Setelah lelah berkeliling di rumah barunya, Aira duduk di balkon master bedroomnya yang langsung menghadap hamparan sawah yang sekarang sudah rata berwarna kuning. Sesekali padi-padi itu bergoyang mengikuti arah angin yang membawa mereka. Sungguh suasana siang itu terasa sejuk dan pemandangan di sana membuat siapa saja betah dengan ke asrian pemandangan yang ada di hadapannya saat ini. Bu Nani mengantarkan secangkir coklat hangat untuknya. Begitu sampai, Aira langsung menyesapnya untuk merasakan kenikmatan coklat hangat buatan bu Nani. Aira langsung tersenyum begitu sesapan pertamanya yang merasakan kenikmatan yang berbeda dengan coklat hangat buatan bu Nani.
“Ehmm … ini enak banget Bu.” Puji Aira pada bu Nani yang sedang menata toples yang berisi biskuit sandwich coklat dengan krim vanila yang menjadi biskuit favorite Wafda di meja.
“Ini ada resep khusus Ra, nanti kalau mau ibu bisa ajarin kamu.” Ujar bu Nani ramah.
Aira mengangguk lalu menyesap sekali lagi coklat hangatnya sebelum perhatiannya kembali ke laptop rose gold kesayangannya yang berada di depannya. Wafda masih berada di kamarnya dan nampaknya lelaki itu sedang begitu lelah hingga meninggalkan Aira dalam mimpinya. Begitu bu Nani keluar dari kamarnya, Wafda mengerjapkan matanya dan mencari Aira yang ternyata sudah bangun lebih dulu dari tidur siangnya.
“Kok udah bangun duluan?” Wafda mencium kulit leher Aira dan memeluknya dari samping.
Lelaki itu bahkan menaruh dagunya di bahu milik kekasihnya yang sekarang sedang asik dengan keyboard di laptopnya.
“Udah cukup istirahatnya. Aku harus selesaikan deadline novelku.” Ujar Aira dengan wajah tak berpaling dari layar laptopnya.
“Ok, aku mandi dulu kalau begitu. Kamu mau makan malam di rumah atau kita keluar?” tanya lelaki itu sambil bangkit dari duduknya.
“Bagaimana kalau di rumah saja? Aku lagi malas keluar.” Aira menatap lelaki itu kemudian tersenyum sebentar, mencium punggung tangan lelaki itu beberapa kali.
* * * * *
Keesokan harinya, sore itu mereka ada janji temu dengan teman Wafda yang seorang design interior yang kini menetap di Bali. Ketika Aira sedang memasak untuk camilan di meeting itu, seseorang memencet bel. Wafda kemudian membukakan pintu dan ternyata kini ia sedang berbicara dengan seorang wanita yang entah siapa. Kedengerannya perbincangan mereka begitu akrab. Aira yang sedang menata camilan itu di kitchen island penasaran dengan kehadiran orang yang kini berbicara dengan kekasihnya. Karna rasa penasaran yang begitu besar menyelimuti hatinya Aira berjalan dengan perlahan dan kemudian melihat dengan siapa Wafda berbicara.
Tampaknya wanita dengan baju crop tee warna hijau yang memperlihatkan pusarnya yang ditindik dan dipasangkan anting di sana sedang ingin bermanja-manjaan dengan kekasihnya. Tapi sayangnya, Wafda melerai lagi dan lagi SAAT sentuhan tangan wanita itu mendarat pada tubuhnya. Bahkan Wafda terlihat sangat tidak nyaman dengan apa yang sedang dilakukan wanita di hadapannya.
“Aku kangen banget loh sama kamu. Kok kamu ga ada kabarnya sama sekali sih,” kata seorang wanita dengan tubuh semampainya sambil bergelayut mesra di lengan Wafda.
“Apaan sih? Lepasin deh, lagi ada calon istri gw. Gw ga mau ya sampe ada masalah sama dia.” Kata Wafda risih lalu melerai pegangan tangan wanita itu lagi dan lagi.
Aira melihat di balik tembok dan mendengar percakapan mereka. Hatinya seperti tertikam pisau, begitu sakit dan perih yang ia rasa. Sebisa mungkin ia tahan air matanya itu.
“Siapa Sayang yang datang?” kata Aira sambil berusaha tersenyum.
Wafda tersenyum lega karna melihat Aira datang dan menyelamatkannya.
“Temen aku Sayang, kenalin.” Kata Wafda yang kali ini benar-benar bisa meloloskan diri dari Manda dan merangkul Aira yang kini berada di sampingnya.
“Kenalin gw Manda,” katanya memperkenalkan diri sambil tersenyum.
Suara manjanya kini tak terdengar lagi dari bibir seexynya saat ketika dirinya bersama dengan Wafda tanpa Aira.
“Aira,” ucapnya memperkenalkan diri.
Setelah menerima ajakan Aira untuk bersalaman. Wanita yang menatapnya di hadapannya itu seakan ingin menelanjanginya karna tatapannya yang begitu menusuk dan tajamnya.
“Ok … karna gw ga bisa lama-lama gw balik ya. Yang penting gw udah bisa ngeliat si tampan ini,” lalu mencolek dagu Wafda di depan Aira yang melihatnya dengan geram.
Manda memandang Aira dengan tatapan sinisnya seakan tak mau kalah. Aira menatap Wafda sebentar kemudian berlalu setelah kepergian Manda. Wafda yang melihat tingkah Aira langsung mengejarnya.
“Sayang, Sayang …” kemudian berdiri menghalangi jalan Aira.
Aira terdiam menatap Wafda yang berada di depannya, merentangkan tangannya. Matanya kini sudah berkaca-kaca, menahan tangisannya.
“Sumpah aku ga bermaksud,” kata Wafda merasa bersalah.
“Ga bermaksud apa?” tanya Aira dengan suara parau menahan perih di dalam hatinya.
Seakan tak terima dengan perlakuan Wafda yang sudah berani mengundang teman wanitanya ke rumahnya.
“Ga bermaksud nyuruh dia ke sini. Aku tadi fikirnya dia ga akan berani ke sini.”
“Oh, jadi kamu yang kasih tau alamat di sini?” Aira bahkan sudah bisa menebaknya.
Wafda tak menjawabnya.
“Tapi dia beneran ke sini kan? Jangan-jangan kamu sering ketemu dia selama kita berjauhan ya?”
“Ga sama sekali, Ra. Sumpah, kamu tanya aja sama Riman dan yang lainnya jika kamu tidak percaya.”
“Ga penting buat aku, silahkan kamu lakukan apapun, ini rumah kamu. Aku ga ada hak buat ngelarang kamu,” Aira hendak melangkah karna sudah muak dengan pembahasan ini, namun Wafda mencekal langkahnya dengan mencengkram lengannya.
“Jelas kamu punya hak, Ra. Ini rumah kamu. Aku belikan ini untuk kamu dan kamu juga yang akan menjadi bagian dalam hidupku.” Wafda sudah berkaca-kaca.
Terlihat lelaki itu sudah menahan amarah sekaligus ketakutan.
“Sudahlah Ka, kamu berhak melakukan apapun di sini.” Kemudian menepis tangannya dan berlalu.
Kalau Aira sudah seperti ini, maka ia tidak bisa mengganggunya. Ia berusaha memberikan waktu sejenak sebelum meeting dengan design interior.
* * * * *
Aira memasang hetset portablenya lalu membuka laptop rose gold kesayangannya. Kemudian ia mendengarkan beberapa lagu. Ia kemudian membiarkan telinganya dimanjakan oleh suara Demi Lovato yang sedang menyanyikan lagu tell me you love me. Aira bahkan tak kuasa menahan air mata yang sudah membasahi pipinya. Ia memeluk sendiri tubuhnya dan sedikit membenamkan wajahnya. Wanita itu tak ingin isak tangisnya terdengar oleh Wafda kekasihnya. Jadi ia menggigit sendiri bibir bawahnya yang nyaris berdarah karna terlalu kencang.
Perih dan sangat sakit ia merasakan hatinya saat ini. Hatinya terasa seperti tercabik-cabik dan tak menyangka jika kekasihnya itu sudah berani melakukannya di depan matanya. ‘Ya Tuhan, apa Lando dan Wafda sama saja? Apa mereka berdua memang sama-sama breengseknya? Sungguh hati ini sakit sekali Tuhan. Aku bahkan tak bisa mengerti kenapa Wafda tega melakukan ini padaku. Kenapa aku bisa secemburu ini? Apa Aira yang dulu sangat mencintai Wafda sampai begini? Aku cuma ingin yang terbaik untuk hubunganku dan Wafda. Jika memang Wafda bukan orang yang tepat untukku. Aku mohon untuk jauhkan Wafda dariku ya Tuhan. Aku ga mau menahan sakit, lebih dari ini.’ Katanya dalam batin sambil terus menangisi keadaannya saat ini.
Wafda menghamipiri Aira dan melihat gadis yang sangat ia sayangi itu sedang menangis dan menundukkan kepalanya di sudut balkon. Kemudian ia memeluknya. Aira yang sadar ada tangan yang memeluknya langsung mengangkat wajahnya.
“Maafin aku Aira.” Kata Wafda sambil memegang pipi Aira yang sudah dibasahi oleh air matanya yang mengalir deras. “Astaga! Bibir kamu berdarah!” Wafda membeliakkan matanya begitu melihat bibir Aira yang berdarah karna ia gigit sendiri karna takut terdengar suara isak tangisnya.
Aira memalingkan wajahnya dan mengusap bibirnya sendiri yang masih mengucurkan darah. Wafda langsung berlari ke arah walk in closet yang tersedia kotak p3k yang sengaja di pasang di sana. Ia mengambil beberapa peralatan untuk mengobati lukanya. Setelah selesai mengobatinya. Wafda membawa Aira ke pelukannya. Aira sudah lelah memberontak karna nyatanya lelaki itu terus saja memintanya untuk tidak menolaknya. Karna sudah lelah membrontak akhirnya Aira menurut, walaupun masih malas untuk bicara dengannya.
“Aku ga bisa Ka, ngeliat kejadian seperti itu. Dan itu kelemahanku. Aku ga bisa melihat kamu bersama dengan wanita lain. Sumpah! Aku ga bisa seperti ini.” Kata Aira yang masih tak berhenti dengan air matanya.
“Maaf,” ucap Wafda lirih.
“Apa kamu sering bertemu dengan dia?” tanya Aira yang kini berusaha sekuat tenaga mempersiapkan dirinya agar tidak semakin jatuh.
“Ak … aku …” katanya terbata.
“Kalau memang kamu udah bosen sama aku, bilang aja. Aku ga masalah. Mungkin sudah saatnya aku melepaskan kamu.” Kata Aira yang masih menangis dalam pelukannya.
“Engga, sumpah! Aku ga bosen sama kamu Aira. Aku sayang kamu. Aku janji ga akan begitu lagi. Maafin aku ya Sayang.” Katanya kemudian memeluk Aira.
Untuk beberapa saat, mereka berpelukan. Namun entah apa yang difikirkan Aira, ia kemudian melepaskan pelukan yang terasa sangat nyaman itu.
“Boleh aku istirahat dan menenangkan diriku?” kata Aira dengan suara paraunya kemudian berjalan menuju tempat tidur.
Kepalanya mulai terasa sakit dan ia tak ingin Wafda malah membawanya ke rumah sakit. Wanita itu tak ingin membuat kekasihnya menjadi khawatir. Wafda hanya terdiam melihat Aira dan dalam hatinya hanya meruntuki kebodohan yang ia lakukan hari ini.
* * * * * *
Di sebuah resto yang terletak di Jakarta Selatan, seorang wanita sedang menunggu seorang laki-laki yang menjanjikannya untuk bertemu. Di luar cuacanya sedang hujan dan membuat siapa saja yang berada di luar ruangan merasakan dinginnya malam ini. Laki-laki itu datang dengan tergesa-gesa. Ia datang bersama dengan seorang pria lainnya. Setelah melihat orang yang ditunggunya datang, gadis itu langsung berdiri menyambutnya dan kemudian memeluknya.
“Apa-apaan sih lo?” kata laki-laki itu melerai.
“Akukan kangen sama kamu, Wafda. Udah hampir seminggu ga ketemu.” Kata Manda masih bergelayut di lengan Wafda.
“Kalian berdua pacaran?” Riman membeliakkan matanya dan bertanya pada mereka berdua.
Tapi wajah Wafda terlihat sangat tidak nyaman dengan apa yang sekarang dilakukan oleh Manda, bergelayut di lengannya yang sudah beberapa kali ditepis oleh lelaki itu.
“Enggalah, gila kali gw pacaran sama dia.” Tuding Wafda pada Manda yang sekarang malah tersenyum dan mendekatkan bibirnya pada pipi lelaki itu.
“Duh gw engga tau deh … lo pertanggung jawabannya gimana. Awas ya kalo sampe ketauan sama wartawan. Abis lo berdua,” kata Riman kemudian memilih untuk pergi memesan makanan yang diinginkannya.
Setelah Riman pergi, Manda yang sengaja duduk di sebelah Wafda langsung memulai aksinya dengan bergelayut manja. ‘Seperti ga punya tulang saja.’ Cerocos Wafda dalam hati dengan sangat kesal.
“Udah deh lo to the point aja. Lo mau ngomong apa?” tanya Wafda dengan nada ketus dan muka yang tak kalah garang.
“Ihhh … kamu tuh ga ada kangen-kangennya banget sih sama aku. Kan udah dibilang aku mau bilang sesuatu ke kamu. “
“Emang gw ga kangen sama lo. Apaan sih lagian, jangan buang waktu gw deh.”
“Sini deh aku bisikin sesuatu,”
Kemudian Manda mendekatkan bibir ranumnya ke telinga Wafda. Wafda hanya berekspresi datar saja ketika dibisikkan kata-kata di telinga yang sama sekali ga penting menurutnya.
“Suka ga?” tanya Manda dengan wajah sumringah dan memberikan kesan mereka berdua sedang berciuman.
“Biasa aja.” Jawabnya datar.
“Ihhhh kok kamu gitu sih.”
Tak lama kemudian Riman datang dengan membawa makanan yang sudah di bungkus dan siap untuk dibawa pulang.
“Yuk, udah selesai nih.” Kata Riman yang menyodorkan makanan dan minuman yang dipesannya kepada Wafda agar mau pergi dari sana.
Wafda kemudian berdiri.
“Udah deh, gw cabut aja. Asli ngomong sama lo ga penting banget. Nyuruh ke sini tapi cuma ngomong gitu doang yang ga bermutu. Buang-buang waktu aja lo.” Cerca Wafda pada Amanda yang masih tersenyum manja pada lelaki itu.
“Jangan buru-buru dong Sayang. Akukan masih kangen sama kamu. Lagian ngapain sih kamu? Palingan mau ke rumah si Aira-Aira itu kan? Yailah, cantikan juga aku.” Kata Manda makin memeluk erat lengan Wafda yang berisi dengan nada manjanya.
“Jangan ngomong macem-macem lo ya. Gw ga suka lo ngomong aneh-aneh tentang Aira. Dia itu calon istri gw!” ucapnya dengan penuh penegasan.
Setelah Wafda berdiri Manda melihat ke arah seseorang yang sedari tadi memotret kebersamaan Manda dan Wafda secara diam-diam. Mereka tampak terlihat serasi. Orang itu memberikan tanda ok ditangannya dan Manda langsung tersenyum puas.
* * * * * *
Wafda bernafas lega, karna akhirnya bisa lolos dari cengkraman Manda yang membuat ia kesel setengah mati. Memang sih, kedatangannya ke resto tadi karna permintaan Amanda yang mengajaknya ketemuan karna ada sesuatu yang ingin disampaikan dan itu sangat penting. Sebenarnya tidak penting untuk meladeni wanita itu, tapi karna Riman juga ingin cheese burger yang spesial dari resto itu, akhirnya Wafda mengiyakan. Lagipula ia pergi tidak sendirian pikirnya. Jadi jika nanti ada gosip-gosip tentang mereka berdua, Riman bisa membantunya untuk menjelaskan tentang apa yang terjadi.
Sebagai manager yang baik, Riman harus bisa melerai kelakuan Manda seperti yang biasa dilakukan para fansnya yang hampir sama. Riman mengambil kendali kemudi sedan hitam Sclass milik Wafda dan melajukannya ke arah kompleks perumahan tempat Aira tinggal bersama dengan kakanya.
“Lo hati-hati deh sama Manda. Gw denger dia tuh kalo udah suka sama orang, bakalan dikejar terus sampe dapet.” Kata Riman mengingatkan.
“Iya, gw juga belom baikan sebenernya sama Aira. Ini mangkanya gw minta anterin lo ke sini biar gw bisa ngomong lagi. Lo tinggal gw aja. Besok pagi loe jemput gw ya.”
“Iya Boss … tapi lo inget ya Wafd, gw sebagai temen lo ga pengen lo ngecewain Aira. Aira tuh baik banget loh orangnya. Mana sekarang dia lagi sakit gini. Gw ga tega banget sama dia.” Riman mengingatkan Wafda.
“Gw juga ga sampai hatilah mau ngecewain dia lagi. Udah cukuplah yang kemarin di Bali. Walaupun gw juga pikir Manda ga bakalan berani senekat itu datang ke rumah gw. Eh ternyata dia beneran nekat. Gw udah sayang banget sama Aira, Man. Ga pengen ngecewain dia yang udah dianggap anak sama nyokap gw. Gw beneran tulus sama Aira.” Katanya sambil menatap jalanan di depannya.
“Baru kali ini gw liat lo beneran jatuh cinta Wafd. Setelah sekian lama gonta-ganti pacar. Eh ujung-unjungnya lo balik ke sobatnya adik lo sendiri. Kenapa ga dari dulu aja.” Riman terkekeh pada kalimat terakhirnya. ”Please jangan kecewain Aira ya, Wafd. Gw, anak-anak Agustus Band dan juga boss kita si papih udah setuju banget lo sama Aira. Apalagi lo tau kan kalo si boss penggemar beratnya sih Aira.”
Wafda mengangguk dan tersenyum tulus. Dibayangannya hanya ingin secepatnya bertemu dengan Aira dan melepas rindunya yang bertumpuk setelah seminggu ga bertemu.
* * * * * *
Sesampainya di depan rumah Aira, Wafda dan Riman langsung turun dari sedan mewahnya. Riman ingin menyapa Aira secara langsung. Semenjak kejadian kecelakaan itu, Riman belum bertemu Aira secara langsung dan melihat keadaannya. Hanya setiap hari pasti Riman menyapa ketika Wafda dan Aira melakukan video call.
Bel rumah dibunyikan dan bi Siti, salah satu ART di rumah itu membukakan pintu untuk mereka. Bi Siti langsung mempersilahkan Wafda dan Riman masuk ke dalam rumah begitu sudah mereka dipesilahkan masuk. Wafda diantarkan Bi Siti ke kamar Aira. Sedangkan Riman duduk di ruang tamu.
Tepat di depan kamar Aira, bi Siti mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk. Bi Siti masuk terlebih dahulu sambil meletakkan botol minum berisi air putih di atas naknas, juga membawa botol yang sudah kosong. Wafda masuk setelahnya. Aira masih belum sadar karna ia mengenakan hetset dan fokus dengan laptop kesayangannya. Wafda masih terus memperhatikan Aira dan duduk di tempat tidur milik kekasihnya. Setelah 2 menit memperhatikan Aira yang masih juga tak sadar dengan kehadirannya, akhirnya Wafda memeluk tubuh Aira dari belakang. Wafda sudah tak sanggup lagi menahan rasa rindunya pada wanitanya. Aira masih bersikap dingin setelah kejadian di Bali waktu itu. Sudah mulai jarang bercerita panjang lebar seperti biasanya. Bahkan untuk mengirim pesan singkat saja, harus Wafda yang memulainya terlebih dahulu.
“Sayang, kok serius banget sih?” kata Wafda sambil memeluk Aira dari belakang.
“Astaga,” Aira terkejut.
“Kaget ya?”
Aira mengangguk sambil tersenyum senang namun masih tetap tidak seperti biasanya, ia berusaha untuk sedikit menjaga jarak dengan kekasihnya.
“Masih marah ya sama aku?” tanya Wafda yang kini duduk di bangku sebelah Aira.
“Engga, hanya saja masih belum bisa terbiasa lagi dengan keadaan semula. Aku takut kehilanganmu,” wajah Aira berubah menjadi mendung.
“Maafin aku ya Sayang,” kata Wafda kemudian memeluk tubuh kekasihnya lagi.
Aroma parfum yang manis mengoar dari baju Wafda. Ini jelas bukan parfum yang biasa Wafda kenakan. Aira mencium dan menghafalkan wangi parfum yang terasa manis itu sambil terus menanggapi ucapan lelakinya. Setelah memastikan benar-benar dari penciumannya. Aira langsung menyudahi pelukannya itu. ‘Astaga parfum siapa ini, Wafda?’ batinnya bertanya-tanya dan seolah ingin berteriak.
“Kamu dari mana?” Aira langsung bertanya setelah berhasil mengingat-ingat yang parfum maskulin yang biasa Wafda kenakan.
“Dari apart trus ke resto. Beli fettucine buat kamu. Kamu udah makan belum?” Wafda menjawab pertanyaan Aira dengan jujut.
“Aku belum makan. Kamu yakin dari apart trus ke resto? Ga mampir ketemu cewe dulu?” tanya Aira dengan wajah yang sedikit cemberut.
Aira juga tak mau melihat wajah Wafda. Ia merapikan tulisannya dan berharap Wafda tak mengatakan hal-hal yang membuatnya sedih dan ingin menangis lagi.
“Ya enggalah …” katanya berbohong sambil tersenyum.
“Bohong banget,” Aira kemudian menaruh pulpennya kembali ke raknya.
“Iya aku bohong, Mba-mba waitressnya kan cewe Sayang hahaha …“ sambil tertawa garing.
“Oh” kata Aira datar, ia memilih untuk tidak menanggapi celotehan kekasihnya.
Wafda mendekatkan wajahnya ke wajah Aira. Dan beberapa detik kemudian, bibir mereka berdua menyatu dengan sempurna. Aira berusaha memberontak dari kungkungan tangan Wafda yang beberapa detik sebelumnya telah mengurungnya dalam pelukannya. Namun sayangnya, ciuman itu terlalu menuntut dan rasanya ada sesuatu yang membuatnya tak ingin melepaskan bibirnya yang sudah terlanjur terpaut dengan sempurna. Aira melepaskan ciuman itu terlebih dahulu dan duduk di tempat tidurnya.
“Kenapa?” tanya Wafda sambil berlutut di depan Aira.
“Ga apa-apa,” katanya sambil memalingkan wajahnya menahan air matanya.
“Aku ga lihat kamu ga apa-apa loh. Please jangan bohong. Kita kan sudah janji untuk saling terbuka Aira,” kata Wafda memohon.
“Kamu ke sini sama siapa?” mengalihkan pembicaraan kemudian menatap manik mata coklat milik kekasihnya yang sangat ia rindukan.
“Riman,” kata Wafda. “Oh iya aku lupa main tinggalin dia di bawah aja. Katanya dia mau ketemu kamu, lihat keadaan kamu.” Kata Wafda menepuk jidatnya.
“Ayo turun,” kemudian berdiri dan mengajaknya untuk menemui managernya itu.
* * * * * *