SEVEN

3198 Kata
              Wafda baru saja selesai dengan acara talk shownya. Ia bersama dengan personel yang lainnya langsung keluar dari dalam studio dan beranjak ke ruang tunggu yang dikhususkan untuk mereka. Riman sudah memberitahukan kepada Ardian, pemilik dari agency dan label rekaman yang menaunginya tentang kejadian yang menimpa Aira. Lelaki itu juga ikut cemas setelah mengetahui keadaan wanita yang kini membuat Wafda, anak asuhannya jatuh cinta setengah mati pada wanita itu. Wanita yang juga menjadi novelis favoritnya. Ardian adalah salah satu fans berat Aira dan betapa senangnya mengetahui anak asuhan kesayangannya menjalin hubungan dengan Aira.                 Begitu mendengar berita tentang kecelakaan Aira, Ardian langsung mengizinkan Wafda dan Liko untuk kembali ke Indonesia dan sementara menemani Aira. Karna ia tau, jika dalam keadaan berjauhan begini, Wafda pasti tidak akan konsen bekerja. Jadi lebih baik lelaki itu dipulangkan bersama dengan Liko, asistennya untuk membantu kebutuhan Aira dan Wafda. Sedangkan untuk personel Agustus band yang lainnya akan menetap di Singapur dan melanjutkan pekerjaan mereka walaupun menunda pembuatan video clip yang sedang mereka lakukan di sana.  “Kenapa lo Man?” tanya Rangga dengan muka bingung melihat Riman yang sedang bermuka sedih. “Gw ngomong dulu sama Wafda ya,” kata Riman kemudian membawa Wafda ke sofa.                 Riman merangkulnya dan mendudukannya di sofa. Riman duduk di depannya. Wafda yang diperlakukan seperti itu menjadi bingung dan mentapa sang manager dengan kecemasan. Dalam hatinya bertanya tanya ada apa dengan lelaki itu. Jantungnya bergerak tak karuan. Ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun pada pekerjaannya hari ini. Tapi ada apa dengan Riman, batinnya. “Lo pulang ya ke Indonesia, jam 11 nanti lo take off. Lo bawa barang seperlunya aja.” Kata Riman mencoba menenangkan dirinya untuk memberitahu kabar tidak mengenakan ini pada sahabatnya.                   Tiba-tiba ruangan semakin cemas dengan berita yang akan disampaikan oleh Riman ini. Semua orang yang berada di ruangan tersebut langsung menyimak kata-kata Riman. Ruangannya mendadak sepi dan hening, semua orang fokus pada Wafda dan Riman.   “Ada apaan?” kata Wafda mencoba menstabilkan jantungnya. “Aira …” kata Riman tercekat. “Kenapa Aira, Man?” tanya Wafda semakin cemas dan kini menatap Riman dengan tatapan mata tajamnya. “Aira kecelakaan tadi sore. Sekarang dia lagi dioperasi. Keabisan darah, tangannya patah dan terbentur aspal cukup keras. Gw udah urus kepulangan lo. Jadi lo bisa langsung ke rumah sakit nemuin Aira.”                 Deg!                 Jantungnya benar-benar mencelos keluar, tubuh Wafda langsung lemas seketika. Wafda menundukkan kepalanya dan menitikkan air matanya. Rangga dan ketiga personel Agustus Band yang lainnya langsung duduk melingkari Wafda yang sedang sangat terkejut dengan berita yang baru di sampaikan oleh managernya. Rangga, sahabat terdekat Wafda langsung merangkul Wafda dan menepuk beberapa kali bahunya. Sedangkan crew mereka yang berada di ruangan itu saling lempar pandangan karna terkejut dan tidak berani bertanya apapun pada Riman. “Lo ga lagi bercandakan Man?” Wafda kali ini buka suara dan menyeka air matanya yang turun, menatap dalam lelaki yang kini duduk berhadapan dengannya. “Sama sekali engga, Wafd. Untuk apa gw bercanda sedangkan ini menyangkut nyawa seseorang yang lo cintai. Gw ga mungkin melakukan itu.” Ujar Riman dengan nada penuh penegasan.                 Wafda mengusap wajahnya kasar sambil memandang nanar. “Keadaannya gimana sekarang?” “Kabar terakhir yang gw denger, sekarang ia sedang operasi. Gw juga udah kasih tau Willa, untuk bisa ke sana dulu untuk dampingin Aira, karna keluarganya ga ada yang bisa dihubungi tadi sama Maia.” “Oh Tuhan …” kata Wafda semakin shock dan menyeka air matanya yang terus mengalir dan membekap mulutnya sendiri dengan tangannya. “Lo yang sabar ya Waf. Kita semuanya berdoa di sini semoga Aira bisa baik-baik aja.” Hibur Riman. “Untuk kita semua yang stay di sini sambil tunggu Wafda. Besok kita akan tetap melanjutkan jadwal. Tapi untuk pembuatan video klip kita tunda dulu. Hanya Wafda dan Liko yang pulang. Kalian dikasih waktu 7 hari untuk balik ke Indo. Setelahnya langsung balik ke sini lagi. Untuk ngelanjutin jadwal syuting. Liko lo dampingin Wafda. Siapin barang-barangnya Wafda, sekarang yang perlu-perlu aja yang lo bawa ke Indo.” Katanya memberitahukan pada yang lainnya dan memerintahkan pada Liko.  “Gw turut sedih Wafd,” lanjut Riman dan sekali lagi menepuk bahu Wafda yang terasa bergetar.   * * * * * *                   Mba Lia tiba di Hospi Hospital dan langsung menuju ruang operasi tempat Aira berada. Di luar ruangan Maia sedang terduduk mencemaskan Aira yang masih belum selesai dioperasi. Tak lama setelah kedatangan mba Lia dan pa Iman, Albert datang masih dengan seragam lengkapnya dan setengah berlari untuk segera sampai ke ruang operasi yang ditujunya. Kemudian menghampiri istrinya yang baru saja datang. “Gimana Aira?” tanya Albert cemas pada Maia. “Masih di dalam Bang,” kata Maia.                 Lelaki itu langsung duduk dengan penuh kecemasan di samping istrinya. Ibu masih belum diberitahukan karna memang mereka masih belum melihat secara langsung dan bicara pada dokter tentang keadaan Aira yang sebenarnya. Lagipula ibu punya penyakit jantung. Mereka harus cari tau ibu sedang bersama dengan siapa di rumah. Lia dan Albert takut jika ibu malah jadi ikut anfal karna kabar mengejutkan yang mereka sampaikan.                    Tak lama Wilal dan ibu Setya datang ke Hospi Hospital dan langsung menuju ruang operasi yang tadi Maia sempat sampaikan pada Willa. Sebelum mereka datang ke sana, Willa sempat telpon-telponan dengan Maia untuk menanyakan kabar yang di dengar dari Riman. Willa dan bu Setya menyapa keluarga Aira yang menunggu di ruang tunggu. Wajah mereka berdua juga tak kalah cemas menanti kabar dari dokter tentang keadaan Aira yang kabarnya terluka parah. “Gimana Aira Mba?” tanya Willa kepada Lia dan duduk di sebelahnya. “Belum selesai operasinya, La. Kita masih harus menunggunya.” Kata Lia masih dengan air matanya yang menetes. “Bu, Silahkan duduk.” Pinta Lia kepada ibu Setya, ibunya Willa dan Wafda.                            Ibu Setya mengangguk dan kemudian duduk di sebelah putrinya. “Apa ibu kalian sudah diberitahu?” tanya bu Setya masih dengan kecemasannya. “Belum Bu. Kami takut ibu shock dan collapse. Setelah kami tau keadaan pastinya Aira gimana baru kami kasih tau ibu. Karna ibu lagi pulang ke Semarang dan tidak tau sekarang di rumah sama siapa. Jadi takutnya terjadi sesuatu dengannya.” Kata Lia. “Willa, coba tanya Riman itu Wafda di mana? Landing jam berapa dia. Minta segera pulang jangan ditunda.” Perintah Bu Setya kepada Willa. “Iya Mah,” kemudian Willa beranjak dari duduknya dan kemudian menghubungi Riman. “Pa Iman. Terima kasih ya sudah mengantar istri saya dan memberitahu kami,” kata Albert menghampiri pa Iman yang juga berdiri di dekat pintu ruang tunggu.   “Sama-sama Mas. Saya merasa turut sedih dengan kejadian ini. Tadi mba Aira ga mau diantar ke sebrang Mas. Padahal saya sudah larang dia untuk nyebrang. Katanya dia sudah telat ke acaranya. Saya merasa sangat bertanggung jawab dengan mba Aira. Mangkanya saya ke sini. Mohon maaf kalau saya lancang Mas.” Ujar pa Iman menahan tangisnya. “Justru kami berterima kasih pa Iman sudah membantu kami. Kalau pa Iman ga ada mungkin kami semua juga ga tau kalau keadaannya Aira begini. sekali lagi terima kasih.” Kata Albert berjabat tangan dengan pa Iman. “Mba Aira tadi banyak sekali bercerita sepanjang perjalanan. Dia salah satu penulis novel kesukaan anak saya Mas.” “Oh ya?” “Iya, minggu lalu anak saya datang ke acara meet and greetnya mba Aira di jogja. Karna kebetulan anak saya tinggal dan kuliah di sana. Katanya mba Aira baik sekali. Ternyata tadi mba Aira cerita banyak dan saya tau benar mba Aira memang baik. Seperti yang dibilang anak saya,” katanya kemudian menangis.                 Albert hanya membalas dengan senyum tipisnya.   * * * * * *                 Pukul 2 malam Wafda tiba di Hospi Hospital. Operasi Aira berjalan dengan lancar, tapi ia masih dalam keadaan kritis. Ia juga sudah dipindahkan ke ruang rawatnya. Wafda beberapa kali menelpon Willa untuk mengetahui perkembangan Aira. Mereka semua masih berjaga di ruangan Aira. Lia, Albert dan Willa masih berjaga di ruangan Aira. Yang lainnya diminta Albert untuk istirahat dirumah dan berjaga bergantian. Ibu Saira juga sudah diberitahu tentang keadaan Aira. Ibu akan sampai besok pagi bersama dengan bude Uli. Ibu dan bude Uli mengambil penerbangan yang pagi, karna memang Albert memberitahukan ibu pukul 11 malam tadi.                       Awalnya pasti akan shock mendengar kabar Aira. Namun, Bude Uli mendampingi ibu dengan baik. Jadi ibu tidak collapse seperti yang ditakutkan oleh Albert dan Lia. Sesampainya di ruangan Aira, Wafda langsung melihat keadaan Aira yang sangat mengkhawatirkan itu. Beberapa selang ventilator masih terpasang di tubuhnya. Wafda duduk di sebelah ranjang Aira dan menangis melihat keadaan Aira yang cukup memprihatinkan. Willa berdiri dan memegang pundak kakanya itu sambil berusaha menenangkan kakanya. “Ra, aku di sini Sayang. Bangun. Please buka mata kamu, aku udah di sini. Aku kangen kamu Sayang.” Wafda mulai menitikkan aira matanya lagi di depan kekasihnya yang masih tergeletak tak berdaya.  “Wafd, tenang ya. Kita berdoa buat Aira.” Kata Willa sambil memegang pundak kakanya yang sedang kacau balau itu.                 Wafda memegangi tangan Aira dan beberapa kali menciumi tangannya. “Keadaan Aira masih kritis, Wafd. Kita semua harus berdoa yang banyak untuk memohon kesembuhan untuk Aira.” Willa memberitahukan keadaan Wafda. “Mungkin dengan kedatangan lo ke sini bisa membuatnya melewati masa kritis.” Albert kini mulai ikut berbicara.                                 Wafda mengangguk dan menatap kekasihnya yang juga masih belum memberikan respon atas ucapannya.   * * * * * *                   Ibu tiba pagi itu setelah mendengar kabar bahwa Aira mengalami kecelakaan. Ibu Saira, Ibunya Aira tiba didampingi dengan Bude Uli yang menemaninya dari Semarang. Dan kabarnya Ibu akan disini hingga kondisi Aira sembuh total. Ibu merasa bersalah karna membiarkan anaknya mengalami kecelakaan seperti ini. Tadinya ibu pulang ke Semarang hanya untuk berjiarah ke makam ayah karna sedang kangen sekali dengan lelaki itu. Jadi ia pulang sebentar ke Semarang.                 Wafda masih tak beranjak dari sebelah Aira. Sejak semalam begitu ia sampai, Wafda terus memandang wanitanya itu sambil menangis, lalu tanpa sadar akhirnya tertidur di sampingnya sambil terduduk. Wafda terus saja menyalahhkan dirinya karna tak bisa menjaga kekasihnya itu dengan baik. Lagi-lagi Willa menenangkan kakanya itu. Mereka bahkan tak pernah seakur ini dan mereka berdua bersama saling mendukung satu sama lainnya demi Aira. “Wafda,” kata Ibu Saira menyentuh punggung Wafda yang tertidur di samping anaknya yang terbaring lemah.                   Wafda langsung mengumpulkan kesadarannya dan mencoba memperjelas siapa yang ia lihat. Matanya masih agak bengkak karna tak berhenti menangis karna takut kehilangan kekasihnya itu. “Apa kabar Bu?” tanya Wafda kemudia mencium tangan tanda hormat kepada calon mertuanya. “Ibu baik, Nak.” Katanya sambil terus berlinangan air mata melihat keadaan putrinya yang masih belum tersadar.  “Aira, ibu datang Sayang. Ayo bangun sudah pagi. Nanti kamu kesiangan. Ibu sudah bawakan makanan kesukaan kamu,” katanya lagi dengan lembut sambil mengelus tangan pipi Aira yang ada sedikit luka. “Bu, aku harus pergi untuk apel pagi ini. Kalau butuh apapun Ibu bilang ke Lia ya,” kata Albert kepada ibunya yang baru saja datang. “Iya. Kamu hati-hati ya Bang,” kata ibu masih menangis dan menyambut tangan Albert yang ingin mencium tangan ibunya dan pipinya dengan sayang. “Gw pergi dulu ya Waf. Jagain ade gw ya. Kalau ada apa-apa tolong kabari gw, segera.” Kata Albert kepada Wafda kemudian mencium kening adiknya dengan sayang yang masih terbaring dan dibalut perban.                 Kemudian Lia mengantar Albert ke bawah untuk berangkat kerja. Albert sudah mengenakan baju seragam kepolisian lengkap dan membuatnya semakin gagah. Beberapa suster berbisik memandang Albert ketika ia sedang melewatinya. Tapi sayangnya, Lia malah digandengnya dengan segera. sehingga mulut mereka terbungkam.   * * * * * *                   Sorenya Ibu Setya dan Willa datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Aira dan sekaligus mengantarkan baju ganti dan keperluan Wafda. Sementara Wafda mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Wafda terlihat sangat sedih dengan kejadian itu. Selain keluarganya Wafdalah yang paling terpukul dan sangat takut kehilangan Aira. Hingga kini, Aira masih juga belum siuman.                 Seorang suster datang untuk memeriksakan tekanan darah dan infus untuk Aira. Tak lama Wafda keluar dari kamar mandi yang masih berada di ruangan VVIP milik Aira. Wafda yang sedang berdiri memandangi kekasihnya sambil menggosok-gosok kepalanya yang baru saja ia keramas. “Gimana Sus?” tanya Wafda yang kini menanyakan kondisi Aira. “Tekanan darah dan suhu tubuhnya stabil Pa. Untuk lebih jelasnya nanti akan ada dokter yang visit.” “Jam berapa ya?” tanya Wafda. “Sekitar jam 7 malam biasanya kalau sudah selesai dengan praktiknya.” Ujar suster itu dengan ramah.                 Wafda mengangguk dan mengambil duduk di kursi sebelah ranjang yang Aira tempati. Lagi-lagi laki-laki itu mencium tangan Aira dan juga pipi wanitanya. “Aku sayang kamu, Ra. Bangun ya Sayang.” Bisik Wafda setelah mencium pipi wanitanya.                 Namun, masih tidak ada juga respon darinya. Wafda tau, dan terus berdoa untuk Aira adalah cara membantunya untuk sembuh.  “Waf, makan dulu. Tadi mamah udah bawain kamu makanan. Yuk, kita makan bareng,” kata Ibu Setya memanggil Wafda yang masih saja duduk disebelah Aira memandanginya dan memegang tangannya. “Nanti dulu ya Mah. Aku masih pengen nemenin Aira.” Kata Wafda tersenyum tipis. “Ya udah. Mama makan duluan ya bareng ibu Saira.” “Iya Mah.”   * * * * *                                 Sudah 2 hari Aira setelah operasi Aira, ia masih belum menunjukkan tanda-tanda akan siuman. Dokter sudah melakukan yang terbaik dan dokter bilang kalau operasinya berjalan dengan lancar. Semenjak tiba di Jakarta, Wafda tidak meninggalkan Aira sedikitpun. Kabar tentang Aira juga sudah menyebar. Ada beberapa wartawan menunggu Wafda untuk menanyakan tentang keadaan Aira. Kemudian Wafda meminta izin kepada ibu Saira, Albert dan juga Lia untuk menemui wartawan-wartawan dan memberikan penjelasan tentang keadaan Aira.                 Albert dan Liko turut mendampingi Wafda selama wawancara dengan beberapa wartawan yang sedari tadi bersiap untuk mengetahui tentang keadaan Aira yang sebenarnya. Wartawan juga mengkonfirmasi tentang hubungan mereka yang selama ini tidak pernah mau untuk mereka konfirmasi. Lelaki itu akhirnya mengkonfirmasinya yang mengakui jika dirinya dan Aira mempunyai hubungan spesial saat ini. Wajah Wafda sangat kusut dan masih terlihat sedih. Wafda juga bahkan masih tidak menyangka jika ini terjadi pada Aira, kekasihnya. Ia benar-benar takut kehilangan Aira tanpa sempat bertemu dengannya. Kerinduan, kesedihan bercampur jadi satu di dalam hatinya saat ini.                 Setelah menjawab berbagai pertanyaan tentang kondisi Aira. Albert, Wafda dan Liko kembali ke kamar Aira. Wafda langsung duduk di tempatnya tadi. Di samping tempat tidur Aira. Menggenggam tangannya dan terus memandanginya. Sesekali Wafda masih menitikkan air matanya walau tak seperti kemarin ketika baru sampai. ‘Tuhan, aku cuma ingin Aira sadar dan kembali lagi kepada kami. Aku kangen banget sama Aira. Tolong bilang padanya kalau aku di sini menunggunya. Aku ingin sekali memeluknya. Aku benar-benar takut kehilangannya, Tuhan. Tolong biarkan ia kembali padaku. Ra, apa kamu ga kangen sama aku? Lama banget kamu tidurnya, Sayang. Aku di sini nunggu kamu sampai kamu sadar dan aku hanya ingin memelukmu dan bertemu denganmu. Setelah kamu sadar, aku ingin kita menikah. Jadi kamu bisa ikut dan terus bersamaku ke manapun aku pergi. Maafkan aku karna terlalu lama meninggalkanmu untuk tour. Aku mohon bangun ya Sayang.’ Katanya membatin.                 Bulir air matanya berdesakan lagi ingin keluar dari ujung matanya.   “Waf, makan dulu ya. Kamu belom makan loh dari tadi siang,” kata mba Lia menyadarkan Wafda. “Ga Mba, nanti aja. Aku belom laper.” “Ya aku juga ngerti sih. Dalam keadaan begini kamu ga mungkin laper. Tapi kalau kamu terus-terusan ga makan. Kalo kamu sakit gimana? Gimana mau jagain Adeku?” Lia terus membujuknya untuk mau mengisi tenaga.   “Iya Mba,” kemudian menurut dan melangkahkan kakinya ke meja makan yang berada di ruangan itu. “Bu, aku makan dulu ya.” Ucap Wafda pada ibu Saira yang kini sibuk menyajikan makanan untuk Wafda. “Iya. Kamu harus makan. Ibu tau kamu sedih. Di sinipun semuanya sedih. Jadi tolong ibu untuk kamu jaga kondisimu juga ya Waf,” kata Ibu Saira memohon pada anak lelaki yang terlihat terpukul dengan keadaan Aira.   “I-iya Bu. Maaf,” “Terima kasih sudah menjaga anak Ibu. Semenjak dia putus dengan mantannya yang terdahulu. Yang ibu tahu ia sudah enggan sepertinya mengenalkan laki-laki lain sebagai pacarnya kepada kami, keluarganya. Terutama ke ibu. Karna mungkin ia masih sakit hati dengan mantannya itu. Kamu tentu tau apa yang sudah diperbuat Lando kepadanya. Ibu tidak menyangka, setelah Lando, kamu adalah orang yang dikenalkannya sebagai kekasihnya. Ibu sangat bersyukur sekali sekaligus lega. Ternyata kekasihnya adalah kamu, seniornya semasa SMP dan sangat ia kagumi. Yang selalu ia akui sebagai idolanya dan cinta pertamanya. Ia selalu bicara jika ia ingin sekali menjadi kekasihmu. Tapi waktu itu tak kunjung datang hingga akhirnya kalian bertemu lagi di mall waktu itu. Semenjak bertemu denganmu lagi, Wafd. Dia benar-benar kembali ceria. Karna setiap hari kami selalu video call walaupun kami tinggal berbeda kota. Ibu tau betul, kamu yang membuatnya berubah seperti itu dan ibu sangat bersyukur atas itu. Tolong ibu untuk jaga dia dengan baik, cintai juga sayangi dia seperti dia menyayangi kamu sedari dulu. Ibu sangat berharap banyak kepadamu, Wafd. Ibu harap dan doakan semoga kalian selalu saling mencintai dan menyayangi juga langgeng. Ibu ingin melihat anak bungsu ibu menikah dengan lelaki yang ia cintai.” Kata Ibu dengan lembut dan memegang tangan Wafda dengan sayang.                 Wafda masih meresapi kata-kata yang barusan ibu Saira katakan. Ternyata hanya ia saja yang terlambat datang dan baru kali ini menyatakan perasaanya pada wanita itu. Padahal ia sudah tau sedari dulu jika Aira juga menyukai dirinya dan hanya ia yang diinginkan wanita itu sampai sekarang. Bahkan keluarganya sudah tau tentang itu. Aira mencoba menggerakan tangannya ketika ibunya baru saja menyelesaikan perkataannya kepada Wafda. Wafda yang melihat reaksi Aira yang terlihat menggerakkan tangannya langsung berdiri dan memastikan keadaan Aira. Semua orang yang berada di sekitarnya dan melihat Aira yang tersadar langsung mengelilingi ranjangnya dan berusaha untuk membuat wanita itu merespon mereka. Wanita itu tampak menstabilkan pendengaran dan juga penglihatannya. Ia berusaha mengumpulkan kesadarannya untuk melihat satu persatu orang yang menantikannya. “Aira, kamu bangun Sayang.” Kata Wafda senang kemudian memegang tangannya dan tersenyum memandangnya kekasihnya. “Sayang, ini ibu, Nak. Syukurlah kamu sudah bangun.” Kata ibu yang tersenyum lega sama seperti yang lainnya.  “Lia panggil dokter, Lia.” Titah ibu Saira pada Lia.   “Aku di mana, Wafd?” tanya Aira yang mencoba bangun dari pembaringannya. “Aira, jangan bangun dulu. Tunggu ya sampai dokter datang. Kamu lagi di rumah sakit sayang.” Kata Wafda merengkuh lengan Aira untuk tetap berada di posisi semula.                 Aira kemudian menurut pada Wafda. “Wafd,” panggil Aira pada Wafda. “Ya Sayang?” Wafda kemudian mendekatkan telinganya karna wanita itu memberikan isyarat jika Aira memintanya mendekat.                 Aira membisikkan sesuatu kepada Wafda yang sukses membuat lelaki itu terkejut dan membeliakkan matanya karna bingung kenapa Aira bisa menanyakan hal itu. “Ini keluargamu, Ra. Ini Ibumu, ini Bude Uli dan ini Mba Lia, kakamu.” Jawab Wafda dengan lembut walaupun dengan kebingungannya.                    Semua yang mendengar jawaban Wafda pada Aira langsung melempar pandangan satu sama lainnya. Tak lama dokter datang dan meminta mereka untuk sedikit menjauh dari ranjang Aira agar lebih mudah memeriksanya. Tapi Aira meminta Wafda untuk menemaninya ketika dirinya diperiksa oleh dokter. Setelahnya, dokter meminta ibu Saira dan Lia berbicara dengan dokter di ruangannya sebagai perwakilan keluarga dan bertanggung jawab atas dirinya.   * * * * * * 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN