"Terserah! Gua gak ngerti sama pola pikir lo! Menurut lo, kalau Rian lo buat kaya gini, bahkan sampe mati, lo bakal seneng gitu?!" Sentak Fera dengan telunjuk yang terangkat. Matanya memerah karena merasa kesal dan marah dengan apa yang sudah ia dengar sejak tadi. Rahangnya mengeras melihat wajah Gean yang juga sama hancurnya dengan wajah Rian. Ia marah. Sangat. Tapi rasanya akan sangat percuma memarahi lelaki di depannya ini sekalipun ia mengeluarkan semua amarahnya. Gean menghela napas. Meminta maaf ketika suasana masih panas memang bukan hal yang baik. "Gua tahu. Tapi kalaupun tadi lo bener lakuin hal itu sama Rian dan ternyata ada yang liat, terus lapor ke bokap kita. Lo kira Rian gak akan kaya gitu? Mungkin lebih parah dari itu.." Lelaki yang kini masih berusaha mencairkan suasana

