NINE

2878 Kata
                    Jadwal Wafda semuanya sudah selesai. Kemudian ia menelpon Aira yang sedari tadi sudah menunggunya. Aira mulai membiasakan diri untuk berkomunikasi jarak jauh dengan Wafda. Karna sejak keluar dari rumah sakit dan sebelum Wafda pergi lagi ke Singapur. Wafda selalu berada di sampingnya dan smartphonenya terabaikan. Mereka banyak menghabiskan waktu bersama berdua dan lagi-lagi lelaki itu bercerita tentang banyak hal kepada wanitanya. Bahkan ketika lelaki itu masih belum kembali ke Singapur, sebelum tidur Wafda menceritakan tentang bagaimana bucinnya Aira pada Wafda dan hingga membuat Wafda jatuh cinta kini padanya. Bagaikan dongeng sebelum tidur, Wafda menceritakan semuanya. Tak cuma tentang hubungan mereka, tapi ia juga menceritakan tentang keluarga Aira yang begitu menyayanginya dengan tulus.   “Hai Sayang,” sapa Wafda ketika video callnya dijawab oleh Aira. “Hai,” wajah Aira begitu berbinar begitu melihat lelaki tampan itu kini berada di sambungan video callnya. “Gimana terapi kamu hari ini? si dokter itu ga ngegombalin kamukan?” tanya Wafda dengan nada cemburunya.                 Terdengar di belakang lelaki itu, banyak suara yang menggoda lelaki itu karna begitu jelas terdengar cemburu.  Aira yang mendengar godaan dari teman-teman kekasihnya hanya bisa tertawa melihat lelaki itu jadi salah tingkah sendiri dan meminta teman-temannya itu untuk diam dan terus menggodanya. Tapi sepertinya mereka tak mengindahkan peringatan lelaki tampan itu yang akhirnya berujung Wafda harus pindah ke balkon kamarnya. “Udah puas ketawanya?” tanya Wafda yang sekarang malah jadi geram. “Hehehe, iya Sayang aku puas banget …” Aira masih sedikit terkekeh dengan kelakuan kekasihnya yang semakin menggemaskan. “Kamu belom jawab pertanyaan aku, loh.” Ucap lelaki kembali lagi ke inti pertanyaan mereka. “ Aku ga ngapa-ngapain kok, kamu tenang aja.” Aira tersenyum. “Please jangan tersenyum seperti itu di depan lelaki lain.” Peringatkan lelaki yang kini sedang terbakar cemburu. “Ok-ok aku akan melakukan ini jika di depan lelaki lain.” Ujarnya sambil mengerucutkan bibirnya seperti orang sedang kesal. “Ih, jangan. Nanti yang ada kamu dicium,” protesnya lagi. “Astaga aku harus bagaimana Wafda Sayang?” Aira kini bingung dengan lelaki itu.                 Wafda tersenyum. “Kamu juga jangan tersenyum seperti itu.” Aira kini yang protes.                 Wafda terkejut karna kini wanita itu yang protes padanya. Lalu, mereka melanjutkan obrolan tentang apa yang dilakukan hari ini dan tak terasa sudah 1 jam mereka melakukan video call.  “Tadi baru beberapa scene aja. Besok lagi, besok juga udah mulai rekaman untuk persiapan album selanjutnya.” “Kaliankan baru ngeluarin album. Kok udah mulai recording lagi?” “Iya,” “Kejar setoran ya Mas?” kata Aira sambil terkekeh. “Iya, biar cepet bisa beliin kamu rumah di Bali.” “Bali?” tanya Aira yang tiba-tiba menampakkan wajah kagetnya. “Oiya, aku lupa cerita bagian yang ini. Waktu kita liburan terakhir kali ke Bali. Kita sempet jalan-jalan liat rumah di Bali. Kamu, udah setuju buat nempati rumah yang di Bali setelah kita menikah nanti. Rencananya setelah nikah, kita mau tinggal di sana. Ehmm … sebentar aku kasih liat,”                 Kemudian Wafda mengambil tabletnya dan menunjukkan foto-foto rumah yang mereka sukai itu. Rumah yang bertemakan modern tropis dan scandinavian itu tampak sangat menghangatkan hati Aira. Aira sangat sumringah dengan ditunjukkan foto-foto itu. “Kamu seriusan Sayang?” tanya Aira dengan wajah berbinar.   “Iya, sukakan? Mudah-mudahan sih kamu ga berubah dan malah jadi ga suka sama rumah itu.” Wafda menyimpan tabletnya ke meja di sampingnya. “Suka kok suka,” Aira tersenyum hingga memperlihatkan deretan giginya yang bersih dan putih.   “Syukur deh kalo kamu suka dan ga berubah. Mamahku lagi urus surat-suratnya Sayang. Nanti kalau tour aku udah beres. Dan ada beberapa hari libur kita bisa ke sana untuk nginap. Mungkin juga mulai isi barang-barang sedikit demi sedikit. Jadi nanti pas udah mau pindah kita udah tinggal bawa baju aja. Dan rumah itu aku berikan untuk kamu sebagai hadiah lamaran aku, karna aku lamar kamu di resto pantai ga pake cincin. Jadi aku ganti aja cincinnya pake rumah,” Wafda juga kini tersenyum.                 Ia bahkan membayangkan tinggal berdua dengan Aira sebagai pengantin baru dan mereka pasti akan saling menautkan bibir dan tubuh mereka satu sama lainnya tanpa mengenal waktu. Bahkan mungkin banyak melakukan hal berdua yang mungkin selama berpacaran tidak akan pernah melakukannya yaitu free s*x. Wafda dan Aira memang masih kolot. Tapi sungguh, lelaki itu tidak ingin dibenci Aira untuk melakukan hal yang belum sepantasnya ia dapatkan. “Apa ga terlalu berlebihan kamu ngasih rumah itu untuk aku?” senyuman di wajah Aira memudar dan berganti dengan sedikit mendung. “Hei, kenapa kamu sedih?” Wafda melihat perubahan di wajah kekasihnya. “Engga, apa-apa. Aku merasa seperti wanita spesial sekali. Padahal pasti aku banyak melakukan kesalahan dan juga menyusahkanmu.” “Kamu memang wanita spesial Sayang. Lagi pula mana pernah kamu melakukan kesalahan. Malah aku yang sering membuat kesalahan padamu, bahkan aku baru berani menyatakan cintaku padamu baru-baru ini. Bukankah itu sebuah kesalahan yang fatal?” “Terima kasih banyak, Sayang.” Sambil menyeka air mata keharuannya.  “Sama-sama Cintaku. We’ll be married soon and you’ll be my wife. Aku kangen kamu, Aira. Tunggu aku pulang ya, Sayang.” Katanya tersenyum manis.                 Ucapan lelaki itu sukses membuat Aira yang tadinya sudah mengantuk jadi terharu dan merasa sangat istimewa. Ternyata benar, Wafda begitu mencintainya seperti apa yang diceritakan kedua kakanya dan ibunya tentunya.   * * * * * *                   Dua bulan kemudian                 Aira sudah kembali memulai aktivitasnya kembali. Kondisinya juga semakin lama semakin membaik seperti apa yang dikatakan oleh dokter Bagas. Dokter itu sepertinya begitu telaten untuk menghadapi Aira. Bahkan ia juga sepertinya berharap jika Aira putus dengan kekasihnya yang selalu dibanggakannya itu. Tapi apa mau dikata, dokter Bagas tidak mungkin mengharapkan Aira yang sekarang sudah memiliki kekasih dan sebentar lagi dikabarkan akan menikah dengan Wafda, gitaris Agustus Band yang terkenal dan sangat fenomenal dengan prestasi yang mereka dapatkan. Tentunya karya mereka yang selalu menjadi hits.                 Hari itu Aira dan Maia dijadwalkan untuk pergi Kalimantan untuk melakukan meet and greet yang sempat tertunda. Walaupun belum sepenuhnya pulih tapi Aira dibantu oleh Maia untuk mengingat apa saja yang harus dilakukannya. Sedikit demi sedikit memang sudah mulai kembali. Tapi belum semuanya, karna memang tidak semua memori yang dimiliki Aira terlupakan begitu saja. Wanita itu hanya mengingat kejadian tertentu secara acak dan sedikit demi sedikit sudah mulai pulih dengan bantuan keluarga dan juga tentunya kekasihnya yang selalu tak lupa untuk mendukungnya terapi dan rutin meminum obatnya.                  Semua pembacanya langsung bersorak gembira dengan kembalinya Aira untuk melanjutkan meet and greet dan promo novelnya. Mereka benar-benar rindu pada penulis novel romantis yang semua tulisannya selalu mengena di hati pembacanya. Mereka bahkan takkan bisa menggantikan Aira dengan penulis lain karna keramahan Aira ketika bertemu langsung dengan para penggemarnya. Aira begitu bisa menggambil hati para pembacanya.                 Seselesainya dari meet and greet dengan para pembacanya yang sangat menyambutnya dengan baik. Aira kemudian kembali ke hotel untuk beristirahat. Beberapa menit sebelum meet and greetnya selesai ia mengeluhkan sakit di kepalanya lagi. Tapi akhirnya ia bisa menyelesaikan meet and greetnya dengan sempurna. Dokter Bagas juga sudah mewanti-wanti Aira jika sakit di kepalanya akan mungkin sering datang setelah ia melakukan terapi ini. Itulah sebabnya Aira juga dipesankan untuk harus ada minimal 1 orang yang selalu mendampinginya dan untuk sementara jika ingin menyetir sendirian harus ada yang mendampingi.   “Nih obatnya, Ra.” Kata Mba Maia sambil menyerahkan beberapa butir obat yang harus diminum Aira untuk meredakan sakit kepalanya.   “Makasih, Mba.” Kemudian merebahkan diri. “Kamu kecapean ya Ra. Aduh, maaf ya.” Ujar Maia setelah menerima gelas yang sudah tandas isinya karna Aira habiskan. “Engga apa-apa kok. Mba jangan minta maaf mulu ah,” Aira tersenyum. “Ya udah istirahat dulu deh. Nanti abis ini aku pesen makan malamnya di kamar aja ya. Biar kamu ga perlu keluar kamar. Besok sudah fit lagi.” “Mba Maia aja yang makan ya. Aku ga laper. Aku minta tolong pesenin buah aja Mba kalau tiba-tiba lapar. Sama yoghurt buat besok pagi.” “Oke kalau begitu, aku ke bawah dulu. Kamu engga apa-apa kalo aku tinggal sebentar?” tanya Mba Maia memastikan. “Iya, Mba … nanti kalau Wafda telpon bilang aja aku udah tidur ya. Jangan bilang kalau aku sakit ya.” “Iya Sayang.” Kata Mba Maia kemudian memasangkan selimut sampai sebatas daadanya.                   Kemudian ia segera bergegas untuk membeli makan malam dan buah pesanan Aira. Namun baru saja ia melangkahkan kakinya keluar kamar. Dering smartphonenya terdengar dari dalam kantongnya. “Hallo,” kata mba Maia menjawab sambungan telponnya.   “Mba, Aira kok hpnya ga aktif ya?” tanya Wafda begitu mendengar suara Mba Maia. “Ga aktif? oh mungkin lupa charge. Nanti gw periksa ya. Cuma sekarang sekarang gw lagi keluar dulu Wafd. Beli makanan buat Aira.” “Tapi Aira udah selesai sama meet and greetnya?” tanya lagi lelaki itu untuk mencari tahu keadaan Aira. “Sudah,” “Tapi engga ada masalah apa-apakan? Apa Aira sakit?” Wafda langsung to the point dengan perasaan tak enak yang ada di dalam hatinya.                   Deg                 Maia seperti kucing yang tertangkap basah mencuri ikan. Wanita itu bahkan bingung harus menjawab apa, padahal Aira sudah berpesan untuk tidak mengatakan apapun pada Wafda. Tapi ia takut fatal akibatnya dan malah disalahkan jika terjadi sesuatu pada Aira.   “E-engga kok Wafd.” Jawabnya gugup. “Mba Maia yakin? Kita udah komit loh Mba, kalau Mba ga boleh nutup-nutupin keadaan Aira. Karna gwkan ga bisa terus ada di sampingnya,” cecar Wafda karna terlalu ingin mendengar jawaban Maia jika kekasihnya sedang baik-baik saja.                 Maia tak langsung menjawab, ia terus berfikir kata-kata tentang apa yang sudah dipesankan oleh Aira padanya. “Aira … sakit Wafd, barusan aja gw kasih obat untuk pereda sakitnya. Kami baru saja sampai di hotel dan sekarang ia sedang di kamar. Gw dipesankan untuk tidak memberitahukan keadaan yang sebenarnya ke lo. Tapi dia mengeluh sakit di kepalanya aja kok Wafd. Gw pastikan dia akan baik-baik aja.” “Duh, Mba … lo yakin dia ga kenapa-kenapa?” tanya Wafda yang kini terdengar frustasi mendengar cerita manager kekasihnya. “Iya, gw juga akan konsultasikan dengan dokter Bagas untuk meminta saran apa yang harus gw lakukan.” Ujarnya. “Ok, tolong segera konsultasikan padanya dan tolong kasih tau gw perkembangannya. Dan tolong jangan sembunyikan apapun lagi tentang keadaan Aira karna kalau sampe Aira anfall lo orang pertama yang bakalan gw salahin.” Ucap Wafda memberikan peringatan pada Maia. “Iya, Wafd. Maaf,”                                 * * * * * *   “Kamu sakit, Ra?” tanya Wafda begitu Wafda baru saja menghubunginya malam itu. “E-engga … kata siapa?” Aira langsung melihat ke arah mba Maia yang sudah terlelap. “Tolong jangan bohong, perasaan aku sedang tidak enak dan ini berhubungan denganmu.” Ujarnya dengan nada cemas.                 Aira tak menjawabnya. Ia kemudian menyandarkan tubuhnya di headboard ranjangnya. “Ra, kalau sampe kamu terluka aku adalah orang pertama yang tidak akan memaafkan diriku sendiri karna tidak bisa menjaga kamu dengan baik. Tolong, untuk jujur sama aku. Lagi pula kamu sudah berjanjikan untuk selalu memceritakan apapun yang terjadi dan keadaan kamu saat ini. Sekarang jawab pertanyaanku, kamu sakit? Hemmm …” Wafda sedikit membujuk wanitanya untuk mau membuka suara. “Iya, tadi aku sakit kepala lagi. Tapi hanya sebentar dan setelah meminum obat, sakitnya mereda. Kamu ga usah khawatir.” Katanya terdengar gugup dan merasa bersalah. “Mereda? Berarti sekarang masih belum hilang?” tanya lelaki itu mendadak semakin cemas. “I-iya, mungkin sebentar lagi akan sembuh. Lagi pula aku tidak ingin membuatmu khawatir. Kamu jauh dariku, jadi aku tidak ingin mengganggu konsentrasimu bekerja. But, i’m ok Sayang.” Ujarnya berusaha menenangkan Wafda. “Dengan kamu tidak membicarakan keadaanku padamu, kamu malah semakin membuatku khawatir. Aku mohon jangan seperti ini lagi. Kamu sudah konsultasi dengan Bagas?” “Iya. Sudah, mba Maia yang bicara dengannya karna tadi setelah minum obat aku langsung berusaha untuk tidur.” “Kan, kamu menyembunyikan lagi keadaanmu yang sebenarnya. Astaga Aira, aku di sini sangat cemas padamu. Tolonglah jangan seperti ini lagi.” “Iya, maaf.” “Ok, kali ini aku memaafkanmu. Tapi berjanjilah ini yang terakhir kalinya kamu melakukan ini,” “Iya Sayang.”                 Obrolan mereka kemudian berlanjut pada cerita apa yang terjadi hari ini. Walaupun masih terdengar agak kesal karna Aira tidak memberitahukan keadaan sebenarnya pada Wafda.   * * * * * *                     Aira dan Wafda sudah berada di depan sebuah rumah. Dari tampak depannya Aira sudah sering melihatnya di foto yang beberapa kali ditunjukkan Wafda. Bahkan lelaki itu mengirimkan beberapa foto rumah itu pada Aira agar wanita itu lebih familiar dengan tempat tinggal mereka berdua. Siang ini mereka berdua sampai di Bali untuk mengambil libur beberapa hari. Kebetulan Wafda memang diberikan libur seminggu sebelum melanjutkan tournya sampai beberapa bulan ke depan. Jadi kemungkinan mereka berdua untuk bertemu masih agak susah kecuali jika memang Aira mau menyusulnya ketika Wafda sedang berada di suatu tempat.                       Begitu sampai di depan rumah masa depan mereka, Wafda menggandeng tangan kekasihnya itu untuk masuk ke dalamnya. Aira tampak begitu tak sabar melihat rumah yang menjadi pilihannya kini sudah bisa menjadi miliknya. Bahkan rumah itu terlihat sangat bagus dibandingkan di foto. Mungkin Wafda sudah meminta seseorang untuk merapikan rumah itu dengan mengecat ulang rumahnya. Karna sekarang rumah itu di d******i oleh warna putih. Walaupun masih kosong, tapi Aira begitu senang dan tak lepas dari senyum sumringah di wajahnya.                 Aira memeluk Wafda begitu mereka sudah berada di ruang keluarga lantai bawah setelah melihat kolam renang yang berada di halaman belakang rumah mereka. Wafda yang mendapatkan perlakuan itu hanya bisa tersenyum karna terlalu bahagia karna wanitanya kini bersikap sangat romantis. “Terima kasih, Sayang. Terima kasih.” Ujar wanita itu setelah Wafda juga kini membalas pelukannya. “Untuk apa berterima kasih?” tanya Wafda yang kini memandang wanita yang kini masih memeluk pinggangnya.                 Tubuh mereka masih saling melekat dan Aira seperti tak ingin melepaskannya. “Untuk semuanya. Aku senang sekali,” Aira kemudian berjinjit dan mensejajarkan wajahnya pada wajah lelakinya. “Pasti kamu mau memberikan hadiah untukku kan?” Wafda sudah geer karna ingin mendapatkan kecupan untuk hari ini dari wanitanya. “Hadiah apa?” tanya Aira kini bingung malah menjauhkan wajahnya. “Sini aku beritahu,” Wafda langsung menggendong Aira menuju meja kabinet di dapur yang sudah ada di sana.                 Wafda kemudian mendaratkan bookong Aira di meja kabinet dan menguncinya diantara tangan lelaki itu. “Kamukan sudah berjanji, jika hanya ada kita berdua saja. Sebagai hadiah kamu akan memberikan ciuman padaku. Di pagi dan malam hari dengan durasi yang panjang dan h0t. Apa kamu tidak ingat juga bagian yang ini?” Wafda mensejajarkan wajahnya.                 Aira menggeleng. “Tapi inikan masih siang, Sayang. Aku berarti tidak harus memberikannya sekarangkan?” Aira tersenyum sambil melingkarkan tangannya di leher Wafda. “Tapi tadi pagikan kamu belum memberikannya,” Wafda kini meminta hadiahnya.                 Aira tersenyum. Wanita itu kini mendekatkan wajahnya dan memulai pagutan bibir mereka. Ketika mereka sedang asyik dengan pagutan mereka, tanpa mereka sadari ternyata ada seorang wanita paruh baya yang sedang berjalan menuju pintu masuk untuk memasuki rumah itu. Begitu pintu slidingnya terbuka wanita itu itu terkejut karna melihat majikannya sedang berpagutan. “Astaga!” ucap wanita itu yang kemudian membalikkan tubuhnya menghadap ke taman.                 Aira dan Wafda yang merasa ada orang lain selain mereka berdua dan mendengar suara orang yang sedang terkejut langsung melepaskan pagutan mereka yang sedang panas-panasnya. “Kita lanjutkan nanti,” bisik Wafda pada Aira yang kini merona karna kepergok dengan bu Nani. “Hi Bu Nani, sudah datang ya?” sapa Wafda sambil mengulurkan tangannya pada Aira untuk membantunya turun. “I-iya Wafd, maaf ya ibu tidak tau kalau kalian sudah datang. Ibu juga ga liat mobil kamu di depan.” Ujar wanita itu kini dengan gugup melihat Wafda.                 Wafda tersenyum, sambil berjalan mendekati bu Nani yang masih bergeming di tempatnya. Lelaki itu juga menggandeng tangan Aira. “Bu, kenalin ini Aira, calon istri saya.” Wafda memperkenalkan Aira pada bu Nani. “Saya Nani, yang akan menjaga dan membersihkan rumah ini, Aira. Ibu senang sekali akhirnya Wafda memutuskan untuk menikah dan serius menjalani hubungan dengan seorang wanita.” Ucap bu Nani yang kini sudah tersenyum dan tak canggung lagi setelah melihat majikannya sedang berpagutan. “Aira, Bu. Senang sekali bisa bertemu dengan Ibu.” Aira menerima jabatan tangan dari bu Nani untuk mengajaknya berkenalan.  “Ibu bisa saja. Sayang, Bu Nani ini adalah orang yang akan mengurus rumah ini dan keperluan kita selama di Bali. Pas aku masih kecil Bu Nani yang mengurus aku dan setelah aku sudah beranjak dewasa Bu Nani resign dari pekerjaannya dan kembali ke kampung halamannya di Bali ini. Sekarang, aku memutuskan untuk membeli rumah di Bali untuk tempat kita tinggal lalu, aku mencoba untuk hubungi Bu Nani dan meminta Bu Nani untuk mengawasi rumah kita selagi belum tinggal di sini. Dan ternyata Bu Nani bersedia dan langsung mengiyakan tawaran dari anak asuhnya ini.” Wafda tersenyum hingga memperlihatkan giginya yang putih. “Tapi ibu hanya bisa pulang pergi untuk saat ini, Ra. Ga apa-apa kan?” Ujar bu Nani menambahkan pernyataan Wafda dan tersenyum. “Tidak apa-apa Bu. Saya berterima kasih sekali karna Ibu sudah mau membantu kami di sini. Semoga Ibu betah ya.” Aira tersenyum dan mengelus punggung tangan bu Nani.   * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN