SIX

2628 Kata
                Hari itu, Aira sedang dalam perjalanan menuju tempat meet and greet. Perjalanannya tidak berjalan mulus karna macet yang luar biasa di Jakarta. Kemungkinan tepat waktu untuk sampai ke acara tersebut sangat tipis. Aira kemudian menghubungi Maia yang sudah standby sejak pagi di sana. Tapi panggilan telponnya tidak dijawab sejak setengah jam yang lalu. Jika sedang bekerja apalagi sedang sibuk, Maia jarang sekali memperhatikan smartphonenya. Bahkan ia selalu memberikan mode silent agar tidak mengganggu. Aira kemudian memarkir mobilnya di mall XC. Tanpa membuang waktu Aira langsung memesankan ojek online untuk bisa sampai dengan cepat. Supir ojek online yang mendapatkan pesanan darinya menghubunginya. Wanita cantik dengan dress biru muda yang melekat pada tubuhnya itu kini, bergegas turun dari mobilnya dan menghampirinya.                 Ia berhasil melewati kemacetan. Dalam waktu 15 menit dirinya sudah sampai di tempat tujuan. Tapi  Aira meminta lelaki paruh baya itu untuk menurunkannya di sebrang jalan lokasi meet and greetnya. Awalnya, lelaki itu menolak untuk menurunkan Aira bukan sesuai dengan tempat yang dipesannya. Tapi Aira bersikeras untuk turun di sana. Wanita itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada si Bapa karna berkatnya Aira bisa sampai dengan cepat walaupun agak sedikit terlambat pada acara meet and greetnya. Supir ojol itu kemudian membalas senyumnya dan beramah tamah sedikit pada Aira yang sedikit terburu-buru.                 Dengan langkah tergesa dan tanpa memperhatikan jalan karna sudah merasa sangat terlambat dan tidak enak, Aira tidak memperhatikan sekelilingnya dan bahaya yang sedang mengintainya. Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menghantam tubuhnya dan kini Aira terpental ke tepi jalan. Supir mobil sedan hitam itu berusaha untuk menghentikan laju mobilnya dengan rem mendadak. Suara decitan antara mobil dan aspal yang bergesekan terdengar begitu nyaring.                 Setelah sadar dirinya menabrak seseorang, lelaki dengan tubuh tinggi dan berseragam serba hitam itu kemudian turun dari mobil hitam tadi. Ia tampak panik melihat keadaan Aira yang sudah bersimbah darah. Bahkan wanita itu tidak sadarkan diri. Supir ojol yang tadi mengantar Aira ke sana langsung buru-buru menghampiri Aira dan betapa terkejutnya, jika orang yang menjadi korban tabrakan itu adalah penumpangnya barusan.                 Beberapa orang yang melihat kejadian itu langsung menahan supir yang menabrak Aira. Sedangkan supir ojol tadi panik bahkan hampir menangis karna melihat keadaan Aira yang sangat parah. Tak berapa lama polisi lalu lintas yang berjaga tak jauh dari tempat kejadian itu datang dan mengamankan supir mobil hitam itu dan membawanya ke kantor polisi terdekat. Sedangkan polisi yang lainnya menelpon ambulance untuk menangani Aira.                     Di sisi lain Maia yang sedang sibuk menelpon Aira yang sudah terlambat setengah jam dari yang ia janjikan. Wanita yang sudah menjadi bossnya itu tidak pernah sampai terlambat sebegini. Dering sambungan telpon masih juga tidak dijawab oleh sang pemilik ponsel. Maia akhirnya memutuskan untuk menelpon mba Lia untuk menanyakan keberadaan Aira yang semakin membuatnya panik.                 Tapi sayangnya mba Lia juga tidak tau keberadaan Aira karna masih berada di luar rumah dan tak melihat kepergian Aira. Akhirnya Maia menelpon lagi ponsel Aira dan terus mencobanya. Tiba-tiba suara decitan perpaduan ban dengan aspal terdengar sangat keras dan membuat Maia dan yang lainnya yang sedang menunggu melihat keluar jendela dan mencari tahu apa yang terjadi di luar sana. Mereka melihat seseorang tertabrak oleh mobil hitam yang tadi sempat menimbulkan bunyi decitan yang begitu memekakan telinga. Terlihat orang-orang yang berada di dekat tempat kejadian langsung mendekati korban yang terlihat tergeletak di jalan. Bisa terlihat oleh mereka semua, korban yang kini tergeletak di jalan itu sudah bersimbah darah dan terlihat tidak bergerak sedikitpun.                     Maia masih terus mencoba menelpon Aira dan semakin khawatir dengan wanita itu. ‘Astaga, kamu di mana Ra? Ga biasanya kamu begini telat dan tidak menjawab telponku sama sekali,’ ucapnya penuh dengan ke khawatiran. Maia kembali duduk di kursi di ruang tunggu sambil berusaha menenangkan dirinya yang sangat khawatir dengan adiknya yang itu. Maia sudah dia anggap seperti adik, sahabatnya Maia bahkan bisa bercerita panjang lebar kepada Aira tanpa harus sungkan dan memandang jika Aira adalah bossnya. “Halo!” seorang laki-laki yang menjawab ponsel Aira. “Aira? Ini siapa? Haloo …” Maia langsung mencoba mencari keberadaan Aira melalui lelaki yang menjawab telponnya. “Mba Maia ini siapanya Mba Aira?” tanya lelaki itu yang sempat membaca id penelpon di ponsel wanita itu. “Saya managernya Pa. Airanya mana?” tanya Maia balik dan masih terus berdoa dalam hatinya agar tidak terjadi apapun pada Aira. “Mba, sedari tadi saya bingung harus menghubungi dan memberitahu siapa. Saya Iman Mba, saya yang mengantar Mba Aira ke sini. Mba Aira sekarang mengalami kecelakaan. Tolong Mba sekarang ke sini ya saya tunggu,” ujar lelaki itu yang terdengar sangat panik. “Kecelakaan? Di mana Pa?” tanya Maia terkejut begitu mendengar penjelasan supir ojek online itu barusan.                 Sontak yang lainnya yang berada di dalam ruangan itu langsung terkejut mendengar kalimat yang baru saja Maia ucapkan pada sambungan telponnya yang entah dengan siapa. “Di depan Gedung Para Group Mba. Tempat Mba Aira ingin melakukan meet and greet.” Jelas pa Iman. “Hah? Bapa serius? Jadi barusan yang saya lihat kecelakaan itu Aira? Astaga!” Maia terduduk lemas. Air matanya langsung mengalir mendengar penjelasan pa Iman barusan.                 Ruang itu langsung berubah jadi senyap dan hening. Semua orang merasa terkejut dengan apa yang baru saja didengar oleh telinga mereka. “Haloo … Mba, Mba Maia!” panggil pa Iman pada sambungan telpon dan memastikan wanita itu masih di sana. “I-iya Pa. Bapa sekarang di mana? Aira di mana?” berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. “Masih di sini Mba, menunggu ambulance masih belum datang.” “Saya ke sana sekarang. Bapa tolong tunggu ya.” Maia berdiri, mematikan sambungan telponnya dan mengambil tasnya buru-buru. “Mai,” panggil salah satu crew yang masih menunggu penjelasan keadaan Aira. “Tolong urus dulu Gun, Aira kecelakaan di depan. Tolong batalkan semuanya, gw urus Aira di dulu.” Maia langsung bergegas untuk menemui Maia.                 Igun yang mendapatkan titah dari Maia seperti itu kemudian meminta salah satu anak buahnya untuk mengumumkan mengenai kecelakaan Aira dan meminta untuk berdoa bersama semoga keadaan Aira baik-baik saja.   * * * * * *     “Mba Maia?” tanya seorang laki-laki yang kini masih mendampingi Aira. “Iya Pa, Bapa Pa Iman?” Maia memastikan sambil menyeka air matanya yang masih terjatuh karna cemas belum melihat Aira.   “Iya Mba, ini handphone Mba Aira dan ini tasnya. Maaf saya lancang menjawab telpon Mba Maia di handphonenya Mba Aira.” Kata si bapa yang menahan tangisnya.                 Lelaki paruh baya itu juga terlihat sangat cemas. “Terima kasih Pa. Justru saya bersyukur Bapa mau mengangkat telpon saya. Karna dari tadi saya cemas sekali dengan Aira.” Maia menerima handphone dan tas Aira yang diberikan oleh pa Iman. Maia mendekat ke arah ambulance yang baru saja datang dan tengah menangani Aira untuk pertolongan pertama. Dan ternyata benar jika keadaan Aira sangat parah. Darah di mana-mana. Bahkan dress yang dikenakannya sudah berlumuran darah akibat kecelakaan yang dialaminya.  “Mba Aira mau dibawa ke rumah sakit mana Mba?” tanya pa Iman yang masih mengkhawatirkan keadaan Aira. “Ke rumah sakit Hospi Hospital Pa,” kata Maia kemudian naik ke ambulance dan menemani Aira.                 Di jalan Maia menghubungi Lia dan Albert terlebih dahulu. Namun sayangnya kedua kakanya itu tidak ada yang menjawab telpon dari Maia. Lalu kemudian ia menelpon Riman untuk segera memberitahu kepada Wafda tentang kejadian ini. Riman yang mendengar kabar tersebut sangat terkejut dan meminta Maia untuk dampingi Aira juga memberitahukan perkembangan keadaan Aira seupdate mungkin. Riman harus menunggu hingga acara talkshow yang dibintangi Wafda dan personel Agustus Band selesai terlebih dahulu baru bisa memberitahukan kepada lelaki itu. Riman dan personel Agustus band sedang berada di Singapura dan melakukan kegiatan promo album mereka di sana.   * * * * * *                                 Begitu sampai di Hospi Hospital, Aira langsung dibawa ke IGD dan ditangani. Maia masih diminta untuk menunggu di ruang tunggu ruang UGD dan masih terus mencoba untuk menghubungi keluarga Aira. Driver ojol yang tadi mengantar Aira kemudian menyusul ke IGD setelah memberikan keterangan kepada polisi yang tadi berada di tkp. Maia kaget melihat si bapa langsung muncul dan memberikan salam kepadanya yang kini sedang cemas dengan keadaan Aira.   “Mba Maia, maaf kalau saya lancang datang ke mari.” Kata pa Iman berusaha seramah mungkin. “Ga apa-apa Pa. Ada apa?” kata Maia ramah dan tetap sambil menghubungi keluarga Aira. “Saya ingin tahu keadaannya Mba Aira, Mba. Saya merasa bersalah dan harus bertanggung jawab atas ini semua.” Katanya sedikit menahan tangis dan menyalahkan dirinya sendiri.  “Silahkan duduk Pa. Terima kasih atas perhatiannya pada Aira. Ternyata masih ada orang baik yang mau membantu boss saya,” puji Maia dan menyeka air matanya sesekali yang masih turun.                 Pa Iman tersenyum tipis. “Mba, apa keluarganya masih belum ada yang datang?” tanya pa Iman. “Saya masih belum bisa menghubungi keluarganya Pa. Sebelumnya saya masih bisa bicara dengan kaka iparnya, tapi ga tau kenapa sekarang malah ga bisa dihubungi satupun. Saya ga mungkin telpon ibunya. Karna ibunya ada penyakit jantung. Tapi saya coba hubungi kaka-kakanya masih belum ada yang angkat juga,” jelas Maia sambil menatap si bapa yang juga bingung harus berbuat apa.   “Apa boleh saya bantu. Bagaimana kalau saya bantu untuk samperin kakanya mba Aira? Mungkin dengan begitu mereka jadi tau keadaannya mba Aira dengan segera Mba.” Usul si Bapa. “Apa ga ngerepotin Bapa?” Maia menatap lekat lelaki itu. “Engga apa-apa Mba. Saya justru harus membantu mba Aira. Saya akan lebih senang jika bisa membantunya.” Ucap pa Iman sambil memberikan senyum ramahnya.                 Maia masih berfikir untuk menentukan langkah untuk memberitahukan keluarga Aira. Tiba-tiba dokter keluar dari ruang UGD. “Keluarga Aira!” panggil dokter dengan tubuh tinggi dan terlihat sangat tampan itu. “Saya Dok. Gimana keadaan Aira?” tanya Maia setelah berdiri berhadapan dengan dokter tampan itu. “Mba ini dengan siapanya?” tanya dokter itu. “Saya managernya Dok,” kata Maia memberitahukan. “Ehmm … keluarganya?” tanya dokter itu sepertinya ingin sekali berbicara dengan keluarga Aira. “Masih belum bisa dihubungi Dok. Ga apa-apa kasih tau saya saja.” Ujar Maia menuntut penjelasan dokter itu tentang keadaan Aira. “Oke baiklah, Aira membutuhkan operasi segera. Karna kepalanya cukup terbentur keras dan tangan kanannya patah. Semoga ini tidak terlalu parah, sebab kami harus melakukan observasi lebih jauh untuk patah tangannya. Aira juga kehabisan darah yang cukup banyak jadi kami juga memerlukan transfusi darah dengan golongan darah O, stock di rumah sakit ini sedang kosong jadi kami harus meminta pihak keluarga untuk mendonorkan darahnya.” Jelas lelaki itu. “Golongan darah saya O Dokter. Ambil darah saya juga tidak apa-apa.” Ucap Maia semakin cemas setelah mengetahui keadaan Aira. “Kalau masih kurang saya juga O Dokter,” kata pa Iman yang mendengarkan penjelasan dokter.   “Saya harus tes dulu untuk Mba atau Bapa melakukan transfusi darah pada Aira.” “Saya bersedia Dok,” ujar Maia. “Saya juga Dok,” ucap pa Iman yang juga serius dengan ucapannya. “Baiklah. Jadi bagaimana? Apakah saya boleh operasi Aira?” tanya dokter tadi. “Lakukan yang terbaik untuk Aira, Dokter.” Ucap Maia dengan penuh penegasan. “Baiklah,” “Lalu apa Aira sudah sadar, Dok?” “Masih belum Mba. Kita sama-sama berdoa ya. Semoga keadaannya tidak parah ataupun semakin parah. Saya permisi dulu,” Kata dokter.                 Kemudian kembali ke ruang IGD setelah Maia menjawab lelaki itu.   “Pa, bisa tolong bantu saya sekarang?” tanya Maia kepada pa Iman. “Bisa Mba. Apa Mba?” tanya pa Iman. “Ini alamat rumah Aira. Bapa tolong ke sana dan beritahu Aira di sini sama saya dan ceritakan apa yang terjadi. Ketemu dengan Mba Lia, itu kaka iparnya Aira. Jika di rumahnya tidak ada orang juga, Bapa tolong ke Polres yang berada di Jakarta Selatan. Bilang mau bertemu dengan IPTU Albert Walden dan ceritakan juga apa yang terjadi. Nanti Bapa tolong kabari saya ya Pa. Ini nomor telpon saya, jika mereka tidak percaya. Bapa tolong telpon saya dan saya akan menceritakannya pada mereka.”  Kata Maia memberikan secarik kertas yang tertulis nomor telpon dan alamat Rumah Aira. “Baik Mba.” Kata si bapa kemudian pergi dari tempatnya berdiri setelah menerima secarik kertas yang Maia tuliskan.   * * * * * *                   Pa Iman tiba di depan rumah Aira dan langsung menekan bel rumahnya. Kemudian salah seorang perempuan paruh baya keluar dan membukakan pintu untuknya. Pa Iman tersenyum lega karna di rumah itu ada orang dan ia bisa memberitahukan kabar tentang Aira secepatnya.   “Selamat siang Bu. Apa benar ini rumahnya mba Aira?” tanyanya sopan. “Betul Pa. Ada perlu apa ya?” tanya mbok Darmi dengan senyuman di wajahnya. “Saya Iman driver ojol yang mengantar mba Aira tadi. Maaf saya disuruh mba Maia untuk ke sini, bertemu dengan Mba Lia. Apa mba Lia ada di sini?” “Oh, ada Pa, mba Lia ada di atas. Bapa ada perlu apa?” Mbok Darmi mengernyitkan dahinya karna penasaran. “Saya disuruh menyampaikan berita kepada mba Lia.” “Sebentar ya saya panggilkan dulu.” Mbok Darmi langsung menyuruh lelaki itu duduk di teras rumah. “Baik Bu, terima kasih.” Ucap pa Iman.   * * * * * *                   Mbok Darmi kemudian masuk ke rumah lalu segera menuju kamar Lia dan Albert. Begitu sampai di depan pintu kamar Albert yang berwarna putih, ia langsung mengetuk pintu kamarnya. Kemudian Lia membukakan pintu. Tampak Lia seperti baru saja bangun. Kemudian mbok Darmi memberitahukan tentang bapa driver ojol yang menunggunya di depan. Lalu ia ikut turun dengan mbok Darmi dan menemui si bapa driver.                 Lia keluar dengan wajah bingung dan berharap lelaki itu tidak membawa kabar buruk tentang Aira ataupun Maia. Ia berjalan cepat untuk menemui si bapa. Sesampainya di teras, Lia langsung berusaha tersenyum ramah pada lelaki paruh baya itu dan duduk di kursi yang lainnya. “Selamat siang, dengan mba Lia ya?” kata si bapa kemudian berdiri dan membungkuk sopan.   “Iya, saya Lia. Ada apa ya Pa?” tanya Lia ramah. “Saya Iman Mba. Saya membawa pesan ini untuk Mba Lia dari mba Maia.” Memberikan sepucuk kertas tulisan tangan Maia.                 Lia langsung menerima secarik kertas yang pa Iman berikan barusan.  “Tadi saya mengantarkan mba Aira dari mall XC ke gedung Para Group. Tapi saya ga antar mba Aira sampai di depan gedung Para karna jalanan di sebrang gedung Para macet parah. Jadi mba Aira memutuskan untuk menyebrang.  Baru saja jalan beberapa langkah turun dari motor saya, ia tertabrak mobil Mba. Dan sekarang sedang di Hospi Hospital dan sedang menjalankan operasi. Kabarnya kehabisan banyak darah, jadi harus menerima donor darah. Mba Maia telpon tapi ga ada yang angkat telpon dari mba Maia. Saya merasa ikut bertanggung jawab jadi saya menyusul mba Aira ke rumah sakit. Takutnya mba Maia butuh bantuan saya. Dan ternyata benar, tidak ada keluarganya yang bisa dihubungi jadi saya ke sini,” jelas pa Iman. “Bapa lagi ga bercandakan?” Lia mencoba untuk mencerna cerita yang dilontarkan pa Iman barusan. “Engga Mba, sama sekali ga bercanda. Kalau Mba ga percaya boleh langsung telpon ke mba Maia, soalnya pesan mba Maia begitu.” Kata pa Iman tersenyum tipis.                 Lia langsung masuk kembali ke dalam rumah dengan langkah tergesa dan meraih gagang telpon. Lia menelpon Maia dari sambungan telpon rumahnya. Nada sambung di telponnya yang pertama belum terjawab. Lia sudah berlinangan air mata dan sangat ketakutan. Lalu ia mencoba lagi hingga percobaan ke tiga dan langsung disambut dengan isak tangis Maia.  Lia mengkonfirmasi apa yang terjadi dengan Aira hingga akhirnya Maia memutuskan untuk bersiap-siap ke Hospi Hospital. Tak lupa ia juga mengabari suaminya jika adiknya itu mengalami kecelakaan dan sedang berada di rumah sakit. Setelah berhasil menghubungi suaminya Lia langsung berangkat ke Hospi dengan tumpangan pa Iman dengan motor maticnya.   * * * * * * 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN