Tak berapa lama mereka sampai di rumah Aira dan Wafda. Di sana sudah standby dokter Nimal. Aira langsung dibawa ke master bedroom. Terlihat wajah ketegangan di sana. Dokter Nimal langsung memeriksa keadaan Aira. Wajahnya pucat pasi, dan terlihat bengkak di bibirnya. ‘Aku tidak perduli dengan apa yang Lando lakukan padamu. Tapi yang pasti satu hal, jika kamu terluka aku tidak akan memaafkan diriku dan tentunya aku harus membuat pelajaran lagi dengan lelaki brengseeek itu!’ gumam Wafda tak henti menyalahkan dirinya dan cemas terhadap keadaan Aira. “Bagaimana keadaannya dok?” tanya Wafda begitu melihat dokter Nimal memasukkan stetoskopnya ke dalam tas. “Aira, sepertinya terkena panic attack. Tapi mudah-mudahan ini tidak berangsur parah. Saya akan memberikan obat dan mohon unt

