FOUR

3007 Kata
                     Setelah hampir tertahan 10 menit di depan gerbang kompleks perumahan karna kerumunan wartawan yang mencoba mencegah mereka untuk mendapatkan klarifikasi atas hubungan mereka berdua. Aira dan Wafda akhirnya sampai di rumahnya dan sekarang tengah duduk berdampingan di ruang keluarga. Hanya ada mereka berdua di sana. “Kamu tau? Aku seneng banget, akhirnya kamu resmi terima aku.” Katanya sambil terus menyatukan jari-jari tangannya mengisi sela-sela jari tangan Aira.                   Aira tersenyum tanpa membalas kata-kata kekasihnya itu. Dia bener-bener speechless dengan apa yang baru saja terjadi dengannya dan Wafda. Selama ini ia hanya mengenal Wafda sebagai kaka dari sahabatnya Willa, juga sebagai cinta pertamanya. Tapi untuk bisa dekat dengan Wafda hingga sekarang akhirnya mereka bersama itu suatu takdir yang tidak bisa ia tolak sama sekali. Karna sejak lama memang Aira ingin sekali menjadi kekasihnya. “Ini mimpi ga sih?” tanya Aira yang masih tidak percaya.                 Wafda mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ketika melihat tidak ada siapapun di sana, ia akhirnya mencuri ciuman di pipi Aira lalu merangkulnya. Membawa tubuh Aira merapat dengannya. “Kamu sama sekali ga mimpi Sayang! sekarang aku milik kamu dan kamu … sekarang milik aku!” ucap lelaki itu penuh penegasan dan mencolek hidung mancung wanitanya.  “Oh ya?” Aira kini tersenyum meledek lelaki itu.   “He-eh, mulai sekarang ga ada yang boleh milikin kamu kecuali aku. Aku serius dengan ucapanku, Ra. Aku mau kamu jadi istriku dan juga menantu mamahku seperti yang selalu ia impikan.” “Jadi hanya mamahmu yang memimpikan aku menjadi menantunya, tapi kamu ga pernah mimpiin aku jadi istri kamu?” protes Aira pada lelaki itu lalu melipat tangannya di depan d@d@. “Hahaha … engga gitu. Aku bukan hanya memimpikan, tapi aku bersungguh-sungguh ingin mendapatkanmu dan menjadikanmu istriku.” Ujarnya lagi. “Aku ga pernah nyangka deh ini terjadi, Wafd. Masih ga nyangka aja aku,” “Kenapa?” tanyanya mengerucutkan bibirnya. “Ya kamu bayangin aja. Seorang Wafda Prasetya anak band terkenal, siapa yang ga tau kamu satu bumi ini juga pasti tau kamulah. Kamu juga yang jadi kakanya sahabat aku, lalu playboy yang mantannya ratusan ribu wanita di Indonesia lalu …” Belum saja ia meneruskan kata-katanya, Wafda sudah memotongnya. “Hei … hei … heiiii … tunggu dulu, sepertinya ada yang salah dengan kalimat kamu barusan Sayang,” “Apa?” mengerutkan dahinya.   “Mantanku ratusan ribu wanita  di Indonesia?” “Memang iyakan?” “Kamu salah! Aku tidak seplayboy itu Samaira Azalea Walden, Sayangku.” “Lalu?” “Hanya beberapa saja. Jangan hiperbol seperti itu,” kemudian mencium kilas pipi Aira lagi yang tepat berada di depannya.                 Aira terkekeh mendengar pernyataan Wafda yang tidak terima dengan kalimatnya barusan.     * * * * * *                   Aira duduk sambil memainkan smartphonenya. Ia baru saja menyelesaikan video callnya dengan Wafda. Malam ini Wafda akan melakukan perjalanannya ke Bandung untuk menjalani promo albumnya. Setelah melakukan video call dengan kekasihnya, Wafda memilih tidur sepanjang perjalanan ke Bandung. Dia akan berada di Bandung selama 3 hari dan akan pulang ke Jakarta hari jumat malam dan setelahnya hari kamis paginya ia harus segera berangkat ke Surabaya untuk menjadi pengisi acara di sebuah konser musik yang diadakan di sana. Sedangkan Aira punya jadwal ke Bandung akhir pekan ini, jadi untuk pertama kalinya mereka tidak akan ketemu untuk malam minggu ini. “Hai Ra,” sapa Willa pada sambungan telpon ketika pertama kali Aira menjawab telpon darinya “Hai, lagi di mana lo?” tanya Aira mengawali percakapan dengan sahabatnya. “Di rumah mamah. Baru aja gw nyantai abis meeting orang kantor. Eh, eh … gw mau klarifikasi nih. Lo tinggal jawab iya atau tidak ya.” Willa memberikan instruksi kepada sahabatnya. “Wah, kaya lagi main kuis aja.” Ujar Aira pada sahabatnya. “Udah jawab aja pertanyaan netizen yang maha kepo ini,” “Kayanya gw tau nih arah pertanyaannya ke mana.” “Nah bagus kalo tau. Jadi lo ga perlu mikir lagi untuk jawab,”                 Aira terkekeh mendengar sahabatnya berceloteh. “Anda siap?” “Ayo … ayo,” Aira masih tertawa. “Apakah benar anda sudah resmi berpacaran dengan kaka saya yang ngeselinnya minta ampun itu?” “Kaka anda siapa ya?” “Ok, saya sebutkan namanya. Lelaki ngeselin itu adalah Wafda Prasetya.” “Hahaha … boleh no comment ga?” “Dengarkan instruksinya. Hanya boleh jawab ya atau tidak saja. Ga boleh yang lain,” protes Willa lagi. “Ok-ok … ya gw udah pacaran sama Wafda official. Sorry ga sempat cerita karna gw lagi ribet banget sama urusan tour dan meet and greet. Jadi ga sempet ngasih tau lo.” Jawabnya sambil tersenyum. “Waahhhhhh akhirnya kalian pacaran juga. Terima kasih ya Allah, aku mendapatkan menantu sesuai dengan keinginanku.” Ucap ibu Setya tiba-tiba ikutan bersuara dan teriak kegirangan pada sambungan telponnya dengan sahabatnya. Tak lupa wanita paruh baya itu mengucap penuh syukur kabar yang baru didengarnya. “Kok ada Ibu?” Aira berceloteh. “Wah, Mamah ga sesuai perjanjian nih. Tadi katanya ga bakalan bersuara,” protes Willa pada mamahnya yang tiba-tiba teriak kegirangan. “Aduh ga bisa De. Mamah seneng banget dengernya.” katanya masih teriak kegirangan.                 Kini malah bersenandung seperti baru saja mendapatkan lotre. Willa dan Aira tertawa mendengar ucapan ibu Setya yang malah kini bernyayi riang gembira. “Lo tau ga nyokap gw lagi joget-joget tuh,” kata Willa memberitahukan pada Aira.     * * * * * * *                       Minggu sore, Aira tiba di rumahnya. Ia baru saja sampai dari meet and greet dari Semarang. Ia tidak menginap dulu di rumah orang tuanya yang di Semarang. Karna lusa dia harus pergi lagi ke beberapa kota dan selama seminggu full tidak akan di Jakarta. Jadi ia memerlukan sedikit istirahat di rumah, di kamarnya yang sangat ia rindukan. Tempat ternyaman dari hotel berbintang 5 sekalipun. Seperti biasa begitu datang ia langsung mengganti bajunya dengan dress rumahan sederhana. Menghapus make up yang selalu ia gunakan. Walaupun tidak tebal tapi tetap saja Aira harus rajin membersihkannya agar tidak timbul masalah pada kulitnya.                       Mba Lia dan Albert sedang pergi ke rumah orang tuanya. Mba Lia sudah jarang pulang ke rumah orang tuanya karna sedang banyak kegiatan dengan ibu-ibu Bhayangkari. Ia senang sekali mengikuti kegiatan di sana. Dengan begitu ia jadi bisa memiliki ilmu baru dan banyak bertemu dengan orang baru untuk bisa menambah pengetahuannya. Orang tuanya mengerti dan selalu memberikan kabar melalui video call dan telpon setiap harinya. Semalam ia mendengar jika ibunya sakit. Jadi ia memutuskan untuk menamani ibunya dan mungkin akan menginap di rumah orang tuanya untuk beberapa hari sampai kondisi ibunya sedikit lebih baik. Dering dari smartphonenya terdengar begitu Aira sedang bersandar di soda kamarnya dan mencari channel yang bagus untuk ia tonton. Layar LCDnya menunjukan jika id penelponnya itu adalah ‘Mba Lia’. “Hai Mba, gimana ibu?” tanya Aira begitu sambungan telponnya terhubung. “Hai Aira, ibu alhamdulillah sudah baik-baik saja sekarang. Kemungkinan akan dilalukan medical checkup untuk ibu besok. Dan sepertinya aku dan Albert ga bisa pulang hari ini. Apa kamu ga apa-apa?” tanya Mba Lia sedikit cemas dengan adik ipar kesayangannya itu. “It’s ok Mba. Aku akan minta mba Maia untuk menemaniku nanti malam. Tapi maaf aku masih belum bisa ke sana hari ini karna masih cape banget. Kemungkinan besok ya aku ke sana.” “Ga apa-apa,Ra. Kamu hati-hati ya di rumah. Jangan lupa makan.” Lia mengingatkan adiknya. “Iya Mbaku Sayang. Salam ya buat ibu dan papa.” “Iya De. Nanti aku sampaikan,” katanya kemudian menutup sambungan telpon itu.                 Kemudian ia meletakkan smartphonenya di atas kabinet kecil yang berada di sebelah sofanya. Namun  tak berapa lama smartphonenya kembali berdering karna Wafda berjanji untuk menelponnya sore ini begitu selesai manggung di salah satu sekolah di Jogja. “Hai Sayang,” sapa Wafda terdengar semangat dan ceria begitu sambungan telponnya terhubung.   “Hai Babe,” “Udah sampe rumah?” “Udah. Gimana tadi manggungnya? Seru?” tanya Aira tak kalah antusias. “Seru dong. Apa lagi mereka udah pada afal lagu-lagu baru kita. Ya jadi makin semangat,” “Hehehe … seneng dong?” “Seneng bangetlah. Kamu tau ga? Ada yang titip boneka nih buat kamu. Katanya dia ngefans sama kamu. Trus mau dateng buat meet and greet kamu minggu depan,” “Seriusan? Mana coba liat bonekanya,” “Bentar,” kemudian Wafda berdiri dan Wafda menunjukkan boneka beruang putih dengan memegang bouquet bunga mawar yang diberikan oleh salah satu fansnya itu untuk Aira.                 Mereka kini sudah berganti pada sambungan video call. “Wah lucu … makasih ya Sayang.” Kata Aira senang. “Makasih? Jangan makasih sama aku. Nanti makasih aja sama orangnya langsung. Dia ninggalin nomor telponnya. Katanya mudah-mudahan kamu mau telp dia dan bertegur sapa dengannya.” “Haha iya ... udah makan belom kamu?”  katanya Aira kemudian berfokus pada kekasihnya yang terlihat cukup lelah. “Udah Sayang. Tadi siang, sore mah palingan cuma ngemil doang. Tadi si bapak manager ngasih biskuit keju kesukaan kamu. Katanya biar ga lupa sama kamu. Hahahha” “Bisa aja pak manager. Kayanya dia minta dikasih bonus nih.” Wafda terkekeh. “Sayang aku kangen loh. Mau aku samperin boleh ga sih?” kata Aira merajuk. “Boleh lah. Yang lain aja ditemenin sama istri dan anaknya. Masa kamu ga dibolehin ke sini.” “Ya tapi akukan belom jadi istri kamu.” “Tapikan kamu calon istri aku.” “Lusa sih aku ke Jogja. Cuma ga tau kamu masih ada apa engga di Jogja,” “Coba aku tanya Riman dulu lusa aku ke mana.” Kemudian berjalan menuju Riman yang sedang menonton TV di kasurnya.                 Wafda sudah terbiasa satu kamar dengan managernya itu, karna biasanya kalau sedang tour begini istri atau anak anggota band pasti ada saja yang ikut. Wafda jadinya tersingkir buat nemenin bapa managernya untuk tidur. Karna cuma Wafda yang ga pernah bawa siapa-siapa, secara belum menikah. Hehehe … setelah berbicara dengan Riman, Wafda kemudian duduk kembali di kursi yang berada di balkon kamar hotelnya itu. Lalu melanjutkan video call dengan Aira “Aku masih ada Sayang di Jogja.” “Asik berarti kita bisa ketemuan dong?” “Iya Sayang … Kamu nginep di mana?” “Hotel xxxx dekat dengan Universitas tempat aku meet and greet.” “Ya udah nanti aku ke sana. Kebetulan aku disitu juga hehehe …” “Aku tidur dulu ya Sayang. Semalem aku ga bisa tidur. Tadi tidur juga sebentar banget pas di pesawat.” “Kangen aku kali mangkanya ga bisa tidur.” Ucap Wafda penuh percaya diri. “Iya mungkin,” Aira terkekeh.  “Love you and really miss you,” “Love you and miss you too, Sayang.”   * * * * * *   “Tolong tanyain ke ibu, ada titipan buat Wafda? lusa gw mau ke Jogja. Kalau ada besok gw ambil biar sekalian dipacking” kata Aira begitu sambungan telponnya terhubung dengan Willa. “Ok, nanti gw tanyain mama. Lo mau ketemu Wafda? Wahhh … enak dong bisa kangen-kangenan? Awas ya … jangan ngapa-ngapain,” ucapnya memperingatkan. “Kebetulan gw ada meet and greet di salah satu Universitas di sana. Pas gw cocokin jadwal ga taunya dia juga masih di sana. nginep satu hotel juga pula. Iya, gw engga bakalan apa-apain abang lo, tenang aja.” Kata Aira kemudian tertawa. “Weitttsss jadi lo yang ngebet Mba? Udahlah segerakan menikah seselesainya dia tour dan jadwal kalian match. Kalo perlu akad nikah dulu. Abis itu terserah dah …” kata Willa makin menggoda sahabatnya.   “Gw sih tergantung Wafdanya, La. Masa gw yang ngelamar abang lo.” Aira masih terkekeh. “Hahaa iya juga sih … tapi mungkin ga sih? Secara lokan emang ngefans berat ama abang gw,” “Ngefans sih udah pasti, tap kalo sampe ngelamar sih kayanya ga mungkin La. Walaupun kemungkinan di tolaknya tipis, ya. Hahaha …” “Pede banget Mba …”                 Aira semakin terkekeh dengan obrolan dirinya dan sahabatnya itu. “Ya udah nanti bilang sama ibu ya. mau nitip apaan. Jadi gw bisa bawain kalo emang perlu diambil. Besok gw ambil” “Ok Cakapar.” Katanya kemudian menutup telpnya   * * * * *                   Siang itu Aira tiba di Jogja ia dijemput oleh supir yang dipesankan oleh Wafda untuk menjemputnya. Aira juga datang bersama dengan Maia. Ia kemudian langsung menuju hotel untuk menaruh beberapa barang yang ia bawa. Begitu sampai di lobby hotelnya, tiba-tiba …                Plukkkk ~                 Sebuah benda mendarat di kepala Aira, dari kejauhan orang yang melemparkan benda itu langsung pergi walaupun sempat terlihat. Aira meraba kepalanya yang terkena lemparan benda yang beraroma busuk dan sangat menyangat sekali baunya. Begitu ia lihat di tangannya kini terdapat telur yang sudah pecah dan juga aromanya sangat tidak sedap, Aira langsung membulatkan matanya. Tidak hanya sekali tapi beberapa kali lemparan telur itu mengenai tepat di kepalanya. Maia yang mendengar sedikit teriakan dari Aira langsung membawa Aira masuk ke dalam lobby dan mendudukkannya di sofa.                 Pihak keamanan yang berada di sana langsung meminta keterangan dari Aira dan akan menyelediki kejadian itu melalui CCTV. Salah satu dari pihak keamanan juga menyarankan untuk melaporkannya kepada pihak kepolisian setempat untuk menindak lanjutinya. Tapi Aira menolaknya dan meminta mereka untuk mencari tahu dari bagian CCTV terlebih dahulu. Manager hotel bahkan beberapa kali meminta maaf untuk kejadian tak terduga yang dialami oleh Aira di hotel mereka dan berjanji akan mengurus segera masalah ini.                 Setelah Maia menyelesaikan urusan check in kamar mereka, Maia akhirnya membawa Aira masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap untuk menemui Wafda. Wanita itu juga langsung memberitahukan kepada Riman karna Wafda sedang berada di panggung. Maia memberitahukannya kepada Riman secara diam-diam karna sebetulnya Aira tidak ingin membuat semua orang cemas kepadanya. “Aku sudah sampai di hotel ya,” ujar Aira setelah mandi dan sedang mengeringkan rambutnya yang sudah 3 kali ia keramas. “Iya, nanti ketemuan di sini aja ya.” Wafda terdengar tersenyum mencoba untuk menyembunyikan kekesalannya pada kejadian yang baru saja ia dengar dari Riman tentang Aira. “Iya, aku siap-siap dulu.” Aira kemudian menutup sambungan telponnya.   * * * * * *                   Malam ini Wafda dan Agustus band akan mengisi sebuah konser mini yang diadakan salah satu Radio di Jogja yang sedang berulang tahun di sebuah stadion yang sudah disulap menjadi sebuah tempat konser yang epik. Aira diminta datang ke venue untuk bisa bertemu dengan kekasih hatinya. Ia juga sudah membawa barang yang bu Setya bawakan untuk anak sulungnya itu. Sekarang Wafda sedang manggung dan salah seorang supir yang ditugaskan Wafda untuk menjemput Aira dan Maia lagi-lagi sudah standby di hotel untuk menjemput mereka.                    Tak berapa setelah sampai di venue konser mini Agustus Band, Aira langsung diarahkan menuju ruangan tempat anggota Agustus Band beristirahat. Aira langsung dengan langkah tergesa melangkah menuju ruangan di mana ada Wafda di dalamnya. Namun, begitu sampai di depan pintu ruangan khusus anggota Agustus Band, Aira melihat Wafda sedang berbicara mesra dengan seorang wanita yang duduk bersandar di lengan berotot milik kekasihnya. Aira mencoba untuk memperhatikan siapa sosok wanita yang sedang berbicara dan bergelayut manja di lengan kekasihnya. Dan ya, ternyata itu adalah Rachel. Mantan kekasih Wafda yang baru saja memintanya untuk putus pada lelaki itu.                 Rasa cemburu menguasai dirinya dan wajar bukan jika Aira merasa marah juga kecewa pada lelaki itu. Bahkan sangat terlihat dari gesture mereka jika Wafda sama sekali tidak mencoba untuk melepaskan tangan Rachel yang melingkar di lengannya serta kepalanya yang menyandar di bahu bidangnya. Tampak jelas bahkan Wafda sedang berceloteh sambil sesekali tertawa namun entah apa yang dibicarakannya hingga membuat lelaki itu berbinar ketika membicarakannya. Rachelpun begitu, ia tersenyum dan sesekali tertawa dengan apa yang dibicarakan oleh Wafda juga dirinya secara bergantian.                 Aira balik badan dan langsung menghampiri Mba Maia yang duduk di sofa dekat pintu masuk ruangan khusus itu. Mba Maia yang tadinya sudah bersemangat untuk melihat konser mini Agustus Band malah harus menelan pil pahit jika bossnya itu sedang tidak dalam mood yang baik. Wanita dengan usia lebih tua 5 tahun dari Aira itu langsung menelisik dan mencoba mencari tahu tentang apa yang terjadi dengan bossnya itu. Aira bahkan terlihat kesal dan murung setelah baru saja masuk ke ruangan khusus anggota Agustus Band. “Ra, kok balik lagi?” tanya Maia dengan nada keheranan. “I-iya Mba, aku ga enak badan tiba-tiba. Kayanya ini pengaruh dari kejadian tadi deh, kepalaku pusing.” Aira kini memegang kepalanya yang sama sekali tidak pusing namun agak sedikit sakit karna lemparan telur tadi.                 Sebelum Maia menyetujui permintaan Aira, Seorang laki-laki dengan wajah langkah yang tergesa dan wajah yang panik sambil mengedarkan pandangannya ke arah depannya dan sedang mencari-cari seseorang. Begitu melihat Aira yang sedang bersama Maia dan hendak pergi, Wafda langsung berlari ke arahnya dan mencegah Aira berjalan ke arah berlainan, bukan masuk ke ruang tunggu khusus anggota Agustus Band menunggu. “Kamu mau ke mana?” tanya Wafda yang bingung melihat Aira hendak melangkah pergi. “Pulang,” jawabnya singkat dengan pandangannya melihat ke arah lain. “Pulang? Kenapa? Bukannya kamu mau menemani aku di sini?” Wafda semakin bingung dengan apa yang terjadi dengan kekasihnya itu secara mendadak.                 Aira tidak menjawab pertanyaan Wafda, ia malah langsung pergi dari hadapan Wafda diikuti dengan Maia. Wafda semakin bingung dan tak tau harus berbuat apa. Akhirnya ia minta Riman untuk mencari tau apa yang terjadi tadi dengan Aira. Tapi tanpa perlu menanyakan kepada wanita itu, Riman sudah tau jawabannya. “Gw ga perlu nanya apapun ke Maia. Sudah pastilah dia ngeliat lo sama Rachel lagi asik-asikan barusan. Wajar aja kalo dia marah.” Kata Riman menjelaskan sedikit tetang apa yang terjadi dengan Aira.                 Wafda menepuk keningnya pelan karna merasa sangat bodoh dengan tidak menyadari jika Aira sudah akan dalam perjalanan ke sana dan Rachel masih berada di sebelahnya tadi. Walaupun niat Rachel hanya untuk menyapa mantan kekasihnya yang kini sudah memiliki pacar baru dan mengobrol sebentar. Wafda akhirnya malah jadi bermasalah dengan Aira dan berakhir Aira marah padanya. Bahkan ia sendiri tidak mengetahui apa yang terjadi dengan kekasihnya itu.     * * * * * *  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN