus tetap waspada karena pria yang sukses akan ada banyak wanita menginginkannya.” “Saya tidak perlu menghawatirkan apapun, karena dia dapat menilai sendiri mana yang baik atau tidak untuk kami kedepannya.” Hero mendengar ucapan Lani, begitulah dia selalu berpikiran positif dan bijak, dan dia selalu terlihat agun dan bermatabat. “Bergantilah pakaian, ini sudah jam makan siang,” ucap Hero menghampiri mereka. “Ya sayang, tunggu sebentar.” Lani segera pergi untuk berganti. Setelah fitting baju pengantin, kedua orang itu pergi untuk makan siang. Mereka pergi ke restoran yang menyediakan tempat makan outdor. “Aku tidak menyangka sebentar lagi kita akan menikah, persiapan sudah 80% selesai. Yang tersisah hanya mendekor gedung pernikahan lagi,” ucap Lani. Hero terlihat diam dan memakan makannya. “Hei kenapa kamu hanya diam? Apakah kamu memiliki beban pekerjaan yang sangat banyak atau ada masalah?” “Bisa dikatakan ada beberapa masalah.” “Apa itu, coba ceritakan.” “Apakah kamu memiliki waktu untuk mendengarkannya?” “Hei sayang, kenapa kamu berbicara seperti itu ?” “Aku pernah ingin membicarakannya kepadamu, tapi kamu terlalu sibuk bahkan tak memberikanku kesempatan untuk bicara. Kita sudah bertahun-tahun berpacaran namun satu sifatmu yang membuat aku entah harus bersyukur atau tidak, kamu selalu bersikap seolah didalam hidup ini tidak ada masalah itulah yang membuat kita tidak pernah bertengkar, namun kamu terkesan seperti tidak peduli dengan orang disekitarmu.” Lani terdiam, Hero tidak pernah memprotes sikapnya. Lani berkata lembut, “Jadi apa saja yang membebani pikiranmu ?” “Lani, ini pilihanmu entah kamu ingin menjalaninya bersamaku atau tidak. Kamu akan menjadi istriku, Nyonya dari keluarga Laksana tetapi anak pertamaku tidak akan menjadi anak kita melainkan anakku dengan wanita lain.” Lani nampak terkejut namun dia segera merubah ekspresinya, Hero melanjutkan, “Aku akan menikahi wanita itu secara resmi setelah pernikahan kita.” “Plak,” Lani menampar Hero. Kemudian, dia berlari pergi sambil menangis. Hero tahu dan memaklumi respon Lani, wanita manapun sulit menerima hal seperti ini. Dia menyukai Lani karena dia calon istri yang ideal, disisi lain dia tidak bisa mengabaikan Nandini. Disini dia juga yang bersalah karena tidak dapat menepati janjinya, namun Hero yakin jika Lani akan menerima hal ini. .... .... Saat malam hari Nandini mengirim barang-barangnya digarasi menggunakan jasa angkut ketempat Yoko. Pembantu itu mendekat dan bertanya “Nyonya mau dikirim kemana barang-barang itu ?” “Saya mengirim barang-barang ini ketempat teman, karena dirumah ini barang-barang itu tidak dibutuhkan lebih baik disumbangkan.” Dia tidak akan memberitahu niatnya yang sebenarnya ingin pergi dari sini selamanya. “Sudah dulu Bi, saya harus istirahat.” Nandini kembali kekamar dan segera memasukan pakaian yang sudah disetrika kedalam kopernya. Keesokan paginya Nandini pergi kerja lebih awal, dia sudah memesan taksi online untuk menjemputnya. Asisten rumah tangga melihat Nandini membawah kopernya keluar. “Nyonya mau kemana ?” “Saya ada perjalanan bisnis, saya akan pergi ke Jakarta beberapa hari.” Dia berbohong, namun pembantu itu percaya begitu saja. Saat malam hari Hero mencoba menelpon nomer Nandini, namun itu tidak bisa dihubungi, dia menggunakan nomer lain masih juga tidak dapat dihubungi. Hero memutuskan menelpon ke telpon Villa. “Hallo” “Dimana Nyonya ?” “Nyonya tugas keluar kota, tuan." “Kemana ?” “Jakarta, tuan.” Hero mematikan telpon, dan berbicara dengan Jony, “Cari tahu dimana Nandini, mereka bilang dia sedang bertugas kesini”. Keesokan harinya Jony melaporkan tidak ada kegiatan apapun di kantor pusat dan Nandini masih terlihat dikantornya pagi ini. Malam Hari Hero menelpon ke villa menemukan jika Nandini tidak kembali ke Villa, barulah asisten menceritakan jika Nandini juga sudah mengirim semua barangnya keluar. Hero bisa menebak jika dia tidak ingin tinggal disana, Hero tidak buru-buru untuk menjemput Nandini, selama dia masih terlihat ditempat kerjanya akan mudah untuk menemukannya. Lani murung dikamarnya dia sudah 3 hari diam dan terlihat memiliki beban pikiran yang sangat berat. Ibunya segera menghampirinya. “Apa yang membuat kamu begitu murung beberapa hari ini ?” Lani menghela napas panjang dan berkata, “Aku pernah bermimipi untuk tidak menjadi seperti Ibu, Ayah selalu bersenang-senang diluar padahal dia sudah memiliki dua istri dirumah. Aku juga bermimpi akan melahirkan penerus utama dari keluarga Laksana agar aku menjadi yang tak tegoyahkan dimata orang rumah ini, tapi mimpi-mimpi itu akan segera berakhir.” “Apa maksudmu ?” “Hero sudah memiliki kadidat untuk istri keduanya, dia akan menikahinya secara hukum karena wanita itu sudah mengandung.” “Itu bukan masalah, karena kamu akan menjadi menantu utama keluarga itu. Selama ini kamu sudah menutup mata dan telingah mu atas semua berita mengenai Hero, dia terbiasa bermain wanita dan itu tidak dapat dihentikan.” Ibunya memegang pipi Lani, “Sejak kamu berhubungan dengan Hero kita diakui dikeluarga ini, jika kamu membatalkannya kamu tahu kita juga akan ditendang dan dilecehkan oleh keluarga ini. Pernikahanmu ini adalah kehormatan kita berdua, setelah kamu mendapatkan kartu keberuntungan ini kamu bisa melakukan apapun yang kamu sukai namun ingat jaga citramu dan sembunyikan cakarmu.” “Iya, aku akan mengingatnya.” “Apa kamu tahu siapa perempuan itu ?” “Tidak.” “Segera berbaikan dan cari tahu.” Lani memiliki sebuah keluarga yang rumit, Ibunya adalah istri simpanan dan berasal dari keluarga biasa sehingga ibu dan anak ini kurang dihargai dikeluarga mereka. 1 tahun setelah dia berpacaran dengan Hero, keluarga utama menjemput dirinya dan ibunya untuk tinggal bersama. Lani juga menerima fasilitas mobil dan kartu kredit seperti saudaranya yang lain dari istri pertama, bahkan dia lebih dimanja dan diperhatika. Tahun ke 2 dia bepacaran dengan Hero, ayahnya memberi setatus istri sah secara hukum pada ibunya. Hero dan keluarga Laksana adalah alasan orang-orang ini bersikap baik, karena itu Lani akan berpegang teguh kepada Hero demi kehormatan ibunya dan dirinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN