“Ap ...” tanyanya terputus begitu Wafda dengan sukses menempelkan bibir merahnya kepada bibir Aira yang sedari tadi menggodanya. Lelaki itu sudah tidak tahan lagi untuk mencium wanitanya. Aira bahkan naik ke atas pangkuan Wafda dan semakin memperdalam ciuman mereka dengan penuh kelembutan dan tidak terburu-buru sama sekali. Bunyi cecepan terdengar dan tak lupa lelaki itu juga bermain di area sensitif pada leher wanitanya. Ia ingin menggodanya. “Geli Sayang!” kata Aira yang kini sedang protes karna lidah Wafda menari-nari di atas kulit leher wanitanya. Wafda tak menghiraukan protesnya Aira. Ia terus saja melakukannya untuk menggoda Aira dan semakin membuat wanitanya menggelinjang. “Kamu harus berjanji dulu untuk tidak menunda pertunangan kita. Baru aku

