Lando sudah berhasil menanggalkan baju piyaman Aira yang berbahan satin berwarna biru muda itu. Hanya meninggalkan braa berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulitnya yang mulus. Bekas luka yang ia dulu goreskan pada bagian dalam lengan kanannya terlihat masih ada di sana dan takkan mungkin menghilang. Lando semakin berkabut begitu melihat dua bukit kembar wanita itu yang padat dan berisi terpampang di hadapannya. Ia mulai mengeksplor kulit gundukan kenyal yang menjadi salah satu dirinya tertarik pada wanita di bawahnya ini. “Lando jang … an … aku moh … on lepaskan aku.” Aira mencoba memohon lagi sambil menahan gairaah dan kenikmatan yang sedang Lando berikan pada dua bukit kembar yang sedang disesapnya. “Jangan apa Sayang, heemm?” tanya Lando sambil memainkan lidahnya di pucuk buki

