THREE

3036 Kata
                       Begitu selesai dengan makan malam bersama dengan keluarga Wafda mereka sempat mengobrol sebentar di ruang keluarga. Karna sudah telalu malam, Aira memutuskan untuk berpamitan pulang. Di teras rumah, Wafda tiba-tiba saja mendekatkan dirinya pada Aira dan memangkas jarak wajahnya dengan wajah Aira. Sepersekian detik mereka berdua saling berpandangan dalam jarak yang sangat dekat. Ditambah lagi, Wafda malah meraih pinggangnya untuk semakin semendekat ke arahnya. Tak lupa lelaki itu memeluk pinggang Aira secara possessive.                       Setelah puas memandang wajah cantik wanita yang sangat ia dambakan sejak lama itu, Wafda kemudian memiringkan kepalanya dan semakin mendekatkan bibirnya pada bibir Aira yang begitu ranum dan sedari tadi inin dicecapnya. Aira terkejut dengan perlakuan Wafda. Walaupun hatinya sangat senang karna bisa sedekat ini dengan Wafda, tapi berciuman dengan lelaki itu bagaikan mimpi bagi Aira. Hatinya bersorak gembira sedangkan jantungnya berdetak lebih cepat. Mungkin Wafda bisa saja mendengar debaran jantungnya yang sangat ingin lari dari tempatnya ini. “Kenapa?” tanya Wafda bingung melihat reaksi Aira yang melepaskan pagutannya.   “Takut ada yang liat.” Ucap Aira dengan wajah bersemu.                 Saat itu wajah Aira yang bersemu membuat Wafda malah gemas dan ingin sekali menciumnya. Sungguh, ia tidak ingin kehilangan wanita ini lagi. “Maaf Ra.” Hanya kata itu yang bisa terucap dari bibirnya yang ranum dan sangat 53Xy.                 Bibir Wafda memang merah muda dan sangat 53xy. Terbukti dari dirinya yang tidak pernah merokok sama sekali sehingga membuat bibirnya itu berwarna merah muda. Bahkan orang lain pasti akan mengira jika dirinya melakukan perawatan lebih untuk bibirnya itu, tapi sayangnya pernyataan itu sangat salah. Karna ia sama sekali tidak merokok, itu yang membuat dirinya semakin terlihat tampan dengan bibirnya yang berwarna merah muda.   “It’s Ok” Aira tersenyum canggung dan menyentuh lengan Wafda meyakinkan lelaki itu jika ia tidak marah dengan tindakan implusif yang baru saja dilakukan lelaki yang sudah menjadi idolanya sejak SMP.                 Mereka berdua sama-sama terdiam dan saling memandang satu sama lainnya. “Ehmmm … Wafd, aku pamit pulang ya.” Ucap Aira pada lelaki yang baru saja mendaratkan bibirnya pada bibir Aira. “Kamu bener ga mau aku anterin pulang?” tanya Wafda.  “Engga usah, Wafd. Akukan bawa mobil.” Aira menunjukkan kunci mobil yang baru saja ia keluarkan dari tasnya. “Oh iya, aku lupa. Ya udah, ati-ati ya. Nanti kalo sudah sampe rumah kabarin aku ya.” Ujar lelaki itu seraya tersenyum. “Iya,” jawabnya singkat.                 Wafda kemudian membukakan pintu mobil untuk Aira di sisi pengemudi. Sebelum benar-benar pergi, Wafda tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Aira yang sudah siap di kursi kemudi sedan berwarna merah maroon yang selalu menjadi andalannya.   * * * * * * *                       Ini sudah pukul 3 dini hari. Wafda masih juga belum bisa tertidur. Ia masih sibuk memikirkan kejadian tadi bersama dengan Aira yang cukup menganggu fikirannya. Hatinya masih bertanya-tanya, apakah Aira tidak menyukai dirinya? Atau bahkan Aira masih belum bisa menerima kehadirannya sebagai lelaki spesial menggantikan mantan kekasihnya yang sudah lama menyakitinya itu. Jadi banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya yang ingin sekali ia tanyakan.                        Pukul 11 malam tadi Aira mengabarkan jika dirinya sudah sampai di rumah dan sempat berbicara sebentar sebelum akhirnya berpamitan untuk mengganti pakaianya dan bersiap tidur. Tak ada satupun dari mereka yang membahas tentang kejadian tadi. Aira juga menjawab seperlunya tentang apa yang ditanyakan oleh Wafda sebelum akhirnya memutuskan sambungan telponnya.                         Wafda membuka WA untuk membaca pesan singkat ia kirimkan untuk Aira. Rasanya tidak ada yang janggal sama sekali, bahkan pesan singkat diantara mereka berdua ini banyak sekali yang memberitahukan sinyal-sinyal ketertarikan dari Aira kepadanya. Wafda benar-benar tak sabar mendapatkan moment untuk bisa menyatakan perasaanya pada wanita yang sudah lama ia kagumi. Walaupun sekarang sudah banyak perubahan yang terjadi dengannya. Usut punya usut ya tentunya perubahan yang terjadi dengan Aira sekarang ini karna ia ingin sekali Wafda bisa melirik dan mendekatinya.                     Soal kecantikan wajah Aira yang asli orang Indonesia ini tak bisa dipandang sebelah mata, wajahnya cantik khas wajah orang Indonesia yang punya kulit kuning langsat, memiliki tubuh yang tinggi, mata indah dan tak lupa bibirnya yang selalu menjadi sorotan. Tidak juga tebal tidak juga tipis. Sangat proposional dengan wajahnya. Tapi sejak dulu, jika ia tidak menjaga makannya, Wafda tau wanita itu pasti akan kembali memiliki badan berisi seperti dulu.                     Ketika pertama kali ia berjumpa dengan Aira, Aira terlihat memiliki badan yang berisi lebih dari sekarang. Mungkin saat itu ia masih belum mengenal cinta dan masih nyaman dengan dirinya yang memiliki tubuh berisi. Ditambah lagi wanita itu dulu malas sekali berolahraga. Makin jadi deh, tubuh berisinya. Setelah mengenal Wafda dan mengagumi lelaki itu, akhirnya Aira memutuskan untuk melakukan diet dan rutin berolahraga jadilah Aira seperti sekarang ini. Dengan wajah semakin cantik, tubuh yang terbentuk dengan sangat indah dan memukau serta sudah lebih mengenal skin care. Sebetulnya dengan tampilan ia yang berisi dulu, Wafda juga sudah menganggumi wanita itu. Tapi sayangnya, ia masih belum berani mendekatinya. Dan ya, kesempatan itu hadir ketika ia sudah resmi putus dengan Rachel.                           Tak lama, Wafda melihat jika Aira sedang online. Jantungnya semakin berdegup kencang dan ingin sekali berbicara dengan Aira. Tapi ia takut jika akan menganggu istirahat wanitanya. Setelah berdoa dan meyakinkan diri untuk melakukan video call pada wanitanya itu, akhirnya Wafda menekan gambar kamera dan melakukan sambungan video call dengannya. Tapi, ia harus menelan kenyataan jika panggilan video callnya tidak dijawab dan tertulis jika Aira sedang melakukan sambungan telpon dengan orang lain. Di jam segini? Dengan siapa wanitanya melakukan sambungan telpon? Ia teringat dengan adiknya dan akhirnya menuju kamar wanita yang berusia 4 tahun di bawahnya itu.   * * * * * *                           Tiba di depan pintu kamar adiknya, Wafda tak pernah mengetuk pintu. Ia langsung masuk dan adiknya itu memang tidak pernah mengunci pintu kamarnya kecuali dalam keadaan tertentu. Kepalanya yang langsung menyumbul ke dalam dan melihat adiknya itu sedang bercerita panjang lebar dengan wanita yang sedang ingin sekali ia ajak bicara yaitu Aira. Tanpa basa-basi Wafda langsung masuk ke dalam dan merebahkan tubuhnya di samping adiknya yang masih sibuk dengan sambungan telponnya dengan Aira. “Aira ya?” Tanya Wafda tanpa bersuara pada Willa yang masih sibuk mengoceh.                 Willa langsung mengangguk dan memberikan kode jika itu memanglah sahabatnya. Wafda langsung terdiam dan sedikit memejamkan matanya menunggu Willa mau berbaik hati memberikan ponselnya untuk ia berbicara dengannya. Tak lama, Willa menghidupkan mode loudspeaker untuk kakanya itu bisa mendengar suara wanita pujaannya. “Trus lo gimana sebenernya ama Abang gw?” tanya Willa tiba-tiba setelah puas bercerita tentang Dimas.                 Wafda langsung menoleh pada adiknya itu dan memasang telinganya lebar-lebar untuk mengetahui isi hati sahabat adiknya itu. “Gimana apanya? Eh tunggu, ga ada diakan di sana?” tanya Aira sebelum menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu. “Engga, dia udah tidurlah. Mana bisa sih dia begadang kalo ga lagi ada event.” Jawab Willa berbohong pada sahabatnya.                 Willa langsung tersenyum menggoda abangnya yang terlihat serius mendengarkan percakapan dua orang sahabat yang saling menyayangi itu. Aira terdiam sesaat seperti sedang berfikir. “Dih ga jawab. Serius ini gw mau tau, jangan mentang-mentang gw adenya trus urusan hati lo gw ga boleh tau ya. Awas aja lo, ntar gw pecat jadi temen baru rasa lo.” Kata Willa setengah mengancam. “Yeh, jangan gitu juga kali. Maen pecat-pecat aja lo. Serem bener gw dengernya.” Protes Aira pada Willa.                 Dan Willa yakin jika Aira sedang mengerucutkan bibirnya karna sebal mendengar sahabatnya itu mulai mengancam. “Hahahaha … canda kali, serius banget Neng?” Willa langsung berusaha mencairkan suasana. “Ya lagi lo ada-ada aja.” “Udah buruan jawab. Gw pengen tau nih, lo gimana sekarang sama Abang gw?” tanya Willa yang masih penasaran. “Ya seperti yang lo tau, gwkan emang udah suka banget ya sama dia udah lama. Bukan sekedar ngefans sebenernya, tapi gw serius suka mungkin bisa dibilang dia cinta pertama gw, La. Lo tau itulah. Sekarang ya, gw udah nyaman sama dia.” Jelas Aira pada Willa. “Nyaman? Trus kalo dia tiba-tiba nembak lo gimana?” tanya Willa semakin mengorek info tentang perasaan sahabatnya itu. “Nembak? Gwkan ga punya apa-apa yang bisa dibanggain. Lagian juga kedektan gw selama ini sama dia cuma sebagai temen aja. Kayanya ga mungkin deh Wafda bisa sampe suka dan nembak gw segala.” Ujar wanita itu lagi-lagi dengan nada ketidak percaya diriannya. “Kata siapa ga mungkin?” Wafda tiba-tiba merebut ponsel Willa dan mematikan loudspeakernya.                 Willa membeliakkan matanya dan sukses dibuat kesal oleh kakanya. Padahal ia sedang membantunya untuk mendapatkan sahabatnya. “Wafda?” Aira langsung terkejut karna kini lelaki itu sedang menguasai ponsel sahabatnya. “Iya ini aku,” Wafda langsung mengakui jika itu adalah dirinya. “Jadi kamu dari tadi denger semuanya?” Aira bertanya untuk memastikan semua percakapannya. “Iya,” ucap lelaki itu dengan cepat.                 Jantungnya benar-benar tak karuan rasanya dan sepertinya ini adalah moment yang sudah ditunggu-tunggu juga sangat pas untuk mengatakan yang sesungguhnya.   * * * * * *   “Astaga Wafd, kamu jangan fikir yang macem-macem ya. Kamu ga marahkan sama aku? Willa, aduh serius deh ngeselin banget sih, huff … ” Aira salah tingkah dan bingung harus menjawab apa. “Enggalah, aku malah seneng dengar kata-kata pengakuan kamu tadi sama Willa.” Kata Wafda yang tedengar tersenyum. “Aduh …” gumam Aira. “Ra,” panggil Wafda. “Ya,” jawab wanita itu dengan cepat. “Aku minta maaf soal tindakan aku tadi. Aku benar-benar ga enak sama kamu.” “Soal tadi yang mana?” “Yang tadi sebelum kamu pulang,” “Oh, iya ga apa-apa.” Ucap Aira dengan gugup.                 Padahal jika dibayangkan lagi, masih ada ribuan kupu-kupu yang terbang di dalam tubuhnya. Ia bahkan sangat bahagia karna mendapatkan ciuman dari Wafda yang sangat ia suka itu. Bahkan sudah beberapa kali ia memegang bibirnya yang masih terasa ciuman lelaki itu.   “Kamu ga marah?” tanya Wafda lagi. “Eng … iy … engga … ah ga tau Wafd, aku bingung.” Jawabnya dengan kegugupan. “Bingung kenapa?” “Bingung sama kamu. Kitakan ga pernah ngomong saling sayang. Ya cuma aku aja yang sudah ketahuan perasaannya sama kamu gimana. Aku juga ga tau kamu gimana perasaannya ke aku. Kamu ga pernah ngomong apapun selain bikin aku salting dan mikir jika kamu juga beneran suka juga sama aku. Tapikan kenyataannya ga gitu, aku ga pernah tau perasaan kamu yang sebenarnya gimana ke aku. Atau mungkin akunya aja kali yang kegeeran,” ucapnya sambil sedikit terkekeh di akhir kalimatnya. Wafda terdiam masih mendengarkan Aira menumpahkan isi hati terdalamnya. “Aku juga ga ingin hanya jadi pelarian kamu aja, Wafd. Kamu juga putus baru beberapa minggu. Aku rasa kayanya ga semudah itu juga kamu ngelupain Rachel yang sudah beberapa tahun kamu pacari.”   “Ra, please dengerin aku. Aku mau ngomong sama kamu,” Aira mencoba terfokus dengan apa yang akan Wafda ucapkan. “Aku serius dengan ucapanku tadi ketika kita makan malam dengan keluargaku. Aku serius ingin menjalin hubungan denganmu. Jangan kamu berfikir ini atas permintaan mamahku yang meminta kamu menjadi menantunya. Tapi alasan mamah sebenarnya ngomong seperti itu karna memang aku cerita padanya jika aku menyukaimu. Aku bilang jika aku ingin serius denganmu dan aku sudah menunggu moment ini sejak lama. Jadi aku mohon jangan tolak aku, Ra.” “Tolak kamu?” Aira bertanya.                 Telinganya seakan salah mendengar pernyataan Wafda barusan. Ia benar-benar berusaha mencerna kata-kata yang diucapkan Wafda. “Iya, aku mau kita serius menjalani hubungan ini Ra. Aku hanya ingin serius denganmu. Kamu maukan jadi pacar aku? Calon istriku?” katanya dengan serius dan kali ini ia benar-benar tak mau lagi kehilangan moment berharga untuk mendapatkan wanitanya. “Ka-kamu serius Wafd?” tanya Aira masih tak percaya dengan kalimat pernyataan idolanya. “Heem, aku serius. Kamu maukan Ra? Mungkin ini terdengar tidak masuk akal, tapi sungguh ketika pertama kali aku melihatmu lagi di mall waktu itu. Aku merasakan getaran cinta dalam hatiku yang sempat aku kubur untukmu, kini muncul lagi. Maaf ini mungkin kedengarannya juga klise tapi aku sungguh jatuh cinta padamu Ra. Sudah sejak lama sesungguhnya aku menyukaimu, tapi tak ada kesempatan untuk kita bisa sedekat seperti sekarang ini. Aku sudah tidak mau lagi kehilangan kesempatan yang sudah aku nantikan sejak lama, Ra. Aku mohon, kamu maukan jadi pacar sekaligus calon istriku?” “Calon istri Wafd?” “Iya, aku ga mau lagi pacaran yang ga ada ujungnya. Aku mau tujuan kita jelas, aku hanya ingin kamu menjadi istriku seperti permintaan mamahku tadi.” “Apa kamu yakin?” tanya Aira pada lelaki yang sedang menggebu untuk memilikinya. “Ya aku sangat yakin,” ucap lelaki itu dengan penuh penegasan. “Wafd, jangan jadikan ini sebagai suatu keharusan untuk kamu menyatakan perasaanmu sekarang juga jika kamu masih belum yakin dan hanya menjadikanku pelarian atas kekecewaanmu dengan Rachel yang belum mau diajak menikah olehmu. Aku masih trauma dengan hubungan sejujurnya. Kamupun sudah tau dengan apa yang terjadi denganku saat bersama dengan mantanku. Aku masih belum bisa menjawab pertanyaanmu, tolong berikan aku waktu untuk menjawab pertanyaanmu dan tolong yakinkan aku jika kamu tidak main-main dengan ucapanmu.” “Aku akan membuktikannya, Ra. Aku janji akan membuatmu percaya jika aku serius dengan ucapanku.”    * * * * * *                           2 minggu kemudian setelah pernyataan cinta Wafda pada Aira, tepatnya hari selasa siang. Aira sudah berada di sebuah toko buku untuk melakukan launching novelnya. Hari itu Aira ditemani oleh Lia dan ibunya. Ibunya akhirnya mau di ajak ke Jakarta walau hanya untuk berkunjung beberapa minggu. Minggu lalu Aira pergi menjemput ibunya ke Semarang. Ibu kemudian bersedia untuk tinggal di Jakarta beberapa minggu hingga akhirnya Aira mungkin akan sibuk untuk pergi promo novel terbarunya dan harus tour beberapa kota di Indonesia. Hari itu ia mengenakan dress berwarna putih dengan motif bunga dengan lengan panjang dan heels berwarna merah. Menyocokkan dengan handbag yang ia bawa.                 Tak sedikit orang yang datang ke sana, namun tak juga telalu banyak. Ada beberapa orang yang ia undang juga untuk hadir dalam acara tersebut. Sayangnya Albert tidak bisa ikut menemaninya karna launchingnya itu tepat di hari kerjanya. Namun, jika memang bisa untuk ia pergi dari kantornya. Maka ia akan hadir ke acara launching novel Aira. Wafda juga masih belum tau bisa datang atau tidak. Karna Wafda juga akan melakukan beberapa tour dengan Agustus Band mulai minggu depan. Mendengar hal itu, Aira agak sedikit kecewa. Karna orang yang ia tunggu-tunggu ternyata malah tidak memberikan kepastian untuk bisa datang ke hari pentingnya.                 Setelah mengadakan beberapa acara pembuka, kemudian MC memanggil Aira untuk naik ke stagenya dan menjelaskan sedikit tentang novel terbarunya. Setelahnya mereka mengadakan QnA untuk tetamu dan juga wartawan yang hadir dalam acara itu. Tak lupa Aira juga memberikan beberapa souvenir untuk mereka yang telah hadir dalam acara launchingnya. Lalu kemudian Aira memberikan tanda tangan untuk orang-orang yang hadir dalam acaranya, ia ingin melakukan meet and greet kecil-kecilan untuk para penggemarnya yang hadir dalam acaranya. Berkenalan lebih dekat dengannya dan sedikit berbincang.                 Aira turun dari panggung itu dan menduduki sebuah kursi yang sudah disiapkan untuk menjadi salah satu sesi penutup untuk acaranya hari ini. Ternyata banyak sekali yang antusias dengan novel yang baru ia luncurkan. Antrian untuk meminta tanda tangannya sudah sangat panjang dan para penggemarnya sudah tidak sabar untuk bertemu dan menyapa dirinya. Wanita yang menjadi penulis novel sekaligus beauty vlogger itu selalu memasang senyum ramahnya dan ia terlihat semakin memukau dengan balutan dress pemberian dari sahabatnya, Willa. Satu persatu orang yang mengantri di depannya dil@y@ni dengan sangat baik. Ada yang minta berfoto, meminta tanda tangan sekaligus foto bersama dan juga ada yang beramah tamah sekaligus meminta tanda tangan di novel yang baru saja diluncurkan itu.                 Tiba saatnya saat seorang lelaki bertubuh tinggi dengan mengenakan masker dan juga sweater hitam memberikan novel terbarunya untuk minta Aira tanda tangani. Aira menerima novelnya dan tersenyum menatap sosok lelaki yang kini berhadapan dengannya. Wanita cantik itu tidak berfikir jika ia mungkin saja mengenali lelaki yang di hadapannya ini. Begitu membuka cover novelnya yang didominasi warna coklat, Aira melihat ada sebuah kalimat pernyataan cinta yang membuatnya terkejut dan membeliakkan matanya. Ia langsung menelisik dan menyipitkan matanya untuk melihat siapa yang sekarang berada di balik masker itu. Tak lama, lelaki itu membuka maskernya dan sukses menampilkan wajah tampannya. “Aku tunggu jawabanmu,” lelaki itu mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum manis. “Wafda?” Aira hampir berteriak melihat lelaki yang sudah hampir 3 bulan ini mengisi hari-harinya. “Iya ini aku,” ucap Wafda sambil tersenyum dan membelai pipi Aira. “Aku sayang kamu, Ra. Aku mohon, jangan tolak aku.” Ujar lelaki itu seolah menghipnotis Aira dengan belaian dan kata-katanya.                 Wanitanya masih terdiam dan terus memperhatikan lelaki di depannya itu. Tak lama seorang lelaki memberikan sebouquet bunga kepada Wafda. Aira yakin itu asisten Wafda. “Ini untuk kamu, wanita special yang selalu aku rindukan.” Celotehnya kemudian memberikan bouquet besar bunga dengan warna d******i merah dan putih. “Terima kasih,” hanya kalimat itu yang bisa terucap dari bibirnya yang sekarang sedang memakai lip cream berwarna nude.   * * * * * *        “Iya gw udah tau. Ini gw lagi dicegat sama wartawan.” Kemudian menutup sambungan telponnya dengan sang manager.                 Ternyata kabar jika mereka mengikrarkan diri sebagai sepasang kekasih tersebar begitu cepat. Wartawan bahkan sudah berjaga di pintu kompleks perumahan kediaman keluarga Walden. Petugas keamanan bahkan sampai kewalahan menghalau kerumunan wartawan yang mencoba menerobos masuk ke dalam kompleks dan mendekati rumah keluarga Walden. “Wafda! Wafda, tolong berikan klarifikasi dulu. Apa benar kamu dan Aira sekarang sudah berpacaran?” kata seorang lelaki yang mengetuk-ngetuk jendela sedan hitam SClass milik Wafda yang sekarang sedang ia kemudikan.                 Di dalam Wafda dan Aira saling pandang dan tak mau membuka kaca jendela untuk memberikan pernyataan pada mereka, si pemburu berita. Mereka masih ingin diam dan tak mau terlalu mengekspos hubungan mereka. Walaupun nyatanya hubungan mereka sudah langsung ketahuan media dalam waktu kurang dari sejam setelah Wafda kedapatan membelai pipi Aira di acara meet and greetnya tadi.                 Para petugas keamanan langsung menghalau kerumunan wartawan yang menghalangi jalan masuk mobil milik Wafda. Bahkan kerumunan mereka seperti ingin menghancurkan mobilnya saja. Tak kurang dari 5 orang yang mencoba untuk mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil untuk dibukakan untuk mendapatkan klarifikasi tentang hubungan mereka. Bahkan kerumunan wartawan itu melingkari mobil sedan mewah itu dan berusaha untuk mencegah mereka.   * * * * * * 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN