“Bagaimana dengan keadaan anak saya Dok? Kenapa tadi Aira tidak mengenali kami? lalu, seperti orang asing melihat kami yang berada di ruangan itu tapi hanya kekasihnya saja yang ia kenali?” kata ibu Saira mulai menangis.
“Begini Bu, Aira mengalami amnesia akibat benturan keras yang dia alami di kepalanya. Sehingga mengakibatkan dirinya mengalami amnesia, ia hanya bisa mengingat apapun yang ia senangi. Tapi bukan berarti karna ia tidak suka akan suatu hal maka ia akan melupakannya. Ia hanya mengingat peristiwa secara acak. Kami harus melakukan observasi lebih lanjut untuk kasus anak Ibu ini. Ini adalah amnesia temporary yang dapat terjadi pada orang yang mengalami kecelakaan,” ucap sang Dokter yang berusaha untuk menenangkan ibu Saira.
“Tapi apa ini bisa sembuh?” tanya mba Lia berusaha untuk setenang mungkin karna ibu sudah mulai terlihat panik dengan mendengar penjelasan dokter barusan.
“Kemungkinan sembuhnya bisa lebih besar Bu karna ini sifatnya sementara. Tapi kami harus melakukan observasi dan Aira harus rutin menjalani terapi supaya bisa sembuh. Tapi saya ingatkan jangan terlalu memaksakan Aira untuk mengingat hal yang berat-berat yang membuat dirinya stress dan malah berakibat fatal nantinya pada Aira.” Jelas sang dokter.
“Baiklah Dok, jika memang dengan terapi bisa menyembuhkan dan memulihkan kondisi Aira, kami akan menyetujuinya asalkan Aira sembuh. Tolong bantu sembuhkan Aira Dok,” ibu Saira berucap dan sedikit memohon kepada dokter yang kini menanganinya.
“Saya akan mengusahakan yang terbaik untuk Aira Bu. Saya mohon untuk pihak keluarga bisa membiasakan kondisi yang Aira alami saat ini. Saat ini kita hanya bisa berdoa dan mendukung untuk kesembuhan Aira. Ingat jangan terlalu push Aira terlalu berat agar tidak berdampak fatal untuknya. Baiklah jika Ibu sudah setuju, saya buatkan resep yang harus ditebus dan diminum secara rutin oleh Aira.” Kata dokter sambil menyerahkan secarik kertas yang baru saja ia tuliskan beberapa kata di sana yang sudah pasti ibu dan Lia tidak mengerti bagaimana cara membacanya.
“Terima kasih Dok,” ucap Lia setelah menerima resep obat yang diberikan dokter untuk Aira.
Ibu masih tidak bisa mengatakan apapun selain menitikkan air matanya. Kemudian ibu dan Lia pergi dari ruangan dokter tadi. Lia pergi ke apotek sedanngkan ibu kembali ke ruangan Aira.
* * * * *
Begitu ibu kembali ke kamar rawat Aira, ibu kemudian menemui Aira dengan wajah sedih namun dibuat tersenyum. Di sana, Aira masih dibiarkan duduk tapi masih di ranjangnya. Ia sedang disuapkan makan oleh bude Uli yang dengan sabar menyuapi keponakan kesayangannya. Aira masih saja seperti merasa asing di tengah-tengah keluarganya sendiri. Wafda terus di memegang tangan wanitanya karna Aira tidak mau membiarkan lelaki itu pergi walau sebentar saja. Lelaki itu menurut dan terus saja betah berada di sampingnya dan terus menatap wanitanya dengan penuh rasa rindu yang mendalam. Tampak tak ada obrolan di antara mereka ketika ibu masuk ke ruang rawat Aira, mereka bertiga masih sama-sama terdiam dan takut untuk bicara.
“Bagaimana? apa yang dikatakan dokter, De?” tanya bude Uli pada ibu Saira yang kini berdiri di sampingnya dan menemui Aira.
“Nanti kita bicara ya, Mba.” Ucap ibu tersenyum tipis kepada kakanya itu. “Aira, biar ibu yang suapin ya Sayang.” Lanjutnya bicara pada anaknya yang masih memandangnya.
Aira tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan. Ibu kemudian bertukar posisi dengan bude Uli untuk menyuapi anak tersayangnya. Aira menikmati suapan demi suapan yang ibu berikan dari tangannya. Wanita itu merasakan kebahagiaan dengan sosok wanita yang selalu menyebut dirinya dengan sebutan Sayang dan juga tersenyum ramah padanya walaupun ia tau ada kesedihan tapi Aira merasakan kenyamanan bila dekat dengan wanita itu. Merasa asing sudah pasti, tapi ibu Saira berusaha untuk anaknya tidak membuat keadaannya semakin memburuk seperti yang dikatakan dokter tadi.
Wafda masih menunggu calon ibu mertuanya itu menceritakan yang terjadi dengan diri kekasihnya. Lelaki itu sudah sangat penasaran dan ingin sekali mengetahui tetang apa yang sebenarnya terjadi. Ia bahkan masih terlihat kebingungan apa yang terjadi dengan Aira hingga saat ini hingga membuat dirinya seperti ini.
“Bu, ini obatnya.” Ucap Lia yang baru saja datang dengan mengeluarkan beberapa kantung klip obat yang berisi obat untuk Aira yang baru saja ia tebus.
“Iya Sayang, tolong taruh di situ.” Ucap ibu pada menantunya.
Lia tersenyum dan menuruti ucapan ibu mertuanya.
“Makan yang banyak ya Ra. Biar kamu cepet sembuh, Sayang.” Lia bicara pada Aira yang kini menatapnya.
Ia juga tersenyum membalas senyuman kaka iparnya yang masih juga tidak ia ingat.
* * * * * *
Keesokan harinya Aira diperbolehkan untuk pulang ke rumahnya. Namun ia harus tetap menjalani rawat jalan berupa terapi untuk ingatannya agar bisa kembali dengan normal. Sudah dua hari ini semenjak dirinya diperbolehkan untuk turun dari tempat tidurnya, Wafda selalu mengajaknya jalan-jalan di taman rumah sakit dan menikmati udara pagi dan sore hari berdua. Walaupun hanya Wafda yang ia ingat dan ada beberapa ingatannya tentang Wafda yang terlupakan tetapi lelaki itu dengan sabar meladeni setiap keinganan Aira. Aira bahkan makin terlihat manja pada Wafda dan tak bisa melepaskan lelaki itu untuk sebentar saja. Padahal Aira tidak pernah semanja ini padanya. Yang Aira rasakan, lelaki tampan itu membuatnya merasakan kenyamanan ketika sedang bersamanya.
Willa dan ibu Setya sudah menemui Aira. Mereka juga sedih dengan keadaan Aira yang sekarang ia alami. Sepertinya tadi pagi dokter sudah memberikan kisi-kisi jika Aira diperbolehkan pulang sore ini, tapi masih belum ada kepastian lagi untuknya pulang atau tidak hari ini. Tangan kanan Aira masih menggunakan arm sling untuk menyangga tangannya yang masih belom boleh digerakkan. Tangan kirinya sudah dilepaskan infusan yang tadinya melekat di sana. Setelah puas mengobrol dan Wafda banyak menceritakan banyak hal, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke kamar. Wafda menggendong Aira ala bridal style, katanya ia ingin membawa tubuh wanitanya dan terus merasakan dalam pelukannya jadi ia tidak menggunakan bantuan kursi roda untuk membawanya ke taman rumah sakit.
“Aku sayang kamu,” bisiknya ketika menaiki sebuah lift dan juga masih menggendong Aira.
Aira tersenyum dan mendaratkan kecupan di pipi lelaki itu. Walaupun ada beberapa orang di dalam lift, tapi mereka tidak memperdulikan dengan apa yang terjadi antara dua orang penumpang lift yang sedang dimabuk asmara itu. Sesampainya di kamar rawat Aira, dokter baru saja ingin keluar dari sana. Namun ternyata Wafda dan Aira sampai sambil lelaki itu terus menggendong Aira di depan daada bidangnya.
“Uh, romantis sekali kali kalian.” Puji sang dokter kepada pasiennya.
Aira dan Wafda hanya tersenyum. Lelaki itu langsung menurunkan Aira di ranjangnya dan memakaikan selimut putihnya.
“Aira, sepertinya keadaan kamu sudah lebih membaik. Jadi kamu boleh pulang hari ini, ingat pesan saya ya jangan terlalu stress dan berusaha keras mengingat semuanya. Kamu harus relax menjalani hari-hari kamu. Wafd, dampingi terus Aira. Cuma kamu yang bisa bantu Aira dan dukungan keluarga secara penuh kepadanya.” Dokter Bagas tersenyum dan kemudian mengajak Aira juga Wafda bersalaman.
“Terima kasih ya, Dok.” Aira mengucapkan rasa terima kasihnya pada lelaki itu dan tersenyum ke arahnya.
Senyumannya bahkan terlihat sangat manis dan Wafda malah dibuat cemburu oleh mereka berdua. Wafda jadi senyum sekenanya saja pada dokter yang menangani Aira itu. Dokter Bagas langsung keluar setelah menyalami ibu Saira dan juga mba Lia secara bergantian.
“Seneng ya disenyumin sama dokter Bagas?” ucapnya dengan nada cemburu.
Aira yang sedang minum langsung tersedak oleh ucapan kekasihnya yang kini sedang mengerucutkan bibirnya. Wafda yang mendengar Aira tersedak langsung berdiri dan membeliakkan matanya. Berusaha menolongnya, tapi sudah keduluan ibu Saira.
“Pelan-pelan dong, Ra. Kamu ga apa-apakan?” tanya ibu yang langsung menepuk-nepuk punggung Aira dengan perlahan.
“I-iya Bu, aku udah ga apa-apa.” Aira tesenyum menatap ibunya.
“Ya sudah, ibu mau makan dulu ya. Kamu mau makan lagi?” tanya ibu yang tak jadi melangkah.
“Engga usah Bu. Aku masih kenyang.” Aira tersenyum.
Ibu kemudian pergi setelah mendapatkan jawaban anaknya.
“Kamu apaan sih?” Aira setengah berbisik pada Wafda yang kini merasa sedikit bersalah karna membuat wanitanya tersedak.
“Aku ga suka kamu ngasih senyum-senyum ke cowo lain kaya tadi. Mentang-mentang dia tampan gitu jadi kamu bisa seenaknya ngasih dia senyuman kaya gitu?” Cicit lelaki itu dengan wajah yang masih kesal.
“Kamu cemburu?” tanya Aira dengan wajah menyelidik.
“E-engga … mana ada seorang Wafda cemburu. Fiuhh …” ucapnya dengan wajah masih kesal.
Aira tau jika lelaki itu cemburu padanya dan dokter Bagas barusan. Aira hanya tertawa melihat lelaki itu kini memalingkan wajahnya ke arah lain. Sedangkan di sana hanya ada mereka berdua yang tersisa.
* * * * * *
“Bu, apa Wafda boleh menginap di rumah?” tanya Aira dengan wajah yang sedikit menunduk karna takut.
Ia takut jika permintaannya akan ditolak oleh ibunya.
“Tentu boleh, ibu akan bilang pada Wafda untuk menginap.” Kata ibu Saira yang langsung menyetujui permintaan Aira ketika mereka berdua sudah berada di kamarnya.
Aira tersenyum seraya memeluk wanita paruh baya itu kegirangan. Tak lama seseorang mengetuk pintu kamarnya dan kepalanya menyumbul masuk setelah mendapatkan perintah dari ibu Saira. Aira masih betah memeluk wanita yang telah melahirkannya.
“Bu, makanan untuk Aira sudah siap.” Ujar Wafda dengan senyuman di wajahnya.
“Iya. Wafd sini masuk dulu, ibu mau bicara.” Titahnya.
Wafda menurut dan akhirnya membuka pintu kamar Aira lebar-lebar untuk dirinya masuk. Ia duduk di samping kiri Aira sambil mengamit jari-jari tangan kirinya.
“Wafd, malam ini dan sampai kamu kembali lagi ke Singapur jika kamu mau menginaplah di sini. Liko juga. Kamar tamu akan ibu suruh bibi dan si mbok rapikan untuk kalian istirahat.”
“Apa ga ngerepotin ibu dan keluarga di sini?” Wafda tersenyum ragu.
“Tidak, tentu saja tidak.”
Akhirnya Wafda setuju dengan permintaan ibu. Aira langsung bersorak gembira.
* * * * * *
Dering suara telpon milik Wafda langsung terdengar begitu nyaring ketika Wafda dan keluarga Aira sedang menikmati makan malam. Malam ini keluarganya memesan makanan itali dengan menu-menu yang menjadi favoritenya. Aira beberapa kali terdiam menikmati makanan yang tersaji di depannya. Albert sengaja membeli makanan-makanan itu untuk mengingatkan Aira jika ia sangat menyukai fettucine dan juga pizza. Wanita itu bahkan menggilai dua menu makanan itu dan dalam 3 hari berturut-turut Aira bahkan bisa memakan menu yang sama jika sedang kambuh kangennya dengan dua menu favoritenya itu.
Wafda meminta izin untuk menjawab panggilan masuk ke dalam ponselnya. Setelah mendapatkan izin Wafda pergi ke taman belakang untuk berbicara dengan Riman secara private. Ia tau, pasti Riman ingin menanyakan tentang keadaan Aira. Bahkan Ardian, juga beberapa kali menanyakan kabar Aira. Lelaki itu juga ikut sedih dengan apa yang dialami Aira. Bahkan malah mau sampai menambahkan masa cuti Wafda.
“Giman Aira, Wafd?” tanya Riman begitu panggilannya di jawab.
“She’s fine, but …” kalimat Wafda tercekat.
“But? Kenapa dia?” tanya Riman yang tadinya sudah lega mendengar kabar Aira. Namun terputus dengan kata-kata dari Wafda yang masih terdiam beberapa detik. “Hallo … Wafd,” kata Riman mencoba mencari penjelasan dari Wafda.
“Aira amnesia, Man. Tapi dokter masih observasi keadaan Aira lebih pastinya. Menurut diagnosanya dia kena amnesia temporery. Dia cuma ingat sama gw doang dan hanya ingat kejadian-kejadian secara acak. Gw harap dia bisa segera sembuh. Tolong minta doanya sama yang lain ya.” Kata Wafda dengan sedikit menitikkan air matanya.
“Astaga, apa perlu lo perpanjang waktu?” tanya Riman.
“Ga usah. Ga apa-apa. Pa Ardian juga kemarin udah telpon gw dan mengusulkan hal yang sama. Tapi gw lihat Aira bisa kok sedikit-sedikit gw lepas. Dia bahkan semakin manja sama gw, Man. Gw akan coba kasih dia pengertian. Gw bisa balik ke sana 2 hari lagi. Gw bakalan dampingin dia dari jauh.” Kata Wafda mencoba tegar.
“Kalo lo mau gw perpanjang, ga apa-apa. Nanti gw bilang sama big boss. Yang lainnya juga pasti udah ngerti,”
“Untuk saat ini sepertinya belum, Man. Gw juga punya tanggung jawab sama kalian, ga bisa gw tinggalin kerjaan gitu aja sekalipun Pa Ardian udah ngizinin. Lagi juga di sini nyokap sama adik gw bantu buat jaga Aira. Jadi gw agak tenang. Dan gw bakalan izin sama ibunya dan abangnya untuk kasih izin ke Aira kalau sewaktu-waktu dia mau temuin gw.”
“Ok kalau begitu. Salam ya buat Aira dan keluarganya. Gw tau ini berat buat lo, Bro. Tapi gw yakin Aira pasti akan sembuh,”
“Iya. See you, Man. Minta doanya ya.” Kata Wafda kemudian mengakhiri pembicaraannya di telpon.
Kini Aira sudah tidak canggung lagi dan mulai agak nyaman dengan mereka (keluarganya). Wafda selalu berusaha untuk tetap tinggal di samping Aira. Beberapa kali Wafda melakukan kontak fisik dengan Aira, walaupun agak segan. Wafda memang senang memeluk Aira. Apalagi memegang tangan Aira. Seolah takut ditinggal. Aira menyadari kalau orang-orang di sekelilingnya memang menyayanginya. Ia bersyukur akan hal itu.
* * * * * *
Aira dan Wafda kini tengah berada disebuah taman. Wafda akan pergi besok malam sebelum kembali lagi ke Singapur dan melanjutkan tournya. Beberapa kali Wafda bertanya kepada Aira apakah ia harus tetap di sini mendampinginya atau harus pergi. Sejak ditanya itu, Aira selalu menjawab untuk Wafda tetap pergi dan melanjutkan tournya dan tanggung jawab pada pekerjaannya. Ia tak ingin menjadi penghalang untuk Wafda. Terlihat dari wajahnya Wafda sedih mendengar perkataan Aira. Tapi Aira memastikan untuk tetap berhubungan dengan Wafda dan menjalani hubungannya ini seperti biasanya.
“Kamu yakin ga apa kalo aku tinggal?” tanya Wafda sambil memandang Aira dari samping.
“Ihh, itu terus yang ditanyain. Tadikan udah aku jawab. Aku baik-baik aja di sini, kan ada semuanya yang jaga aku. Aku ga mau menjadi penghalang kamu.” Kata Aira mencoba untuk menenangkan Wafda dan menyentuh pipinya.
“Tapi aku belum puas dengan jawaban kamu, Ra. Sumpah, aku sedih loh.” Kata Wafda dengan wajahnya yang ditekuk.
“Aku juga pengennya kamu di sini Sayang. Tapi kamukan ninggalin aku untuk kerja. Kamu juga punya tanggung jawab selain ngejaga aku. Apa dari dulu aku kaya gini kalau kamu tinggal tour?”
“Gini gimana?”
“Selalu ga mau kamu tinggal. Selalu nangis berharap ga ditinggal sama kamu. Kamunya juga kaya seolah-olah ga mau pisah dan pengen banget aku tahan.” Goda Aira sedikit.
“Engga juga sih, tapi kamu sekarang lebih manja loh sama aku. Kemarin-kemarin engga.”
“Hehehe … oh ya?”
Wafda mengangguk dan tersenyum.
“Kalau aku udah ingat semuanya. Apa kamu bakalan bersikap manis seperti ini terus Wafd?” tanya Aira tiba-tiba menerawang melihat ke langit yang sekarang dipenuhi bintang-bintang yang menaungi mereka.
“Tentu saja. Akukan memang manis, Sayang” Wafda tersenyum dan mencuri ciuman di pipinya.
“Oh ya?”
Katanya berdehem.
“Aku ingin kamu mengingat semuanya lagi, ingat semua kenangan kita. Dan aku akan membuatkan kenangan-kenangan indah lainnya untuk hubungan kita. Mudah-mudahan sikap manisku tetap ga akan kamu lupakan nantinya.” Kata Wafda sambil tersenyum dan ikut memandang ke langit.
Aira tak membalas. Ia hanya tersenyum lalu mencium pipi Wafda.
“Aira?” kata Wafda kemudian memegang pipinya yang baru saja dicium Aira
“Dulu, Aira suka cium Wafda duluan ga?”
“Engga, hehehe tapi kamu selalu sayang sama aku. Walaupun aku cuekin kamu,”
“Berarti Aira bucinnya Wafda dong?” kata Aira senyum.
Wafda tersenyum dan mencium bibir ranum wanitanya.
* * * * * *