FIVE

4106 Kata
                Untungnya, Aira dan Wafda menginap di hotel yang sama dan hanya berbeda lantai. Begitu turun di lobbynya Wafda langsung pergi ke lantai tempat kamar Aira berada. Untung saja selama konser tadi Wafda bisa menyelesaikannya dengan baik walaupun suasana hatinya sedang kacau balau karna mengingat kekasihnya sedang ngambek dengannya. Bahkan ini pertengkaran pertama setelah beberapa minggu mereka menjalin hubungan. Sungguh, ia tidak mau kalau sampai Aira semakin salah faham dan hubungan mereka malah berakhir menyedihkan. Bisa-bisa ancaman Willa untuk bertarung dengannya akan terjadi ketika ia menyelesaikan tournya ini. Ditambah lagi dengan mamahnya pasti akan ngambek karna dirinya putus dengan Aira. ‘Oh my God, please gw ga mau putus sama Aira.’ Batinnya memberontak. Tapi selain mereka berdua yang menakutkan adalah ia juga sebenarnya sangat takut untuk kehilangan wanita itu. Ia masih belum siap kehilangan Aira yang begitu ia cintai.                   Sampai di depan kamar hotelnya, Wafda kemudian mengetuk pintu yang ditempati oleh Maia dan Aira untuk malam ini. Mendengar ketukan pintu di kamar yang ia tempati, Maia yang masih terjaga langsung membukakan pintu untuk seseorang yang menantinya dibukakan pintu. Ternyata Wafda sedang berdiri menanti untuk dibukakan pintu olehnya. “Aira udah tidur. Jangan ganggu,” ucap Maia dengan nada sedikit sarkas.                 Dari nada bicara Maia, sudah pasti Aira sudah menceritakannya padanya.    “Please gw mau ngomong sama dia, Mba.” Wafda kemudian menerobos masuk ke dalam kamar Aira.   * * * * * *                                 Wafda masuk dan melihat Aira yang sudah tertidur pulas di ranjangnya. Wafda yang tak tega membangunkannya hanya mengambil kursi dan duduk di sebelahnya sambil memandang kekasihnya itu tertidur. Sesekali ia juga membelai kepalanya yang tadi sempat terkena lemparan telur beberapa kali dan membuatnya cemas. Ia bahkan belum bicara apapun tentang kejadian itu pada wanitanya, tapi sekarang ia malah sedang ngambek pada Wafda yang belum jelas apa masalah yang sebenarnya. Walaupun dugaan Riman, sang manager ada benarnya dan jika memang benar dirinya pasti akan merasa sangat bersalah. Tapi ia bersungguh-sungguh ingin meminta maaf padanya jika Aira mau berbicara padanya.                 Mata indah yang selalu menjadi ciri khas Aira kini terlihat membengkak, sama seperti saat wanita itu kehilangan ayah tercintanya. Wafda sudah tau Aira pasti akan menangis jika sedang memiliki masalah. Lelaki bersurai hitam itu semakin merasa bersalah setelah melihat keadaan Aira yang cukup membuatnya sedikit kesal kenapa Rachel harus datang menemuinya hari ini. Aira merasakan ada seseorang yang sedari tadi menatapnya dengan intens dan juga merasakan belaian pada kepalanya yang membuat ia mencoba membuka matanya dengan penuh. Ia tau, Wafda pasti akan datang ke sini. Aira mengumpulkan kesadarannya. “Kenapa ke sini?” tanya Aira kemudian menyandarkan tubuhnya ke headboard ranjangnya.                 Maia yang tau jika mereka berdua membutuhkan privacy akhirnya pamit pergi keluar dan memilih untuk pergi ke resto. Setelah kepergian Maia dan mendengar bunyi bedebum dari pintu di tutup Wafda langsung mencoba mendekat kepada Aira. “Aku mau ketemu kamu, Sayang.” Wafda memelas menatap lekat Aira. “Sudah ketemukan. Kamu bisa pulang sekarang.” Ujar Aira dengan nada sedikit sarkas.                 Wafda memegang tangan Aira dan semakin mendekat kepada wanitanya yang beringsut menjauh darinya. “Besok setelah meet and greet aku pulang kok. Jadi kamu ga perlu khawatir dengan kedatanganku yang mengganggumu.” “Aku sama sekali tidak merasa terganggu dengan kedatanganmu. Kenapa kamu bicara seperti itu?” “Sudahlah Ka Wafda. Lebih baik Kaka keluar aja, istirahat. Aku juga mau istirahat.” Ujar Aira dengan nada suaranya yang lembut namun penuh penekanan.                 Wafda yang mendapatkan penolakan dari Aira langsung merasa kecewa, apalagi kini Aira menyebut dirinya dengan ‘Ka Wafda’, memanggilnya dengan sapaan seperti itu tandanya Aira sedang mencoba untuk menjaga jarak dengannya. Fikirannya kalang kabut dan benar-benar bingung harus menjelaskannya dari bagian yang mana. Wafda masih terdiam, masih terus memandang Aira yang malah kini membuang pandangannya ke arah lain dan tak mau membicarakan apapun. “Seharusnya aku jangan terlalu berharap sama kamu. Mungkin harapanku terlalu ketinggian untuk ngedapetin kamu yang 100% tidak mungkin aku miliki, bahkan aku memilikimu dalam mimpi saja harusnya aku sudah bahagia. Terlalu menyakitkan untukku melihatmu dengannya tadi, Ka. Coba jujur deh sama aku, aku cuma kamu jadiin pelarian aja kan? Setelah dia mau balik lagi sama kamu, aku diabaikan bahkan mungkin dianggap ga pernah ada di dalam hati kamu. Seharusnya dari awal aku tau aku ga usah berharap ketinggian untuk mendapatkan kamu. Udah syukur bisa deket sama kamu, aku pake ngelunjak segala untuk jadi pacar seorang Wafda Prasetya.” Ucap Aira menjelaskan panjang lebar tentang perasaannya saat ini pada Wafda.                 Isak tangisnya bahkan tidak bisa dihentikan. Di kalimat terakhirnya Aira bahkan memperlihatkan senyuman mirisnya namun tetap dengan air mata yang turun tanpa henti. Aira juga memeluk tubuhnya sendiri karna saking kecewanya dengan perlakuan Wafda. Bahkan beberapa kali Wafda mencoba untuk memeluknya, Aira selalu menepis lagi tangannya.  “Ra, maafin aku ya Sayang.” Ucap Wafda yang akhirnya bergeser ke sebelah Aira dan berusaha mengimpitnya agar tak lari ke mana-mana.                 Sejujurnya, apa yang dikatakan oleh Aira semuanya salah besar. Wafda mencintai Aira dengan segenap perasaannya dan semua yang dikatakannya tadi hanya sebuah kesalah fahaman.   “Tanpa kamu memintapun aku sudah memaafkanmu, Ka.” Jawab Aira dengan tatapan menohoknya. “Please, jangan panggil aku Kaka. Aku bukan kaka kamu, Ra.” Protesnya dengan wajah tak kalah kesal. “Memang kamu Kaka dari sahabatku, memang sudah sepantasnya dan sewajarnya aku memanggilmu dengan sebutan itu.” Aira menyeka air mata kesedihannya.                 Wafda terdiam sejenak masih terus memandang Aira. “Apa yang kamu lihat antara aku dengan Rachel semuanya salah faham. Demi Tuhan aku ga mesra-mesraan sama sekali sama dia. Tadi dia datang ke back stage untuk mengucapkan selamat untuk konser mini kami. Dan selebihnya hanya curhatan-curhatan kecilnya yang memberitahukan jika dirinya sudah memiliki kekasih juga. Hanya itu saja.” “Lalu apa yang aku lihat tadi hanya akting maksudmu?” tanya Aira dengan nada tinggi.   “Rachel hanya menyapaku Aira, sungguh. Aku tidak berbohong. Ia memperkenalkan pacar barunya. Tapi sayangnya pacarnya sudah pergi lebih dulu. Pacarnya anak band juga. Kami hanya bercanda saja sambil menunggumu datang. Aku hanya ingin memperkenalkanmu secara resmi kepadanya, walaupun kalian berdua sudah saling mengenal. Tapi kamu malah ga datang.” Ujarnya berusaha memberikan penjelasan yang masuk akal dan menceritakan yang sebenarnya terjadi.                 Aira terdiam mendengarkan penjelasan Wafda. Air matanya menyurut perlahan setelah mendengar penjelasan dari kekasihnya. “Kamu maukan memaafkan aku?” tanya Wafda yang kini berhasil memeluk pinggang Aira dan merapatkan tubuhnya. tak ada lagi pemberontakan dari Aira yang sebenarnya sulit mempercayai kekasihnya ini.   “Aku masih belum tau, semuanya benar-benar seperti mimpi bagiku.” Aira menatap Wafda setelah menyeka air matanya yang terakhir. “Aku mohon maafkan aku.” Ucapnya dengan nada memelas dan menyesal.                 Aira terdiam, air matanya benar-benar sudah berhenti dan sekarang ia sedang mencerna kata-kata kaka dari sahabatnya ini. “Aku merindukanmu, Ra. Jadi tolong untuk biarkan aku memelukmu.” Wafda semakin mengeratkan pelukannya dan mencium lembut bahu wanitanya yang masih saja mengabaikannya. Walaupun sudah tidak memberontak lagi.     * * * * *                   Meet and greet Aira sudah selesai, tadinya siang itu Aira mau langsung pulang ke Jakarta. Tapi sayangnya ditahan oleh Wafda. Ia sudah menyocokkan jadwal Aira pada Maia dan Riman. Maia sudah memastikan jika Aira tidak ada jadwal 3 hari ke depan. Lelaki tampan yang masih belum dimaaafkan sepenuhnya oleh Aira itu, mengucapkan jika dirinya ingin mengajak Aira untuk pergi berlibur dan membiarkan wanita itu melepaskan kemarahannya pada Wafda. Wafda juga akan bisa memiliki waktu bersama dengan Aira selama berlibur, karna setelah mereka liburan ke Bali besok Wafda dan teman-temannya akan melanjutkan lagi tour mereka ke luar kota.                 Wafda sudah mengantungi izin dari ibu Saira dan juga Albert untuk mengajak Aira pergi berlibur ke Bali. Lelaki itu langsung bersorak gembira begitu mengetahui jika izinnya di terima oleh Albert dan calon ibu mertuanya. Albert dan ibunya sangat percaya betul dengan Wafda yang mampu menjaga adiknya dari orang-orang yang mengincarnya. Oiya, liburan mereka kali ini juga bukan hanya mereka berdua saja, tapi ada anggota Agustus band dan juga kedua manager Aira dan Wafda yang ikut menemani mereka.                 Mengenai insiden pelemparan telur, Wafda sudah mengetahui pelakunya. Ia juga sudah meminta orang tersebut meminta maaf kepada Aira secara langsung. Ternyata ia adalah salah satu fans Wafda yang cemburu dengan hubungan mereka berdua. Ia mengetahui Aira menginap di hotel yang sama dengan Wafda lalu ia melakukan aksinya tersebut. Setelah aksinya tersebut berhasil ia langsung melarikan diri, namun sayang wajahnya tertangkap CCTV lalu polisi dengan mudah mencarinya. Awalnya Aira masih tidak mau jika masalah ini dibawa-bawa ke pihak kepolisian. Tapi Wafda bersikeras untuk tetap melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian. Staff dan juga manager hotel juga sangat mendukung keputusan Wafda untuk melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian.   * * * * * *                   Walaupun rasa kesalnya pada Wafda mulai sedikit menghilang namun pada akhirnya Aira memaafkan Wafda. Dan lelaki itu berjanji untuk tidak melakukan hal-hal yang membuat wanita itu menangis dan terluka lagi. Begitu mendengar sahabatnya menangis karna ulah kaka satu-satunya, Willa langsung menceramahi Wafda panjang lebar dan cukup membuat lelaki itu menyerah dan akhirnya berkali-kali meminta maaf dan berjanji kepada adiknya untuk tidak mengulanginya lagi. Kalau Willa sudah ceramah, Wafda pasti hanya bisa berserah dan berusaha untuk membuat adiknya itu diam.                 Aira berusaha menyingirkan egonya untuk tidak terlarut dalam rasa cemburunya yang berlebihan. Bahkan wanita itu sudah berusaha untuk bersikap kembali seperti biasa lagi pada kekasihnya itu. Mereka berjanji untuk menikmati moment ini berdua dan saling mengenal satu sama lainnya. Wafda juga bilang Aira harus memberitahukan apa yang boleh dan apa yang ia tidak suka dari Wafda untuk ia jadikan pegangan untuk tidak berbuat kesalahan lagi dan membuat wanitanya menangis lagi.                 Aira dan Wafda juga yang lainnya tiba di lounge tempat mereka menunggu. Mereka juga memutuskan untuk sarapan bersama di sana sambil menunggu. Pasangan muda yang beritanya sedang diburu oleh media itu tampak mengenakan baju dengan warna serasi berwarna biru muda kesukaan Wafda. Aira dan Wafda benar-benar pasangan yang serasi. Dalam perjalanan liburan mereka kali ini, hanya Wafda yang ditemani oleh kekasihnya. Sedangkan anggota Agustus Band yang lainnya memilih untuk menikmati liburan sendiri.                  Cuaca hari ini kurang bersahabat. Hujan sejak tadi pagi masih juga belum berhenti. Baru saja pengumuman tentang delaynya pesawat yang akan mereka tumpangi didapatkan oleh Riman. Walaupun agak sedikit kecewa, tapi mereka harus bersabar menunggu untuk bisa berangkat ke tempat liburan mereka. “Ra, kamu bisa ga bulan depan kosongin jadwal? Mungkin sekitar awal minggu,” kata Wafda sambil menggigit sandwich beef cheesenya.   “Untuk?” tanya Aira. “Aku mau kita makan bersama sama keluarga inti kita. Ya, perkenalan keluarga secara official gitu,” “Memangnya kamu ga ada jadwal? Bukannya padet banget sampe dua bulan ke depan?” “Aku sih udah bilang sama Riman, untuk ga masukin jadwal di 2 hari itu. Dan dia bilang ok,” “Ok! Mba tolong matchingin jadwal aku dan Wafda di tanggal yang dia inginkan untuk libur ya. Wafda minta 2 hari di awal bulan depan.” Jawab Aira pada Wafda kemudian memberikan titah kepada managernya yang kini duduk di sofa yang bersebrangan dengannya dan Wafda.                 Maia langsung mengangguk dan mencatatnya di smartphonenya. “Terima kasih Sayang,” Wafda tersenyum dan mengecup kening Aira yang duduk bersebelahan dengannya.                 Ketika mereka berdua sedang berbincang, tiba-tiba Rangga sang vocalis Agustus Band mendekati mereka dan menggoda. Rangga kini duduk di bangku lain di ujung meja. “Cieee, yang baru jadian mah maunya deket-deketan teruuuuussss.” Goda Rangga sang vocalis yang kini tersenyum melihat Wafda yang akhirnya memiliki kekasih.   “Kaya ga pernah muda aja lo,” protes Wafda sambil tersenyum.   “Ra, kok lo mau sih jadian ama si Wafda?” kata Rangga yang kemudian mengintrograsi pacar sahabatnya itu. “Karna sayang …” jawabnya singkat namun membuat wanita itu tersipu malu karna harus mengakui jika ia menyayangi Wafda di depan orang lain. Jika biasanya ia hanya mengakuinya di depan Willa, tapi kali ini berbeda.  “Cieee … emang kalian ketemu di mana?” Rangga menggoda lagi dan melanjutkan pertanyaannya.   “Kasih tau ga?” tanya Aira bertanya kepada Wafda yang menatapnya.   “It’s ok. Tell him,” kata Wafda sambil mengedipkan matanya dan tersenyum. “Ehmm … jadi tuh, gw sama Wafda satu SMP. Tapi dia kaka senior gw. Pas gw masuk SMP itu. Wafda udah SMA. Tapiiii gw sahabatan sama Willa adenya Wafda. Trus pas gw main ke rumahnya ketemu sama dia. Kenalan deh, trus dari situ ya ngefans aja. Ga taukan dulu kalo jadian ama kaka kelaskan kesannya keren aja gitu. Apalagi dia kan emang udah ngeband udah lama. Suka aja kalo ngeliat dia lagi main gitar.” Jelas Aira pada Rangga yang bertanya sudah seperti wartawan super kepo. “Loh, jadi kamu ngincer aku cuma biar bisa dibilang keren doang gitu?” kata Wafda mulai bersungut karna salah satu pernyataan Aira barusan.   “Ya engga juga sih. Tapi setelahnya mah, gw sering ketemu dia pas lagi main ke rumahnya ya lama-lama suka banget sama nih orang. Ngarep jadi pacarnya tapi kayanyakan ga mungkin, jadi ya gw pendem aja. Eh, sekarang malah jadi pacaran.” “Tapi lo pernah pacaran ga sebelum sama si kunyuk ini?” kata Rangga antusias. “Ya gw pacaran, tapi masih ngarep sama Wafda juga ujungnya.” Aku Aira.                 Rangga terkekeh mendengar jawaban Aira barusan. Aira masih terus menceritakannya pada Rangga, tak disangka, tak cuma Rangga tapi teman-teman Wafda yang lainnya juga akhirnya ikut nimbrung dipembicaraan mereka itu untuk mendengarkan cerita Aira dan Wafda hingga akhirnya memiliki hubungan.   * * * * * *                   Wafda dan Aira tiba di resto untuk menikmati makan siang. Mereka berdua sengaja berpisah dengan yang lain untuk menikmati waktu berdua. Yang lainnya lebih memlilih untuk makan siang di hotel dan menikmati siang dengan istirahat di kamar. Sedangkan Maia melakukan video call dengan orang di kantor untuk meeting singkat dan membahas tentang jadwal Aira selanjutnya.                 Beberapa wartawan sudah berhasil mendapatkan foto-foto kebersamaan mereka selama di Bali dan sudah pasti di berita sangat ramai sekali dengan kebersamaan mereka. Bahkan DM yang masuk ke i********: dan juga w******p banyak sekali yang menanyakan kebenaran kabar itu. Mereka berdua menjadi headline dalam beberapa acara gosip. Tapi mereka berdua tidak mau terlalu memusingkannya. Sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara itu tetap pada pendirian mereka untuk tidak akan buka suara ke media untuk mengkonfirmasi hubungan mereka yang nyatanya tak perlu dikonfirmasi saja semua orang sudah tau jawabannya. Jadi untuk apa mengkonfirmasi lagi, ujar mereka pada Riman. “Sayang, suasananya enak ya di sini.” Ujar Aira sambil tersenyum menikmati suasana resto bernuansa outdoor dan berada tak jauh dari pantai.   “Aku suka di sini, tenang banget. Kamu mau ga nanti kalo kita udah nikah. Kita tinggal di sini?” katanya sambil menatap Aira kemudian menggenggam tangannya. “Tinggal di sini? kamu ga lagi bercandakan?” tanya Aira dengan wajah sumringahnya. “Enggalah, aku serius. Mau ga?”   “Ehmmm … mau, mau banget malah.” Katanya sambil menatap kekasihnya dengan wajah sumringah. “Beneran mau?” tanyanya sekali lagi.                 Aira mengangguk tanda setuju sambil tersenyum dan memeluk lelaki yang sudah lama yang menjadi impiannya. “Oke, kali ini aku ga bawa cincin tapi aku janji bakalan lamar kamu sesegera mungkin.” Lelaki itu mencium pucuk kepalanya dengan sayang. Wafda menghirup dalam-dalam wangi vanilla yang mengoar dari rambutnya. “Sesegera mungkin? Aku ga minta buru-buru Sayang.” Aira tersenyum sambil mendongak menatap lelaki yang masih betah dipeluknya. “Tapi aku ingin segera memilikimu selamanya. Memangnya ga boleh?” protes Wafda sambil mencolek hidung Aira gemas.   “Tentu saja boleh, Sayang. Dan aku juga ingin secepatnya.” Mencium kilas kekasihnya itu.   * * * * * *                   Wafda ternyata benar-benar serius dengan pembicaraannya pada Aira saat makan siang tadi. Setelah selesai makan siang, Wafda sibuk mencari-cari rumah yang sesuai dengan keinginannya. Ia masuk ke dalam website yang berisi penjualan dan pembelian property. Mereka melihat beberapa iklan yang terpasang di sana untuk sungguh-sungguh mewujudkan impian mereka untuk mempersiapkan pernikahan mereka sekaligus tempat tinggal setelah menikah nanti.                 Walaupun setelah menikah mereka bisa saja menetap dan membeli rumah di Jakarta, tapi rasanya mereka menemukan suasana lain di Bali yang merupakan salah satu tempat favorit Wafda. Lelaki itu mendapatkan ketenangan dan juga banyak inspirasi di sana. Salah satunya dalam waktu semalam saja, Wafda sudah bisa menciptakan dua lagu dalam waktu 3 jam.                 Ternyata mereka memang mendapatkan dukungan dari Tuhan untuk menetap dan tinggal di sana. Bagaimana tidak, begitu mereka menemukan rumah yang sesuai dengan keinginan mereka berdua melalui iklan di website itu si penjual langsung memperbolehkan mereka untuk bertemu hari itu juga. Dan ya, sekarang ini mereka baru saja sampai di sebuah kawasan perumahan yang elit dan asri. Nampak dari luar seperti sebuah villa cantik nan asri khas Bali dengan nuansa modern tentunya.                 Rumah dengan model modern tropis itu terdiri dari 2 lantai. Begitu masuk ke pintu gerbangnya yang terbuat dari kayu berwarna coklat yang kokoh kita langsung akan disuguhkan oleh taman yang rumputnya dan tanaman yang tumbuh di sana sangat terawat. Lalu, setelah melewati taman itu untuk masuk ke bangunan utamanya, kita akan masuk melalui sebuah pintu geser dengan kaca yang besar.                 Setelah melewati pintu kaca itu, kita langsung akan disuguhkan dengan sebuah ruangan yang tidak terlalu besar yang bisa digunakan sebagai sebagai ruang tamu dengan sudah diberikan sebuah partisi kayu yang juga berwarna coklat. Tak lupa ada sebuah foyer di dekatnya.                 Lalu, lebih masuk lagi ke dalam terdapat ruang keluarga yang besar dan langsung menghadap ke kolam renang yang berada di bagian belakang rumah itu. Di sebelah kolam renang juga ada sebuah bangunan kecil yang bisa dijadikan tempat ibadah. Ada 1 kamar tamu di bawah yang berukuran sedang dan sebuah kamar mandi di dalamnya. Di sebelah kamar tamu, ada sebuah dapur bersih yang lumayan besar dan juga dilengkapi kitchen set yang berwarna putih dan coklat muda. Di lantai bawah dilengkapi juga dengan service area dan juga kamar ART.                 Beralih ke lantai atas dengan tangga yang didominasi lagi-lagi warna coklat dan putih itu untuk menuju lantai 2.   Terdapat mezzanine yang bisa memudahkan siapapun untuk melihat ke bawah. Di lantai 2 terdapat 3 kamar yang tentunya berukuran lebih besar dari kamar tamu yang terletak di lantai bawah. Tentunya master bedroom yang akan mereka gunakan untuk menginap di sana adalah yang paling spesial. Aira langsung jatuh cinta dengan master bedroomnya yang memiliki walk in closet yang besar dan jangan lupakan kamar mandinya yang memiliki bathtub di dalamnya. Dari master bedroom itu juga terdapat balkon yang bisa melihat pemandangan ke kolam renang dan juga ke belakang rumah yang terdapat sawah yang selalu ditanami padi.                 2 kamar lainnya bisa digunakan Wafda dan Aira sebagai studio dan ruang kerja mereka selama mereka berdua masih belum memiliki anak. Aira memasang senyuman lebar di wajahnya begitu melihat rumah itu. Wanita yang berusia 27 tahun itu sangat jatuh cinta dan berharap Wafda juga mempunyai rasa yang sama dengannya untuk memiliki rumah itu. Jujur, rumah itu adalah rumah impian Aira untuk di masa depan.                 Setelah puas berkeliling, Aira dan Wafda langsung memutuskan untuk berpamitan dengan si pemilik rumah yang sangat ramah itu. Mereka juga meminta waktu untuk membicarakannya berdua agar lebih mudah untuk mengambil keputusannya. Wafda bahkan sudah sangat cocok dengan harga yang ditawarkan oleh pemilik rumah yang bisa terbilang dengan angka yang fantastis. “Gimana kamu suka?” tanya Wafda begitu mereka sudah berada di dalam mobil dan berhenti sejenak di pinggir jalan. “Rumahnya?” tanya Aira balik.                 Wafda mengangguk dan menatap Aira sebentar. “Aku suka banget sih, Sayang. Cuma …” Aira berhenti sejenak dan terlihat sedang memikirkan sesuatu. “Cuma apa?” “Harganya mahal banget, nanti dululah …” ujar Aira dengan nada tidak enak. “Aku tanya kamu suka?” Wafda bertanya lagi. “Iya,” Aira mengangguk pelan. “Ok,” Wafda langsung mengambil smartphonenya yang ia ambil dari kantung celana denimnya.                 Ia sedikit terdiam dan konsentrasi dengan smartphonenya. Aira tak berani mengganggu dan bertanya. Tak lama ia menempelkan ponsel itu pada telinganya. “Haloo … iya Pa, saya yang barusan ke sana. Heheh … iya Pa. Tolong disiapkan dokumennya dan bertemu dengan notaris secepatnya. Kebetulan Calon Istri saya sudah suka sekali dengan rumah Bapa itu. Jadi tolong untuk bersiap ya. Ehmm … Saya akan transfer DPnya ke Bapa malam ini. Ok Baik Pa. Nanti manager dan mamah saya yang akan urus semuanya. Ok Pa. Terima kasih,” Wafda kemudian dengan santai menaruh kembali ponselnya setelah selesai bicara dengan pemilik rumah yang barusan dirinya dan Wafda lihat. “Kamu serius mau beli rumah itu?” tanya Aira dengan nada sedikit tidak enak. “Iya. Aku nanti minta mamah untuk urus semuanya dan kamu siap tanda tangan ke notaris untuk membeli rumah itu, rumah itu atas nama kamu nantinya.” Ujar Wafda masih terlihat santai dan kini mulai menggerakkan mobilnya kembali membelah jalanan Bali. “Astaga, Wafd. Aku rasa tidak perlu sampai seperti ini.” Aira kini menatap lelaki itu dengan mata yang sudah berlinangan penuh keharuan. “Kalau kamu suka, kenapa tidak aku belikan untukmu? Aku juga sangat suka dengan rumah itu. Ehmmm … itu hadiah untukmu karna kamu sudah menerima aku sebagai kekasihku dan juga mau menerima lamaranku yang hanya baru kata-kata ini tanpa sebuah cincin.” Wafda tersenyum dan membelai pipi Aira yang sudah sangat basah karna air matanya. “Terima kasih, Sayang.” Aira langsung memeluk Wafda yang sedang menyetir.                 Wafda yang menerima perlakuan itu langsung terkejut dan tersenyum setelahnya karna ia berhasil memberikan kebahagiaan pada Aira, wanita yang sangat ia cintai itu. Lagi-lagi ia mencium pucuk kepala Aira.       * * * * * *                     Aira dan Wafda sampai di pantai untuk menikmati sunset dan berjalan berdampingan. Menikmati udara Bali di sore hari dan di pantai. Sejak mereka berdua sampai, mereka belum ke pantai dan Aira sangat menginginkan ke pantai sore itu. Tanpa melihat sunset rasanya tidak akan lengkap liburan mereka kali ini. Apalagi wanita itu benar-benar bersemangat setelah melihat rumah tadi. Wafda juga ingin menepati janjinya untuk membawa wanita itu ke pantai untuk menikmati waktu berdua. “Sayang, tapi apa ini ga terlalu berlebihan?” tanya Aira yang masih berada di dalam dekapan Wafda sambil berjalan bersisihan di pasir putih yang sangat bersih. “Berlebihan apanya?” tanya Wafda lalu menatap Aira dengan senyumannya. “Kamu memberikan hadiah rumah tadi. Aku rasa ga perlu.” Aira sedikit menolak dan tak menuruti lelaki itu.                 Wafda langsung melepaskan pelukannya yang sukses membuat Aira terkejut. Lelaki tampan itu bahkan memasang tampang kesalnya dan kini mengambil jarak di antara mereka. “Aku ingin membuktikan keseriusanku padamu, Ra. Bukan ingin menunjukkan jika aku punya uang atau apapun. Kamu itu kekasihku, jadi tidak perlu sampai merasa tidak enak seperti ini. Aku mohon terima ya. Aku ga bisa ngasih cincin ke kamu sekarang. Tapi aku berikan rumah itu sebagai tanda kamu menerimaku. Aku mohon,” ucapnya kali ini dengan nada permohonan dan kembali mendekat pada kekasihnya itu. “Tapi aku ga enak, kita pacaran bahkan belum setahun Wafd. Tapi kamu sudah banyak memberikan banyak sekali hadiah untukku. Sungguh, aku merasa seperti wanita matre sekarang ini.” Aira menahan isakkannya.                 Di satu sisi jujur ia merasa senang dengan hadiah itu, tapi itu terlalu mewah menurutnya. “Ga akan ada yang bilang begitu, kamu dengar … jika ada yang berani bicara seperti itu padamu, aku akan menghajarnya duluan dan membuatnya babak belur. Lagipula aku membelikannya bukan hanya untukmu saja, tapi untuk anak-anakku juga Sayang.” Wafda membawa rambut Aira ke belakang telinganya dan menyelipkannya di sana. “Please mau ya?” lanjutnya.                 Aira terdiam lagi, ia menatap mata lelaki itu dengan dalam yang akhirnya mengangguk setuju setelah lelaki itu menyakinkannya. Mendapatkan jawaban berupa anggukan, Wafda senang bukan kepalang. Ia kemudian tersenyum dan menghapus jarak antara wajahnya dengan wajah Aira. Mereka saling pandang di jarak yang sangat dekat. Wafda semakin memajukan bibirnya dan akhirnya menempel pada bibir ranum Aira.                 Mata Aira mulai terpejam menikmati permainan bibir lelaki yang kini sudah resmi menjadi kekasihnya. Jantungnya seperti ingin melompat keluar. Ribuan kupu-kupu kini benar-benar menari-nari di dalam perutnya dan ia ingin sekali berloncat-loncat kesenangan. Mungkin terasa amat lucu, tapi ia sungguh ingin melakukannya. “Itu hadiah untukku?” tanya Wafda begitu mereka berdua selesai dengan pagutan terlama mereka setelah resmi pacaran. “Iya,” Aira tersenyum malu. Pipinya bahkan merona karna ia benar-benar sudah berani mencium bibir idolanya. “Kalau begitu, setelah kita berdua resmi memiliki rumah itu aku mau kamu memberikan ciuman padaku setiap kita bersama saat pagi hari dan malam hari.” Pinta lelaki itu sambil tersenyum. “Ok,” Aira langsung setuju dan memberikan tanda ‘OK’ dengan jari-jarinya. “Tapi … aku ga mau yang durasinya sebentar-sebentar. Aku maunya yang lama dan h0t ya,” katanya tersenyum jahil.                 Aira langsung memukul-mukul lengan Wafda bertubi-tubi dengan lembut. Lelaki itu berakting seperti sedang mengaduh kesakitan dan lagi-lagi tersenyum jahil kepadanya.   * * * * * * 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN