13. Persetujuan

1142 Kata
Setelah berbicara dengan ibunya, Lani segera menelpon Hero namun tidak ada jawaban. Lani Hanya mengirim pesan, “Jika ada waktu luang telpon saya kembali.” Hero membalas, “Ini Jony, Bos sedang rapat.” “Rapat di kantor?” “Ya.” “Apa dia ada jadwal pada jam makan siang?” “Tidak.” “Katakan saya akan ke sana jam makan siang ini.” “Ya.” Lani segera bersiap, ia mengenakan sedikit make up dan berganti pakaian santai. Saat dia keluar kamar nampak beberapa wanita sedang mengobrol sambil menonton tv, dia Mona dan teman-temannya. Mona adalah saudara tiri yang seumuran dengannya, bagi Lani dia hanya seorang wanita yang tidak berotak hanya mengandalkan paras cantik saja. “Eh calon Nyonya muda Laksana, mau kemana?” Lani tersenyum sambil menjawab, “Tentu akan pergi makan siang bersama calon suami saya.” “Selamat bersenang-senang,” ucap Mona. Lani segera meninggalkan mereka namun Mona berucap kepada teman-temannya, “Anak haram yang beruntung, tapi tidak akan mengubah statusnya sebagai anak seorang pelakor.” “Hahaha...” para wanita itu tertawa. Kemudian, ada yang berucap, “Dia beruntung karena dia memiliki jurus yang diturunkan ibunya.” Langka Lani terhenti, dia berbalik dan berucap dengan sinis, “Mulut seseorang memang mencerminkan isi kepalanya, kata-kata kotor mu berasal dari kepala yang hsnya berisi sampah. Menyelesaikan SMA saja harus pakai dukungan keluarga, sampah yang mutlak.” Mereka sangat marah dan Lani hanya tersenyum, lalu dia pergi. Saat di garasi dia melihat mobil teman Mona, terlihat kebencian yang luar biasa diwajahnya. Dia berucap, "Aku akan mengembalikan penghinaan ini satu persatu kepada kalian." Lani tiba di ruangan Hero, pria itu sedang memeriksa dokumen di mejanya. Lani berjalan masuk sambil berucap, “Kita akan menikah, kamu masih saja sibuk dengan pekerjaanmu." “Saya harus menyelesaikan semuanya sebelum pernikahan agar kita bisa pergi berbulan madu.” “Siapa yang akan berbulan madu denganmu?” Hero menutup dokumennya, dia menghampiri Lani. kemudian memegang kedua bahu wanita itu dan berucap, “Tentu saja kamu, aku tahu kamu adalah wanita yang baling bijaksana. Aku akui aku salah tapi semuanya sudah terjadi.” “Siapa wanita itu?” “Nandini.” “Dia mantannya temanmu, Dony?” “Ya. Kami adalah kesalahan, tapi anak itu tidak bersalah." “Pernikahan kita akan tetap berlangsung dengan dua syarat.” “Sebutkanlah.” “Aku tidak ingin dunia luar tahu tentang dia. Kedua, dia tidak akan tinggal satu atap bersama kita.” “Baiklah, aku akan menyetujui syaratmu.” “Kalau begitu, ayo kita makan siang,” ajak Lani. “Saya tidak ada waktu, Jony sedang memesan makan siang.” “Aku temani kamu makan siang disini.” “Ya.” Jony sudah kembali membawa du kotak makan siang dan jus. Kedua orang itu makan seperti pasangan ad umumnya sekekali Lani akan menyuapi Hero dengan makannya begitu juga sebaliknya. Setelah Lani pergi Hero segera menelpon Nandini, saat ini wanita itu sedang fokus membuat laporan akhir untuk bulan ini. Dia melihat itu adalah nomer baru dan segera mengangkatnya, “Hallo.” “Kenapa kamu mengganti nomer mu?” “Ingin saja, dari mana kamu mendapatkan nomerku?” “Menurutmu?” Nama Rangga tertulis dibenak Nandini, pasalnya Rangga tidak tahu tentang kekacauan yang terjadi antara dia dan Hero. “Mengapa kamu menelpon ku?” “Dua hari setelah hari pernikahanku dengan Lani, kita akan menikah.” “Hahaha, jangan bercanda Hero.” “Aku tidak bercanda aku serius, Lani sudah mengetahui perihal kehamilan mu dan dia menyetujui pernikahan kita.” “Kalian memang tidak masuk akal, aku menolak.” Nandini langsung mematikan telpon Hero bahkan ponselnya juga dia matikan. Hero bergumam, "Cuma dia yang selalu memperlakukanku seperti ini. Apa yang kurang dariku? Aku jauh lebih unggul dari Dony." Jony yang mendengar berucap, "Yang kurang bukan kmu tapi perasaan Nandini, dia tidak mencintaimu." "Tidak semua wanita yang berkencan denganku mencintaiku, tapi mereka masih bersikap manis padaku karena aku tampan dan mapan." "Nandini bukan golongan para jalang seperti kekasih-kasihmu yang lain." "Entah, lama-lama di membuatku stress. Dini hari besok aku harus berangkat ke Bandung." ... ... Keesokan harinya, Nandini dan Sarah sedang memasak beberapa makanan untuk menemani hari weekend, sedangkan Yoko menjaga putranya. Sarah selesai memotong beberapa buah dia mengantarkannya kepada Yoko dan putranya. “Ini Mas buahnya.” “makasih, Mama cantik,” ucap Yoko sambil mencium pipi Sarah. Kemudian dia mendekatkan putra mereka agar mencium pipi Sarah juga. Sarah terlihat sangat senang dan membalas mencium pipi suami dan anaknya. Nandini tersenyum melihat kebahagian mereka, tanpa sadar dia membayangkan suatu saat dia juga akan memiliki keluarga yang bahagia seperti mereka. Nandini memegang perutnya yang masih rata dan berucap, “Dimasa depan, Mama akan berusaha memberimu kebahagian walau mungkin kamu tumbuh tanpa ayah.” “Apa yang kamu pikirkan,” ucap Sarah yang sudah kembali ke dapur. “Aku memikirkan masa depanku dengan anak ini.” “Apakah pria itu sama sekali tidak ingin bertanggung jawab terhadapmu.” "Kemarin dia mengatakan ingin menikahi ku." "Jadi apa jawabanmu." "Tentu aku menolak." "Kenapa?" “Itu tidak mungkin Sarah, tiga hari lagi dia akan menikah. Jika aku menikah dengannya aku hanya akan menjadi pelakor. Dan juga aku tidak siap dan juga tidak mencintai dia,” Jawab Nandini terlihat tak berdaya. “Pernikahan memang butuh cinta, karena menikah itu jalan untuk mendapatkan kebahagian. Namun cinta juga bisa dipupuk saat kalian bersama." "Aku tidak membutuhkan cinta atara pria dan wanita, Sarah," ucap Nandini. "Aku tahu kamu masih mengalami Gamophobia, namun pikirkan juga bayimu. Dia butuh pengakuan dari ayahnya." “Tidak tahu, aku tidak ingin memikirkan masalah ini. Lebih baik kita masak saja.” Somai sudah dimasak, soto babat hampir matang dan kue brownis masih dikukus. Baby Yasa mulai merengek, Sarah langsung mencuci tangannya dan berucap, “Aku mau ngasih baby Yasa ASI dulu, kamu bisakah menyelesaikannya sendiri.” “Ya, ini cuma nunggu masakannya mateng.” Sarah mengambil baby Yasa dari gendongan Yoko dan membawanya ke kamar, tiba-tiba bel pintu berbunyi, “Ting tong ting tong.” Yoko langsung pergi untuk membuka pintu, dan tamu itu adalah Hero. Yoko pernah bertemu dengan pria ini sekali saat pesta ulang tahun Rangga 2 tahun lalu. “Selamat pagi Mas Yoko, saya kesini untuk bertemu Nandini.” “Apa kamu ingin memaksanya kembali ke villa mu lagi?” “Ya, tapi tidak hanya itu, saya juga ingin membicarakan tentang pernikahan kami.” “Kamu akan menikahinya secara sirih atau sah dimata hukum juga?" "Keduanya, saya sudah menyampaikan niat ini tapi..." "Dia menolak," ucap Yoko meneruskan ucapan Hero. "Apa dia sudah memberi tahu kalian?" "Saya belum tahu. Silahkan masuk saya akan memanggilkan Nandini." Hero duduk diruang tamu, Yoko kembali ke dapur menghampiri Yueri. "Yueri ada tamu untuk mu." "Siapa kak?" "Lihatlah saja dulu." "Sebentar," Nandini mematikan kompor yang sedang memasak soto. "Kak, lima menit lagi tolong angkat bronisnya." "Ya." Nandini segera berjalan ke ruang tamu, setelah melihat tamunya membuat langkahnya terhenti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN