Anak buah Albert pergi dengan membawa kantung-kantung belanjaan yang baru saja diantarkan oleh pa Iman. Setelah mereka pergi, Albert menghadap pa Iman lagi dan sedikit beramah tamah dengan lelaki yang sudah menyelamatkan nyawa Aira, adik kesayangannya. “Bapa sudah makan?” tanya Albert. “Belom Ndan,” jawabnya sedikit ragu harus berkata jujur atau berbohong. “Ayo makan bersama kalo gitu, Pa.” Kata Albert mempersilahkan pa Iman untuk masuk ke ruangan yang tak jauh dari ruang tunggu. “Tidak usah Komandan, saya tidak enak. Nanti malah merepotkan,” katanya merasa sungkan dengan inisiatif Albert yang menawarkannya makan siang bersama. “Ga perlu sungkan Pa. Hayo!” ajaknya kemudian merangkul pa Iman dan membawanya ke ruangan Albert yang ternyata sedang ramai oleh beberapa tem

